
Di ruangan pribadinya, Christ menidurkan tubuh Yuli di atas sofa, melepas jas, lalu menyelimuti Yuli dengan jasnya.
Christ menatap wajah Yuli yang terlelap. Sesekali dia menyentuh pipi dan mengelus-elus rambutnya.
“Yuli! Aku hanya ingin kau tahu semua kebenarannya, tapi saat bersamaan, kuharap kau takkan pernah tahu,” gumam Christ dalam hati.
Christ pun beranjak ke kursi, lalu tidur dengan posisi duduk disamping sofa, tempat Yuli terlelap. Pukul 2 dini hari, Christ baru dapat beristirahat, meski hanya tertidur di atas kursi.
Malam pun larut begitu cepat hingga fajar tiba.
Tepat pukul 6 pagi, Yuli terbangun dari tidurnya. Matanya masih sembab akibat menangis sepanjang malam. Dan rasa pengar bau alkohol masih tercium jelas dari dirinya.
Dia terduduk di sofa dan melihat Christ yang masih terlelap di atas kursi. Tubuhnya tersandar dan kedua kakinya terangkat di atas meja. Yuli beranjak dari sofa, lalu balik menyelimuti Christ dengan jasnya sendiri.
Sejenak Yuli berjongkok dan menatap Christ yang terlihat sangat lelah dari raut wajahnya. Dia pun berdiri, lalu pergi meninggalkan Christ.
__ADS_1
Christ membuka matanya. Ternyata dia sama sekali belum tidur sejak dini hari. Dia hanya menutup mata berusaha untuk tidur, tapi dia sama sekali tak bisa terlelap, karena terus memikirkan sesuatu di kepalanya.
Dia pun ikut beranjak dari kursi, lalu menyeduh secangkir kopi panas dan menikmatinya di pagi itu.
“Bos! Apa kau belum tidur sama sekali? Aku baru saja melihat paralegal Yuli keluar dari kantor tadi. Dia terlihat sangat terburu-buru. Apa yang terjadi?” ucap Gun yang saat itu baru kembali ke kantornya.
Gun membawa beberapa bungkus nasi yang akan diberikan pada Asep dan anak buahnya untuk sarapan. Dia melihat Christ yang sedang melamun sembari meminum kopi di ruangannya sendiri
“Aku tak bisa tidur, Gun.”
“Aku sudah menjelaskan semuanya ke paralegal Yuli, Gun. Dia mungkin juga sudah tahu siapa diriku sebenarnya, bahwa aku adalah keponakan dari seorang Bos Mafia.”
“Lantas, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Bos? Apa kau benar-benar akan membunuh Miko dengan tanganmu sendiri? Atau kau masih ingin tetap menghukum mereka dengan hukum?”
“Hukum?” Christ mendengus kembali menyeruput kopinya. “Sepertinya benar apa yang dikatakan Paman padaku. Tak ada hukum yang adil di negara ini.”
__ADS_1
“Maka itu, aku sudah tak percaya lagi dengan hukum, meski aku seorang pengacara. Aku akan menghukum mereka dengan tanganku sendiri. Sama persis dengan apa yang diajarkan Paman padaku, saat aku dididik olehnya.”
“Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Begitupun dengan nyawa. Mereka juga harus membayarnya dengan nyawa. Aku mungkin akan meminta bantuan pada Paman Bagas, jika aku tak sanggup melakukan semua ini.”
“Bos, aku berjanji akan selalu melakukan dan mendukung semua yang kau perbuat.” Gun berseru mengepalkan tangannya.
***
Di ASARON GROUP. Pagi itu terlihat Miko dengan Roy yang berada di ruangannya.
Pagi itu Miko sangat kesal atas kejadian kemarin malam, karena Christ menusuk tangannya sendiri dengan pulpen runcing seperti psikopat. Kini tangan kanan Miko terbalut dengan perban karena hal itu.
Dia berjalan mondar-mandir memikirkan cara untuk membalaskan dendam atas apa yang dilakukan Christ padanya.
Di ruangan pribadinya, juga terlihat replika bangunan dari proyek SKY PENTHOUSE, yang akan dilakukan jika dia berhasil menjadi seorang walikota.
__ADS_1