SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 032


__ADS_3

“Kalau begitu, aku permisi dulu.” Roy beranjak dari sofa. Membungkuk, berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.


Tak berselang lama setelah Roy pergi, Miko kembali kedatangan seorang tamu.


Kali ini tamunya bukanlah sembarangan orang. Salah satu orang yang memiliki peran besar dalam dunia hukum di Bekasi. Hakim Lusi.


Lusi ditemani salah satu karyawan perusahaan menuju ruangan Miko.


“Astaga, Hakim Lusi.” Miko segera beranjak dari sofanya. Menyambut Lusi. “Ada masalah apa? Kenapa kau tak panggil saja aku ke rumahmu? Kau tak perlu bersusah payah datang kemari.”


Usai Lusi duduk di sofa, Miko menyuruh Penasihat hukumnya, Budi untuk pergi ruangannya, agar dia bisa mengobrol leluasa.


“Perasaanku mulai tak enak karena kota ini tidak memiliki walikota, setelah kasus pembunuhan walikota beberapa  waktu lalu,” ucap Lusi.


“Bukankah ini momen yang sangat baik untukmu dan Kota Bekasi? Kau bisa saja mencalonkan diri untuk menjadi walikota.”


“Tidak. Aku ingin mencalonkan seseorang untuk menjadi walikota yang baru.”


“Siapa itu?” tanya Miko.


“Menurutmu siapa?”

__ADS_1


“Entahlah, Bu. Aku tak tahu.” Miko menunduk.


“Kau!” tegas Lusi.


“Apa? Aku… Apa maksudmu kau mencalonkan ku sebagai walikota yang baru?” Miko mengernyitkan dahi.


“Ya, itu kau. Apa kau bersedia menjadi walikota Bekasi?”


“Wah, apa kau serius dengan perkataanmu, Bu? Astaga.”


Di ruangannya sendiri, Miko berlutut dan membungkuk di kaki Lusi. “Astaga. Aku tak tahu harus berkata apa untuk ini. “Ini.. Ini adalah suatu kehormatan untukku, Bu.”


“Selama 15 tahun terakhir, kau berlagak seperti pebisnis. Akan tetapi, kau belum berubah sama sekali karena kau memulai semua usahamu saat kau masih menjadi preman di kota ini. Kau tak bisa menyangkal itu.


Miko tetap berlutut dan membungkuk di hadapan Lusi. Dia tak menyangka bahwa Lusi akan mempercayakan jabatan walikota padanya.


“Baiklah, Bu. Aku sangat mengerti maksudmu. Aku akan berusaha yang terbaik untuk kota ini, Yang Mulia Hakim. Mohon dukungan dan kepercayaan darimu!!” seru Miko.


***


Di sisi lain, terlihat Christ dan Yuli yang berada di dalam mobil, setelah mereka pergi dari penjara tempat Jono ditahan.

__ADS_1


Christ menyalakan radio yang memberitakan tentang adanya pencalonan walikota yang akan menggantikan mendiang walikota yang telah meninggal akibat tragedi pembunuhan yang terjadi.


Penyiar radio juga memberitakan bahwa tersangka atas pembunuhan walikota akan menjalankan sidang pertamanya di minggu ini.


“Kau tahu kau akan kalah dalam kasus ini, jadi, kenapa kau ingin mengambil alih?” tanya Yuli ketus.


“Ya, kau benar. Bukankah kasus ini sangat mencurigakan karena ada banyaknya bukti?”


“Dan juga tak ada bukti yang menunjukkan bahwa dia tak bersalah.”


“Aku juga tahu itu.” Christ menatap Yuli. “Tak ada keraguan juga kalau dia memanglah pembunuh walikota.”


“Biar kutanya padamu. Kau harus menjawabnya dengan jujur. Sebenarnya, apa alasanmu sangat ingin menangani kasus ini?”


“Alasan sebenarnya?”


“Ya, alasan sebenarnya. Apa itu?” Yuli penasaran.


Christ menyeringai lebar. “Astaga, aku sangat lapar. Mari kita cari makan dahulu.” Christ masih tak ingin memberitahukan alasan sebenarnya pada Yuli, mengapa dia sangat ingin menangani kasus itu.


“Ah, sial!” umpa Yuli.

__ADS_1


Christ hanya tersenyum dan menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobil Porschenya pun melesat dengan kencang.


__ADS_2