
Di luar ruangan, Sri menghampirinya. Berdiri di lorong menghalanginya.
“Beberapa detektif baru saja memeriksa ponsel milik mendiang. Akan tetapi, ponsel mendiang rupanya bukan ponsel asli miliknya. Apa mungkin kau telah mengambil ponsel aslinya, dan menukarnya dengan ponsel lain?” tanya Sri ketus
“Astaga, sial!” ucap Yuli ketus. “Rekanmu baru saja mengira bahwa dia adalah seorang pembunuh, dan kau baru saja mengira dia sebagai pencuri. Kau dan dia sangatlah cocok menjadi pasangan pasutri.
Suami istri dengan pikiran yang dipenuhi oleh buruk sangka. Apa kau pikir ini lelucon? Pikirmu dia adalah sasaran yang mudah?”
Sri mendengus. Dia sedikit kesal dengan ucapan Yuli untuknya.
“Astaga, tak kusangka kau sampai menuduhku sebagai pencuri,” sahut Christ. “
“Ya, itu karena kau sangat berbeda dari kebanyakan pengacara lainnya.”
Sri menatap Yuli. “Dan juga kau, sepertinya kau juga terlalu berlebihan. Kenapa kalian sangat terobsesi dengan persidangan Detektif Jono?”
“Bukankah seorang pengacara ingin memenangkan persidangannya? Apa kami perlu memberikan alasan itu padamu?” sahut Yuli ketus.
“Awalnya, aku sama sekali tak penasaran kenapa kalian sangat terobsesi dengan kasus itu, tapi, kali ini aku sangat ingin tahu untuk hal itu.”
__ADS_1
Christ menatap Sri, menunjuk wajah Sri dengan jarinya. “Jika aku menang di persidangan, aku akan memberitahumu alasanku terobsesi pada persidangan ini.”
Christ pun berjalan dan menyenggol bahu Sri karena dia masih berdiri menghalangi jalannya.
Sri mendengus kesal melihat Yuli dan Christ yang berlalu pergi.
“Astaga, tak kusangka kau akan membelaku saat interogasi.” Christ menyeringai lebar.
“Ya, tentu. Aku juga tahu kau sengaja tak mengatakan semuanya pada jaksa penyidik tadi. Kau menyembunyikan sesuatu. Miko, pemilik ASARON GROUP.
Pria yang bunuh diri tadi mengatakan, bahwa Miko adalah orang yang menyuruhnya untuk membunuh walikota Joko. Kenapa kau tak mengatakannya tadi?”
Bertepatan dengan itu, Christ melihat Miko yang sedang berdiri di halaman depan kantor kejaksaan.
Menggunakan setelan jas tanpa dasi, dan terlihat seperti menunggu seseorang.
Christ mengabaikan ucapan Yuli. Dia kembali melangkah mendekati Miko.
“Christ, mau kemana kau?”
__ADS_1
Christ tak menghiraukannya. Dia tetap pergi ke teras kantor kejaksaan, tempat Miko berdiri.
“Selamat sore, senang bertemu denganmu, ketua Miko. Aku Pengacara Christianto.” Christ tersenyum memasang wajah yang riang.
“Oh, ternyata kau, Pengacara Christianto. Pengacara yang menangani kasus pembunuhan walikota Joko. Aku sudah banyak mendengar tentangmu.”
Miko sama sekali belum menyadari bahwa pria di depannya adalah anak dari seorang ibu yang telah dibunuhnya lebih dari 20 tahun silam. Pria berumur pertengahan 50 tahun itu sepertinya mulai pikun.
“Astaga, sangat aneh rasanya kau langsung mengenalku dengan cepat,” ucap Christ.
“Kota ini sangatlah kecil, dan aku sudah cukup tahu semua yang terjadi di kota ini, karena berita begitu menyebar dengan cepat. Dulunya, aku berteman baik dengan walikota Joko.”
Miko memakai kacamata hitamnya. “Sebenarnya, aku agak canggung saat bicara denganmu, karena kau menangani kasus itu. Kau malah mencoba seseorang yang sudah jelas membunuh teman dekatku sendiri.”
Walau dalam hatinya sangat marah, Christ tetap tersenyum lebar agar rencananya berhasil dengan mulus. Dia tak ingin gegabah dan merusak semua rencana balas dendamnya.
“Kudengar, kau juga dekat dengan Detektif Jono. Apa aku salah?”
“Astaga, apa Jono bilang begitu padamu? Kami memang pernah bertemu beberapa kali, tapi kami tak sedekat yang kau pikirkan. Lagipula, Hakim Lusi akan mengungkap kebenarannya sendiri di pengadilan.”
__ADS_1