SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 043


__ADS_3

“Baiklah. Aku akan mengeluarkanmu dari tempat itu, tapi, bayarannya adalah nyawamu sendiri,” tegas Christ.


Sambungan telepon pun terputus.


Nafas Christ menggebu-gebu. Rasa amarah, semangat, bercampur dalam hatinya. Perlahan dia melangkah pergi dari seberang rumah Yuli, kembali ke gedungnya.


Sepuluh langkah dari gedung, langkah Christ terhenti. Dia menjatuhkan payungnya, berlutut di aspal dan menatap langit. “Ibu… bagaimana kabarmu ibu? Apa ibu baik-baik saja disana?”


Hujan deras mengguyur Christ saat itu. Semua pakaiannya basah kuyup diguyur oleh derasnya hujan.


Di bawah derasnya hujan, Christ menangis terisak-isak. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak, dan membiarkan wajahnya terguyur air hujan, agar tak ada yang mengetahuinya bahwa dia sedang menangis.


Sebuah mobil jeep bermerk Mercy terhenti di depan gedung. Terparkir rapi tepat di sebelah mobil Porsche milik Christ. Seorang pria menggunakan jubah dan payung berwarna hitam keluar dari dalam mobil.


Ternyata dia adalah Bagas. Malam itu dia datang sendirian dengan mobil pribadinya, tanpa ada satupun dari body guard atau tukang pukul yang mengawalnya.


Sepertinya dia hanya ingin menjenguk dan melihat kabar dari keponakannya yang telah berpindah ke Bekasi.

__ADS_1


Bagas melangkah mendekati Christ yang sedang berlutut di pinggir jalan itu. Dia membantu Christ berdiri dan membawanya kembali ke dalam gedung lantai 3.


Sesampainya di lantai 3, Guntur masih terbangun. Dia langsung memberikan sebuah handuk kepada Christ dan membuatkan teh hangat untuknya dan untuk Bagas.


“Apa ini kantormu yang baru?” Bagas berdiri dan melihat sekelilingnya. “Dan apa disini juga Ibumu meninggal?”


Christ menyeringai kecil. “Kasus Jono sudah kuambil alih, Paman. Aku bisa memulai balas dendam dengan langkah itu.”


“Hmm, begitukah? Apa Guntur saja sudah cukup untuk membantumu? Aku bisa memberimu lebih banyak lagi anak buahku. Kau bisa memilih yang terkuat dari mereka.”


“Tidak perlu, Paman. Aku sudah cukup merepotkan mu. Lagi pula, aku juga sudah merekrut preman sekitar sini untuk bekerja denganku. Lihat itu!”


Christ menunjuk pada salah satu ruangan, tempat Asep dan anak buahnya berada. Mereka semua tertidur menggunakan kasur lantai luas di ruangan itu.


“Baiklah kalau begitu. Apa ini sebuah permulaan sebagai balas dendammu?”


“Tidak, Paman. Ini sudah dimulai sejak 20 tahun silam. Aku akan menghukum mereka semua dengan tanganku sendiri.”

__ADS_1


“Christianto!” seru Bagas.


“Orang-orang yang membunuh ibuku. Mereka semua….. Aku akan membunuh mereka semua dengan kejam.” Christ berseru menatap Bagas. Tatapan matanya dipenuhi api yang menyala bergejolak.


Bagas menatap Christ dengan tatapan iba. Dia tahu persis apa yang dirasakan Christ. Bocah berumur tahun yang melihat ibunya sendiri dibunuh di depan matanya.


“Aku akan mengeluarkan satu orang dari penjara, dan memasukkan ke penjara semua orang yang terlibat dengan kematian ibuku.


Aku akan membuat mereka terus bersembunyi di dalam penjara, karena aku akan membunuh mereka jika kulihat mereka berkeliaran di luar penjara.”


***


Di ASARON GROUP, terlihat Budi yang mendatangi ruangan Miko malam hari itu juga. Budi berdiri menghadap Miko yang sedang duduk santai di meja kerjanya.


“Kenapa kau kemari jam segini?” tanya Miko.


“Ini tentang Jono, Pak. Dia mempunyai pengacara baru yang akan menggantikanku, dan Christianto lah yang akan menjadi pengacara barunya di persidangan berikutnya. Dia pengacara yang dicari oleh Roy tempo hari.”

__ADS_1


__ADS_2