
Rumah Lusi sendiri tak kalah jauh mewah dari rumah Bagas. Meski tak seluas rumah Bagas, tapi, rumah Yuli memiliki bagunan dengan ciri khas kolonial belanda dengan desain minimalis dan menggunakan perlengkapan rumah tangga yang premium.
Para petinggi itu terdiri dari ketua dari semua sektor yang berpengaruh di kota Bekasi. Ketua Jaksa Agung, Komisaris kepolisian, Ketua DPRD, dan juga Miko sebagai pengusaha nomor satu di kota itu.
Sebuah meja panjang berbentuk sedikit lonjong. Kursi-kursi tertata rapi melingkari meja itu. Beberapa pelayan berdatangan mengambil piring kotor dari meja. Membereskannya.
15 menit berlalu. Acara telah usai beberapa ketua dari tiap sektor beranjak pergi dari kediaman Lusi. Para ajudan pribadi dari masing-masing telah berkumpul di depan rumah Lusi untuk menjemput tuannya masing-masing.
Akan tetapi, tidak dengan Miko. Dia menetap di rumah Lusi dan membantu merapikan beberapa barang di ruangan pribadinya.
Bersama dengan Lusi di ruangannya, Miko mencari perhatian dari Lusi dengan bersikap sok tanggap.
Setumpuk uang ratusan juta rupiah, bahkan milyaran rupiah terlihat dalam brankas milik Lusi. Miko membantu memasukkan beberapa ikat uang yang masih ada di luar ke dalam brankas tersebut.
“Omong-omong, Bu Hakim. Jika aku sungguh menjadi walikota, aku akan langsung menjalankan proyek terbesar kita, SKY PENTHOUSE, yang sempat tertunda beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Kau dan aku pasti bisa mengisi lebih banyak uang lagi di brankas-brankas ini.”
Miko kembali menutup brankas setelah semua uang masuk.
Lusi hanya duduk di sofa, dan menikmati minuman beralkohol rasa anggur saat itu.
“Maksudku begini, Bu Hakim. Pasti ada alasan kenapa kau memilihku sebagai walikota Bekasi yang baru, padahal, ada lebih banyak orang yang berbakat dariku, benar bukan?”
Kebodohan Miko semakin terlihat. Dia bahkan tak sadar bahwa Lusi hanya memperbudaknya alih-alih menjadikannya seorang walikota yang baru.
“Bu Hakim!” Miko berlutut di lantai di hadapan Lusi yang hanya diam dan tak menanggapi bualan Miko. “Aku akan mengumumkan pencalonanku sebagai walikota di dekat pasar tradisional di pinggiran kota.
Jika kau dapat datang ke tempat itu, dan menunjukkan dukunganmu padaku di depan masyarakat umum…”
“Kenapa aku harus melakukan itu? Aku sudah menyediakan segalanya untukmu, bukankah kau seharusnya berusaha sendiri? Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, jadi, kau harus makan dengan mandiri.”
__ADS_1
Lusi kembali menegak satu sloki minuman.
“Mohon bantu aku, Bu Hakim. Sekali ini saja. Tak bisakah kau datang walau sebentar saja?” Miko masih tetap berlutut dan bahkan bersujud di hadapan Lusi.
Luksi mendengus. “Jadi, kau menyuruhku untuk datang ke pasar tradisional yang bau itu dan mengoceh seperti pedagang kaki lima? Astaga, sulit dipercaya. Kau masih saja membutuhkanku walau aku telah memberimu banyak jalan.”
“Bu Hakim…”
“Keputusanku sudah bulat. Meski kau bersujud hingga subuh nanti, aku tak akan pernah datang ke pasar tradisional itu.”
“Baiklah.” Miko pun kembali berdiri. Menepuk-nepuk tangan, membersihkan debu lantai di tangannya.
“Akan tetapi, bagaimana dengan bukti rekaman yang baru muncul selama persidangan itu? Apa rencanamu dengan itu? Jika alibi Jono terbukti, bukankah itu adalah akhir dari semuanya?
“Kenapa kau khawatir soal itu? Hanya karena aku memilihmu sebagai walikota, apa aku mengira bahwa kau adalah kaki tanganku? Kau saja yang tak becus mengurus hal itu,” bentak Lusi.
__ADS_1