SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 088


__ADS_3

Di belakang gerombolan anak buah Asep, terlihat Yuli yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Dia hanya diam termenung, lalu pergi keluar.


“Sudah-sudah, aku tinggalkan kalian dulu. Aku ingin berbicara dengan Yuli dulu.” Christ mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan. “Ini, pesanlah ayam goreng dan alkohol jika kalian mau.”


“Terimakasih, Bos!” Gun menerima uang itu dan semua anak buah Asep kembali bersorak gembira.


Christ tersenyum, lalu pergi menyusul Yuli.


Mereka berdua duduk bersama di teras balkon. Menatap luasnya kota Bekasi dari balkon itu.


Langit malam itu menunjukkan pemandangan yang sangat indah, menakjubkan dan mempesona.


Dengan mata telanjang, mata manusia dapat menyaksikan bintang-bintang, planet dan fenomena langit yang luar biasa seperti, aurora, gerhana bulan, dan lain sebagainya.


Malam itu langit kota Bekasi menunjukkan terbentuknya Aurora yang sangat indah, tapi, tak seindah dengan Aurora yang terjadi di negara kutub seperti Kanada, Swiss, Swedia dan Norwegia.

__ADS_1


Meski begitu, Aurora yang terjadi pada malam hari itu sangatlah indah. Membuat perbincangan Yuli dan Christ terasa hangat.


“Kukira, kau mengincar Miko untuk membuktikan bahwa Jono tidak bersalah. Akan tetapi, kenapa targetmu malah menjadi Hakim Lusi?”


Christ tersenyum kecil, lalu duduk disamping Yuli. “Ayah Hakim Lusi, Sulistyo. Dia bekerja sebagai hakim di Bekasi selama lebih dari 20 tahun. Dia menggunakan hukum sesuka hatinya bak raja yang sangat berkuasa.”


“Uang dan kekuasaan yang dimiliki ayahnya, dan kepercayaan semua orang di Bekasi, semua itu diwariskan pada putrinya,” jelas Christ.


“Ya, kau ada benarnya. Hakim Lusi memang memiliki segalanya. Akan tetapi, kenapa dia ingin membuat orang seperti Miko menjadi walikota?”


“Sudah jelas. Karena dia ingin menggunakan Miko sebagai bonekanya. Dia juga ingin memiliki lebih banyak uang dan kekuasaan lagi dengan itu. Dan Miko akan dengan senang hati rela berbuat kotor untuk Hakim Lusi.”


“Kau tak perlu percaya omonganku, Yuli. Aku juga tak memaksamu untuk percaya padaku. Akan tetapi, percaya atau tidak, itu tak akan pernah mengubah kebenaran yang memang terjadi.” Christ balik menatap Yuli.


Yuli pun kembali terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


Malam pun semakin larut. Yuli bergegas kembali ke rumahnya, sementara Christ kembali ke kantornya. Duduk di kursi dan berpikir tentang langkah selanjutnya.


“Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Bos?” tanya Gun. Gun masuk ke dalam ruangan Christ karena melihat wajah Christ yang agak berbeda malam itu.


Gun sangat tahu bahwa Christ masih memikirkan tentang Yuli yang tak mempercayai perkataan Christ sepenuhnya.


“Dia sangat setia pada Lusi, padahal dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkah, dia sudah menganggap Lusi seperti ibu kandungnya sendiri,” lanjut Gun.


“Dia harus tahu dulu bagaimana watak asli Lusi, Gun. Jika tidak, dia pasti tak akan pernah percaya padaku. Saat ini, aku yakin dia sudah mulai percaya meski belum sepenuhnya.”


“Aku juga tak ingin melibatkannya terlalu jauh dalam balas dendamku. Jika aku tak bisa membalas dendam dengan hukum, maka aku akan menggunakan caraku sendiri.”


“Aku telah berjanji untuk tak mengikuti jejak pamanku, dan sepertinya aku akan mengingkarinya. Aku akan membunuh Miko dengan tanganku sendiri, begitu aku tak bisa mengalahkannya dengan hukum.”


“Aku akan menggunakan cara mafia untuk menyelesaikan balas dendam ini, lalu pergi dari kota ini. Persetan dengan perasaan cintaku padanya. Aku hanya ingin balas dendam pada orang yang telah membunuh ibuku.”

__ADS_1


Christ menarik nafas sedalam-dalamnya, lalu menghembuskannya kembali. “Jika aku dan dia berjodoh, aku yakin Tuhan akan menyatukan aku dan dia kembali, Gun.”


“Baik, Bos. Aku akan selalu mendukung semua keputusan yang kau buat. Hitung-hitung, aku membalaskan budi karena kau telah membantuku mendiang ibuku.”


__ADS_2