SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 055


__ADS_3

“Aku akan menemui seseorang yang berkaitan dengan kasus pembunuhan walikota. Agus, dia merupakan salah satu Direktur dari Kementerian Keuangan di Balai kota Bekasi. Aku akan bertemu dengannya saat makan malam tiba.”


Gun mengangguk paham.


Tiba di jam makan malam. Semua napi terlihat berbaris rapi mengantri untuk mendapatkan jatah makanannya masing-masing.


Christ dan semua orang-orangnya telah mendapatkan jatah makannya masing-masing.


Di pojok ruangan, terlihat seorang pria berumur pertengahan 40-an yang sedang menyantap makanan sendirian, dan pria itu adalah Agus, seorang Direktur dari Kementerian Keuangan di balai kota Bekasi.


Christ tersenyum, lalu segera duduk tepat di sebelah Agus, disusul dengan Gun dan Asep yang memenuhi meja persegi itu.


“Makanlahlah di selmu. Aku tak ingin duduk bersama seorang pengacara,” ucapnya ketus.


“Astaga, kau tak boleh begitu kepada sesama penghuni penjara,” ucap Christ.


“Apa kau tahu siapa aku?”

__ADS_1


“Tentu, kau adalah Direktur Agus dari Kementerian Keuangan di balai kota Bekasi, benar bukan?” Christ mulai menyantap makanannya.


“Kau juga orang yang menjaga brankas milik mendiang wali kota Bekasi, dan juga menangani keuangan di seluruh Kota Bekasi. Tak hanya itu, kau juga yang bertanggung jawab atas pencucian uang untuk mendian walikota.


BRAK! “Dasar Bajingan. Beraninya kau bicara sembarangan padaku.” Agus menggebrak meja karena kesal. Mereka berdua menjadi pusat perhatian bagi para napi yang ada di kantin penjara.


“Kau terus menolak permintaanku untuk mengunjungimu. Maka itu, aku memutuskan untuk masuk ke dalam dan bertemu langsung denganmu.” Christ menyeringai lebar.


“Apa? Kau masuk ke penjara hanya untuk menemuiku? Astaga, sulit dipercaya.”


“Ya, begitulah. Aku melakukan ini karena aku sedang terburu-buru. Banyak kehidupan dan nyawa seseorang yang dipertaruhkan dalam kasus ini.”


“Perkataanmu ada benarnya, tapi, orang-orang sepertiku juga menyelamatkan orang-orang yang hidupnya hancur.”


“Berhentilah membual. Aku tak ingin berbicara lagi denganmu. Ini peringatan dariku.” Agus berdiri, lalu beranjak pergi ke meja lainnya.


Percobaan pertama gagal. Di hari pertamanya di dalam penjara, Christ dan orang-orangnya gagal saat membujuk Agus untuk berbicara mengenai kasus yang sedang dihadapinya.

__ADS_1


Makan malam berlangsung cepat. Usai menghabiskan makanannya, Christ dan gerombolannya menuju ke dalam sel kembali.


Sebelum memasuki ruangan, seorang sipir mendatangi Christ.


“Tahanan, 1313. Ada kunjungan untuk anda,” ucap sipir.


1313 adalah nomor tahanan untuk Christ. Tertulis nomor itu di saku seragam penjara yang dipakainya.


Christ tersenyum lebar. Dia sudah tahu bahwa Yuli lah yang mengunjunginya saat itu. Dia segera pergi ke tempat kunjungan para napi.


Dan benar saja, Yuli sudah duduk dan menunggu kedatangan Christ di ruangan kunjungan itu.


Christ tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu duduk di kursi. Mereka saling menatap dengan kaca besar yang menjadi penghalang diantara mereka.


“Astaga, sepertinya memang ini tempat asalmu.”


“Tidak juga. Aku memang sudah terbiasa tinggal di tempat apapun dan dimanapun itu.” Christ merentangkan kedua tangannya, seolah nyaman tinggal di dalam penjara itu. “Apa kau tak tahu? Aku bahkan masih terlihat tampan walau memakai baju seperti ini.”

__ADS_1


“Wah, sial! Kau masih bisa membual disaat seperti ini?” Yuli mendengus. “Omong-omong, Hakim Lusi menolak permintaanku untuk menunda persidangan.”


“Apa kau sudah memohon padanya? Kau memohon padanya secara pribadi?” tanya Christ.


__ADS_2