
Semua tukang pukul Bagas pun keluar dari mobil dan turun dari truk secara serempak. Tukan pukul yang menaiki mobil Van itu merupakan tukang pukul yang sudah lama bekerja dengan Bagas.
Sementara tukang pukul yang menaiki truk adalah orang-orang baru yang direkrut Bagas untuk menjadi anggota baru di keluarga mafianya.
Mereka semua serempak dengan pakaian serba hitam. Dengan setelan jas hitam dan kemeja biru dongker. Setiap tangan dari mereka membawa pistol kecil dan tongkat bisbol.
Bagas memberi kekuasaan penuh pada Christ untuk mengatur semua tukang pukulnya di malam itu.
Semua tukang pukul Bagas berbaris sejajar rapi bak upacara apel tahunan presiden. Mereka semua memasang posisi berdiri tegap dan menunggu aba-aba dari Christ.
Satu suara dan komando dari Christ. Tujuan penyerangan malam itu adalah menyelamatkan Asep dan anak buahnya, dan juga menculik Miko.
Tak nyawa yang harus dikorbankan lagi, meski itu dari kelompok yang mereka serang. Christ tak membolehkan tukang pukul Bagas membunuh siapapun, selain menyelamatkan dan mencari keberadaan Miko.
“Kalian mengerti?”
__ADS_1
SIAP MENGERTI Semua tukang pukul berseru serempak.
SERANG!!!!!!
Sepersekian detik penyerangan pun dimulai.
Semua tukang pukul mulai merangsek masuk masuk. Mendobrak pintu pabrik dan membantai semua preman yang menjaga di depan pintu.
Mereka terpisah menjadi 2 bagian. Satu bagia menyerang dari depan, dan sebagian lagi menyerang dari pintu belakang, agar tak ada satupun yang kabur saat itu.
Guntur yang masih belum sepenuhnya pulih pun juga ikut menyerang saat itu. Sembari tukang pukul bagas menghajar para preman gabungan suruhan Miko, Christ menyuruhnya untuk mencari Asep dan anak buahnya.
Bagas sedang menikmati rokok cerutunya, bersandar di mobil dan tetap dikawal oleh lima tukang pukul yang berdiri sigap di belakangnya.
“Tidak perlu, Paman. Tetaplah disini, biar aku yang melanjutkan sisanya.” Christ memeriksa isi pistol tokarev yang dimilikinya. Memastikan bahwa pelurunya terisi penuh.
__ADS_1
“Baiklah, segera selesaikan sebelum polisi datang.”
Christ mengangguk, lalu memasuki gudang.
Di dalam gudang itu sendiri, pertarungan masih berlangsung sengit. Meski jumlah Tukang Pukul Bagas lebih sedikit karena kalah jumlah, tapi tetap saja, gabungan preman itu tak bisa menandingi kemampuan bertarungnya.
Padahal, Tukang pukul bagas yang datang malam itu tidaklah keseluruhan. Mungkin hanya setengah bahkan seperlima dari semua tukang pukul yang dimiliki Bagas.
Kubu musuh pun mulai berguguran satu persatu. Christ pun tak perlu lagi bersusah payah mengeluarkan tenaganya. Dia hanya membersihkan sisa-sisa preman yang masih sanggup berdiri.
Semua tukang pukul menjalankan apa yang diperintahkan Christ. Mereka tak membunuh satu nyawa pun dari gabungan preman itu.
Mereka hanya melukai dan sekedar membuatnya tak bisa lagi bangkit dan menyerang. Mematahkan tangan dan kaki, tulang rusuk, dan titik vital yang membuatnya tak sampai meninggal.
Di pojokan gudang, terlihat Gun yang sedang menyelamatkan Asep dan anak buahnya. Mereka semua diikat dan digantung dengan tubuh yang berbalik.
__ADS_1
Tubuh dan pakaiannya telah dipenuhi darah segar. Sepertinya para preman-preman itu telah menyiksanya atas perintah Miko.
Christ pun langsung menyuruh Gun, dan beberapa tukang pukul lainnya untuk membawa Asep dan anak buahnya kembali ke dalam mobil.