
Lampion China berwarna merah cerah dan ornamen-ornamen budaya Tionghoa menghiasi kedai itu. Ornamen-ornamen itu terdiri dari lukisan abstrak dan patung raja-raja China jaman dulu.
Kedai Tiongkok juga terkenal dengan harganya yang terjangkau. Harga hidangan di kedai Tiongkok lebih murah dari restoran lokal lainnya. Hal itu membuat masyarakat lokal pun juga turut senang untuk menikmati makanan di kedai itu.
Miko membawa Lusi ke ruangan sempit yang terpisah dari ruangan para pelanggan lainnya. Sepertinya ruangan itu adalah ruangan khusus yang dipesan Miko, karena tak ada orang lain yang berada di ruangan itu.
Sejak memasuki kedai, Lusi menutup hidungnya menggunakan kain kacu. Tak tahan dengan bau amis dari kedai.
“Ayah anda dan aku sering makan di tempat ini, Bu Hakim. Khususnya di tempat ini, aku sudah menganggap tempat ini adalah rumahku sendiri saat ayahmu masih hidup.”
Miko menuntun Lusi ke meja dengan dua kursi yang ada dalam ruangan itu. “Kursi ini. Beliau selalu duduk di kursi ini.” Miko mempersilahkan Lusi duduk.
“Apa ayahku suka Sup rumput laut?” tanya Lusi.
“Ya, tentu saja.” Miko ikut duduk di hadapan Lusi. “Aku terkejut saat pertama kali aku makan dengannya. Dia makan sup dan nasinya secara sendiri-sendiri. Nasi dan supnya selalu dipisah dan dia selalu makan dengan rapi.”
__ADS_1
“Sepertinya, kenangan dia bersamamu mungkin lebih banyak daripada kenangan dia denganku,” ucap Lusi.
“Astaga, bukan begitu, Bu Hakim. Anda itu putrinya, sedangkan aku hanyalah abdi setia ayahmu. Aku hanya sangat setia mematuhi perintahnya, hanya itu.”
Lusi menekuk tangannya di dada.
“Saat dia menyuruhku melakukan apapun, aku tak pernah berkata tidak. Aku selalu melaksanakan apapun perintahnya padaku.”
Lusi membuka tutup botol minuman alkohol China yang telah tersedia di atas meja. Miko bergegas mengangkat gelas sloki menerima alkohol yang dituangkan Lusi padanya.
“Di negara ini, apa saja tak ada yang mustahil dengan uang dan hukum. Seperti yang kau tahu, aku sekarang sudah punya banyak uang, dan anda tahu cara menggunakan hukum, jadi …”
syuurrr
Lusi mengguyur wajah Miko dengan minuman alkohol. “Kau pikir, kau pantas makan satu meja denganku? Seharusnya kau menjilati minuman yang tumpah di mejaku. Kau hanyalah objek warisan dari ayahku.”
__ADS_1
“Kenapa? Apa kau pikir seolah kau telah memiliki kota Bekasi sepenuhnya, hanya karena aku mencalonkan diri sebagai walikota?”
Tanpa mengelap wajahnya sedikitpun, Miko turun dari kursinya, lalu berlutut di depan Lusi. “Maafkan aku, Bu Hakim. Aku pasti telah lupa diri.”
“Maaf?” Lusi mendengus. “Satu-satunya orang yang bisa kumaafkan di dunia ini adalah diriku sendiri.”
Lusi pun berdiri, lalu pergi meninggalkan Miko
***
Di KING LAWYERS, semua anak buah asep bersorak gembira, menyoraki Christ yang baru kembali ke kantornya. Asep yang paling melantangkan suara karena melihat keberanian Christ saat peresmian patung berlangsung.
“Astaga, sudah cukup semuanya. Kalian berlebihan sekali.” Christ tersenyum lebar
“Wah, kau tadi sangat berani, Bos.” Asep masih berseru. “Seakan-akan kau mencekik leher Hakim Lusi yang kuat itu, dan dia terlihat sekarat saat diatas panggung tadi. Kau sungguh hebat.”
__ADS_1
“Hei, kau tak perlu berlebihan seperti itu.” Gun meninju lengan Asep. “Yang kau lihat dari Bos itu belum seberapa.”
“Tetap saja, itu adalah momen yang paling menegangkan sepanjang hidupku.”