
“Dan jika kau bertanya kenapa ibumu menghilang, itu karena profesinya sebagai fotografer. Suatu hari dia mendapatkan beberapa bukti kebusukan Lusi yang dia dapat hasil jepretannya sendiri. Maka dari itu, ibumu juga menghilang karenanya.”
“Percaya atau tidak, ibumu telah menyelamatkanku saat aku diculik 20 tahun silam, tepat setelah ibuku dibunuh oleh Miko. Ibumu berhasil menghalangi Jono, saat dia akan mengejarku 20 tahun silam.”
“Jujur saja, saat pertama kali aku melihatmu, aku tak tahu jika kau adalah putri dari seorang wanita yang pernah menyelamatkanku dua puluh tahun silam.”
“Lalu, setelah aku pindah ke kota ini, aku baru tahu fakta sesungguhnya, bahwa kau adalah putri dari seorang wanita yang telah menyelamatkanku kala itu.”
“Akan sangat panjang dan sedih jika aku menceritakan semuanya saat ini,” jelas Christ panjang lebar.
Mata Yuli berkaca-kaca, lalu menangis terisak-isak. Setengah percaya dan tidak dia mendengar cerita dari Christ.
Yuli mengusap air matanya, berdiri, lalu beranjak pergi dari kantor Christ.
__ADS_1
“Yuli!!!” Christ mengejarnya sebelum Yuli benar-benar pergi.
Christ memegang kedua pundak Yuli dan menatap matanya. Akan tetapi, tangisan Yuli semakin menjadi-jadi dan balik memukul dada Christ layaknya seorang wanita yang marah pada pacarnya.
Yuli kesal pada dirinya sendiri. Dia tak percaya dengan apa yang dikatakan Christ tentang Lusi, dan selalu menolak untuk percaya padanya. Hingga dia benar-benar harus tahu sendiri semua fakta yang membuatnya merasa hancur.
“Lepas! Lepaskan aku!!!!!!” Yuli terus merengek meronta-ronta, tapi juga Christ tak mau melepaskannya.
“Tenanglah, Yul. Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku tahu kau menyesal tak mempercayai ucapanku sejak awal, tapi tak apa. Yang terpenting, saat ini kau sudah tahu semuanya.”
Meski Christ telah mengusap air matanya, tapi Yuli tetap saja menangis di pelukan Christ. Air matanya berjatuhan membasahi pipi dan jatuh di pundak Christ.
Beberapa menit kemudian, tangisan Yuli pun mereda. Christ membopongnya menuju teras yang ada di balkon. Christ kembali ke kantornya, mengambil dua botol vodka dan dua sloki.
__ADS_1
Dia berpikir dengan alkohol mungkin akan menenangkan pikiran Yuli yang amat stress di malam itu.
Yuli hanya duduk melamun dan melihat bintang-bintang yang ada di langit. Christ pun tak mengajaknya berbicara. Memberikan waktu pada Yuli untuk merenungi dirinya sendiri.
Christ hanya menuangkan setiap sloki yang telah dihabiskan oleh Yuli, hingga Yuli benar-benar lelah menangis, karena mabuk.
“Cukup!!! Kau sudah terlalu mabuk, Yul.” Christ melarang Yuli saat dia meminta Christ menuangkan alkohol. Dia menghentikannya sebelum Yuli benar-benar teler karena alkohol.
Alkohol memang dapat menenangkan seseorang saat mereka dalam keadaan stress, tapi, juga banyak hal negatif yang ditimbulkan jika seseorang terpengaruh dengan kadar alkohol yang cukup tinggi.
Ketika seseorang dalam keadaan mabuk, risiko kecelakaan sangat meningkat bagi yang mengalaminya secara signifikan.
Orang teler karena mabuk mungkin kehilangan kendali dan kesadaran diri, sehingga rentan terhadap cedera fisik seperti, jatuh, tergelincir, atau kecelakaan saat berkendara.
__ADS_1
Beberapa orang lain juga akan berbuat hal diluar nalar jika tubuhnya dipengaruhi oleh kadar alkohol yang cukup tinggi. Mereka melakukan tindakan kriminal yang dapat membahayakan orang lain.
Mata Yuli mulai sayup-sayup. Tubuhnya mulai lemas tak berdaya bersandarkan di bangku. Christ segera berjongkok, lalu menggendong tubuh Yuli di punggungnya. Membawanya kembali ke kantor.