
Pagi hari itu juga. Semua media memberitakan tentang kesuksesan peresmian patung Hakim Sulistyo yang berlangsung kemarin sore. Mulai dari surat kabar, berita TV, dan semua media lainnya memberitakan tentang hal tersebut.
Semua media memuji Hakim Sulistyo dan juga anaknya Lusi sebagai hakim terkemuka di kota Bekasi.
Begitupun Christ yang cukup kesal melihat berita sampah itu. Dari dalam kantornya, dia melihat semua berita dari salah satu stasiun TV, berita radio dan beberapa surat kabar yang ada di atas mejanya.
Setelah membahas tentang peresmian patung, semua media kembali menampilkan berita tentang Miko yang sedang mencalonkan diri sebagai walikota yang baru.
Hal itu membuat Christ semakin muak lagi. Berita-berita sampah yang bermunculan itu membuat mood Christ rusak pagi itu.
Seperti biasa, pagi itu Christ sudah rapi dengan setelan jas borrallo. Setelan andalan yang selalu dipakainya saat bertugas maupun hari-hari biasanya.
Dia selalu mengenakan setelan mahal itu bukan karena agar orang lain terkesan saat melihatnya, melainkan dia sangat suka dengan bahan dari setelan itu.
BRUMM!!!!
__ADS_1
Christ menyalakan mobil yang terparkir di depan gedung. Sesekali di menggeber-geber mobilnya, sekedar untuk memanaskan mesin.
Dia berencana untuk pergi ke tempat basecamp Miko, basecamp tempatnya melakukan kampanye untuk menjadi walikota.
Tiga puluh menit kemudian, Christ pun tiba di tempat. Mobilnya terparkir tepat di depan basecamp Miko melakukan kampanye.
Dan lagi-lagi mobilnya menjadi pusat perhatian bagi seluruh warga sekitar yang sedang berbelanja di pasar tradisional yang berada di dekatnya.
Christ keluar dari mobil dan tersenyum pada orang-orang yang berhenti dan menatap mobilnya yang sangat mewah.
Beberapa dari mereka tersenyum balik pada Christ dan beberapa lainnya berlalu menuju ke pasar untuk berbelanja.
Beberapa diantaranya menempelkan poster, dan memberikan poster kepada para warga sipil yang melintas di sekitarnya.
Christ menuju ke lantai 2, tempat Miko berada saat itu.
__ADS_1
BRAK!!!
Dengan santainya Christ membuka pintu ruangan Miko dengan keras. Memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Menatap semua orang yang ada di ruangan itu.
Beberapa orang dari tim sukses kampanye Miko hanya terdiam melihat kedatangan Christ. Terlihat juga Roy yang juga berada di tempat itu.
Dia duduk di sebelah Miko sebagai ketua yang memimpin dari kampanye itu sendiri.
“Dasar, Brengsek! Beraninya kau datang kemari,” bentak Roy. Dia beranjak dari sofa menghampiri Christ. Berlagak sok berani.
“Lantas, kau sendiri? Sedang apa kau disini? Apa kau juga berkampanye mendukung dia? Ah, mungkinkah kau sekarang menjadi babunya?” Christ melangkah santai mendekati Roy dan memukul-mukul dadanya.
Roy pun melangkah mundur. Seketika nyalinya menjadi ciut. “Mau apa kau kemari? Aku ketua panitia kampanye disini.”
“Astaga, ini pasti acara komedi. Tak kusangka pria tua itu mempekerjakan orang bodoh sepertimu. Ah, benar juga. Aku lupa bahwa kalian berdua sama-sama bodoh.” Christ menatap Miko yang bersantai di atas sofa.
__ADS_1
“Ah, sial!” Saat Miko akan memukul Christ, Christ lebih dulu menghindar, meraih kembali tangannya, lalu memelintirnya hingga Roy berlutut.
Roy kesakitan, tapi Christ tak memperdulikannya. Tak ada kapok-kapoknya Miko. Dia ingin terlihat keren dan berkuasa, padahal tempo hari yang lalu, semua anak buahnya di hajar habis oleh Christ.