SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 081


__ADS_3

Sejak kemarin lusa, Christ sudah mulai curiga pada Yuli yang sangat ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Sebelum beranjak ke mobilnya, Christ sempat melihat berita TV di pagi itu. TV LED layar lebar yang ada di dalam kantor pengadilan.


Sang Reporter memberitakan bahwa sore hari ini juga, telah diadakan acara peresmian patung dari mendiang ayah Lusi yang juga salah satu Hakim agung terbaik di Bekasi saat lampau.


Sejenak Christ melihat berita itu, lalu membuat rencana selanjutnya.


***


“Kudengar, Si Pembunuh Bayaran itu telah meninggal. Apa kalian tetap bisa mengeluarkanku dari sini?”


Di penjara NUSAKAMBANGAN, terlihat Yuli yang sudah berada di ruang kunjungan, bertemu dengan Jono.


“Kau tak boleh putus asa. Aku yakin pengacara Christ dapat mengeluarkanmu dari tempat ini. Ada kesaksian dari Pak Bejo, dan juga rekaman dari CCTV warnetnya yang membuktikan alibimu.


Pagi ini, Pengacara Christ sedang mengusahakan, apa rekaman itu bisa digunakan sebagai bukti, jadi, kau tak perlu khawatir.” Yuli mencoba menenangkan.


“Dan juga, apa mungkin…..”


“Apa menurutmu Lusi akan mempermudah persidangan ini?” Jono menyela ucapan.

__ADS_1


“Apa maksud perkataanmu?” tanya Yuli tak mengerti


“Apa menurutmu dia akan membiarkan Christ untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah? Apa kau tak tahu, seperti apa dia? Dia mencoba membunuhku dengan hukum yang dibuatnya. Kau tak tahu itu?”


“Kenapa kau malah membahas Hakim Lusi?”


BRAK!!! Pintu ruangan terbuka kencang. Christ datang dan mendengar percakapan antara Yuli dan Jono.


“Asal kau tahu, Lusi dan Miko itu bersekongkol.”


“Cukup, Jono!” seru Christ. Terjadi sudah apa dikhawatirkan Christ. Jono sedang memberitahunya tentang kebusukan Lusi pada Yuli. Christ tak ingin hal itu terjadi. Dia ingin memberitahu Yuli dengan caranya sendiri


“Kenapa wajahmu seperti itu? Apa dia sungguh tak tahu?” Jono menatap Christ yang baru datang.


“Yuli, berdirilah.” Christ menarik tangan Yuli dari tempat duduknya. “Mari kita bicara di luar saja.”


“Astaga, ada apa dengan kalian ini? Kalian bekerja sama, tapi kau tidak memberitahu rekanmu,” ucap Jono.


Christ pun tak memperdulikannya. Dia terus menarik tangan Yuli dan mengajaknya keluar dari penjara itu.


“Hakim Lusi yang kukenal bukan orang yang bisa dibilang sembarangan oleh orang seperti Jono,” ucap Lusi.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan keluar dari penjara menuju mobil Christ.


“Sudahkah kau merenungkan dalam-dalam tentang Hakim Lusi?”


“Apa maksudmu?” Yuli tak mengerti.


“Kau mungkin mengira bahwa kau adalah orang yang paling mengenal dan paling dekat dengannya, tapi, kenyataannya tidak begitu. Kau bisa saja salah dengan semua itu.”


Yuli tersenyum lebar. Dia masih tak percaya omongan buruk Christ tentang Lusi. “Aku tidak akan pernah meragukan orang yang kupercayai.”


“Apa kau tahu? Hakim Lusi telah menolak bukti dan saksi yang aku miliki.” Christ menatap Yuli serius.


“Sungguh? Dia menolak kedua-duanya? Rekaman CCTV di warnet Pak Bejo juga ditolak olehnya?”


“Ya, semuanya ditolak.” Christ mulai kesal dengan Yuli.


“Tidak. Tidak mungkin itu.” Yuli menggeleng masih tak percaya.


“Semua hal yang kau tahu soal Hakim Lusi adalah kebohongan.” Christ pun bergegas masuk ke dalam mobilnya, disusul Yuli. Kembali ke kantor firma hukumnya.


“Ehem.” Yuli memecah suasana di dalam mobil yang hening dan canggung dengan bercerita tentang ibunya. “Ibuku pergi membelikanku harmonika, karena harmonikaku yang lama telah rusak, tapi dia tidak pernah pulang lagi.

__ADS_1


__ADS_2