
Tiba di sebuah butik pakaian wanita. Butik itu tak jauh dari kantor Lusi. Beberapa pakaian wanita terlihat dari luar jendela.
Butik itu memiliki tampilan yang sangat menarik, dengan penataan produk yang nyaman untuk berbelanja, sehingga para pelanggan dapat menjelajahi produk yang sedang ditawarkan.
Berbagai macam merek seperti, Dior, Gucci, Celine, terdapat di butik itu. Beberapa orang dari kalangan menengah ke atas juga ditemukan banyak di butik mewah itu.
Saat memasuki butik, beberapa pelayan langsung menyambut tamu dan menanyakan, pakaian model apa yang mereka inginkan.
Lusi mengajak Yuli untuk pergi ke tempat dress pendek dan menyuruh Yuli untuk memilih beberapa setel yang disukainya.
Sembari Yuli memilih, Lusi duduk di kursi tunggu dan melihat-lihat model baju di dalam buku yang tersedia di butik itu.
“Bu, Hakim. Aku suka dress ini.” Yuli datang mengenakan dress pendek yang telah dipilihnya.
Dress berwarna hitam polos setinggi lutut langsung dicobanya. Kini Yuli terlihat lebih anggun, dan tak lagi terlihat sisi tomboy darinya.
“Astaga, kau sangat cantik dengan itu. Sesekali kau harus menggunakan setelan seperti itu, Yul.”
__ADS_1
Lusi berdiri dan mengambil salah satu setelan baju di dekatnya. “Bagaimana dengan yang ini? Sepertinya kau juga cocok menggunakan ini.”
Setelan yang sama dengan yang dipakai Yuli. Hanya saja memiliki corak dan motif yang lebih banyak dan memiliki gaya slimfit.
“Wah, ini juga bagus.”
“Cobalah ini. Aku yakin ini lebih cocok untukmu.”
Tak lama kemudian, Yuli telah menggunakan setelan itu. Dia terlihat semakin lebih cantik dengan dress yang dipilihkan Lusi untuknya.
Lekukan bentuk tubuhnya terlihat indah karena dress dengan model slimfit. Ukurannya sangat pas, tak kekecilan, tak juga kebesaran di badan Yuli.
“Astaga, Bu Hakim. Kenapa kau terus memanggilku secara formal? Tidak bisakah kau memanggilku Ibu seperti dahulu? Apalagi sekarang kau sudah kembali ke Bekasi. Kita sudah cukup dekat untuk kau memanggil itu, Yul.”
Yuli tersenyum lebar. Duduk di sebelah Lusi dan, “Baiklah, Ibu.”
Lusi pun juga tersenyum saat Yuli memanggilnya demikian. “Aku suka saat kau memanggilku ibu. Sudah lama sekali aku tak dipanggil Ibu.”
__ADS_1
“Dulu aku mengira, anda akan bekerja di Mahkamah Agung Jakarta. Akan tetapi, aku tak menyangka anda akan menetap di Bekasi.”
“Tidak, Yul. Bekasi adalah tempat lahirku, jadi, aku pun harus dikuburkan di kota ini. Tak ada tempat lain yang kutuju selain di Bekasi.” Lusi tersenyum kecil.
“Hmmm, benar juga. Seluruh keluarga anda juga menjadi hakim di kota ini. Paman anda, Ayah, Ibu, dan bahkan Kakek Nenek sekalipun.”
“Mendiang Ayahku… Aku tidak yakin bisa lebih hebat darinya saat dia menjadi hakim dulu,” ucap Lusi.
Yuli tersenyum memegang tangan Lusi. “Kau tak boleh berkecil hati, Ibu. Aku yakin kau bisa lebih hebat dari mendiang ayahmu.”
“Astaga, Yuli. Kau selalu bisa membuatku merasa nyaman.”
Usai memilih baju, mereka pun kembali dengan beberapa barang belanjaan yang telah dibelinya.
***
KING LAWYERS. Nama itu terpampang besar dalam banner dan papan di lantai 3 gedung.
__ADS_1
Lantai 3 gedung itu sudah menjadi kantor firma hukum milik Christ sepenuhnya. Guntur, Asep dan seluruh anak buahnya telah mengubah kantor itu dalam sekejap.