
Hanya dengan handuk, Christ dapat membanting dan menjatuhkan Si Turis.
Beberapa orang yang menyaksikan itu hanya diam. Mereka mengeluarkan ponsel, mengambil foto dan video saat Christ melawan turis itu.
Christ melangkah mendekati Si Turis itu dan menginjak kakinya. “Cepat pergi dari sini, atau aku akan memanggil petugas keamanan lain untuk menghajarmu.”
Si Turis pun ketakutan. Dia berusaha bangkit, lalu segera pergi dari pusat kebugaran.
Semua pengunjung pusat kebugaran bersorak ramai melihat itu. Beberapa mereka mengacungkan jempol pada Christ karena aksi heroik yang dilakukannya.
Christ kembali menghampiri Yuli. Menyeringai lebar dan berkata, “Kau lihat sendiri, bukan? Aku bahkan sama sekali tak tersentuh oleh turis asing itu.” Christ menyombong.
buk!!! Yuli mendengus. Memukul dada Christ. “Apa kau tak tahu, aku selalu ketakutan saat melihat kau berkelahi. Saat kau menghajar preman-preman yang menculikku, hingga kau memukul Si Pembunuh bayaran itu.”
Christ hanya tersenyum kecil, lalu merangkul Yuli. “Ssstttt! Sudahlah, mari kita segera kembali ke kamar. Aku sudah sangat lelah sekali.”
Sesampainya di kamar, Christ dan Yuli segera membersihkan diri. Mereka mandi bersama di dalam bathup. Menggosok tubuh satu sama lain, lalu membilasnya dengan shower.
Sesekali Yuli menggoda Christ dengan keindahan tubuhnya. Berharap Christ akan tergoda olehnya dan kembali menggaulinya saat pertama mereka tiba di hotel.
__ADS_1
Dan usahanya pun berhasil, Christ akhirnya tergoda. Beberapa kali dia sempat ingin kembali menggauli Yuli di kamar mandi, tapi, dia tiba-tiba teringat masalahnya yang belum terselesaikan.
Dia harus kembali ke kantor dan menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan. Begitupun dengan Guntur, Asep dan semua anak buahnya, yang pasti sudah mencari-cari Christ di kantornya.
Karena terlalu asyik menghabiskan hari itu dengan Yuli, Christ pun sempat terlena dengan masalah yang harus diselesaikannya.
Christ pun juga baru sempat membuka ponselnya saat itu. Beberapa kali panggilan tak terjawab dari Gun masuk ke ponselnya. Ditambah satu pesan whatsapp yang bertulis,
Gawat Bos. Kantor diserang oleh beberapa orang suruhan Miko.
Mata Christ terbelalak lebar. Hanya satu malam saja dia merasakan ketenangan, kini masalahnya malah bertambah.
Christ sejenak berpikir. “Dengarkan aku, Yuli.” Christ memegang pundak Yuli. “Kau harus tetap berada di kamar ini. Aku akan berkata pada resepsionis untuk menambah waktu kamar ini.”
“Kenapa? Apa yang terjadi, Christ?” Yuli kebingungan.
“Nanti kau akan tahu sendiri. Intinya, jangan pernah keluar dari kamar ini atau meninggalkan hotel, sebelum aku kembali.”
Christ segera mengambil kunci mobil, dan kunci kamar.
__ADS_1
“Tunggu, Christ!!!”
Christ lebih dulu meninggalkan kamar dan mengunci pintu kamar dari luar, agar Yuli tak bisa keluar dan menyusulnya.
dok dok dok dok
Dari dalam kamar terdengar Yuli yang terus menggedor pintu, tapi, Christ tetap meninggalkannya. Dia tak ingin melihat Yuli dalam bahaya lagi, seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Jaket Christ pun tertinggal di dalam kamar. Dia hanya menggunakan kaos saat pergi dari hotel, karena terburu-buru.
Usai berkata pada resepsionis untuk menambah waktu pada kamar, Christ pergi ke tempat parkir.
brummm!!!!
Tanpa memanaskan mesin mobilnya, Christ langsung melesat pergi.
Jalanan kota itu sangatlah padat. Christ tak bisa membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena pagi itu sangatlah macet.
Pukul 9 pagi memanglah selalu terjadi macet di kota Bekasi. Para buruh pabrik yang hendak bekerja dengan motornya, pekerja kantoran yang harus datang ke kantor dengan mobil mewahnya.
__ADS_1
Semuanya berkumpul memadati jalan raya hari itu. Jika jalanan tak sepadat itu, mungkin hanya lima belas menit, waktu yang dibutuhkan Christ untuk kembali ke kantornya.