SANG MAFIA HUKUM

SANG MAFIA HUKUM
SECTION 089


__ADS_3

“Astaga, Putri ayah! Kau baru pulang, Nak?” Ayah Yuli menyambut kedatangan Yuli yang baru pulang ke rumahnya malam itu.


“Ya, sepertinya begitu. Aku sangat lelah sekali hari ini, Ayah. Kenapa ayah belum tidur?”


“Aku hanya sedikit membersihkan beberapa pajangan foto ini, lalu aku akan tidur setelahnya.” Ayah Yuli meletakkan kain lap ke meja “Yuli, bisakah ayah berbicara denganmu sebentar saja?”


“Tentu, apa yang akan ayah bicarakan?” Yuli segera duduk di kursi yang ada di dekatnya.


“Nak, sepertinya kau harus berhenti bekerja di firma hukum itu. Firma hukum milik Pengacara Christ.”


“Apa maksudmu, Ayah?” Yuli tak mengerti.


“Jika kau bekerja di sana untuk mempertahankan studio foto ini dan membayar semua hutang ayah, lebih baik Ayah menutup tempat ini, dan menjualnya ke orang lain, lalu melunasi semua hutang Ayah, jadi, berhentilah bekerja dengan Christianto.”


“Ayah!! Kenapa Ayah berkata seperti itu? Studio ini milik mendiang Ibu. Kenapa ayah ingin menjualnya?”


“Nak, apa kau tak melihat apa yang dilakukannya tadi sore, saat peresmian patung ayah Hakim Lusi di pengadilan berlangsung? Acara itu adalah acara yang sangat penting dan itu sangat berarti bagi Hakim Lusi.”


“Akan tetapi, dia malah membuat kekisruhan di tempat itu. Kau juga tahu bukan, jika Hakim Lusi tidak membantu keluarga kita, kau tidak akan menjadi seorang pengacara seperti saat ini. Dia memberikan beasiswa penuh saat kau masih kuliah.”


Yuli termenung. Ayahnya mengulurkan tangan dan menyentuh tangan Yuli. “Kita harus bersikap baik pada Hakim Lusi. Kita juga harus menjauhi orang yang menimbulkan masalah pada Hakim Lusi. Kau mengerti?”


Yuli tersenyum kecil, dan berkata, “Ayah, aku akan melakukan apa yang menurutku benar, dan tak melakukan apa yang menurutku salah.”


Yuli pun berdiri, lalu pergi masuk ke dalam kamarnya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yuli sudah berada di kantor kejaksaan untuk bertemu dengan Lusi.


Kepalanya masih dipenuhi banyak pertanyaan dan keraguan tentang apa yang dikatakan Christ mengenai Lusi.


Dia menunggu di luar kantor kejaksaan, sembari menunggu beberapa petugas keamanan yang memanggilkan Lusi.


Tak lama kemudian, Lusi pun datang masih menggunakan jubah besar yang biasa dipakai seorang hakim. “Ah, kau datang, Yul?”


Yuli tersenyum. “Apa aku mengganggu, Hakim Lusi? Jika anda sedang sibuk, aku bisa datang lagi nanti.”


“Tak apa, kau adalah tamu istimewaku, Yul. Tak mungkin aku menyuruhmu pergi lagi. Mari kita berjalan-jalan di taman belakang sambil mengobrol.”


Yuli pun menunduk lalu berjalan mengikuti Lusi.


Kantor kejaksaan pusat kota Bekasi itu mempunyai taman yang berada di belakang gedung. Meski tak seluas taman kota, tapi taman itu terawat dengan baik.


Mereka berdua berjalan bersama menikmati udara yang segar di pagi itu. Suasana diantara mereka hening karena Yuli tak mengatakan apapun.


“Kenapa kau tak bertanya apapun, Yul? Padahal, aku cukup yakin kau datang kemari untuk alasan yang sangat jelas.”


“Hmmm, apa itu semua benar, semua yang dikatakan Christ tentang anda?”


“Ternyata hal itu yang ingin kau tanyakan.” Lusi tersenyum lebar. “Yuli, apa menurutmu menghukum seseorang dengan hukum adalah hak istimewa?” Lusi menghentikan langkahnya, lalu duduk di bangku terdekat.


“Apa maksud anda, Hakim Lusi?” Yuli pun ikut duduk di samping Lusi.


“Orang-orang tidak memikirkan tentang kejahatan yang mereka lakukan dan malah menyalahkan hakim. Maka itulah, banyak orang yang benci terhadapku.”

__ADS_1


“Semakin banyak orang yang kuberi keputusan atas hukuman, maka semakin banyak pula musuhku. Menghukum seseorang dengan hukum, bukanlah hak istimewa bagiku.”


“Aku sangat yakin itulah yang memicu Christianto. Karena keputusan atas hukuman yang tak kuingat. Dia membenciku, dan memutuskan untuk menjadi musuhku.”


“Yuli, menurutmu, sebanyak apa yang kau ketahui tentang Christianto? Kau tak tahu jika dia punya riwayat kriminal?”


“Apa maksud anda, Bu Hakim? Aku tak mengerti.”


“Dia banyak tahu tentangmu, tapi kau sama sekali tak tahu tentangnya. Ini semua salahku, Yul. Seharusnya aku memberitahumu lebih awal.”


Yuli semakin dibuat bingung lagi dengan ucapan Lusi. Dia tak tahu mana yang benar dan mana yang harus dipercayainya.


Di satu sisi dia mulai percaya dengan Christ, tapi disisi lain, dia masih setia pada Lusi karena Lusi selalu menunjukkan sikap baik pada keluarganya.


“Salah satu juniorku memiliki kantor firma hukum.” Lusi mengeluarkan sebuah kartu nama. Memberikannya pada Yuli.


“Kau bisa menjadi pengacara di kantor firma hukum ini. Aku akan memberitahu juniorku, jika kau sudah siap untuk berhenti bekerja dengan Christ.


Yuli hanya diam menunduk sambil melihat kartu nama di tangannya.


“Asal kau tahu, Yuli. Aku sangat tidak suka melihat orang yang sangat kusayangi bekerja sama dengan orang yang memusuhiku.”


Suasana lengang sejenak. Yuli masih diam dan berpikir keras.


“Baiklah, Yuli. Hubungi aku jika kau sudah siap. Aku harus kembali kantor dan menyelesaikan pekerjaanku.” Lusi berdiri merapikan setelannya.


“Baik, Bu Hakim. Terima kasih banyak.” Yuli menunduk melihat langkah Lusi meninggalkan taman.

__ADS_1


__ADS_2