
Biasanya Sekretaris Serge ibarat air di pegunungan yang selalu sejuk untuk dinikmati dan dipandang. Senyum ramahnya yang bertolak belakang dengan sosok laki-laki yang ada di sampingnya membuat karismanya sangat berbeda dengan CEO. Dia juga sebenarnya tampan, namun entahlah, karena sikapnya yang ramah dan menyapa semua orang dengan cerita, mungkin jadi tidak membuat orang penasaran. Para wanita lebih senang dengan sosok dingin CEO. Hingga banyak yang mengaguminya hanya selewat saja, sambil membicarakan CEO pasti akan dibumbui dengan sekretarisnya yang ramah dan murah senyum.
Tapi hari ini, keempat senior Mei yang tadi tampak sombong itu, menciut takut. Ternyata Serge membawa semua orang untuk ditanyai, bukan hanya si sumber gosip. Keempat orang itu, melihat tidak ada yang tersisa di wajah Serge. Keramahan laki-laki itu menghilang, seperti di telan bumi. Senyum cerianya pun memudar saat mereka sudah masuk ke ruang HRD, rasanya aura yang memancar dari Sekretaris Serge tidak jauh berbeda dengan milik CEO.
Serge meletakkan kertas dan pena, menyuruh mereka menuliskan nama dan jabatan. Setelah itu menyita ID perusahaan dan hp mereka, tanpa terkecuali. Kemudian, laki-laki itu keluar dari ruangan. Sengaja meninggalkan mereka berempat, untuk melihat apa yang akan terjadi.
Setelah Serge keluar, hanya butuh sepersekian detik, langsung tercipta keributan. Keempat orang gadis di dalam ruangan saling menyalahkan. Tidak hendak menutupi watak mereka. Semua bicara dengan suara keras dan nyaring.
"Ini semua salahmu, kau yang bilang kan kalau Merilin simpanan Presdir!"
"Bagaimana ini kalau aku dipecat, ayah dan ibuku pasti marah besar, Aaaa! Ini semua salahmu." Teriakannya bercampur tangis dan kata-kata menyudutkan. "Kau mengaku saja kalau ini kau sumbernya."
Amerla sialan! Amerla! Senior sumber gosip sudah meraba apa yang akan terjadi padanya. Tidak! aku tidak boleh sampai dipecat. Tidak boleh. Dia tidak bisa menjawab dengan kata-kata mendengar tudingan rekan kerjanya, dia memilih menangis juga. Menunjukkan kalau dia juga frustasi dan hanya korban.
"Sekarang bagaimana? Kan aku sudah pernah bilang, tidak mungkin Presdir sampai menduakan nyonya, beliau sangat mencintai nyonya." Gadis itu pernah melihat nyonya dan Presdir bersama di acara perusahaan.
"Ayo memohon pada Merilin, supaya dia memaafkan kita. Aku tidak mau dipecat. Hei, jawab donk, kau kan yang jadi sumber gosip, katanya temanmu itu bisa dipercaya." Semakin menyalahkan. Dia bingung dan kalut tentang masa depannya.
"Kenapa? Kenapa dengan Merilin? padahal dia hanya Merilin." Senior yang tadi jatuh pingsan kembali terguncang tidak terima. "Kenapa CEO menikah dengan wanita seperti itu."
Ketiga orang yang lain menatap kasihan, gadis yang satu itu memang sangat terobsesi dengan CEO. Tidak sampai bermimpi untuk menikah dengan CEO karena dia pun merasa tidak pantas, tapi, bagaimana malah wanita sekelas Merilin yang dinikahi CEO. Hatinya yang selama ini mengidolakan merasa tidak terima.
Keempat orang itu adu mulut sambil menangis dan saling menyalahkan. Sementara Serge berdiri di depan kaca. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat dan mendengar semua isi pembicaraan ke empat orang itu. Tapi dari dalam ruangan, hanya terlihat dinding kaca tebal yang memantulkan bayangan mereka. Di samping Serge, sekretaris Presdir juga mendengar semuanya.
"Sepertinya memang dia sumber dari semua gosip yang beredar tentang Merilin." Serge bicara. "Semua orang menunjuk dan menyalahkannya."
Amerla, jangan lupakan nama itu. Sebenarnya apa alasan Erla melakukan hal bodoh ini. Apa dia hanya ingin melihat reaksi Rion. Pandangan Serge lurus melihat ke empat orang yang masih bertengkar. Serge bisa menebak, hukuman apa yang akan dijatuhkan Presdir pada keempat orang itu. Pemecatan tanpa peringatan. Setegas itulah Presdir kalau menyangkut pekerjaan dan perusahaan. Bahkan mungkin bisa sampai blacklist dari dunia yang sama dengan Andez Corporation. Artinya jangan bermimpi bisa bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan Andez Corporation.
"Padahal Amerla juga tidak akan mendapatkan apa-apa." Serge sebenarnya bertanya pada dirinya sendiri. Tapi, paman disampingnya bereaksi.
"Sepertinya gadis itu ingin melihat reaksi tuan muda."
Reaksi Rion? Apa paman berfikiran sama sepertiku, kalau Erla ingin tahu isi hati Rion sebenarnya. Huh! walaupun sebenarnya tindakannya ini sangat beresiko. Dia benar-benar sudah tidak waras. Serge kesal sendiri. Kerjasama Andalusia Mall dan Andez Corporation bisa saja hancur karena ulahnya.
"Kalau CEO Rion menyangkal dan tidak mengakui Merilin, maka dia akan menyerang dengan menjatuhkan mental Merilin. Anda berfikir begitu juga kan?" Kelicikan Amerla ditebak Serge.
Paman hanya memberi reaksi dengan anggukan kepala.
"Sekretaris Serge."
"Siap Pak!" Langsung berdiri dengan sikap sempurna.
"Presdir menyerahkan sepenuhnya hukuman ke empat karyawan itu pada tuan muda, kalau ini Presdir kau pasti tahu yang akan beliau lakukan kan, tapi Presdir akan menerima apa pun keputusan tuan muda." Presdir tidak akan memberikan intervensinya, semua keputusan final ada di tangan Rion.
__ADS_1
"Saya akan bicara dengannya dulu, dan mencari tahu hubungannya dengan Amerla." Serge menunjuk gadis yang ditunjuk ketiga rekannya sebagai biang gosip.
Paman melihat jam di tangannya, sepertinya dia sudah mau pergi. Tapi, paman bicara memberi nasehat penutup untuk Serge.
"Dulu, saat Presdir masih muda, ada kejadian yang tidak bisa aku lupakan, saat itu Andez Corporation menjalin kerjasama dengan perusahaan XX." Menyebut nama perusahaan perhotelan. "Kepala proyek dan Presdir sudah melakukan penandatangan, bahkan sudah tersebar ke media rencana kerja sama ini, tapi semua batal, gara-gara CEO mereka menggoda nyonya di suatu pesta. Tangan nyonya ditarik CEO itu. Saat itu Presdir melemparkan isi gelas minumannya ke wajah laki-laki itu. Beliau memang sangat rasional kalau urusan pekerjaan, tapi bisa langsung meledak-ledak kalau berhubungan dengan nyonya dan tuan muda." Intinya perkataan sekretaris Presdir adalah, Presdir tidak akan membiarkan siapa pun berani menyentuh keluarganya. "Sekarang, bertambah lagi satu, yaitu nona muda."
Hah! Sekarang aku semakin yakin, dari mana darah Rion berasal. Hemm, walaupun sikap Presdir pasti terlihat sangat romantis di hadapan nyonya, tapi bagi para pengusaha lain mungkin sikap Presdir dibilang aneh dan berlebihan. Sampai rela menanggung kerugian. Dan percayalah, Rion pasti bisa melakukan hal gila seperti pemutusan hubungan kerja sama. Kepala Serge rasanya berdenyut.
"Saya mengerti, saya akan menyampaikan kepada CEO, saya akan mengurusnya sebaik mungkin dan tidak mengecewakan Presdir."
Paman menepuk bahu Serge dua kali. Merasakan bangga karena ada penerus yang cukup kompeten berada di samping Rion. Lalu dia berpamitan. Setelah sekretaris Presdir pergi, selama beberapa saat Serge berdiri di tempatnya. Menarik nafas dalam-dalam, menyetel wajahnya sedingin mungkin.
Brak! Lagi-lagi membuka pintu dengan suara keras, untuk mengintimidasi, pertengkaran ke empat orang itu langsung berhenti. Tidak ada suara apa pun, selain tarikan kursi yang diduduki Serge
"Jadi, siapa dalang dari gosip tentang pimred Meilin bermula?" Serge melihat ke empat orang.
Langsung berebut jawaban meluncur dari mulut mereka.
"Dia Tuan, dia yang bilang." Menunjuk senior si sumber gosip. "Saya hanya ikut-ikut Tuan! Saya mohon jangan pecat saya Tuan Serge. Saya mohon, saya menanggung biaya sekolah adik-adik saya."
Seharusnya kau menjaga mulutmu dengan baik, tapi kenapa kau malah menjatuhkan nama baik orang lain dan Presdir. Serge masih tidak bergeming.
"Saya mohon jangan pecat saya Tuan." Dia mengatupkan tangan. "Saya hanya ikut-ikutan, saya bersumpah bukan saya penyebar pertama gosip." Tangannya menunjuk senior si penyebar gosip.
Ketukan pintu terdengar, dua orang masuk.
"Bawa mereka ke ruangan lain, aku akan bicara dengannya dulu."
Tanpa banyak bicara, ketiga gadis itu meninggalkan ruangan. Salah satu dari mereka harus dipapah saat berjalan. Dan sekarang, tertinggalah dua orang. Serge sudah tahu kalau dia dalang semuanya. Dan laki-laki itu tidak sedikitpun bergeming menunjukkan rasa iba, walaupun gadis di depannya mulai menitikkan airmata.
Kau sudah menyakiti adikku.
Ketukan tangan Serge di atas meja mengagetkan gadis itu.
"Apa Amerla yang kau maksud adalah istri CEO Andalusia Mall?"
Dia terkejut, karena Serge mengetahui perihal Amerla. "Be, benar Tuan Serge. Dia istri CEO Andalusia Mall. Dia yang pertama kali mengatakan kalau Merilin memiliki hubungan dengan petinggi perusahaan. " Dia langsung menyambar dengan cepat, berharap kalau dia mengatakannya dia bisa menyelamatkan pekerjaannya. "Bukan saya Tuan, tapi Amerla yang bicara duluan seperti itu."
Brak! Gembrakan tangan Serge di atas meja membungkam mulut gadis di depannya.
"Padahal Amerla tahu, kalau pimpred Merilin istri CEO Rion." Serge bicara dengan nada sinis. "Apa kau tidak mendengar Amerla bicara tentang itu?"
"Apa!" tangan senior itu gemetar, antara kaget sekaligus marah dengan fakta yang dikatakan Serge. "Tapi, Amerla tidak pernah mengatakannya Tuan, dia hanya bilang kalau Merilin berhubungan dengan petinggi perusahaan. Saya bersumpah!" Dia mulai memakai senjata airmatanya untuk menyentuh keprihatinan Serge.
__ADS_1
"Jadi, kau berspekulasi sendiri, kalau itu Presdir!" Suara dingin yang langsung menyebar memenuhi udara.
Deg.
Tangan gadis itu semakin gemetar karena terpojok. Benar, Amerla hanya menyebut kata pimpinan, tapi dialah yang menyimpulkan kalau itu Presdir. Dia bangun dari duduk lalu langsung bersimpuh di lantai.
"Saya mohon Tuan, bukan begitu, semua karena Amerla, saya benar-benar salah Tuan, jangan pecat saya Tuan, saya mohon. Saya menghidupi keluarga saya, saya tulang punggung keluarga saya Tuan. Saya mohon. Hiks. hiks." Tangisnya pecah.
Serge menatap gadis itu, entah dengan perasaan apa. Tapi, terlontar pertanyaan menohok dari mulutnya.
"Kau iri dengan Merilin?"
Gadis yang sedang berlutut itu tidak menjawab.
"Padahal seingatku, kau memilih sendiri posisimu yang sekarang karena berfikir majalah perusahaan hanya tempat orang buangan. Tapi, setelah Merilin membawa majalah perusahaan naik kelas kau iri dan ingin merebut posisi itu."
Semakin gemetar tubuh yang berlutut itu.
"Kau memang tidak pantas bekerja di Andez Corporation. Hatimu terlalu sakit untuk bekerja dalam tim."
Gadis itu sesenggukan. Tidak berani menjawab, karena itulah awal mula dia terpancing dengan perkataan Amerla. Amerla yang mengatakan kalau dia mengenal Merilin, membuat hatinya langsung terpantik cemburu, saat Amerla bilang, kalau Merilin memiliki hubungan dengan petinggi perusahaan, dia ingin menjatuhkan gadis itu dan merebut posisinya.
"Semua keputusan ada di tangan CEO, nasibmu dan ketiga rekanmu yang sudah kau hasut itu. Apa kau akan menyeret mereka atau kau mengakui kalau semua ini kesalahanmu."
Tentu saja dia tidak mau disalahkan sendirian. Kalau harus dipecat, dia juga mau menyeret semua orang untuk ikut dipecat. Bahkan dalam hati kecilnya dia berharap, hubungan Andez Corporation dan Andalusia Mall hancur. Karena itu juga kehancuran untuk Amerla.
"Aku tidak tahu alasan Amerla memghasutmu, padahal dia tahu kalau Merilin istri CEO. Tapi, karena kau biang gosip sampai membawa-bawa Presdir, maka kau harus mempertanggung jawabkan ya."
Serge mendorong kursinya. Saat dia mau berjalan menuju pintu, gadis itu merangkak langsung menangkap kakinya.
"Hei! Apa yang kau lakukan! lepaskan!"
"Saya mohon Tuan, saya mohon, saya akan berlutut di kaki Merilin memohon pengampunan, saya mohon. Saya mohon, ini salah Amerla. Saya mohon Tuan!"
Serge melepaskan tangan yang mencengkeram kakinya, dengan tatapan dingin dia tidak bicara sepatah katapun dan keluar dari ruangan. Saat dia hanya tertinggal sendirian, gadis itu menjerit meraung-raung, memaki Amerla berulang.
"Ini bukan salahku, ini salah Amerla. Merilin juga, ini salahnya kenapa dia tidak bilang kalau dia istri CEO." Gadis itu menjerit berulang menyalahkan orang lain.
Bersambung
Spoiler
yang satu ke RS
__ADS_1
yang satu ke pertemuan khusus 🤔