
Rasanya lelah semua orang terbayar, dengan hasil yang di dapatkan hari ini. Vidio yang mereka rekam saat wawancara hasilnya memuaskan, walaupun ada sedikit hal diluar dugaan yang terjadi. Dan harus take ulang. Foto-foto yang sangat bagus, Presdir dan CEO disatukan dalam satu frame untuk sampul majalah. Ah, tidak ada kata selain kesempurnaan untuk menggambarkannya.
Sesi tanya jawab yang dilakukan Pimred Merilin walaupun hanya sepuluh pertanyaan namun sudah merangkum semuanya. Apa yang ditanyakan Mei, seperti mewakili rasa penasaran orang-orang selama ini. Bagaimana Presdir Frans Fernandez membangun Andez Corporation menjadi perusahaan konstruksi besar di negri ini. Andez Corporation yang diambil dari nama keluarga mereka. Karena memang untuk membahagiakan keluargalah alasan utama perusahaan itu berdiri. Filosofi yang terbangun sejak awal berdirinya Andez Corporation.
Para pelayan dan pengawal bahkan menonton semua proses pengambilan gambar dan wawancara. Mereka bertepuk tangan tanpa suara dan penuh kebanggaan. Mereka terlihat bahagia menjadi bagian dari Andez Corporation.
Sedangkan bagi Mei ini adalah wawancara ketiganya dengan CEO Rion, dan pertama kalinya bicara dengan Presdir dalam situasi formal. Dia tegang, tentu saja. Dia takut membuat kesalahan, apalagi wawancara ini akan menjadi film pendek promo perusahaan. Dia tidak boleh membuat kesalahan dan menghancurkan kerja keras semua orang.
Sekilas, mari kita lihat, hasil Vidio wawancara yang direkam oleh Kendra dan rekannya.
Ibu duduk di samping Presdir, di sofa panjang. Rion duduk di sofa terpisah. Mei sebagai pembawa acara duduk terpisah dengan ketiganya. Sungguh kombinasi yang sangat sempurna gumam Mei melihat pemandangan di depannya. Ketiga orang itu sangat cocok berada di dalam frame kamera. Terlihat berwibawa, tampan dan anggun serta cantik. Wajah tampan Kak Rion memang perpaduan nyata, ketampanan Presdir dan kecantikan milik ibu.
Secuil rasa rendah diri itu muncul di dalam hati Mei. Bagaimana dia bisa terlibat dengan keluarga yang sangat sempurna ini. Bagaimana bisa dia masuk ke dalam keluarga terhormat ini. Bagaimana bisa aku bermimpi mencintai laki-laki seperti Kak Rion, dan bagaimana aku berharap cintaku terbalaskan. Rasa malu itu menghujani hati, namun Mei juga mau bersikap tidak tahu malu. Karena dia benar-benar menginginkan perasaannya berbalas. Dia juga ingin dicintai Kak Rion. Sebanyak dia jatuh cinta dan menyukai Kak Rion. Mei sadar, dia serakah, dan tidak tahu malu. Tapi untuk hal ini, dia tetap mau bersikap keras kepala.
Setelah tenggelam dengan pikirannya sesaat, Mei fokus pada situasi yang sedang dihadapinya sekarang.
Satu persatu pertanyaan dimulai. Presdir menjawab dengan tenang dan penuh wibawa. Bergantian pertanyaan untuk Rion, Rion menjawab pendek-pendek seperti dia yang biasanya. Angkuh dan tidak tertarik pada apa pun. Ibu juga ikut menimpali sambil tersenyum dengan hangat menyentuh tangan suaminya ketika jawaban ayah maupun Rion menyeret namanya.
Andez Corporation adalah perwujudan cinta untuk keluarga. Seperti niat awal berdirinya perusahaan itu. Begitulah jawaban yang menunjukkan betapa berharganya posisi ibu di perusahaan.
Pertanyaan dilanjutkan. Presdir tetap dengan berwibawa menjawab.
"Apa Anda bisa membagi sedikit motivasi, untuk para pengusaha muda yang baru saja membangun karir?"
"Membangun Andez Corporation sampai menjadi seperti sekarang, tentu saja bukan perkara gampang. Bukan seperti membalik telapak tangan. Setiap orang yang membangun usaha pasti melalui jatuh dan bangun. Seperti itu juga kami. Terkadang lancar, namun tidak jarang menanggung kerugian. Itulah usaha, itulah yang harus dijalani dalam proses menjadi besar." Presdir menyentuh tangan istrinya, wanita disampingnya yang tetap terlihat cantik di usianya itu tersenyum. "Dan dialah kekuatan terbesar dibelakang kesuksesan Andez Corporation. Dukungan yang diberikan istriku adalah salah satu hal utama yang menguatkan mentalku untuk membawa kejayaan Andez Corporation, keinginan kuat untuk membahagiakan orang-orang yang kita sayangi itulah yang membuat kita tidak akan pernah menyerah untuk berusaha keras membangun usaha. Sebesar apa pun masalah dan tantangan, pikirkan saja orang-orang yang akan kita ajak menikmati kesuksesan itu bersama kita. Kebahagiaan dari bola mata yang berbinar, senyum kebahagiaan mereka. Karena doa keluarga kita, doa istri dan orang-orang yang kita sayangi, akan bersinergi dengan usaha dan kerja keras kita."
Jawaban Presdir sangat berkelas, menunjukkan bagaimana cintanya beliau pada istri dan putranya. Dukungan dari keluarga dan orang tersayang, memang bisa menjadi sumber semangat yang jauh berlipat ganda daripada sekedar keuntungan yang ingin diraih. Dan Presdir sudah membuktikan itu, bukan hanya sekedar berteori.
"Bahagiakan keluargamu, cintai dan bahagiakan istrimu, makan kesuksesanmu akan mengalir begitu saja, seperti sudah Tuhan bukakan jalannya."
Tepuk tangan Mei bersamaan keharuan yang menembus pelupuk matanya, gadis itu memuji Presdir dengan tulus. Dia sangat setuju dengan apa yang Presdir katakan. Orang-orang yang ada di situ mangut-mangut setuju. Serge bergumam, Presdir memang sangat mencintai keluarga beliau. Nyonya maupun Rion. Bahkan saking sayangnya, Rion yang salah sekalipun, dia yang harus menanggung kemarahan Presdir. Hah, sabar Ge, kau bisa hidup dengan nyaman dan membahagiakan keluargamu juga karena kemurahan hati beliau kan.
Mei melanjutkan pertanyaannya.
"Bagaimana dengan putra Anda? Apa sejak awal Anda sudah mendidiknya untuk menggantikan Anda? Seperti sebuah keharusan menjadi penerus keluarga?"
Presdir tertawa mendengar pertanyaan Mei.
"Sepertinya Rion yang harus menjawab ini, apa selama ini ayah memaksamu Nak?"
Deg.
Entah kenapa hati, pikiran dan fokus Mei langsung tertuju pada Kak Rion. Laki-laki yang sepanjang wawancara hanya menjawab seperlunya tanpa ada ekspresi yang berlebih. Bahkan Presdir saja masih tersenyum sesekali dan menjawab pertanyaan dengan panjang lebar. CEO Rionald tetaplah CEO Rionald, sosok yang dulu Mei kenal di perusahaan. Angkuh, dingin, dan seperlunya bicara.
Ehm, kalau di rumah kenapa kau tidak bisa setenang ini Kak? Apa kau benar-benar bunglon yang bisa berubah warna di mana pun kau berada. Eh, tapi aku suka Kakak kalau di rumah. Wajah Mei jadi bersemu malu sendiri. Dia mencubit kakaknya supaya fokus.
"Apa meneruskan Andez Corporation adalah impian Anda, CEO Rionald?" Jawaban yang sebenarnya sudah terjawab semalam.
"Begitulah, ayah bekerja dan membesarkan perusahaan. Tentu sebagai satu-satunya anak ayah, aku harus meneruskan pekerjaan ini."
__ADS_1
Seperti yang Rion katakan semalam, kalau hanya Mei yang tahu jawaban sebenarnya dari impiannya. Lagi-lagi, gadis itu merasa bangga dan besar kepala.
"Ini menjadi pertanyaan penutup untuk Presdir, selama ini Anda tidak pernah mau diwawancara di mana pun, tapi kenapa hari ini Anda bersedia dan mau menjadi sampul majalah bulan ini? Apa karena bersama putra Anda? Kami sangat penasaran. Kalian berdua tampak sangat tampan dan serasi bersama."
Ibu tersenyum, sedikit menahan tawa. Mendengar pertanyaan Mei. Kalau tidak sedang diwawancara dia pasti sudah tertawa keras dan memukul bahu suaminya.
Mei menutup draf pertanyaan yang ada dipangkuannya. Tersenyum sambil menatap kamera. Menunggu jawaban dari Presdir. Saat melirik Rion, eh, kenapa Kak Rion tersenyum begitu. Deg. Mei jadi merasa sedikit cemas. Dia melihat ke arah yang lain. Semua orang masih menunggu seperti dirinya. Kira-kira jawaban apa yang akan diberikan Presdir.
"Kenapa kau bertanya Mei? Tentu saja karena sebagai pimpinan, aku bangga dengan semua kerja kerasmu, selain itu, sebagai ayah mertua, aku harus mengabulkan keinginan menantuku kan. Haha. Ya, ya, yang sedang duduk mewawancarai kami sekarang adalah menantu Andez Corporation, istri kesayangan anakku, dan menantu kesayangan istriku."
"Eh, Ayah?"
Mei bangun dari duduk karena kaget, membuat tanda memotong dengan tangannya. Cut. Ini kan tidak ada dalam sekenario. Dia tidak berani memotong jawaban Presdir tadi, jadi menunggunya selesai bicara. Walaupun wajahnya sudah merah padam karena kaget dan malu.
"Ayah, maaf jawaban Ayah."
"Kenapa Mei, bukankah sudah saatnya semua orang tahu kalau kamu adalah menantu kami. Apa kau tidak mau?"
"Eh, tidak, bukan begitu Ayah, bukan saya tidak mau." Gadis itu berusaha tersenyum dan terlihat biasa saja. Karena sekarang banyak mata yang melihat mereka.
Dan mata kamera masih merekam. Tentu saja.
Mei yang panik melihat ke arah Rion, bukan dia tidak mau. Tapi, Kak Rion kan yang tidak mau pernikahan ini diumumkan secara terbuka. Saat Mei kebingungan dan bertanya dengan tanda isyarat pada Rion, laki-laki itu cuma mengangkat bahu sambil menyeringai. Pasrah, karena itu maunya ayah. Begitu sepertinya arti bahunya yang terangkat.
Serge yang dari tadi menonton juga terkejut. Karena tiba-tiba Presdir bicara begitu.
"Kita ulang lagi pertanyaan terakhir." Presdir mengangkat tangannya.
Seperti itulah yang terekam lensa kamera. Wawancara yang nanti akan masuk dalam Vidio promo perusahaan. Aaaaaa! Kenapa jadi pengumuman dirinya sebagai menantu Presdir. Mei bisa membayangkan, akan seramai apa nanti respon dari penonton.
Setelah wawancara selesai, mereka mengambil foto. Lebih banyak foto lebih baik supaya banyak yang bisa dipilih begitu kata Kendra. Berbagai pose dan gaya diambil. Ibu menarik Mei untuk ikut bergabung berfoto setelah urusan pekerjaan selesai, jadilah foto keluarga sekarang.
Dan setelah semua selesai. Ayah dan ibu masuk ke rumah. Rion meminta Kendra secara khusus untuk mengambil fotonya bersama Mei, berdua dengan berbagai gaya, dari yang simpel hanya berpegangan tangan, sampai yang agak-agak dengan bumbu peluk dan sedikit kecupan di pipi. Dia bahkan merajuk saat Mei mengatakan, sudah Kak, malu dilihat yang lain. Rion tidak perduli, malah melirik Kendra yang langsung siaga lagi dengan kameranya. Sikap CEO Rionald benar-benar membuat semua orang kaget dengan kelakuannya.
Serge sampai nyeletuk, untung saja tidak ada karyawan perempuan yang lain, bisa-bisa pada pingsan melihat kelakuan Rion. Pingsan berjilid-jilid berlanjut. Senior Mei saja masih terlihat shock dan bengong melihat kelakuan Rion yang kembali seperti saat dia masih jadi pimpinan perusahaan game. Sekarang jauh lebih parah malahan.
Setelah Mei dan Rion selesai, giliran rekan-rekan Mei yang menguasai podium. Baim dan Mona foto ala-ala model perusahaan. Kendra walaupun mengomel tetap melayani permintaan aneh-aneh dua pasangan bocil itu.
Serge tidak mau kalah, berfoto seru-seruan dengan senior Mei dan rekan yang lain juga.
Kendra belum berhenti jadi tukang foto. Karena entah siapa yang memulai para pelayan di rumah Presdir minta untuk di foto juga. Bahkan bukan hanya di studio mini mereka juga berfoto dengan menggunakan semua properti yang ada. Ada yang bergaya bak sekretaris memegang majalah. Ada yang duduk anggun seperti petinggi perusahaan. Semau mereka lah. Kendra cuma jeprat jepret saja.
Baim dan Mona tidak mau kalah. Mereka masih bergaya bak model, baik dengan kamera hp maupun kamera profesional.
Bibi dan para pelayan yang sudah selesai berfoto mulai menyiapkan makan siang. Menu kali ini jauh lebih mewah dari pada menu kemarin dan sarapan tadi tentunya. Mereka berterimakasih dan menikmati dengan suka cita sebelum membereskan peralatan. Barang-barang properti dibantu para pelayan untuk membereskan. Jadi pekerjaan mereka lebih ringan.
Berjalan masuk ke dalam rumah. Serge dan Rion sedang bicara di ruangan lain. Serge menjelaskan jadwal yang harus dihadiri Rion setelah ini. Akan ada penandatanganan proyek besar dengan hotel XX. Bisa dikatakan proyek ini seperti pengganti proyek Andalusia Mall. Jadi Rion sendiri yang harus datang. Serge memberikan detail identitas Presdir hotel XX yang akan dia temui.
Sementara itu di ruang kerja presdir, bibi baru saja keluar. Setelah bicara selama beberapa menit di dalam.
__ADS_1
Dan berjalan ke ruangan lain, ibu dan Mei sedang bicara.
"Mei, nanti kamu mau kembali ke kantor kan?" Ibu bertanya sambil melepaskan perhiasan yang dia pakai. Meletakkannya di dalam kotak.
"Ia Bu, setelah makan siang, saya kembali dengan rekan-rekan yang lain." Mei juga melepaskan semua perhiasan yang dia pakai. Sebenarnya dia mau ganti baju juga tadi, tapi dia mengurungkan niatnya dan akan tetap memakai baju yang dia pakai sekarang. "Kenapa Bu, apa ada sesuatu yang bisa aku bantu?"
"Ah, ada yang mau ayah dan ibu bicarakan sedikit denganmu Mei, bagaimana kalau rekan kerjamu pergi duluan, nanti ibu suruh sopir untuk mengantar."
Deg. Ada apa ini? Untuk hal seperti ini Mei cukup peka. Dia langsung waspada, dan takut telah melakukan kesalahan.
"Maaf Bu, ada apa ya? Apa aku melakukan kesalahan tadi?"
Ibu tertawa gemas sambil mencubit kedua pipi Mei.
"Hoho, kamu ini, tadi kamu sudah bekerja dengan baik Nak. Tidak melakukan kesalahan sama sekali. Ibu bangga padamu. Hehe, ada sedikit hal yang ingin ibu dan ayah bicarakan denganmu." Karena Rion akan ada meeting penting setelah ini, mungkin dia bahkan tidak akan makan siang di rumah. Ini kesempatan pikir ibu, untuk bicara pada Mei sendirian. "Ibu dan ayah hanya ingin mengobrol denganmu tanpa diganggu Rion, hehe."
Walaupun tawa ibu tidak mengurangi rasa cemas, Mei berusaha tersenyum.
"Baik Bu, aku bilang ke teman-teman dulu ya."
Setelah selesai menyimpan semua perhiasan, Mei keluar lagi, mendapati teman-temannya yang sedang makan siang. Dia mengatakan apa yang seperti ibu katakan tadi. Dan akan menyusul ke kantor setelah selesai di sini. Yang lain mengangguk paham dan tidak ada yang bertanya lagi.
Ayah dan ibu sudah duduk di ruang makan saat Mei masuk, gadis itu baru mau duduk, ketika Rion dan Serge muncul.
"Mei, kemarilah!" Rion menjentikkan jari. "Aku tidak bisa ikut makan siang, jadi ikut aku sebentar." Mei bingung kenapa tiba-tiba, lalu dia melihat ibu, tapi ibu cuma tersenyum dan mengibaskan tangan menyuruh Mei mengikuti maunya Rion. Kemudian keduanya sudah menghilang masuk ke dalam ruangan.
Serge yang cuma menonton sampai kehilangan kata-kata. Bisa-bisanya menyeret istrinya pergi di depan orangtuanya, kau benar-benar tidak tahu malu dan situasi. Baru saja mengatai Rion, Serge membuang pandangan entah kemana, yang penting tidak melihat kemesraan Presdir dan nyonya. Kenapa aku ada di sini si. Si jomblo ngenes semakin ngenes.
"Lihat itu, Rion mirip sekali denganmu, nggak bisa jauh-jauh dari Mei." Nyonya bicara sambil memukul Presdir.
"Sayang..."
Serge merinding mendengar pembicaraan Presdir dan nyonya. Dia memilih melipir ke ruang tamu. Menunggu Rion keluar dari ruangan lain.
...🍓🍓🍓...
Deg...
Wajah Mei langsung pucat, dia mengenali kotak yang dipegang ibu dipangkuannya sekarang. Tengkuknya mulai berkeringat. Tangannya mulai gemetar.
Bagaimana kotak pil kontrasepsi itu bisa ada ditangan ibu.
"Melihatmu tidak mencarinya dan menyadarinya kalau ini menghilang, sepertinya kau sudah tidak meminumnya lagi Mei."
Suara ayah memang terdengar tenang dan pelan, namun langsung membuat tubuh Mei gemetar.
"Ayah, Ibu, itu saya...."
Bersambung
__ADS_1
Komen kemaren ada yang nyerempet-nyerempat alur lho, bikin aku deg-degkan nulis bab selanjutnya 🤭