Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
89. Serangan Mematikan


__ADS_3

Di antara kerumunan orang kedatangan Mei dan Rion sudah seperti menjadi tontonan yang sangat mengejutkan. Sementara Mei hanya bisa menahan malu sendirian. Karena orang disebelahnya tetap selalu percaya diri di segala situasi.


Aku malu sekali, semua melihat ke arah kami. Mei sepertinya sampai keluar keringat dingin di tengkuk dan tangannya. Saat dia melihat laki-laki di sampingnya. Hemm, setelan wajahnya persis seperti CEO Rionald kalau sedang berjalan di loby kantor. Dingin, angkuh dan terlihat sombong. Tidak perduli semua pasang mata melihatnya. Dan selalu tampan dan sempurna.


Padahal dia habis minta cium-cium dan aaaaaa! Mei tidak mau meneruskan pikirannya. Saking malunya dia dengan apa yang dia lakukan di dalam mobil, sekarang dia bejalan seperti tidak terjadi apa-apa. Aaaaaa! Ada ya manusia sepertimu ini kak.


Mei bengong sambil berjalan, saat melihat Rion mendorong rambutnya ke belakang. Kenapa kalau kau yang melakukan hal sepele begitu terlihat tampan Kak. Mei seperti tidak terima karena melihat cahaya berterbangan hanya di sekeliling Kak Rion saja.


Orang tampan mau melakukan apa pun tetap tampan ya, hiks, aku bahkan tidak bisa menyanggah kalau sekarang dia memang sangat tampan.


Padahal dulu, yang dilihat Mei saat melihat Rion di kantor adalah orang yang ada di sebelahnya. Sekarang Mei bahkan tidak terpikirkan seraut wajah hangat itu saat melihat Kak Rion.


"Mei, kau belum puas menikmati tubuhku? Kau bisa membuat wajahku berlubang nanti." Rion menunduk, sambil berjalan dia membenturkan pipinya ke pipi Mei. Di depan semua mata yang melihat mereka.


Aaaaaaa! Apa yang kau lakukan Kak!


Malunya bukan hanya karena ketahuan memelototi wajah Kak Rion, tapi juga karena skinship yang di lakukan Kak Rion di depan semua orang. Saat melihat beragam ekspresi yang ditunjukkan orang-orang, Mei melihat Amerla yang berdiri di dekat ibu.


Dia melihatnya, Ah, kenapa aku puas sekali sekarang melihat wajahnya. Hihi, maaf. Kau sepertinya sudah jadi penjahat Mei.


"Haha, lucunya, kau masih membayangkan tubuhku ya. Lihat mukamu seperti tomat merahnya. Haha." Rion menunduk sambil berbisik lagi. "Karena kau sudah membuatku tertawa, aku akan mengizinkan kau menyentuhku lagi, semalaman nanti." Sempat-sempatnya menggigit telinga setelah berbisik.


Nggak mau Kak! Aku nggak mau hadiah tubuhmu.


"Kau tidak berterimaksih?" Dengan tidak tahu malunya sambil menoel dagu Mei beberapa kali.


Hah! Kau yang seenaknya memberi hadiah, aku juga harus berterimakasih.


"Terimakasih Kak, hadiah Kak Rion selalu luar biasa."


Kau senang sekali ya Kak! Tapi tolong perhatikan sekitarmu, kalau cuma ada Amerla aku si senang-senang saja. Tapi, ini kan semua orang melihat! Begitulah arti tatapan memohon Mei supaya Rion menghentikan skinship berlebihnya. Tapi, Rion kan senang kalau Mei wajahnya begitu.


"Haha."


Terserah Kak, terserah Kak. Tertawa saja terus dari tadi.


Tangan mereka masih terpaut. Semakin mendekat ke arah ibu. Artinya semakin dekat juga dengan Amerla. Semua orang yang mereka lewati bergeser memberi jalan. Seperti ombak yang bergerak menepi. Sambil terdengar bisik-bisik yang sebenarnya tertangkap telinga Rion dan Mei. Rion si tidak perduli dengan apa yang mereka katakan.


Mereka mesra sekali. Aku iri.


Jadi, Nona Merilin menghilang karena ada Tuan Rion. Aku jadi malu karena sudah berfikir macam-macam.


Aaaa! Coba liat itu, sepertinya mereka berciuman.

__ADS_1


Tidak, tidak, Tuan Rion menggigit telinga Nona Merilin.


Aaaaaaa! Aku juga mau digigit. Eh.


Mereka adalah orang-orang yang sama, yang tadi bergosip di sebelah Amerla. Melihat kemesraan yang ditunjukkan di depan mata, semua spekulasi miring tentang hubungan Merilin dan Rion langsung memudar begitu saja. Yang tertinggal rasa iri. Bahkan yang sudah menikah berharap memiliki suami seperti Rion, yang menunjukkan cintanya dengan terang-terangan begitu.


Yang menggigit bibir sambil mencengkeram roknya hanya Amerla. Kukunya bahkan menusuk kulit pahanya. Saking terkejutnya, dia tidak merasa sakit. Semua rencana yang sudah dia susun tadi bagaimana mau mendekati Kak Rion seperti langsung hancur berkeping di hantam kemesraan di depannya.


Tidak, tidak mungkin Kak Rion dengan wanita jelek begitu. Mereka pasti hanya bersandiwara di depan teman-teman Nyonya Yurika. Tidak mungkin! Tidak mungkin! Memang apa bagusnya Merilin! Tidak mungkin! Amerla menggemerutukkan gigi menahan kebencian dan amarahnya. Tidak mungkin, Kak Rion dengan wanita seperti itu.


Mei dengan jelas menangkap kemarahan di wajah Amerla. Tapi saat Rion mempererat genggaman tangannya dia tersenyum dengan hangat sambil menyentuh pipi Rion. Mengatakan kalau dia baik-baik saja. Mengusir jauh perasaan takut, karena sepertinya Kak Rion tidak akan menepis tangannya demi meraih tangan Amerla.


Aku malu pamer kemesraan. Aaaaa! Tapi aku senang bisa menutup mulut Amerla tanpa bicara padanya. Sekarang dia tidak akan sombong karena menjadi wanita yang dicintai Kak Rion. Dulu, itu dulu.


Mereka sudah berdiri di depan ibu. Wajah Amerla di samping ibu, seberusaha apa pun dia menutupinya, kemarahan dan kesedihannya terlihat jelas di mata Mei. Saat melirik Rion di sebelahnya, laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada Amerla. Melirik pun tidak.


Ibu geleng kepala melihat anaknya, dia tidak menduga Rion akan benar-benar muncul. Saat Dev mengatakan tadi.


"Padahal kami sudah mau pulang, kenapa kau sampai menyusul kemari Nak? Baru sebentar tidak bertemu, kau sudah kangen pada istrimu. Lucunya pengantin baru ini."


Ibu tertawa saat mendengar tanggapan teman-temannya.


"Masa muda memang begitu kan, Nona Amerla juga pasti begitu juga kan. Ah, ibu jadi kangen masa muda. Hoho."


Suara Rion terdengar, semua orang langsung terdiam ikut mendengarkan.


"Ibu maklumi kami ya, aku kan merindukan Mei." Rion tersenyum sambil melingkarkan tangan ke pinggang Mei. Mencium kepala Mei. Wajah gadis yang dia peluk memerah malu. Dia si tidak perduli. Malah menggoyangkan tubuh Mei dalam pelukannya sambil tertawa pada ibu. "Kau merindukan aku juga kan Mei? Kau senang kan aku datang?" Kecup-kecup kepala Mei lagi.


Yang dipeluk ubun-ubunnya rasanya mau meledak saking malunya.


"Kau ini. Turunkan Mei, dia menangis saking malunya nanti." Ibu bisa melihat menantunya yang tersipu sambil menutupi wajah. Akhirnya Rion menuruti ibunya, melepaskan pinggang Mei.


Ibu lalu menggandeng tangan kedua anaknya. Mei berdiri di samping kiri, sementara Rion di samping kanannya. Tersenyum hangat pada keduanya.


"Nyonya semua, mohon doanya untuk anak dan menantu saya ya. Mereka malah bikin heboh begini, tolong dimaklumi ya, kita juga kan pernah muda. Hoho."


Teman-teman ibu ikut tertawa, mendengar perkataan ibu. Lalu mereka mengucapkan selamat dan melangitkan doa-doa untuk Mei dan Rion. Saat giliran Amerla, gadis itu menatap Rion beberapa detik, seperti mau menangis. Sampai dia menggigit bibir supaya tidak bicara dengan terbata.


"Selamat atas pernikahannya." Amerla mengulurkan tangannya, karena Rion tidak menyambut, maka Mei yang menangkap tangan itu. "Selamat atas pernikahannya Nona Merilin."


"Terimakasih Nona. Kak Rion mengenal Nona Amerla kan?"


Aku pasti sudah gila! Kenapa aku mengatakannya! Karena sedikit terpercik kecemburuan yang tidak mau diakui Mei, dia malah kelepasan bicara. Ucapan Mei yang tidak sengaja memantik kehebohan dari semua orang terlihat ibu juga sama terkejutnya.

__ADS_1


"Maaf, Kak." Setelah sadar melakukan kesalahan, Mei berbisik dengan suara rendah di dekat telinga Rion. "Maaf."


"Lho, Rion kenal dengan Nona Amerla?" Ibu yang bertanya.


Rion mengeryit sebentar, lalu memiringkan kepala. Membenturkan kepalanya ke kepala Mei, sepertinya cukup keras sampai membuat gadis itu mengaduh.


Deg


Apa Kak Rion marah! Aaaaaa! Kenapa aku tidak bisa menjaga mulutku si! Merilin! Kau sedang mengumbar aura kecemburuan!


Aku tidak cemburu, aku hanya kesal dan marah karena dia yang sudah menyakiti hati Kak Rion masih dengan sombongnya berdiri dengan percaya diri di depan Kak Rion. Hati Merilin malah bernyanyi mengejek, ya, ya, kau tidak cemburu, cuma kesal. Percaya, aku percaya. Dasar hati kurang ajar, Mei memaki hatinya sendiri.


"Aku tidak ingat dia Bu. Ibu tahu kan, aku malas mengingat hal yang tidak penting." Dengan santainya Rion bicara di depan wajah Amerla, seperti menampar gadis itu. Ibarat mendorong gadis itu ke dalam jurang, mempermalukannya.


Amerla, hanya mantan tidak berarti baginya sekarang.


Wajah Amerla yang tadinya berbinar karena memiliki sedikit harapan, paling tidak dia bisa diakui sebagai wanita yang dicintai Kak Rion, langsung memerah karena malu. Apalagi saat mendengar bisik-bisik yang menertawakannya di belakang punggungnya.


Plak!


Ibu memukul bahu Rion, karena membaca situasi. Dua kali ibu memukul bahu Rion.


"Apa si Bu, aku kan memang tidak ingat. Tidak penting." Melengos begitu saja, malah memperhatikan ekspresi wajah Mei.


Plak! Walaupun dipukul bahunya lagi oleh ibu, Rion masih tidak acuh. Tidak Sudi juga dia melihat Amerla, apalagi minta maaf pada gadis itu. Rion yang pendendam memang menakutkan. Begitulah yang dipikirkan Mei. Sikap Rion kali ini pasti untuk melampiaskan kemarahan yang selama ini tersimpan selama hitungan tahun di hatinya.


Mei melihat pergelangan tangannya, masih erat digenggam tangan Rion. Saat pandangan matanya bertemu dengan Rion, laki-laki itu tersenyum. Menusuk pipinya dengan jari, sama sekali tidak perduli dengan Amerla yang terlihat malu, bahkan mau menangis.


"Maaf ya Nona Amerla, Rion memang suka seenaknya." Ibu mewakili Rion meminta maaf pada akhirnya


"Tidak apa-apa Nyonya, kami memang hanya bertemu beberapa kali, wajar jika Tuan Rion tidak mengingat saya." Kuku Amerla meremas roknya. Mempertahankan kakinya supaya tetap berdiri dengan kokoh menopang tubuhnya yang rasanya kehilangan tulang penyangga. Rasa malu semakin menampar wajahnya, saat bisik-bisik orang menertawakan dibelakangnya masih terdengar.


Ibu Rion berhasil menguasai keadaan, perkataannya yang tenang, namun tegas menghentikan bisik-bisik dan tawa di belakang Amerla. Setelah situasi terkendali. Gadis itu menghilang dalam sekejap, bersembunyi di dalam mobilnya, menangis seorang diri.


Kenapa kau kejam sekali Kak, kenapa kau jahat sekali. Padahal kita dulu saling mencintai. Tapi bisanya kau bilang aku tidak penting di depan semua orang. Isak tangis Amerla mengeras, dia melihat pahanya yang memerah. Semakin keras dia menangis.


Dan hari ini, Rion telah mengubur masa lalunya jauh di dasar laut yang dalam. Senyumnya sedikit tersungging, entahlah, mungkin dia puas sudah membalas wanita yang sudah mengkhianatinya. Atau dia sedang tertawa, karena melihat Mei tertidur di sebelahnya, sambil meneteskan air liur.


Haha, lucunya.


Rion mengeluarkan kamera hpnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2