Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
93. Karena Harta


__ADS_3

Akhir pekan belum berakhir. Masih di hari yang sama. Waktu setelah Serge menutup panggilan teleponnya.


Sekarang di rumah Presdir Andalusia Mall.


Ibram duduk mendengarkan ibunya bercerita. Tentang kejadian siang tadi, saat ibu datang ke acara sosial untuk pertama kalinya bersama istrinya. Ibu bicara, ternyata Amerla mengenal CEO Rionald. Wajah laki-laki itu mengeras tidak senang.


"Tapi CEO Rionald ternyata tidak ingat pada Erla, ibu yakin Erla jadi malu sekali karena tidak diingat beliau, untung saja Nyonya Yurika menengahi semuanya."


Wajah Ibram mengendur.


"Pergilah temui Erla, dia malu sekali tadi. CEO Rionald memang orangnya sangat angkuh. Tapi dia terlihat sangat mencintai istrinya. Untung saja Nyonya Yurika menyelamatkan situasi."


Ibram menjadi kesal dengan sikap angkuh CEO Rionald, tapi dia sudah menduga dari kesan pertamanya saat bertemu makan malam waktu itu. Dia suka mendengar sepak terjang CEO muda bertangan dingin yang membawa Andez Corporation semakin maju dan menjadi perusahaan terdepan. Para pengusaha muda sering membicarakannya.


Ibu bicara mengenai info yang lebih mengguncang daripada info tentang Amerla dan Rionald yang pernah bertemu sebelumnya, yaitu mengenai CEO Rionald yang sudah menikah.


"Istri, dia sudah menikah?" Ibram terkejut, Presdir begitu juga demikian. "Kenapa tidak ada berita di media mengenai pernikahannya Bu."


Tidak mungkin, sampai tidak ada media yang memberitakan mereka pikir Ibram.


Ibu menjelaskan garis besarnya, alasan kenapa pernikahan Rion belum diumumkan kepada publik, sesuai dengan informasi yang diberikan ibu Rion.


"Nyonya Yurika terlihat sangat menyayangi menantunya, CEO Rionald sampai menyusul ke tempat acara dan membuat kehebohan. Pokoknya hari ini benar-benar sangat mengejutkan, ibu tidak menduga sama sekali."


"Padahal waktu itu ayah bilang untuk mempertemukan dengan teman Erla, lha ternyata dia sudah menikah." Presdir menimpali berita tidak terduga itu.


Beberapa lama, mereka masih membicarakan tentang penerus Andez Corporation, sampai akhirnya Ibram pamit untuk masuk ke dalam kamar.


Dia berhenti di dekat jendela, memandang kegelapan malam yang ada di luar sana. Dia mencurigai Erla menyukai Rion. Karena dia beberapa kali melihat Erla mencuri pandang ke arah Rionald beberapa kali. Perasaan curiga itu mengejarnya seperti hantu setelah makan malam. Tapi dari cerita ibu barusan, sepertinya tidak pernah ada hubungan apa pun antara mereka. Tapi apa perlu dia bilang Erla orang tidak penting yang tidak perlu diingat. Ibram kembali merasa kesal.


Ah, sial! Aku sebenarnya ingin memperbaiki hubunganku dengan Erla, tapi setiap aku mendekat dan dia menolak ku, aku jadi marah begitu saja. Aku tidak bisa menahan emosi.


Begitulah Ibram, hatinya masih menyukai Erla. Tapi egonya terlalu tinggi, apalagi saat Erla mendorongnya.


Ibram menikah karena perjodohan orangtuanya. Ayahnya dan ayah Erla dulu adalah teman saat di universitas. Saat melihat Erla untuk pertama kali, dia mengagumi kecantikan gadis itu. Pembawaannya yang ceria dan manis, mampu memanjakan hati dan pandangan. Dia pun setuju dengan pernikahan karena perjodohan itu karena istrinya pun sesuai dengan tipe idealnya.


Semuanya berlangsung dengan cepat menuju pernikahan. Hanya dengan kencan beberapa kali, akhirnya mereka sepakat menyetujui pernikahan yang diatur orangtua. Walaupun dijodohkan, dengan istri secantik Erla, Ibram pun menikmati hari-hari manisnya berumah tangga.


Tapi...


Laki-laki itu berhenti di depan pintu. Memukul udara dengan kesal. Gara-gara ciuman tidak sengaja yang dilakukan saat dia sedang melakukan permainan bersama teman-temannya, Erla menuduhnya berselingkuh. Egonya yang masih sangat tinggi tidak terima dengan kalimat memojokkan Erla, hingga dia yang harusnya minta maaf malah tersulut emosi dan akhirnya ikut marah. Dan pertengkaran hebat itu pun terjadi. Dia dituduh selingkuh, bahkan sampai hari ini kesalahan pahaman itu belum diluruskan.


Dan berakhirlah kehidupan pernikahan harmonis diantara Ibram dan Erla.


Saat menyentuh handle pintu, Ibram seperti mendengar suara Isak. Dia tersentak kaget, karena itu suara istrinya. Dia mendorong pintu dengan suara keras, mendapati Amerla yang kaget dan menjatuhkan hp. Lalu mengusap airmata. Melihat istrinya menangis Ibram langsung mendekat ke tempat tidur. Mau menenangkan dan bertanya ada apa. Tapi.


Plak!

__ADS_1


Tangannya yang sudah terulur karena mengkhawatirkan Amerla di tepis begitu saja oleh gadis itu. Dia yang tadinya mau bicara dengan suara lembut, mengganti intonasi suara.


"Kenapa Kau menangis?" Terucap dengan dingin.


"Tidak apa-apa." Hanya menjawab begitu, lalu Amerla menarik selimut sampai menutup punggungnya, dia miring membelakangi suaminya. Ibram sudah menghela nafas kesal melihat kelakuan istrinya.


Padahal tadi dia datang untuk menenangkan Amerla seperti yang ibu katakan.


"Kenapa kau menangis? Apa karena CEO Rionald tidak mengenalimu." Menarik selimut, memaksa Erla memutar tubuh. "Hah! Jadi kau waktu malam, diam-diam meliriknya, karena kau kenal dengannya."


Amerla menatap Ibram dengan tatapan sebal. Kalau bukan karena kau, aku pasti masih bersama Kak Rion. Dia laki-laki yang mencintaiku, berbeda denganmu yang berciuman dengan wanita lain. Pakai berkilah itu cuma permainan. Begitulah hujatan gadis itu yang cuma terucap dalam hati.


"Kau jatuh cinta padanya?" Ibram mengulangi pertanyaan.


"Sudahlah Kak, aku lelah."


"Sialan! Kau meremehkan ku!"


Amerla tergagap kaget saat melihat emosi menyala di mata Ibram. Kalau dilanjutkan, buntutnya pasti sangat panjang. Dia sedang tidak mood. Sudah kesal karena Kak Rion ditambah Kak Serge pula. Bahkan Isak tangisnya tidak mempan pada laki-laki sebaik Kak Serge.


"Maaf Kak, aku hanya lelah dan mau istirahat." Suara Amerla melembut, dia buat-buat supaya terdengar imut dan manis. "Kak Ibram juga pasti lelah kan, seharian ini menemani ayah. Bagaimana kalau kita tidur sekarang."


Amerla merasa sangat jengah, dia harus bersikap penuh kepura-puraan, karena Ibram selalu berkurang sikap kasarnya, kalau dia bersikap imut begitu. Dia selalu melakukannya kalau terdesak. Walaupun rasanya di dalam hati dia merasa mual sendiri.


Aku harus kembali pada Kak Rion, supaya bisa lepas dari laki-laki ini.


Ia, karena Kak Rion segalanya dari pada dirimu!


"Tidak, dulu kami bahkan tidak dekat. CEO Rionald bahkan tidak mengingatku." Amerla menceritakan sedikit kejadian tadi siang. Hanya di poin Kak Rion tidak mengingatnya.


"Ibu sangat memuji perlakuan CEO Rionald pada istrinya, aku jadi penasaran seperti apa istrinya."


Dia jelek dan sama sekali tidak berkelas. Begitu Amerla menjawab dengan lantang, tapi hanya dalam hati.


Ibram menjatuhkan tubuh, di bagian tempat tidurnya. Hari ini dia juga lelah, melihat Erla yang sudah menutupi tubuhnya dengan selimut membuatnya tidak tertarik.


"Erla, statusmu masih istriku, jadi jaga sikapmu di luar sana." Ibram memiringkan tubuh melihat istrinya. "Kalau aku sampai melihatmu dengan laki-laki lain."


"Bukankah, kau berciuman dengan wanita lain, kenapa aku tidak boleh." Amerla menggigit bibir saat melihat mata Ibram berkedut kesal. "Aku tidak berselingkuh di belakang mu Kak." Amerla memejamkan mata dan menarik selimutnya.


Dia masih menakutkan kalau aku menyinggung tentang ciuman itu. Amerla tidak mau melupakan pengkhianatan suaminya, sampai hari ini dia masih marah dengan Ibram. Dia sakit hati karena di khianati.


Tapi, entah kenapa, Amerla lupa, kalau dia pernah melakukan pengkhianatan yang jauh lebih parah ketimbang suaminya yang berciuman. Dia pernah mencampakkan laki-laki yang mencintainya. Entahlah, karena Amerla hanya merasa dirinya sebagai korban perjodohan orangtuanya, padahal dia sendiri yang memilih menikah dengan Ibram, karena laki-laki itu jauh lebih kaya ketimbang CEO perusahaan game kecil.


Malam yang dingin di tempat tidur Amerla dan Ibram. Berlangsung sampai pagi hari.


...🍓🍓🍓...

__ADS_1


Di tempat terpisah.


Pertengkaran lain terjadi. Di rumah mertua Brama. Kakak laki-laki Merilin.


Brama yang duduk berlutut di lantai di lempar banyak kursi oleh ayah mertuanya. Sementara ibu mertuanya menyentuh belakang kepalanya yang menegang. Kepala wanita itu berdenyut. Setelah menantunya membuat pengakuan dosa.


Menantunya hanya berasal dari keluarga pengusaha yang bangkrut. Terlilit hutang peninggalan ayah yang sudah meninggal. Ibu yang dirawat di RS, dan dia memiliki dua adik, yang salah satunya masih sekolah.


Kepala ibu kembali berdenyut.


"Ayah, ibu, jangan salahkan Kak Brama, aku yang mengusulkan itu pada Kak Brama." Perkataan anaknya bukan membuat mertua amarahnya mereda, malah semakin meledak kemarahannya. Istri Brama bahkan bangun dari samping Brama, merangkak ke depan suaminya, menjadi tameng pelindung Brama. Saat bantal kursi kembali dilempar ayahnya. "Maafkan kami Yah, sudah membohongi kalian, tapi kami melakukannya karena terpaksa."


"Kau ini sudah dibutakan oleh cinta! Kau menikah dengan laki-laki seperti ini. Bahkan yang mau dijodohkan ibumu seribu kali lebih baik darinya."


Sebelum bertemu Brama, gadis itu memang sudah mau dijodohkan oleh ibu.


"Lalu bagaimana dengan ayah, apa ayah sudah dibutakan harta dan status sosial." Suara istri Brama bergetar, dia sedang menahan rasa takutnya walaupun bicara dengan suara lantang. "Aku mencintai Kak Brama dengan tulus Yah."


"Anak kurang ajar!" Ibu berusaha meredakan kemarahan ayah, dengan menepuk pundak suaminya.


"Lalu apa salah Kak Brama kalau keluarganya bangkrut. Apa salah Kak Brama karena ayahnya meninggal. Dia sudah sangat menderita karena harus pura-pura tidak mengenal keluarganya Yah. Di depan kalian. Dia melakukannya karena aku Yah, karena dia mencintai anak kalian!"


Dalam situasi terdesak, terkadang keberanian muncul dengan sendirinya. Dan itulah yang dirasakan istri Brama. Entah datangnya dari mana, dia bisa bicara di depan ayahnya, walaupun dengan suara bergetar sekalipun.


"Kakak selalu berusaha membuatku bahagia Bu, dan aku bahagia bersama Kakak."


Ibu seperti terhenyak mendengar kata-kata anaknya. Perkara restu, kalau mereka tahu status menantunya seperti itu, mereka pasti melarang pernikahan. Jadi saat mau menyalahkan anaknya rasanya dia seperti tertampar. Seperti bisa merasakan, kalau dia diposisi anaknya, mungkin akan melakukan hal yang sama.


"Maafkan saya ayah, ibu." Brama masih tertunduk, menatap lantai. "Saya merasa sangat bersalah telah membohongi kalian, tapi yang pasti perlu kalian ketahui, cinta saya, pada istri saya." Tangan mereka terpaut. "Kami sangat tulus saling mencintai."


Ayah dan ibu mertua sedang mencari sumber kewarasan. Dengan semua yang dikatakan suami istri yang sedang berlutut di depan mereka. Berbohong tentang latar belakang keluarga, apa itu bisa dimanfaatkan.


"Ayah, ibu, aku mohon, demi anakmu. Maafkan kami, maafkan Kak Brama. Walaupun sekarang ayah dan ibu tahu, status Kak Brama, tidak akan ada yang berubah Yah, Bu. Dia tetap menantu pekerja keras yang mencintai anak kalian. Aku mohon terimalah Kak Brama."


Ayah dan ibu belum mengatakan apa pun, mereka beranjak dari ruang keluarga. Membiarkan anaknya masih berlutut. Saat melihat ayah dan ibunya sudah naik ke kamar. Istri Brama memeluk suaminya.


"Maaf ya Kak, aku akan membujuk ayah dan ibu. Aku mohon jangan bersedih, mereka pasti hanya terkejut. Besok kita bicara lagi dengan mereka.


Brama memeluk istrinya, walaupun dia takut, tapi ada sedikit kelegaan di hatinya. Dengan pengakuan pada mertuanya, Brama merasa hubungan dengan adik-adiknya akan semakin membaik ke depannya. Bukan hanya Mei, tapi Harven juga.


"Kak..."


"Terimakasih sayang, hatiku jauh lebih tenang sekarang." Brama mencium bibir istrinya.


Belum terlambat kan? untuk menjadi lebih baik gumam Brama. Dia ingin mencintai istrinya di depan ibu dan adik-adiknya. Dia juga ingin mengenalkan keluarganya pada keluarga istrinya.


Malam itu mereka masuk ke dalam kamar, masih dengan sedikit gelisah. Namun, cinta yang terikat di antara keduanya saling mengikat dan menenangkan satu sama lain. Mereka berciuman di bawah selimut, menghangatkan malam yang penuh kegelisahan dengan cinta dan kecupan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2