Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
99. Pingsan Berjamaah


__ADS_3

Langkah kaki yang bergegas seperti orang yang ingat ketinggalan barang di halte bus, ada beberapa orang yang berpapasan menundukkan kepala, Rion tidak menggubris, dia berjalan dengan langkah besar dan cepat tanpa memperdulikan sekitar. Saat sudah meraih handle pintu kantin tangannya tertahan. Yang dibelakangnya serta merta ikut mengerem mendadak.


Suara dari dalam kantin, terdengar dengan jelas di tempatnya berdiri saat ini.


"Minta maaf secara resmi pada presdir!" Suara lantang Merilin, menghardik langkah kaki empat gadis di depannya.


Lagi-lagi kau membuatku terkejut Mei, reaksi beraninya selalu membuatku terkejut. Rion jadi merasa sedikit malu. Karena dia meremehkan istrinya. Lagi-lagi, yang ada dalam pikirannya hanyalah sosok tidak berdaya. Seperti saat dia langsung kabur dari lapangan golf saat itu, karena takut pertengkaran Mei dengan Amerla akan menjatuhkan harga diri istrinya. Seperti waktu itu, saat ini pun, Merilin menegakkan kepalanya dengan berani.


Dia memang hanya imut dan menggemaskan kalau di depanku. Bangga, dengan alasan tidak masuk akal. Padahal istrinya gemetar takut kalau di depannya, tapi selalu dibilang imut dan menggemaskan.


Serge mengintip dari belakang punggung Rion. Ikut mendengar teriakan Mei. Laki-laki itu juga tersenyum, seperti kakak laki-laki yang bangga dengan apa yang dilakukan adiknya.


"Dia bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri, Mei memang seperti itu. Dia selalu mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri." Ucapan kebanggaan seorang kakak mengalir dengan lancar dari mulut Serge.


Aku tahu itu, dia terjebak dalam pelukanku juga karena alasan itu kan. Walaupun aku bilang, aku hanya butuh boneka di sampingku. Kau masuk dalam hidupku tanpa ragu walaupun kau gemetar ketakutan. Karena keluargamu, karena kau menyayangi keluargamu. Dan sekarang, saat Mei membela ayahnya, hati Rion terhenyak. Apa posisi ayah sudah masuk dalam keluarga yang kau sayangi Mei.


Pasti aku juga begitu kan? Rion tenggelam dengan kesalahpahamannya sendiri.


"Mereka yang membuat keributan tadi?" Rion menunjuk empat orang yang berdiri di depan Mei. Serge mengiyakan, mereka yang bertengkar dengan rekan kerja Mei, Mona. Semuanya sudah dilaporkan Kendra dalam pesan panjangnya yang dibaca Serge sambil berjalan tadi. "Masuk, dan bereskan semua." Perintah Rion, yang menyuruh Serge menerjemahkan sendiri apa yang harus dia lakukan.


Serge panik karena dia harus mengambil alih situasi. Dia berdehem beberapa kali demi mengendalikan ekspresi. Sebelum langkah kakinya masuk dia harus menunjukkan wibawanya, dia membuka pintu dengan suara keras. Sengaja, biar semua pandangan langsung tertuju ke arahnya dan Rion. Caranya mengintimidasi semua orang. Sebenarnya Serge tidak melakukan apa pun, sudah bisa membuat orang-orang terintimidasi. Kenapa? Tentu saja karena orang yang sedang berdiri di sampingnya.


Dan seperti itulah, kedua orang itu muncul di depan semua orang. Dengan dramatis.


Serge berhenti bertepuk tangan, mengisyaratkan semua orang yang berada di dalam kantin, untuk berkumpul di depannya. Langkah kaki tergesa segera terdengar, walaupun tidak ada yang berani bicara sepatah kata pun. Tangan dan kaki mereka gemetar saat CEO Rion melihat semua orang dengan tatapan dinginnya.


Mei merasakan tangannya digenggam erat Mona. Gadis itu berbisik.


"Tenanglah Mei, kau tidak salah, aku akan membelamu dan bilang mereka yang mulai duluan." Mona akan melakukan pembelaan, walaupun dia diseret ke ruang HRD sekalipun. Dia yakin, sekretaris Serge sudah memeriksa CCTV dan menemukan kebenaran, kalau dia atau Mei tidak bersalah.


Sambil tersenyum, Mei menepuk punggung tangan Mona. Berterimaksih. Walaupun sepertinya itu tidak terlalu perlu, Mei yakin, kemarahan Kak Rion bukan hanya karena keributan di kantin, tapi karena gosip yang beredar seputar dia dan Presdir. Ayahnya yang dihina karena katanya memiliki skandal dengan karyawannya, tidak ada alasan untuk menyembunyikan kemarahannya itu.


Kalau aku memeluk Kak Rion sekarang, apa bisa menyelesaikan masalah. Tapi, Mei tidak akan seberani itu. Hingga dia hanya ikut berbaris dengan orang-orang yang lain.


Semua orang sudah berbaris rapi di depan Serge. Menundukkan kepala dan tercekik keheningan. Keempat senior yang adu mulut dengan berani tadi menunduk yang paling dalam. Mereka jauh lebih gemetar dibandingkan yang lain. Apalagi si sumber gosip.


"Aku akan bicara langsung." Serge memulai. "Perihal gosip yang beredar seputar Pimred Merilin." Serge melihat ke arah Mei. Tidak tersenyum. Tapi tangannya memberi isyarat, tenanglah Mei, kau baik-baik saja kan?


Deg.


Mei terlihat tegang, kenapa Kak Serge langsung menyebut gosip tentangnya sekarang. Tunggu, apa Kak Rion selama ini juga tahu? Tatapan Mei bertemu dengan pandangan Kak Rion. Wajah laki-laki yang setiap hari saat menempel padanya selalu kecup-kecup di semua tempat, tampak asing dan dingin. Padahal tadi dia baru tertawa sesuka hatinya, sekarang, jangankan memeluknya, mendekat pun aku tidak berani dengan wajahnya seperti itu. Mei menghela nafas panjang. Tidak akan ada adegan dia memeluk Kak Rion untuk menyelesaikan masalah.


Lantang, hanya suara Serge yang memenuhi kantin. Di pintu kantin yang terbuka, beberapa orang terlihat kepalanya muncul. Tidak lama, sudah berdesakan tanpa menimbulkan suara. Melihat ada kejadian apa di kantin kantor.


"Apa kalian pikir, aku, CEO dan Presdir tidak tahu?" Serge tertawa geli. "Kami tahu semuanya, tapi kami membiarkan karena beranggapan gosip tidak berdasar begitu akan hilang dengan sendirinya. Dan ini berhubungan dengan kehidupan pribadi karyawan, diluar ranah perusahaan. Tapi! Aku sendiri tidak menyangka akan menjadi separah ini dan melebar, sampai menyinggung Presdir dan bisa memperburuk citra perusahaan."


Semua orang yang ada di depan Serge hanya bisa tertunduk sambil mendengarkan. Tidak ada yang berani mengangkat kepala bahkan Mei sekalipun.

__ADS_1


"Kalian sudah gila ya! Bukankah kami selalu mengatakan kita adalah keluarga Andez Corporation. Kita bekerja dan hidup di dalam Andez Corporation. Kita adalah satu tim. Bekerja keraslah dan tunjukkan hasil kerja kalian maka perusahaan akan mengakui dan memberikan apresiasi kepada kalian tanpa terkecuali. Tapi, kalian juga paham kan apa yang paling dibenci Presdir, persaingan yang saling menjatuhkan." Sampai kehabisan nafas karena Serge bicara terlalu panjang. Dua kali dia menghela nafas sambil melirik Rion yang masih diam di sampingnya. "Dan gosip Pimred Merilin, apa kalian buat untuk menjatuhkannya?"


Mungkin semuanya berawal dari perubahan penampilan Mei, dari mobil dan barang yang melekat di tubuhnya. Namun, semakin gosip bergulir, kebencian dan rasa iri dengan sosok pimred Merilin jauh lebih mendominasi. Jadi mereka menikmatinya, membicarakan hal buruk tentang Merilin, sambil berharap wanita itu jatuh di dasar jurang. Bahkan ada yang diam-diam memimpikan menggantikan Merilin, menjadi pemimpin redaksi majalah perusahaan.


Tempat yang dulu terabaikan, sekarang menjadi posisi yang banyak diinginkan orang.


"Kalian yang membuat keributan maju! Semua! baik keributan di awal maupun jilid kedua ini."


Keempat senior Mei langsung bergerak cepat. Mereka tidak berani mengangkat kepala. Mona dan Mei masih saling berpegangan tangan maju juga ke depan.


"Tadi kau bilang apa? Pimred Merilin, wanita simpanan Presdir? istri simpanan Presdir?" Serge menuding udara yang mengarah kepada ke empat senior.


Hanya bisa gemetar takut, tanpa bisa mengeluarkan suara sepatah kata pun. Hanya bisa menundukkan kepala sambil berdoa mereka bisa selamat dari situasi ini.


Serge mendengus kesal ketika tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Walaupun sekarang mereka tidak mengaku, bukti dan saksi sudah bisa mengarah ke mereka.


"Jawab! Katakan di depanku, ada apa dengan ayahku." Saat suara Rion bergema di dalam ruangan, suhu udara langsung terasa turun beberapa derajat. Salah satu dari mereka bahkan kakinya langsung lunglai saking takutnya.


"Ti... tidak Tuan." Senior Mei sumber dari segala gosip menjawab dengan gemetar. "Ka..kami tidak mengatakan itu Tuan."


"Bohong!" Mona berteriak, "Dia bohong, dia mengatakannya, kalau Mei simpanan Presdir, sudah kukatakan kalau Mei sudah menikah, tapi dia tidak percaya. Malah semakin menebar fitnah." Saat tatapan Mona bertemu pandang dengan Rion, bibirnya terkunci rapat lagi. Tangan yang di genggam Mei rasanya bergetar. Mona menunduk lagi.


Rion menatap Mei.


Datanglah padaku, peluk aku Mei, dan katakan pada semua orang kalau kau istriku. Itulah yang diinginkan Rion, tapi pasti bukan itu yang akan dilakukan Mei. Karena gadis itu masih tertunduk.


Mendengar ucapan Serge barusan, Mei langsung maju dua langkah ke depan.


"Maafkan saya Tuan." Ucapan Mei terhenti saat Rion mengangkat tangannya. Gadis itu mundur lagi dan berdiri berpegangan tangan lagi dengan Mona. Kenapa dia melarangku bicara. Tidak Kak, aku tidak akan lancang mengatakan kepada semua orang bahwa aku istrimu. Mei hanya mau meminta maaf, karena sudah membuat keributan karena dirinya, gosip tentangnya membuat situasi kerja menjadi tidak nyaman.


"Baiklah, karena sudah seperti ini, aku akan bicara pada kalian."


Eh, Serge melotot. Apa yang mau kau lakukan sialan! Apa kau mau memeluk Mei dan mengatakan dia istrimu. Pandangan Serge segera berpindah dari Rion kepada Mei.


"Memang kenapa kalau ayahku menikah lagi? Apa masalah untuk kalian?"


Walaupun rasanya tidak mungkin ayah mengkhianati ibu, tapi kalau itu pun benar, kalian tidak berhak menggunjing atasan kalian. Itu kalau benar, semakin membuatku marah karena itu hanya tuduhan tidak beralasan. Rion mengangkat tangannya, mengulurkan tangan ke arah kumpulan orang yang sedang berdiri di depan Serge.


Beliau akan mengumumkan Mei kepada semua orang. Gumaman Kendra diantara kumpulan orang-orang.


Apa! Apa yang dilakukan Tuan Rion, kenapa tangannya terulur kemari. Siapa yang dia suruh mendekatinya, hampir semua orang berfikiran sama seperti ini.


Dasar gila! Kau mau apa! Serge yang selalu panik dengan semua hal yang Rion lakukan ketika tidak berkompromi dengannya.


"Kemarilah!" Suara lembut namun terdengar oleh semua orang.


Semua orang menunjukkan keterkejutan dengan caranya masing-masing. Bahkan salah satu dari keempat senior Mei ada yang langsung ambruk saat melihat Mei berjalan meninggalkan kerumunan, meraih tangan Rion.

__ADS_1


"Kak... Kak Rion."


Ada lagi yang jatuh pingsan karena shock, saat Mei memanggil Rion dengan panggilan akrab kakak. Mona mulutnya melongo, kalau ada lalat terbang, pasti akan masuk karena menganggapnya gua yang nyaman.


Saat tangan Mei sudah menyentuh tangan Rion, laki-laki itu menarik, sampai Mei jatuh dalam pelukannya. Dia memutar tubuh Mei, untuk berdiri di depannya. Melingkarkan tangan ke pinggang, menundukkan kepala sampai kepalanya mensejajari bahu dan pipi mereka saling menempel.


Di pintu masuk kantin ada yang pingsan lagi, staf sekretaris Rion yang tadi bertemu dengan Mei.


"Kalian bertanya-tanya, kenapa Mei bisa keluar masuk ruang kerja ayahku." Kecupan di pipi kanan Mei dimana Rion menempelkan pipinya tadi membuat salah satu karyawan wanita jatuh pingsan lagi. "Karena Mei adalah istriku, karena dia menantu kesayangan ayahku." Pelukan Rion sambil dia meletakkan kepalanya di atas kepala Mei. Menggoyangkan tubuh Mei seperti yang sudah sering dia lakukan karena gemas dengan tubuh mungil istrinya. Senyum Rion yang terkembang setelah menggoyang tubuh Mei, setelah dia kecup-kecup di pipi, sekali lagi membuat karyawan wanita jatuh terduduk. Tidak pingsan, untunglah. Sudah terlalu banyak yang memegangi orang pingsan.


Senior Mei, sumber dari gosip langsung jatuh terduduk di lantai. Dia berlutut dengan tangan gemetar. Sambil mengumpat dalam hati. Amerla sialan! Dasar wanita sialan! Kau mau menghancurkan karirku! Dia memaki nama Amerla dengan bibir bergetar. Kalau aku berlutut lebih dulu, aku masih bisa menyelamatkan pekerjaanku kan.


"Pindahkan yang pingsan ke kursi!" Serge memberi perintah.


Kau mau membuat berapa orang lagi pingsan! Hentikan! Serge mencoba bertelepati, tapi senyum Rion yang melihatnya sudah jadi jawaban, dia tidak akan berhenti sampai disini.


"Kak Rion, sudah Kak." Mei meraih tangan Rion, ingin menyudahi semuanya. Apalagi saat melihat seniornya yang berlutut dengan tangan gemetar.


Bukannya berhenti, Rion malah mencium punggung tangan Mei berulang kali. Baim yang berdiri di samping Kendra sampai menitikkan airmata. Situasi ini sangat jauh menyedihkan ketimbang dia tahu Mei sudah menikah. Saingan cintanya CEO, dia seperti lilin yang lumer.


"Apa kalian mau tahu, kenapa aku tidak mengumumkan pernikahanku dengan Mei?" Tentu saja tidak ada yang berani menjawab. Apalagi Rion terlihat tidak perduli sama sekali dengan senior Mei yang sedang berlutut. "Karena aku sangat mencintai istriku donk. Aku mau dia tetap bekerja dan melakukan hal yang dia sukai, aku tidak mau membuatnya canggung di kantor. Tapi ternyata, aku salah."


Sekarang Rion menunduk dan mencium ubun-ubun Mei. Gadis itu menutup wajahnya malu. Mona masih terlalu kaget sampai cuma bisa membeku saat melihat senyum CEO Rion. Yang pingsan sudah pada sadarkan diri, duduk di kursi. Saat melihat Rion yang cium-cium rambut istrinya, sambil tersenyum ada yang terguncang dan jatuh pingsan lagi.


"Kalau aku tahu akan jadi bumerang seperti ini, aku pasti akan memperkenalkan Mei secepat mungkin pada kalian." Melihat gadis yang sedang berlutut. "Kau mau aku melakukan apa padanya Mei?"


"Maafkan saya Tuan Rion, saya mohon maafkan saya."


"Kenapa kau minta maaf padaku, kau sudah memfitnah Mei dan ayahku. Seharusnya kau minta maaf pada mereka berdua kan." Kata-kata itu ketus terucap dari mulut Rion.


Bibir gadis itu bergetar, dia melihat Mei. Pimred Merilin yang selama ini selalu tersenyum pada semua orang, tampan dingin menatapnya. Rasa takut langsung menjalar di seluruh tubuhnya.


"Sa, saya, mendengar gosip itu dari teman saya Amerla." Dia mencari kambing hitam dengan cepat.


Mendengar nama Amerla disebut, bukan hanya Rion, Serge pun langsung terpantik amarahnya.


"Ikut aku ke ruangan HRD." Suara Serge dingin merayap, tatapannya pada gadis yang sedang berlutut berisi kemarahan sekarang. Beraninya kau menggangu adikku, seperti itulah arti sorot matanya. "Karena semua sudah diluruskan, aku harap tidak ada kesalahpahaman lagi. Sekarang semua kembali bekerja."


"Baik Tuan." Jawaban serentak sambil menundukkan kepala.


"Semua keluar, tanpa terkecuali. Kosongkan kantin." Perintah Rion langsung membuat semua orang bergegas. Yang jatuh pingsan dibopong atau dipapah oleh rekan yang lain.


Rion menyeringai, saat Mei mau ikut keluar.


"Kau mau kemana Mei, urusan kita kan belum selesai."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2