
Ini tentang restoran mewah yang sudah direservasi Serge. Karena sayang uang tidak bisa ditarik kembali, tentu saja Serge mencari pengganti. Karena dia sendiri tidak bisa datang.
Arman terkejut, memastikan sekali lagi kalau matanya tidak salah lihat. Sekretaris Serge memanggil.
Ada apa ya? Hemm, sepertinya aku tidak punya hubungan sedekat ini sampai dia menelepon. Tunggu, apa ini tentang Jesi. Satu-satunya yang terpikirkan oleh Arman sebagai tali penghubung antara mereka.
Setelah di angkat, Serge langsung menjelaskan dengan cepat alasan dia menelepon.
"Apa? Saya dan Jesi?." Arman keluar dari dapur, membawa botol minum, duduk di paviliun, tempat para pelayan biasanya bersantai di waktu istirahat. Setelah Serge bicara panjang lebar, tambah kaget lagi dia, saat dia disuruh makan malam di restoran XX.
Gila! Itu kan restoran mewah. Dia pernah beberapa kali ke sana, waktu mengantar tuan muda dan nona makan malam. Itu pun sudah lama, saat mereka belum menikah dulu. Sekarang tuan muda dan nona lebih senang melakukan banyak hal di dalam kamar ketimbang datang-datang ke tempat seperti itu.
"Kenapa saya dan Jesi?"
"Kalau aku bisa aku mau, sudahlah pokoknya kau datang dengan Jesi ya."
"Tapi..."
"Ajak saja nona muda mu dan Harven. Kalau Harven bertanya tentang Mei, katakan Mei baik-baik saja. Sudah ya, aku tutup, aku ada urusan penting."
Baru mau beralasan, sambungan telepon sudah ditutup. Arman bangun dari duduk, panik donk. Enggak ada angin apa-apa tiba-tiba harus mengajak Jesi makan malam, di restoran mewah lagi. Dia kebingungan mau menghubungi siap dulu. Jesi, Nona Sheri, Harven. Tidak-tidak, Harven duluan, kalau dia setuju, Nona Sheri pasti langsung menganggukkan kepala. Kalau Jesi, ehm, aku membujuknya pasti dia mau kan. Rona malu langsung tergambar dengan jelas di wajah Arman.
Makan malam romantis di restoran mewah yang tadinya disiapkan Tuan Rion untuk istrinya, Arman tidak bisa membayangkan, akan seperti apa makan malam mereka nanti.
Dan di sinilah mereka sekarang.
Harven saat dibilang, sebenarnya ini reservasi Tuan Rion untuk Mei, tapi karena Tuan Rion malah sakit jadinya batal. Dia langsung panik bertanya bagaiman Kak Mei? Tenang lagi saat Arman menjawab seperti apa yang dipesankan Serge. Sheri jangan ditanya, dia yang penampilannya paling mencolok, sudah seperti mau kencan sungguhan dengan Harven. Jesi selalu dan semakin terlihat cantik di mata Arman. Ehem, gadis itu bahkan membiarkan rambutnya tergerai.
Deg...deg...
Tempat yang luas membuat mereka memilih tempat duduk terpisah.
Sheri dan Harven memilih tempat duduk yang ada di area luar restoran, para pelayan yang sedang menyiapkan makanan membuat Sheri mengajak Harven untuk melihat-lihat. Gadis itu dari tadi sudah tersenyum senang.
Ah, pakai kemeja begitu dia semakin tampan si, bagaimana nanti kalau Harven sudah kuliah ya. Rajin olahraga ke gym dan ototnya sedikit terbentuk saja, dia pasti seksi sekali. Pacarku memang keren, lebih keren dari kakakku. Sheri cekikikan dalam hati. Dia tidak mau kalau sampai isi hatinya terdengar Kak Erwin, bisa-bisa kakaknya nangis nanti.
"Kenapa kau cekikikan sendiri?" Harven menggoyangkan lengannya yang dari tadi dipegang erat Sheri.
"Hehe, aku membayangkan kalau kita sudah dewasa. Awwww!" Harven mendorong kening Sheri, mendelik. "Haha, nggak kok, aku cuma membayangkan kalau kita dewasa dan aku mengajakmu kencan romantis begini, lalu melamarmu. Hehe."
Nah kan, seperti yang duga. Harven mencubit pipi Sheri. Kalau pikiran gadis itu dibiarkan memang bisa menjelajah sampai ke acara resepsi pernikahan mereka.
"Eh..." Kaki Harven terhenti, saat matanya tertuju ke arah kolam. Pencahayaan yang dibuat keemasan, semakin menonjolkan keberadaan kolam bertabur kelopak mawar.
Sheri juga kaget saat tahu apa yang dilihat Harven, dia melepaskan tangan Harven. Berjongkok di pinggir kolam.
"Ven, kemarilah."
Mereka sudah beejongkok di dekat kolam, yang entah bagaimana caranya kelopak mawar yang entah berapa jumlahnya itu bertebaran di atas kolam dengan teratur. Membentuk nama Mei๐Rionada tiga buah lilin diatas mangkuk berbentuk hati berwarna merah. Di tengah nama.
__ADS_1
"Cantik sekali."
Harven menyentuh permukaan kolam, dia bisa merasakan ujung tangannya yang basah. Diambilnya beberapa kelopak bunga.
"Suami Kak Mei romantis banget." Sheri menggoyangkan pipinya sendiri karena gemas. "Sayang sekali ya Ven, Kak Mei tidak melihatnya ya. Aku saja berdebar-debar, apalagi Kak Mei."
Kalau Kak Mei bisa datang, aku pasti tidak akan ada disini gumam Sheri. Aaaaa, tapi aku iri sekali. Sheri melirik Harven, apa aku buat kejutan juga untuk Harven ya, saat dia ulang tahun nanti. Aaaaa! benar-benar, Harven ๐ Sheri. Gadis itu tanpa sadar cekikikan lagi.
"Kau sedang membayangkan apa lagi sekarang?"
"Hehe. Eh, kau menangis?" Sheri langsung meraih pipi Harven. "Kenapa? kau terharu karena suami Kak Mei sangat mencintai Kak Mei sampai membuat kejutan begini."
Harven mengangguk malu.
"Aku tidak menangis ya!" Mengusap ujung matanya.
"Ia, ia aku tahu. Harven kan hatinya sangat lembut apalagi kalau berhubungan dengan Kak Mei."
Harven dari tadi sudah berusaha menahan keharuan yang seenaknya mau membobol pelupuk matanya. Tapi dia kalah juga akhirnya, malah tertangkap basah Sheri. Jujur, dia tidak pernah berfikir kalau Kak Rion bisa semanis ini mencintai kakaknya. Dan dia sangat bahagia, sangat, karena Kak Mei menikah dengan laki-laki yang mencintainya.
"Kita foto yuk semua ini, kita tunjukkan pada Kak Mei. Walaupun Kak Mei tidak melihat langsung, pasti dia bahagia kalau tahu apa yang sudah disiapkan Kak Rion untuknya." Ide itu muncul begitu saja. Terlalu sayang semua keindahan ini kalau Kak Mei tidak melihatnya.
"Wah, Ven, keren banget si, aku aja nggak kepikiran. Ah, pacarku memang paling keren." Sheri malah jadi heboh sendiri. Pelayan yang membawa makanan sampai senyum-senyum membuat Harven malu. "Aku panggil Kak Arman ya, kita foto semuanya dari depan restoran."
Harven meraih tangan Sheri.
"Aaaaa, kenapa? Kamu nggak mau aku tinggal? Sebentar aja kok." Sheri menoel dagu Harven.
"Ah tenang saja, Kak Arman nggak akan marah kok. Aku kan Sheri. Hehe.
"Hah?"
Sherina langsung meninggalkan Harven, tidak lama muncul lagi bersama Arman, yang siap mengabadikan semua bagian restoran tanpa terkecuali.
Foto-foto indah mereka, terkirim ke nomor Mei, melalui hp Harven.
...๐๐๐...
Mei menarik selimut yang menutupi separuh wajahnya. Menurunkan sampai hanya menutupi dada. Dia tidur di atas lengan Rion, sementara laki-laki itu masih menciumi pipinya.
Rion mendesah kesal, saat suara dari atas meja terdengar.
"Siapa itu, malam-malam begini."
Mei lupa mematikan dering hp ternyata, jadi nada pesan masuk seperti ledakan petasan. Beruntun tidak berhenti
"Aku liat ya Kak, mungkin Dean."
"Menggangu saja."
__ADS_1
"Maaf Kak, mungkin Dean cuma mau memberi kabar."
"Ambillah, lima menit."
"Hehe, baik Kak."
Mei merayap turun, saat kembali Rion sudah duduk bersandar, dia menepuk sebelahnya. Mei merayap naik lagi dan duduk, bersandar di lengan berotot milik Rion.
"Harven Kak ternyata. Eh, apa ini?"
Yang pertama dikirim Harven adalah foto kolam bertabur bunga dengan namanya dan Kak Rion di sana. Lalu beruntun foto-foto yang lain. Lilin keemasan yang menghiasi meja. Dia juga mengirim foto makanan yang dia makan, piring-piring yang dihias dengan cantik. Bahkan ada simbol M๐R di piring makan itu.
Deg... deg...
Harven juga mengirim fotonya dan Sheri di tepi kolam, foto Jesi dan Arman juga saat mereka sedang menikmati makan malam sambil diiringi suara musik.
Dia bahkan merekam pertunjukan musiknya.
Terakhir Harven menuliskan pesan.
"Kak Mei, seharusnya Kak Mei yang menikmati ini, semua ini disiapkan Kak Rion untuk Kak Mei, malah kami yang menikmatinya. Aku ingin menunjukkan pada Kak Mei, semua yang sudah disiapkan Kak Rion hanya untuk Kakak."
Mei menjatuhkan hpnya, memutar kepala. Rion tertawa kecil lalu melengos. Sambil menutup mulutnya.
"Kak..."
Mei sudah memutar seluruh tubuhnya. Menghadap Rion.
"Ayah mengacaukan semuanya, seharunya aku mengatakan perasaanmu malam ini, dengan suasana romantis."
"Kak Rion..."
"Hah! Tapi kau malah mendengar pengakuan cintaku di ruang kerja ayah yang berserak begitu."
"Kak Rion..."
Mei menghambur memeluk Rion. Hati gadis itu bukan hanya bahagia, dia sangat bahagia. Melihat foto kelopak mawar dengan namanya tadi, dia sudah mau menangis. Apalagi saat melihat wajah laki-laki yang ada di depannya.
"Kenapa kau menangis lagi?" Rion menciumi airmata yang membasahi pipi Mei. "Ya, aku mencintaimu Mei, bukan karena ketahuan ayah. Tapi, aku memang mencintaimu. Makan malam itu aku siapkan hanya untukmu." Isak semakin mengeras, semakin banyak yang bisa Rion cium. "Kau menangis karena bahagia kan?"
"Ia Kak, aku juga mencintai Kak Rion. Aku mencintai Kakak. Terimakasih untuk makan malamnya. Hiks, aku menangis karena bahagia."
Mereka berciuman lagi, sambil menjatuhkan tubuh bersamaan ke tempat tidur. Kaki Rion mengangkat selimut, lalu dalam sekejap, tangannya sudah menarik selimut menutupi seluruh tubuh mereka.
"Aku mencintaimu Mei..."
"Awwww, Kakak!"
"Hahaha..."
__ADS_1
Malam semakin larut, hp milik Mei, tertendang kaki Rion, untung saja jatuh di atas bantal yang tadi sudah tergeletak di bawah tempat tidur. Selimut yang menutupi tempat tidur bergoyang di tengah malam.
Bersambung