Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
187. Masalah Selesai


__ADS_3

Meninggalkan liburan yang dipenuhi kejutan di pulau eksotis yang dipinjam Frans Fernandez dari kakak iparnya, mari kita kembali ke ibu kota.


Di apartemen Ibram.


Erla masih terdiam saat Ibram bicara dengan hati-hati, pikiran gadis itu sedang berkecamuk, Ibram seperti tahu, kalau Erla sedang gelisah, dia meraih tangan Erla, gadis itu baru bereaksi.


Aku tidak mau Kak, aku tidak mau. Gadis itu menjawab dalam hati. Baginya, sikap Ibram masih belum nyata, sehingga dia masih belum bisa menyuarakan isi hatinya dengan jelas.


"Aku tidak memaksa mu untuk melupakan semuanya, aku tahu tidak mungkin semudah itu kesalahanku dan ibu ku bisa kau lupakan. Tapi, seperti kau memberi ku kesempatan untuk membuktikan pada mu, apa kau bisa membuka sedikit hati mu untuk ibu."


Erla belum menjawab.


Saat Ibram mengatakan ibu kabur dari rumah, gadis itu sungguh diserang keterkejutan. Ibu, berani melakukannya? Hal yang dia lakukan dengan nekad kala itu.


"Aku benar-benar merasa bersalah pada kalian berdua, padamu Erla, dan juga pada penderitaan ibu."


Erla tidak bisa menampik itu, dia bisa menangkap dengan jelas, penderitaan Ibram karena menyalahkan dirinya sendiri. Tapi, kalau aku memaafkan ibu, apa ibu akan ikut tinggal di sini juga? Erla belum siap untuk bertemu dengan mertuanya. Dan, kalau Kak Ibram tinggal bersama ibunya lagi. Entahlah, gadis itu takut, hati Ibram yang akan berubah lagi. Baginya, Ibram masih seperti ombak yang tiba-tiba tenang namun tidak menutup kemungkinan akan langsung menerjang tiba-tiba juga.


"Aku mau pulang saja Kak."


"Erla!"


Ibram menghela nafas mengurangi emosi yang sesaat ingin tersulut lagi.


"Aku tidak akan membawa ibu ku kemari, percayalah. Tapi, aku harap kau bisa memaafkan ibu ku. Aku menempatkan ibu di rumah yang tidak diketahui ayah. Aku akan melindungi ibu ku dari ayah, yang aku minta dari mu, tolong tetaplah ada di samping ku. Aku tidak akan memilih antara kalian berdua, aku ingin melihat kalian berdua bahagia. Aku tidak bisa memilih di antara kalian, jadi aku mohon."


Tapi bagaimana dengan ibu? Apa dia bisa menerima ku. Aku kan hanya menantu yang bahkan sudah dia paksa untuk menandatangani surat perceraian. Apa aku tanyakan saja ya, gumam Erla. Tidak! Gadis itu menahan dirinya untuk bertanya, karena dia tidak mau terlihat perduli pada ibu mertuanya. Hatinya masih belum berani berharap.


Ibram mencium pipi Erla, gadis itu yang terlihat termenung terperanjat kaget. Diciumnya lagi pipi sebelah kanan beberapa kali.


"Apa si Kak?"


"Maaf... maafkan aku."


Lagi-lagi, Ibram dihantui rasa bersalah, bagaimana bisa dia dulu memukul pipi lembut yang langsung memerah saat dia kecup ini. Ibram memeluk Erla, menjatuhkan kepalanya ke bahu Erla.


"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi. Aku membutuhkan mu Erla. Aku mencintai mu."


Erla memejamkan mata, sambil mengusap punggung Ibram, dia akan mempercayai kata-kata Ibram kali ini. Jika Tuhan saja memberinya kesempatan kedua untuk hidup, maka dia pun akan mempercayainya, kalau ada kesempatan untuk hubungannya dengan suaminya.


Semoga, semoga saja batin Erla.


...🍓🍓🍓...


Tinggal di apartemen berdua, adalah hasil akhir dari kesepakatan yang dibuat Erla dan Ibram. Mereka akan hidup berdua, tanpa gangguan baik dari pihak keluarga Ibram maupun Erla. Ini hanya tentang mereka berdua.


Erla yang selama ini selalu dilayani pelayan, bahkan tak pernah menyentuh cucian piring dan sapu menjadi kebingungan sendiri dengan kesepakatan yang sudah mereka buat.


Akhirnya, ide ini keluar dari mulut Ibram.


"Kenapa kau tidak menyuruh pelayan yang selalu bicara dengan mu itu untuk membersihkan rumah, kau akrab dengannya kan? Setelah selesai kau bisa menyuruhnya pulang, aku yang akan membayar gajinya bukan orang tuamu."


Dan itulah yang membuat mereka menepikan mobil di halaman rumah orang tua Erla. Selain karena ada barang yang ingin Erla kemasi, mesin jahit dan semua peralatan menggambarnya. Mimpi yang baru ia rintis, dia tidak mau meninggalkan itu semua di rumah orangtuanya.


Erla melihat ke arah rumahnya, apa penghuni rumah ini ada yang khawatir aku tidak pulang ya? senyum sinis tersungging, mereka pasti tidak ada yang khawatir, malah senang aku tidak pulang, artinya aku bisa melindungi perusahaan dan aset yang mereka miliki kan.


"Kak, apa Kak Ibram bisa menunggu di dalam mobil? Biar aku turun sendiri." Erla bicara tanpa melihat Ibram, karena matanya masih tertuju pada pintu masuk.


"Kenapa?" Ibram terdengar tidak suka.


"Aku tidak akan lama Kak, aku cuma mau mengambil barang, dan bicara dengan pelayan yang akan membantu kita di apartemen." Erla berusaha menjelaskan sesingkat mungkin.


Tapi, Ibram semakin tidak terima.


"Kenapa aku tidak boleh masuk?"


Hah! Apa sih Kak? Kalau kau masuk, pasti urusan akan menjadi panjang. Sebenarnya ini yang dipikirkan Erla. Namun, lain lagi yang ada di pikiran Ibram. Tangan Ibram yang mencengkeram lengan Erla dengan kuat, karena takut gadis itu melarikan diri darinya lagi.

__ADS_1


"Aku hanya mengambil baju dan membereskan mesin jahit dan buku desain ku Kak."


"Aku tanya, kenapa aku tidak boleh masuk? Kau mau kabur dari ku lagi?"


Mendengar intonasi yang sudah seperti orang tersinggung, Erla jadi tidak punya pilihan lain, selain berkata jujur.


"Aku ingin menyelesaikan masalah ku dengan keluarga ku Kak, aku ingin menuntaskan semuanya. Dengan tangan ku sendiri dengan kekuatan ku sendiri." Tangan Ibram mengendur, dia melepaskan tangannya. "Kalau Kak Ibram ikut masuk, mereka pasti, hah, Kakak tahu kan, tanpa aku perlu mengatakannya. Mereka hanya perduli dengan apa yang Kak Ibram pikirkan."


Bukan aku, gumam-gumam pelan, namun tertangkap lirih di telinga Ibram.


Karena mereka hanya fokus pada keinginan Kakak, bukan padaku. Sedangkan aku, aku ingin sekali mereka bicara padaku sebagai orangtua yang perduli pada anaknya. Sebenarnya ini rasanya menyedihkan, namun Erla masih berharap, saat ia pulang, yang ditanyakan adalah dirinya, bukan "Bagaimana Ibram suami mu?" Dia akan memberikan kesempatan terakhir pada keluarganya. Sejujurnya, hati Erla masihlah terikat pada keluarganya, hati kecilnya.


"Aku tidak akan lama Kak."


"Baiklah, pergilah."


Seutas senyum Erla langsung terkembang, walaupun terasa canggung, dia memberi kecupan di pipi Ibram sebelum keluar dari mobil. Ibram menyentuh pipinya yang memerah, memandang istrinya yang terlihat berhenti di depan pintu selama beberapa detik.


"Aku akan menunggu Erla. Seperti yang kau minta."


Ibram ingin melihat Erla keluar dari rumahnya dengan senyum kebanggaan.


...🍓🍓🍓...


Dan ketika pintu rumah terbuka, pelayan muda yang selalu bersama Erla yang membuka pintu. Berteriak kaget karena tidak percaya, kemunculan gadis itu di depan pintu.


"Nona! Nona Erla, Anda pulang!"


Walaupun lancang dan kurang ajar, dia memeluk Erla. Meluapkan kebahagiaannya, melihat lagi nona yang kemarin pergi dengan terpaksa keluar rumah.


"Anda tidak apa-apa? Nona, apa terjadi sesuatu? Anda tidak apa-apa kan? Kenapa Anda tidak membawa hp?"


Teriakan spontan pelayan muda yang menyambut Erla, sepertinya terdengar ke telinga para penghuni rumah yang kebetulan sedang ada di rumah. Bahkan adik Erla pun muncul, dengan wajah terlihat kaget dan cemas.


Dan sikap ayah dan ibu, hah! Sepertinya sama sekali tidak ada kekhawatiran di mata mereka. Yang ada malah kemarahan. Apa sih? Kenapa ayah terlihat marah?


Plak!


"Kau sudah meracuni Ibram apa sampai dia menentang Presdir!"


Tangan ayah sudah terangkat lagi, tapi ibu mencegahnya, bahkan pelayan muda di samping Erla maju ke depan memeluk Erla melindungi gadis itu. Walaupun tubuhnya kecil sekalipun. Dan tidak bisa menutupi pipi Erla, namun dia berusaha sebisanya.


Bukannya menangis, saat rasa sakit itu menjalar di pipi, Erla malah tertawa. Membuat ayahnya semakin marah. Ibu dan pelayan muda yang kaget, adiknya yang sudah menuruni tangga juga sama terkejutnya mendengar Erla yang tertawa setelah ditampar ayahnya.


Padahal aku datang untuk memberikan kesempatan terakhir pada kalian, Erla hanya berharap, yang pertama ditanyakan ayahnya adalah keadaannya, setelah dia tidak pulang semalam, tapi malah tamparan di pipi yang rasanya jauh lebih meyakinkan sekarang.


Kenapa? Kenapa? Kau ayah ku kan? Kau ibu ku kan?


Ayah Erla kembali berteriak marah.


"Presdir marah besar! Mertua mu memanggil ayah, kau benar-benar mempermalukan orangtua mu! Di mana kau semalam? Apa kau bersama Ibram?"


Erla bukannya mendengarkan ayahnya, malah menenangkan pelayan yang masih memeluknya. Gadis muda itu sudah menangis, dan kembali berdiri di samping Erla. Melihat pipi Erla dengan perasaan sedih.


"Aku tidak apa-apa."


"Nona."


Erla mengusap kepala pelayan muda itu.


"Kemasi semua barang-barang ku, mesin jahit ku juga. Minta bantuan pelayan lain. Pergilah."


Walaupun terlihat ragu, dengan takut-takut dia berjalan, melewati ayah dan ibu Erla. Setelah gadis muda itu pergi, sorot mata Erla berubah dingin melihat ayah dan ibunya.


"Kenapa ayah marah?" Suara menantang dan sinis terdengar dari mulut Erla. "Katanya kalian tidak mau Kak Ibram menceraikan ku, kenapa sekarang marah-marah karena Kak Ibram menentang Presdir?"


Ibu menahan tangan suaminya, berusaha menenangkan laki-laki yang semakin emosi karena Erla yang berani menjawabnya. Adik Erla yang biasanya diam saja menonton, mendekat, menarik tangan Erla menjauhi ayah mereka.

__ADS_1


"Kak, kau ini kenapa si, malah membuat ayah semakin marah."


"Diamlah, kau juga tidak perduli kan selama ini, jadi berhentilah melihat ku dengan sorot mata sok mengkhawatirkan aku."


"Kak..."


Erla melepaskan tangan adiknya, kau juga diam saja selama ini kan, tetaplah seperti itu. Jadi aku tidak perlu merasa bersalah pada mu kalau aku pergi. Kalau aku membuang keluarga ini, tidak perlu ada rasa bersalah di hatiku.


Mata Erla melihat sofa, lalu dia berjalan dengan tenang dan menjatuhkan tubuh di sofa. Ibu akhirnya menarik tangan suaminya, dan ikut duduk. Adik Erla mengambil sikap yang sama, mendekat, tapi dia masih berdiri, hanya menyandarkan kaki di badan sofa.


"Aku tahu, yang ayah khawatirkan bukan pernikahan ku. Bukan masalah aku bercerai atau tidak. Tapi hanya perusahaan yang ayah pikirkan kan? Apa Presdir sudah memutuskan, menghentikan semua bantuan keuangan?"


Meluap, seperti air bah yang membobol bendungan. Rasa muak yang tertahan di dada Erla. Tapi, ayah Erla masih saja menanggapi dengan sinis.


"Hah! Kau masih berfikir kalau kau yang paling menderita di sini? Ini kan salah mu sendiri, kalau kamu bisa menjadi istri yang baik, istri yang patuh, semua tidak akan susah. Kau yang salah disini, jadi kau yang harus memperbaikinya."


Erla tertawa setelah ayahnya berhenti bicara. Menantang ayahnya, gadis itu menyeringai. Lalu bergantian menatap ayah, ibu, dan adiknya. Semua sudah berakhir, hubungan kita memang sudah tidak bisa diselamatkan. Kenapa hanya aku yang harus menderita sendirian. Gadis itu akan mengakhiri, lingkaran setan yang terhubung antara dia dan keluarganya.


"Aku sedang membayar dosa-dosa ku sekarang, aku tahu itu. Pengkhianatan ku pada Kak Rion, rasa sakit hati yang dia tanggung. Aku membayarnya dengan tamparan dan pukulan Kak Ibram. Aku membayarnya dengan penderitaan ku! Demi kalian juga, aku bertahan dengan semua siksaan itu. Karena perusahaan ayah, karena pergaulan sosialita ibu, karena aku tidak bisa menjadi aib bagi adikku yang belum menikah. Aku sudah membayar semua itu dengan kehilangan kebahagiaan ku. Apa itu belum cukup. Ayah mau aku menderita sampai sejauh apa? Sampai aku memilih mati?"


"Kak..."


"Erla...." Tangan ibu gemetar meraih tangan Erla. Putrinya tidak menangis, dia bicara dengan tegas. Malah membuat ibu semakin takut.


"Aku tidak akan mati Bu, karena aku belum minta maaf pada orang-orang yang aku sakiti."


Pada Kak Rion dan istrinya Merilin, dosa dan kesalahan ku pada mereka masih menumpuk.


Hening...


Ayah tercekik, kalah, tidak bisa menggunakan kata-kata kasar untuk menuding Erla. Mulutnya seperti tersumbat dengan semua cercaan Erla yang barusan terlontar. Ibu menunduk sambil mengusap tangan Erla. Adik Erla melengos, tapi ujung matanya basah.


Derap langkah di tangga membuat mereka menoleh, para pelayan menuruni tangga, membawa tas, kotak mesin jahit dan barang-barang Erla. Melihat yang dia tunggu datang, Erla langsung berdiri dari duduk.


"Erla, kamu mau kemana? Memang kamu mau tinggal di mana?"


"Kak, memang kamu punya uang?"


Apa kalian mengkhawatirkan aku sekarang, atau hanya takut, kalian tidak punya uang lagi setelah aku pergi.


"Aku pergi...." Hanya mengucapkan dua patah kata, tanpa melihat ke belakang lagi, Erla berjalan meninggalkan sofa.


Ibu dan adik Erla mengejar, saat pintu terbuka, semua tersentak kaget, saat melihat Ibram yang sedang berdiri di depan pintu. Laki-laki itu terlihat sedih dan marah.


"Nak, Nak Ibram, sejak kapan di sini? Erla baru saja..." Ibu gelagapan bicara.


"Masukan semua barang Erla ke dalam mobil." Laki-laki itu memberi perintah kepada para pelayan tidak menjawab ibu, para pelayan langsung bergerak sigap. Ibram melihat ayah Erla mendekat. "Aku tidak akan menceraikan Erla, kami akan tinggal bersama. Ayah, sekretaris ku akan menghubungi ayah besok. Dan aku harap, ayah tahu harus berpihak kepada siapa." Ultimatum Ibram kepada ayah Erla, untuk memilihnya atau Presdir. "Ayo pergi." Tangan Ibram merangkul bahu Erla, laki-laki itu merasakan bahu Erla yang bergetar. "Kau hebat Erla."


Saat sudah masuk ke dalam mobil, Ibram menunjuk pelayan muda yang berdiri dengan bola mata berkaca-kaca.


"Kau, masuk!"


"Apa? Saya Tuan Muda?"


Gadis itu melihat Erla mengganguk dan melambaikan tangan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Setelah memutar kepala melihat orang-orang yang berdiri di depan rumah, akhirnya dia mengikuti perintah Ibram, masuk ke dalam mobil.


"Ayo pergi Erla..."


"Ia Kak.."


"Maaf..."


"Terimakasih sudah menunggu, aku menyelesaikan sendiri masalahku dengan keluarga ku Kak ."


Mereka saling pandang dan tersenyum, Ibram mendaratkan satu kecupan ringan di bibir Erla. Lalu melajukan kendaraan.


Di kursi belakang, pelayan muda itu menjerit tanpa suara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2