
Ketegangan di ruang kerja sudah sedikit mereda. Erwin sudah duduk lagi di sofa tingkat kemarahannya sudah sedikit berkurang, dia melirik jam tangannya. Memastikan waktu masih cukup, sebelum Sheri mencari Arman untuk berangkat ke sekolah.
Setelah sebentar berfikir, Erwin menemukan cara untuk memastikan, apa pacar Sheri layak menjadi pacarnya. Apa dia bukan laki-laki sialan yang sudah menipu adiknya untuk jatuh ke dalam perangkapnya.
"Bawa dia padaku, laki-laki sialan yang sudah berani menyukai adikku." Dia akan bertemu langsung dengannya. "Aku ingin melihat kesungguhannya, sampai berani mengajak adikku pacaran."
"Tapi Tuan Muda, kalau nona tahu dia pasti akan marah." Arman mencoba berkilah. "Bukan hanya marah pada saya, tapi pada Tuan Muda juga."
"Dari keluarga mana dia? Apa dia mendekati Sheri dengan maksud tertentu, biar aku yang memastikannya langsung." Lebih baik Sheri marah padanya, daripada dia harus melihat adiknya terluka.
Bagi Erwin, yang sudah menjalani manis dan getirnya pergaulan kelas atas, dia tahu ada banyak wajah yang dipenuhi kepentingan mendekatinya. Bahkan gadis-gadis yang berfikir bisa merubah nasib melalui kencan semalam dengannya saja tidak terhitung banyaknya, ah, sering sekali dia mendapat tawaran itu. Tapi Erwin bukan tipe laki-laki yang mengumbar hasratnya pada sembarang wanita, apalagi tanpa ikatan pernikahan.
Ya, mungkin keluarganya masih sangat kolot untuk urusan ini. Tapi dia memang memegangnya sebagai prinsip hidup. Tidak ada *** bebas sebelum pernikahan, tidak ada kehidupan bebas dengan wanita walaupun kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau inginkan. Ingatlah, adikmu itu perempuan. Jadi perlakukan lah hati perempuan seperti kau ingin adikmu diperlakukan oleh pasangannya nanti. Kata-kata itu selalu terngiang di hati dan kepala Erwin, kalau dia hampir tergelincir dari jalan yang semestinya.
Dia tidak mau Sheri bayi kecilnya, mendapat karma dari hal buruk yang ia lakukan.
Istrinya yang sekarang adalah teman kuliahnya dulu, sama-sama berasal dari keluarga pengusaha. Dulu mereka berteman, lalu dipertemukan dalam proyek perusahaan setelah lulus kuliah. Hubungan yang semakin dekat dan sering bertemu akhirnya akhirnya membuat mereka jatuh cinta. Cinta Erwin dan istrinya, tumbuh melalui persahabatan, saling mengenal dan akhirnya benih cinta itu pun lahir.
Dia saja pacaran dan jatuh cinta setelah usianya sangat matang, nah ini Sheri yang masih bayi. Bagaimana bisa dia punya pacar. Yang ada dia ingin sekali menghajar laki-laki itu, yang sudah membuat adiknya menjadi kekasihnya diusia semuda itu.
Setelah melamun, Erwin mulai fokus lagi dengan situasi. Dia menghentakkan kaki.
"Aku yang akan memutuskan dia pantas atau tidak untuk Sheri."
Hah! Kenapa Anda pura-pura tidak mau tahu bagaimana nona. Arman yang frustasi dengan sikap tidak mau mengalah tuan muda di depannya.
"Kalau dia hanya mengejar status Sheri, dan mengajak Sheri pacaran hanya karena latar belakangnya, aku akan memastikan menendangnya jauh dari Sheri." Tangan Erwin terkepal di kursi. Bayiku Sheri, bagaimana bisa dia punya pacar!
"Dia tidak tahu, kalau Nona Sheri adalah putri kedua pemilik Gardenia Pasifik Mall, tuan muda."
Tawa keras terdengar dari mulut Erwin mendengar jawaban Arman. Memang itu masuk akal. Kalau dia pura-pura tidak tahu, itu baru mungkin.
"Dia benar-benar tidak mengenal Nona Sherina, Tuan Muda. Saya bisa menjamin itu. Dia teman sekolah Nona, teman sekelas. Laki-laki yang pernah saya ceritakan menolong nona saat diganggu beberapa anak waktu itu."
Erwin masih ingat dengan kejadian itu.
"Siapa dia? sampai dia tidak mengenal Sheri?"
"Dia hanya anak pengusaha yang kata nona sudah bangkrut. Tapi dia anak yang baik, dan Sekretaris Serge mengenalnya."
Erwin mengenal laki-laki yang disebutkan namanya oleh Arman. Sekretaris CEO Andez Corporation, salah satu rekan bisnis perusahaan mereka.
"Dia saudara Serge?"
"Bukan? katanya adik dari temannya. Tapi mereka sangat dekat, sampai pacar nona menginap di rumah Sekretaris Serge."
Kakak laki-laki itu masih terdiam, berfikir, hal selanjutnya apa yang akan dia lakukan. Dia belum tenang, kalau belum melihat dengan mata kepala sendiri dan memastikan, siapa laki-laki yang sudah berani menjadi pacar adik kesayangannya, bayi kecilnya Sheri.
Ya, inilah akibatnya kalau jarak usia kakak beradik terlalu jauh, sampai sebesar apa pun sang adik, akan selalu menjadi bayi kecil untuk kakak laki-lakinya.
__ADS_1
"Aku akan percaya padamu, sekarang, awasi laki-laki itu dengan baik, jangan biarkan tangannya menyentuh Sheri."
Sebenarnya yang harus ditakutkan adalah, Nona Sheri yang menyentuh Harven. Kalau Arman bicara begitu, kepalan tangan itu pasti bisa melayang ke pipi atau bahkan ulu hatinya lagi. Hah! Arman cuma bisa menghela nafas.
"Baik Tuan Muda."
"Arman."
Deg.
"Pukulan itu peringatan terakhir dariku, kalau sekali lagi kau merahasiakan hal penting tentang Sheri padaku, bukan aku yang akan memukulmu, tapi paman yang akan menghajarmu."
Glek.
"Baik Tuan Muda, saya akan mengingatnya. Terimakasih sudah memberi saya kesempatan."
"Keluar!"
Arman menundukkan kepala, lalu mundur ke luar ruang kerja. Di depan pintu dia mengusap pipinya. Ada bercak merah di punggung tangannya. Ah, tergores juga rupanya. Tangan tuan muda masih lumayan kuat juga, padahal sudah lama dia tidak berlatih bersama. Arman cuma bergumam begitu lalu berjalan dengan santai ke luar rumah.
Sherina sudah berdiri di dekat mobil menunggunya.
"Maaf Nona, membuat Anda menunggu." Arman menunduk lalu membuka pintu belakang.
Sheri melihat wajah Arman, lalu dia menutup pintu mobil.
"Kak Erwin memukul Kakak?"
"Kak!"
"Tuan muda cuma sedikit marah karena saya melakukan kesalahan, masuklah Nona, kita bisa terlambat menjemput Harven nanti."
Sheri langsung melihat jam di tangannya, akhirnya masuk ke dalam mobil karena Arman menyebut nama Harven, dia tidak mau membuat Harven menunggu lama.
"Cih, Kak Erwin marah kenapa? Tentang aku yang pacaran dengan Harven? Kakak melaporkan semuanya?"
Mobil sudah keluar dari gerbang utama, berkelok dihalaman kompleks, menuju rumah Harven.
"Maaf Nona, Anda kan tahu saya memang harus melakukannya." Selama ini Arman memang berhasil mengulur waktu, tapi cepat atau lambat semua juga akan tahu. Apalagi perubahan sikap Sherina setelah pacaran dengan Harven memang terasa sangat mencolok, hingga semua orang pasti merasa aneh dan menyadarinya.
"Kenapa si, Kak Erwin masih berfikir aku ini anak kecil." Yang dikursi belakang menggerutu.
Bagi tuan muda, Anda itu masih bayi nona.
"Aku akan protes dan marah pada Kak Erwin, karena sudah seenaknya memukul Kak Arman."
"Jangan lakukan Nona, saya mohon."
Daripada dihajar ayahku masih mending dipukul tuan muda.
__ADS_1
"Kenapa? Kakak kan sudah diberikan padaku, aku yang harus bertanggung jawab pada Kak Arman Kan."
"Terimakasih sudah mengatakannya Nona, saya sangat terharu." Sheri memukul bahu Arman dengan suara keras, karena merasa kata-kata Arman meledeknya. Arman malah tertawa karena Sheri menjadi kesal. "Kalau Anda protes pada tuan muda, Anda malah bisa kehilangan saya. Kakak sepupu palsu ini."
Sherina tersentak, menyadari sesuatu.
"Apa paman akan mengganti Kakak! Tidak mau, aku mau Kak Arman saja yang jadi pengawalku." Tidak tahu siapa yang akan direkomendasikan paman, tapi yang pasti hanya pengawal kaku yang bahkan tidak bisa diajak Sherina bicara, apalagi untuk diajak bersekongkol. "Baiklah, aku tidak akan protes pada Kak Erwin. Maaf ya Kak, karena aku yang melarang Kak Arman bicara jadi begini."
"Anda tidak perlu minta maaf Nona, ini kan sudah tanggung jawab saya." Yang penting dia selamat dari ayahnya, bagi Arman itu sudah lebih dari cukup.
Sheri baru mau menjawab, tapi belum bicara dia sudah melihat Harven di kejauhan.
Mobil berhenti di depan rumah Harven, laki-laki itu sudah bersiap, duduk di depan teras rumah. Segera keluar dan menutup gerbang. Menyapa Arman, lalu masuk ke kursi belakang.
"Maaf Ven, aku sedikit terlambat." Sheri memberikan senyum cerianya.
"Nggak papa, masih belum terlambat kok."
Harven mendekat, duduk agak merapat dengan Sheri. Membuat gadis itu langsung lupa dengan semua masalah Arman dan kakaknya yang baru dia perdebatkan tadi.
Deg...deg. Bayi kecilnya Erwin sudah langsung menggelayut di lengan Harven. Senang karena Harven yang mendekat duluan.
"Kak Arman kenapa? bibirnya lebam, apa dia jatuh?" Berbisik-bisik.
Sherina kebingungan menjawab, karena dia tidak mau berbohong. Tapi dia juga kan tidak bisa jujur.
"Ini habis dicakar kucing, apa kelihatan ya." Arman melihat wajahnya di kaca. "Apa perlu aku tempel Hansaplas ya nanti." Sambil lalu menjawab bisik-bisik Harven sambil terus fokus menatap jalanan.
Mendengar Arman menjawab bisik-bisiknya dengan Sheri membuat Harven malah jadi ngeri, bagaimana Kak Arman bisa mendengar. Ya, padahal bisik-bisik dia memang suaranya agak keras.
"Dia dengar."
"Hihi," Sheri tertawa.
Harven jadi benar-benar ngeri sekarang. Sepertinya kakak sepupu Sheri punya pendengaran yang sangat tajam gumam Harven.
Saat Harven mau menggeser tubuh supaya tidak terlalu dekat, Sherina malah memegang lengan Harven dengan kuat. Sambil tertawa.
"Kau sudah mengerjakan tugas?" Akhirnya Harven berhenti bergerak dan membiarkan Sherina.
"Belum, kan masih Minggu depan. Eh, bagaimana kalau kita kerjakan bersama. Aku nanti malam ke rumahmu ya. Ah, kau tidak perlu menolak, aku dengan senang hati datang kok." Tidak ada yang minta, tidak ada yang menyuruh juga. Sherina tidak meminta persetujuan juga. Dia hanya memberi pemberitahuan, kalau dia akan datang ke rumah Harven nanti malam dengan alasan mengerjakan tugas.
"Kau ini selalu seenaknya sendiri!" Harven mendorong wajah Sheri yang terus mau menempel di lengannya. "Tapi jangan datang terlalu malam, sore saja supaya kau tidak pulang kemalaman." Harven melengos, tidak mau terlihat terlalu senang dengan kedatangan Sherina ke rumahnya nanti malam. Padahal di kepala Harven sedang memikirkan, camilan apa yang akan dia sajikan untuk Sheri nanti ya. Dia juga akan membeli jus buah juga.
Apa aku ajak makan malam juga ya. Hemm, sebenarnya ngarep juga Harven ternyata.
Hah! Dasar kalian ini! Kalau tuan muda tahu, bayi kecilnya yang agresif begini, hah, bagaiman reaksinya ya. Arman mau pura-pura tidak mendengar obrolan di kursi belakang, tapi semuanya terdengar dengan jelas.
"Nanti kita ikut persiapan kuliah bersama. Kita kuliah di universitas yang sama. Hehe." Sheri masih bicara panjang lebar, sampai mobil sampai di gerbang sekolah.
__ADS_1
Oh ya, komik Jesi hari ini update kan ya? Arman langsung antusias melajukan kendaraan.
Bersambung