
Kejadian pagi hari tadi.
Setelah Rion menghadiahkan tubuhnya, mereka kembali bergumul di bawah selimut. Menetesnya buliran keringat seperti orang yang sehabis olahraga pagi. Rion yang kembali terlelap setelah menyelesaikan urusannya, tidur tengkurap seperti bayi. Tapi Mei bersyukur, dengan posisi tidur Rion itu.
Untung saja gumam Merilin, kalau Rion memeluknya lagi, dia pasti tidak bisa bergerak dari tempat tidur sekarang. Dan bisa-bisa dia harus berangkat bekerja bersam Rion nanti.
Gadis itu mengendap-endap keluar dari kamar, bergegas mandi dan bersiap-siap. Memakai baju baru. Menyambar sarapan yang dibuat bibi, Merilin tidak sempat memikirkan kenapa ada bibi pagi ini, jadi dia tidak sempat juga untuk merasa malu, dia kabur tanpa berpamitan pada Rion. Hpnya yang ada di bawah bantal dalam kondisi tidak aktif pun tertinggal.
Mobil melaju memecah keramaian jalanan kota, setelah hampir sampai di kantor, Merilin menepikan mobil, dipinggir jalan untuk makan sarapannya. Sambil berteriak tanpa suara beberapa kali memikirkan kelakuannya tadi malam dan pagi ini.
Bisa-bisanya dia kepikiran menghadiahkan tubuh! Aaaaaaa! belajar dari siapa si manusia itu. Ciuman dan gigitan, kau juga belajar dari mana Mei!
Sosok Rion yang selalu di gambarkan Kak Ge sebagai pria dingin yang membenci perempuan, laki-laki yang tidak akan menyentuhku di tempat tidur karena traumanya dengan pengkhianatan wanita yang dicintainya. Di mana sosok laki-laki yang digambarkan Kak Ge itu. Jeritan tanpa suara terdengar lagi, sambil Mei mengunyah dan membenturkan kepalnya di kemudi.
Setiap malam kami bahkan melakukannya, hari ini lebih parah. Aaaaaa, kami bahkan melakukannya di pagi hari.
Merilin membenturkan kepalanya berulang di kemudi mobil, karena wajah dan tubuh Rion malah menari-nari di kepalanya. Tubuh yang tidak memakai baju, wajah yang tertawa sambil tersenyum menyeringai.
Manusia bunglon yang memanfaatkan bonekanya dengan sangat baik gumam Merilin. Gadis itu menampar pipinya sekali lagi, tidak keras memang, tapi membuatnya sadar akan posisinya. Untuk tidak larut dan menikmati, apa pun perlakuan Rion padanya.
Ini kewajibannya membayar hutangmu pada Rion Mei, jangan sampai kau terlena dengan sentuhan tangannya yang lembut, dekapan lengannya yang hangat. Ciumannya yang panas dan menggelora. Berhentilah memikirkannya Merilin! Mobil kembali melaju menuju gedung Andez Corporation. Seumur-umur bekerja inilah pertama kalinya dia terlambat. Tidak tahu alasan apa yang diberikan Kak Ge, mau bertanya, hpnya tertinggal.
Gadis itu tahu, walaupun pikirannya berusaha menolak. Tapi tubuhnya menikmati, itulah yang membuatnya semakin malu.
...🍓🍓🍓...
Kesibukan kerja di salah satu lantai gedung Andez Corporation.
Waktu sudah menjelang sore hari. Di penghujung jam kerja. Tenaga sudah terkuras seharian, tinggal lelah dan sedikit kantuk yang menyisa di pelupuk mata.
Selepas makan siang tadi Baim, Mona dan Merilin keluar mengikuti CEO Rionald dan Sekretaris Serge ke gedung pusat Andalusia Mall. Ada dua orang direktur utama yang juga ikut. Melakukan penanda tanganan kontrak secara resmi. Tidak ada interaksi sama sekali antara Merilin dan Rion. Bahkan dengan Kak Serge pun mereka seperti orang asing. Mona yang terlihat sangat antusias, melihat dua orang tampan dalam satu frame. Healing dari kepenatan bekerja dengan melihat wajah mereka.
Setelah kembali ke kantor, Mei dan Mona masuk ke ruangan, menulis artikel, sementara Baim langsung mengikuti CEO ke ruangan aula untuk bertemu dengan para arsitek perusahaan. Di sana, Baim mengumpulkan foto dan Vidio dokumentasi.
Itulah kenapa, sore hari ini, semua orang di dalam ruangan ini rasanya sangat lelah.
Baim baru saja selesai mengedit foto dan membalas pesan di sosial media. Perihal kerja sama dengan Andalusia Mall akan di publish kepada khalayak. Foto-foto penanda tanganan kontrak, besok akan mulai diposting satu persatu di web maupun sosial media Andez Corporation. Dia menjatuhkan kepala di meja rapat terkulai lemas.
Merilin masuk ke dalam ruangan membawakan empat gelas kopi yang baru di buatnya. Asap mengepul di atas gelas. Baim langsung tersenyum senang saat Mei mendorong gelas ke depan wajahnya.
__ADS_1
"Kak Mei memang yang terbaik." Merilin menanggapi dengan senyuman. Di mata Baim, senyuman Merilin semakin manis dan menjadi suplai energi, di penghujung hari ini.
Mereka semua sudah duduk di meja rapat, menarik kursi mereka masing-masing. Sambil menikmati tegukan kopi instan yang dibuat Merilin.
"Bagaimana kalau kita melakukan wawancara saat Presdir dan CEO melakukan hobi mereka." Merilin mengeluarkan idenya. Sambil mencatat. "Jadi kita bisa mendapatkan foto-foto kedekatan mereka yang natural." Bukan hanya sekedar foto di dalam ruangan sambil duduk di ruang kerja.
Selain membicarakan hobi, kita bisa mengulik tentang bagaimana mereka bersinergi membangun dan mempertahankan kejayaan dan kebesaran Andez Corporation.
Ide yang menarik, sesuai dengan konsep awal yang ditawarkan Presdir, semua setuju.
"Hobi mereka apa ya? Main golf, mobil mewah atau membaca buku?" Mona menebak-nebak dengan pertanyaan. "Kalau berenang pasti jauh lebih seru." Dia terkikik sambil menutup wajah dengan tab catatannya. Membayangkan CEO Rion yang bertelanjang dada.
"Kak Mona, jangan mengotori pikiran Kak Mei." Baim yang protes di sebelah Mona malah menangkap wajah Merilin yang memerah. Gadis itu buru-buru menunduk. "Eh, Kak Mei!"
Mona tertawa sambil memukul bahu Baim, ekspresi Merilin lucu sekali. Seperti gadis lugu yang baru saja ketahuan melihat foto laki-laki.
"Wahhh, kau juga ingin melihatnya kan Mei. Tuan Rion memakai pakaian renang, dengan perut berotot dan dadanya yang bidang itu." Mona semangat sekali, Baim bahkan ikut tertawa dengan kejahilan Mona.
Bagi mereka berdua, Merilin itu hanyalah gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Sekarang, Mona lupa, kalau status Mei sudah menikah. Kalau Baim memang selalu menganggap Mei itu gadis suci, laksana buliran embun di pagi hari.
Sementara Merilin sendiri, wajahnya merah padam karena malu.
Aku pasti sudah gila karena semua terbayang di kepalaku. Merilin Anastasya, berhentilah memikirkan Rion yang tampan dan bertubuh bagus itu. Eh...
"Kalian mau menggoda Mei sampai kapan, sudah hentikan!" Kendra melerai Mona dan Baim yang sepertinya senang sekali melihat wajah Mei yang merah. "Fokus-fokus tentang daftar pertanyaan yang mau kita ajukan."
Merilin malu-malu menyuruh kedua orang yang masih menertawakannya untuk fokus.
Ya Tuhan, bisa-bisanya aku memikirkan Kak Rion.
Rapat kembali dimulai setelah Mona berhenti tertawa.
"Aku setuju, biar keakraban mereka terlihat nyata. Walaupun aku tahu kalo Presdir juga memang dekat dengan keluarganya. Siapa juga yang tidak tahu itu." Kendra menanggapi argumen Merilin. "Bagaimana kalau kita meminta Presdir menceritakan sedikit masa lalu CEO."
"Setuju, misalnya bagaimana waktu CEO remaja, kuliah, atau apa yang dikerjakan sebelum menjabat jadi CEO."
"Kita boleh menanyakan pertanyaan pribadi nggak ya? misalnya tentang tipe ideal CEO?"
"Kak Mona menjurus terus, memang mau mengejar CEO Rionald?" Baim menyenggol lengan Mona. Gadis itu nyengir tapi menganggukkan kepala dengan tidak tahu malunya. Sebenarnya dia cuma bercanda, karena dia tahu dia tidak selevel. "Kak, bangun, mimpinya jangan ketinggian." Ribut lagi kedua orang itu. Sampai Kendra memarahi mereka lagi.
__ADS_1
Kembali fokus.
"Kita tidak perlu mulai dari sejarah berdirinya Andez Corporation kan, kita kan sudah pernah membahas itu. Bagaimana kalau proyek baru dengan Andalusia Mall saja jadi poin utamanya, setelah itu baru membicarakan hobi."
"Proyek baru, hobi keduanya, cerita tentang masa lalu CEO."
"Rencana menikah CEO."
Merilin langsung batuk-batuk, meraih gelas kopinya beberapa kali tegukkan menghilangkan gatal yang tiba-tiba menyerang.
"Baiklah, kita masukan itu, tapi aku yakin langsung akan dicoret, beliau kan paling tidak suka membicarakan kehidupan pribadi." Merilin mencatat.
"Aku tahu, haha namanya usaha Mei."
"Tapi, kalau kita posting foto CEO Rionald, mau percaya atau nggak trafik dan follower sosial media kita langsung naik lho. Walaupun lebih banyak DM iseng yang masuk." Baim bicara. "Kadang aku iseng ingin balas DM mereka."
Tangan Kendra terkepal, di samping kepala Baim. Polisi sosial media yang memantau pekerjaan Baim selama ini. Baim tertawa, sambil bilang bercanda Kak.
Mereka meneruskan rapat lagi, ide mengenai pertanyaan semakin banyak bermunculan. Mereka mencatat semuanya dulu sebelum menyeleksinya. Ketika tegukan kopi mereka habis sampailah mereka di waktu pulang kerja.
"Baiklah, terimakasih atas kerja keras kalian hari ini. Aku akan merapikannya besok, kita akan membahasnya sekali lagi sebelum aku serahkan pada sekretaris Presdir dan CEO lusa."
Semua orang bertepuk tangan mengapresiasi kerja keras mereka hari ini. Dan bersiap untuk pulang ke rumah.
Merilin masih di tempat duduknya, saat semua orang sudah meninggalkan ruangan. Gadis itu sedang melamun dengan tangan gemetar mematikan komputernya.
Malam nanti, bagaimana aku melewati malam hari ini.
Dikepalanya sudah terbayang adegan panas dan dewasa yang cuma boleh dilakukan pasangan suami istri.
Mei, tenanglah, kau hanya perlu mengunci rapat hatimu dan membuang kuncinya ke dasar jurang hatimu. Pejamkan matamu dan jangan melirik wajah tampan yang ada di sampingmu.
Bagaimana aku tidak menikmatinya kalau rasanya memang, Merilin menutup mulut, tidak mau meneruskan kata-katanya. Malu sendiri dia.
Hah! Dia akhirnya keluar dari gedung Andez Corporation, masih banyak mobil yang terparkir. Motor juga demikian, artinya masih banyak karyawan yang mungkin lembut hari ini. Apalagi para arsitek yang sedang berlomba menunjukkan yang terbaik. Dan pasti salah satunya CEO mereka, juga pasti masih ada di dalam gedung ini.
Mobil Merilin keluar dari area parkir. Dia akan mempersiapkan diri dan hatinya sebelum Rion juga ada di dalam rumah. Entahlah, apa yang ingin dia siapkan. Sebelum pulang, dia mampir dulu di sebuah warung makan yang ada di pinggir jalan. Makan malam dan mengisi tenaga sebelum memulai pertempuran malam.
Gadis itu tertawa sendiri dengan istilah yang dia pakai. Jangan menikmatinya Mei, walaupun rasanya memang nikmat, karena kalau kau terjerat masuk dalam kenikmatan itu, kalau kau membuka hatimu, dan Rion membuangmu, kau yang akan menderita.
__ADS_1
Makan malam Merilin dengan sepiring nasi dan aneka macam lauk. Dia selesaikan dengan cepat.
Bersambung