
Menoleh kebelakang, hah, dasar lemah. Hati Erla menghardik dirinya sendiri. Dia memang selalu mengatakan, persetan dengan perusahaan ayah, aku akan membuang keluarga ini. Tapi, ketika langkah kakinya bergerak pergi, hatinya masih saja perduli. Bibirnya tergelak kecil, apa seperti ini ikatan keluarga, walaupun kau tidak disayang sekalipun, kau selalu berharap dan menoleh lagi. Memastikan mereka baik-baik saja.
"Ayah mu, pasti tidak akan melakukan apa pun Erla." Seperti memahami kegelisahan Erla, tangan kiri Ibram berpindah dari kemudi menggengam tangan Erla. "Kalian masih bisa bertemu setelah semuanya tenang."
Erla tidak menjawab, dia hanya melengos sambil melihat kaca mobil, sambil bergumam dalam hati yang bisa didengar dirinya sendiri. Apa mereka masih akan tetap sama kalau kami bertemu nanti.
"Ibu dan adik mu mengkhawatirkan kan mu tadi, kau bisa menghubungi mereka nanti."
"Entahlah..."
Hanya itu yang terucap di bibir Erla, tanpa dia mengalihkan pandangan. Tangan Ibram yang menggengam erat semakin kuat, seperti ingin mengalirkan tenaga atau cintanya untuk Erla. Gadis itu tersenyum setelah memutar kepala dan melihat Ibram.
Apa ini semua nyata Kak? Apa kau benar berubah? Apa akan seperti ini selamanya? Atau, jika aku tidak mendengarkan Kakak, jika aku tidak patuh dan membuat Kakak tersinggung, apa tangan yang menggengam erat tanganku ini akan tetap sama? Hati Erla yang masih dipenuhi kebimbangan, sekalipun secara nyata, dia mengakui perubahan sikap Ibram.
Dan setelah menyelesaikan masalah dengan keluarganya, Erla akan bertemu dengan ibu Kak Ibram. Apa semuanya akan berjalan dengan baik? Entahlah, Erla berharap dia tidak akan ditampar untuk kedua kalinya oleh ibu. Itu saja, gumam Erla sambil menyentuh sekali lagi, bekas tamparan ayahnya.
...🍓🍓🍓 ...
Langit mulai pekat. Di sebuah rumah, di salah satu kawasan elit, tempat Ibram menyembunyikan ibunya.
Ibram sudah meraih kunci mobil, Erla memintanya membeli barang. Sebenarnya itu hanya alasan. Tapi, Laki-laki itu pun paham, kalau Erla mengusirnya karena gadis itu ingin bicara dengan ibu.
Mereka memang butuh bicara berdua gumam Ibram.
Akhirnya Ibram menurut untuk pergi. Dia menyambar catatan barang yang sudah ditulis Erla dengan cepat tadi, entah barang yang tertulis benar dibutuhkan ibu, atau dia hanya asal tulis saja.
"Kak, pergilah bersama Lisa."
Lisa adalah nama pelayan muda yang selalu bicara dengan Erla, Ibram juga baru tahu namanya. Selama ini dia bicara dengan gadis itu tapi tidak pernah memanggil namanya. Biasanya dia cuma memanggil, hei, hei, kau. Ya begitulah, dia tidak penting, tapi karena dia baik kepada Erla, Ibram akan mengingat namanya.
Tapi, walaupun begitu, tentu saja, Ibram tidak mau membawa Lisa.
"Biarkan saja dia di sini. Aku tidak butuh bantuannya."
Ibram dengan acuh menolak, sementara Lisa juga berpikiran sama. Untuk apa dia pergi pikirnya.
Kalau Ibram takut meninggalkan Erla dan ibu, takut mereka bertengkar. Sedangkan Lisa, pelayan muda itu tentu takut meninggalkan Erla bersama ibu Ibram, karena kejadian waktu itu. Tadi, Nona Erla saja sudah ditampar tuan, apa yang akan terjadi kalau mereka ditinggal berdua. Sorot matanya memohon, untuk dibiarkan tetap tinggal. Tapi Erla tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Nona, saya membantu Anda saja."
Erla menggelengkan kepala lagi.
"Aku pergi sendiri, biar dia membantu mu." Kali ini Ibram bicara dengan tegas.
Lisa akan mengawasi kalian pikir Ibram, setidaknya dia bisa menghalangi salah satu, baik ibu atau Erla kalau kalian sampai bertengkar nanti. Tapi, diluar dugaan Ibram yang berfikir Erla akan menurut. Gadis itu, menolak dan malah bicara seperti meledek. Harga diri Ibram rasanya terguncang.
"Memang Kakak bisa membedakan gula dan tepung?" Seringai kecil muncul dibibir Erla.
"Apa? Hei! Walaupun aku tidak tahu, aku kan bisa membaca." Langsung menyalak . "Lagian memang kau juga tahu?" Ibram sedikit meninggi intonasinya karena tersinggung, namun senyum dan gelak kecil Erla malah membuat amarah itu lumer begitu saja.
Haha, lucunya, kenapa sekarang, Kakak ngambek jadi terlihat lucu si. Padahal kalau dulu, jangankan tertawa meledek, Erla tidak akan selamat kalau sedikit saja Ibram tersinggung.
"Aku juga tidak bisa membedakannya kok, Jadi, kita sehati kan? Hehe. Apa itu artinya kita berjodoh Kak?"
__ADS_1
Aku ini bicara apa si? Erla hanya asal bicara, supaya Ibram tidak marah. Dan sepertinya itu berhasil.
Ibram ikut tertawa, entah kenapa, setiap ekspresi wajah Erla saat ini terlihat sangat manis di pandangan Ibram.
"Dasar kau ini, baiklah aku akan pergi dengannya."
Tangan Ibram yang terulur meminta Erla mendekat dan memeluknya, lagi-lagi pemandangan yang membuat pelayan muda shock, ibu jauh lebih terkejut karena melihat tingkah manja anaknya. Namun senyum kelegaan samar terlihat saat ibu mengalihkan pandangan.
"Bicaralah dengan ibu, aku mohon, jangan bertengkar." Suara lirih Ibram berbisik saat mencium pipi Erla, gadis itu merasakan kecupan hangat itu membasuh dadanya yang sejujurnya takut dan canggung menghadapi mertuanya. "Aku pergi ya, hubungi aku kalau terjadi sesuatu."
Ibram tersenyum dan menggangukkan kepala pada ibunya sebelum melepaskan pelukan. Lalu laki-laki itu keluar lebih dulu dari dalam rumah.
Sekarang, giliran Erla mengusir pelayannya.
Saat tubuhnya didorong, Lisa terpaksa mengikuti Ibram. Sorot matanya masih terlihat khawatir dan tetap memohon untuk tinggal. Tangan Erla yang terkibas mengusir, membuat gadis itu menutup pintu perlahan. Meninggalkan Erla dan ibu mertua.
Selepas kepergian Ibram dan Lisa, hanya suara nafas kedua orang itu yang terdengar. Seperti yang Erla duga, mereka akan seperti orang asing. Tadi, mereka saling menyapa, karena Kak Ibram.
Hening.
Tidak ada yang bicara, ibu maupun Erla masih tenggelam dengan pikiran mereka masing-masing. Kecanggungan terbentang di antara mereka. Ibu yang duduk di sofa di depan TV, menatap menantunya. Seperti memberi kode, kau ingin bicara kan, maka bicaralah.
Setelah menarik nafas panjang beberapa kali, Erla akhirnya melangkah mendekati sofa. Dia duduk di pinggir, membuat jarak antara dia dan ibu.
Sekitar lima belas menit, keduanya mempersiapkan kata-kata dalam diam. Tidak tahu siapa yang akan mulai bicara duluan. Karena keduanya masih memilih kata bagaimana harus memulai.
Tik, tak, tik tak, jarum jam berputar. Nafas pelan berhembus.
Ibu membenciku. Isi pikiran Erla.
Tik, tak, tik, tak, waktu terus berputar.
Sambil meremas jemarinya, bicara meyakinkan hati, akhirnya Erla memutuskan yang memulai bicara.
"Ibu membenci ku kan?" Kalimat yang terucap dengan kaku, membuka percakapan. Erla tidak mengangkat kepala, dia melihat tangan yang ada di pangkuannya, tidak melihat ekspresi ibu juga. Hingga Erla tidak tahu, bagaimana reaksi ibu dengan kata-katanya. "Aku juga membenci ibu kok, kita saling membenci berarti ya?"
Diam lagi.
Begitulah awalnya, aku membenci kalian semua, aku membenci ibu yang membuat Kak Ibram jadi seperti ini, aku benci ibu yang diam saja dengan perlakuan ayah. Tapi, Erla melirik ibu yang tertunduk. Aku juga tahu, ibu takut dan tidak punya pilihan kan, hingga aku sadar, aku tidak seharusnya membenci ibu. Karena ibu juga korban kekerasan ayah, hah! Kenapa tidak ayahku, tidak ayah Kak Ibram, semua sama saja.
Erla menyentuh pipinya, masih terasa jelas rasa sakit yang menjalar di pipi sampai ke tengkuknya.
Apa semua ayah itu sama saja?
Ketika Erla berhenti bicara sekalipun, ibu tidak menyela atau membuat pembelaan, membuat Erla terhenyak. Apa ibu juga berubah, gumam Erla. Tapi, kalau melihat dirinya sendiri saja bisa berubah, kenapa Kak Ibram dan ibu tidak?
"Tapi, bagaimana aku bisa membenci ibu sekatang? karena ibulah yang membuat ku yakin, kalau Kak Ibram benar-benar bisa berubah."
Betul begitu kan, bahkan sampai tadi, hati Erla belum sepenuhnya percaya pada perubahan hati Ibram. Dia masih selalu siaga, menolak hatinya untuk tersentuh. Karena bisa jadi, Kak Ibram hanya menipunya, berbohong untuk mendapatkan tubuhnya.
"Aku pikir, Kak Ibram tidak mungkin bisa berubah sedrastis ini, dia hanya sedikit bersandiwara untuk membuat hati ku luluh. Tapi, saat melihat Kak Ibram yang menentang ayah dan benar-benar melindungi ibu, entah kenapa aku mulai merasa yakin, kalau dia juga benar-benar bisa berubah."
Entah cinta seperti apa yang dimiliki Kak Ibram untuknya. Tapi, melihat cinta tulus Kak Ibram pada ibunya sekarang, hati Erla tersentuh, dia malu telah meragukan perubahan suaminya.
__ADS_1
"Maaf Erla...."
Setelah mendengarkan Erla bicara panjang, Ibu bergumam maaf pelan dari bibirnya. Wajahnya masih menunduk, perasaan malu yang berkecamuk di dalam dada tidak bisa dia tahan. Namun, dia juga tidak mau melihat ke arah Erla.
"Dan terimakasih sudah merubah Ibram. Cinta kalian menyelamatkan Ibram.
Deg...deg...
Apa ini? Ibu bicara begitu saja sudah membuat ku tersentuh. Hah! Erla, serindu itukah kau pada kasih sayang, dasar menyedihkan. Tapi, entahlah, memang hanya itu yang sekarang dia butuhkan. Kata maaf yang tidak dia dapatkan dari keluarganya, malah terucap dari bibir ibu mertuanya.
"Ibu membenci ku?"
"Tidak!"
"Tapi ibu mau aku bercerai dari Kak Ibram?"
"Maafkan Ibu, maafkan Ibu Erla. Karena itu kemauan ayahnya Ibram."
Ah, ibu yang tak punya pilihan. Aku tahu rasanya itu. Tangan Erla terulur, meraih tangan ibu. Walaupun terkejut, tapi wanita itu membiarkan tangan Erla menggenggamnya.
"Pasti ibu takut kan? Ibu ingin kembali pada ayah dan memohon-mohon?"
Wajah ibu tersentak, ya, itu yang dirasakannya. Dia ingin mengakhiri pelariannya, berlutut, mencium kaki suaminya dan memohon supaya semua kembali seperti dulu. Dia akan diam dan tidak bicara kalau dia tidak diminta. Entahlah, ibu tahu itu neraka, tapi dia seperti tidak punya pilihan, sampai kapan dia harus sembunyi seperti ini.
Tangan Erla menepuk punggung tangan ibu.
"Tapi, ibu harus bertahan mengalahkan rasa takut itu."
"Tapi, Erla, ibu takut, bagaimana nasib Ibram nanti."
"Jangan hancurkan perjuangan dan harapan Kak Ibram Bu, hanya itu yang Kak Ibram butuhkan sekarang dari ibu."
Mengalahkan rasa takut, apa itu mudah? Tentu saja tidak. Ketika dia memutuskan kabur saat itu, tangannya saja tidak berhenti gemetar walaupun dia sudah sampai di rumah orangtuanya sekalipun. Mimpi buruk yang menghantuinya membuat Erla terjaga, rasa sakit tak kasat mata yang tiba-tiba muncul ketika membayangkan kemarahan Kak Ibram. Itulah yang harus dia lawan.
"Bagaimana kalau ayahnya Ibram tidak berubah?"
Erla pun tidak bisa menjawabnya, karena dia pun tidak tahu, bagaimana Kak Ibram bisa berubah. Kejadian apa yang memunculkan perubahan itu.
"Percayalah pada Kak Ibram Bu, dia bilang tidak akan melepaskan tangan kita berdua."
Karena aku pun akan mempercayai itu.
Saat Erla dan ibu saling pandang dengan hangat, mereka meraih bahu satu sama lain dan berpelukan. Tiba-tiba, terdengar suara berisik dari luar pintu. Erla menoleh, menghela nafas.
Hah! Kalian berdua ini! Kalau mau menguping, minimal jangan ketahuan donk.
Ya, Ibram dan Lisa baru keluar dari halaman rumah, setelah memastikan dua orang di dalam rumah baik-baik saja.
Akhir pekan pun berlalu dengan banyak cerita yang terjadi. Yang sedang liburan pun harus kembali ke ibu kota, dan esok harus bekerja keras lagi. Walaupun harus pulang, semua orang mengukir kenangan manis mereka yang tidak akan pernah terlupakan.
...🍓🍓🍓...
Dan di sebuah rumah besar, milik Presdir Andalusia Mall.
__ADS_1
"Dasar bodoh! Membuntuti Ibram saja kau tidak becus, segera temukan keberadaan istriku!
Bersambung