
Masih di malam sebelum wawancara besok. Entah jam berapa sekarang, namun yang pasti ini sudah hampir tengah malam. Lampu juga sudah mulai dipadamkan, hanya beberapa titik yang terlihat menyala. Angin malam berhembus, membuat para penjaga yang mendapat shift malam menaikkan jaket mereka. Kepulan asap dari gelas kopi, menemani mereka sambil berjaga. Mengusir udara dingin maupun kantuk yang menyerang.
Sementara itu di dalam rumah.
"Ssssstttt." Rion meletakan jari telunjuknya di bibir, saat Mei berisik bertanya mereka mau ke mana. Gadis itu memakai baju tidurnya di tambah selimut menutupi bahunya yang terbuka. "Jangan berisik Mei, nanti kita ketahuan ibu." Rion menarik tangan Mei keluar dari kamar.
Rion membawa Mei keluar kamar setelah mereka selesai dengan urusan mereka masing-masing. Rion mengeluh tiba-tiba kantuknya hilang, jadi dia mau menunjukkan sesuatu pada Mei.
Aaaaaa! Memang kita mau ngapain si Kak. Pakai memgendap-endap begini. Gadis yang ditarik keluar itu juga bertanya-tanya.
Kedua orang itu sudah seperti maling saja di rumah sendiri.
Padahal jelas-jelas kamar ayah dan ibu juga berbeda arah dengan kamar Rion, kalau ayah ataupun ibu tidak sengaja datang pasti tidak akan ketahuan juga. Tapi dasar, Rion memang sengaja menciptakan kesan dramatis itu, karena wajah Mei yang tegang campur takut itu terlihat lucu di matanya.
Haha, dia lucu sekali. Aku penasaran, apa yang sedang kau pikirkan sekarang Mei.
Mei mengekor, mengikuti langkah Rion. Dengan prasangka beraneka ragam, keisengan apa yang akan dilakukan Kak Rion itulah yang dipikirkan gadis itu. Padahal ini sudah malam, mereka seharusnya pergi tidur karena besok kegiatan sangat penting akan berlangsung kan. Apa aku pura-pura pingsan saja ya.
Deg.
Setelah berdiri di depan sebuah pintu, Mei terhenyak. Tangannya yang masih digenggam Kak Rion rasanya bergetar karena tidak percaya. Kak Rion membawanya ke ruangan rahasianya. Tempat berisi mimpi masa lalunya yang pernah ditunjukkan ibu waktu itu. Kak Rion membawaku ke sini? Mei masih bergumam tidak percaya dalam hati.
Aib masa laluku, impian yang dulu mati-matian aku perjuangkan ada di sini. Sekaligus kenangan yang ingin aku kubur bersama menghilangnya perasaanku pada Amerla. Rion tahu, hatinya masih terlalu aneh menyikapi. Dia selalu ingin membuang semua benda yang ada di dalam ruangan ini, sekaligus dia ingin tetap menyimpannya sebagai kenangan perjuangan hidupnya dulu.
"Mei..."
"Ia Kak."
Tangan lebar dan hangat milik Rion merengkuh bahu Mei, lalu kepala Rion membentur pelan di kepala Mei.
"Ruangan ini akan menjawab salah satu pertanyaan wawancara besok Mei, tapi, jawabanku besok bukanlah jawaban yang aku berikan hari ini. Karena aku cuma mau menunjukkan jawabanku yang sebenarnya padamu."
Debaran hati Rion juga mengeras. Keputusannya membawa Mei ke kemar rahasianya, bukanlah muncul hari ini. Tapi, sudah dari kemarin-kemarin dia memikirkannya.
Besok, dia sudah menyiapkan semuanya. Bukan dia si yang menyiapkan. Tapi Serge sudah dia minta menyiapkan semuanya dengan sempurna. Kencan berdua dengan Mei, menikmati makan malam romantis, dan saat itu dia akan mengungkapkan perasaannya pada Mei. Hari yang akan menjadi sejarah baru, bagi hubungannya dengan Mei. Besok, dia akan menghancurkan ikatan kontrak itu. Menjadikan pernikahan mereka berlandaskan cinta, kasih sayang dan saling memiliki. Aku benar-benar menantikan besok malam gumam Rion sambil memandang pintu yang ada di depannya.
Persetan dengan Serge, kalau aku yang dulu sangat mencintai Amerla saja bisa move on, kenapa Mei tidak. Aku kan lebih keren dari Serge.
Sementara Rion sedang memaki Serge, bagaimana dengan Mei. Deg, detak jantung Mei menguat. Debaran hatinya sekarang adalah berarti kebahagiaan. Dia merasa menjadi orang yang spesial. Dengan Kak Rion menunjukkan kamar ini saja dia sudah berfikir begitu, telah menjadi bagian yang berharga dalam hidup Kak Rion.
Biarkan aku bahagia Tuhan, walaupun hanya aku yang berfikir begitu. Ya, Mei yang sudah sadar kalau Kak Rion sudah tidak menganggapnya boneka, tapi sama sekali belum menyadari ketulusan hati Kak Rion.
Jikalau itu memang masih sebatas pikirannya, namun yang pasti Kak Rion benar-benar sudah membuka hatinya, karena dia menunjukkan tempat yang berharga ini padaku kan. Mei merasa mulai ingin menangis saking senangnya. Sudah tidak ada celah untuk si mantan kembali. Ia kan, hati Mei kembali berdetak dengan kencang.
Suara handle pintu terbuka, redup. Hanya lampu kecil yang menyala supaya ruangan tidak sepenuhnya gulita. Rion menarik tangan Mei. Dengan bergandengan tangan mereka masuk ke dalam. Dan blar lampu menyala, suara saklar lampu terdengar, dan cahaya lampu langsung memperlihatkan dengan jelas apa yang tersimpan di dalam ruangan ini.
Walaupun ini kali kedua Mei datang ke tempat ini, namun ekspresi terkejut itu terlihat dengan jelas di wajah Mei. Ya, rasa kaget yang bercampur tidak percaya, karena Kak Rion benar-benar membawanya ke sini.
Salah satu pertanyaan yang disetuju Rion adalah, apakah menjadi CEO dan meneruskan Andez Corporation adalah impian Anda? Adakah hal lain yang ingin Anda raih, selain mewarisi Andez Corporation?
__ADS_1
Dan inilah jawaban yang cuma Rion berikan dan tunjukkan pada Mei.
"Inilah mimpi ku Mei, mimpi masa kecilku yang menggelikan dan kekanakan. Aku punya mimpi menciptakan game yang dicintai banyak orang. Aku ingin setiap karakter game milikku dibuat action figure, seperti boneka kecil ini yang sudah aku kumpulkan sejak aku masih kecil dulu." Rion bicara panjang, diakhiri dengan tawa, dia sedang menertawakan mimpinya yang kekanakan. "Haha, aku seperti anak kecil bodoh ya. Kau pasti terkejut kan, aku punya impian kekanakan seperti ini."
Mei memutar tubuhnya, menghadap Kak Rion langsung, karena dari tadi, Kak Rion ada dibelakangnya, memegang bahunya.
"Ini bukan mimpi kekanakan Kak, ini bukan mimpi bodoh, tapi ini adalah impian Kak Rion!" Mei mengguncang bahu Kak Rion, tubuh tinggi tegap itu tak bergeming walaupun Mei sekuat tenaga mengguncangnya. "Dulu aku juga bermimpi jadi Putri salju yang cantik dan pintar menyanyi, supaya aku bisa menikah dengan pangeran tampan dari kerajaan lain. Mimpiku itu yang kekanakan Kak, mimpi sepertiku itu yang menggelikan."
Mei sedang berusaha menghibur Kak Rion. Tapi yang dia katakan tidak sepenuhnya bohong. Seperti anak-anak kecil yang lain, dia juga pernah bermimpi menjadi putri dan menikah dengan pangeran, itu mimpi yang lazim dimiliki anak-anak kan, gumam Mei. Memperhatikan ekspresi Kak Rion.
Jadi jangan menghukum diri kakak seperti ini Kak. Jangan terluka lagi karena Amerla. Aku mohon. Walaupun Kak Rion tidak ingin mewujudkan mimpi-mimpi ini lagi, tapi aku berharap, Kak Rion tidak akan melupakan mimpi berharga Kakak. Aaaaa, lidah Mei ingin bicara begitu. Namun, dia masih menahan bibirnya, karena kalau dia seterbuka itu bicara dia bisa ketahuan donk kalau tahu semuanya. Kalau dia tahu Kak Rion dicampakkan Amerla di depan banyak orang. Kalau dulu Kak Rion mencintai Amerla begitu dalam. Itu kan rahasia gumam gadis itu.
"Kau sedang menghiburku?" Rion menyentuh dagu dan menggoyangkan dagu Mei, sampai wajah gadis itu mengikuti gerakan tangan Rion.
Mei memeluk Rion. Tersenyum menenangkan sambil menggoyangkan kepala. Senyum yang selalu bisa menaikkan mood Rion. Bahkan mengusir lelah dan menghapus emosi. Rion menyukai senyum istrinya yang makin hari makin terlihat cantik ini.
"Kakak lebih hebat dariku kan, karena Kakak berusaha mewujudkan mimpi Kakak." Mei menjatuhkan kepalanya di dada Rion. Dan tangannya di belakang pinggang, mengusap bahu Rion. "Impian Kakak juga sudah terwujud."
Dia benar-benar berusaha keras menghiburku, ah lucunya. Kau menggemaskan sekali Mei.
"Aku sudah membuang semua ini Mei, hah, entahlah, apa benar aku membuangnya, karena sampai hari ini aku masih menyimpannya." Rion melepaskan pelukan Mei, dia berjalan menyentuh salah satu lemari, tempat dia menyimpan action figure game miliknya. "Aku menjual perusahaan yang aku bangun mati-matian hanya karena terluka dikhianati, padahal ini mimpiku, ada karyawan yang juga berjuang denganku. Namun, aku benar-benar hancur saat itu dan aku membuang semuanya. Ah, kenapa aku membicarakan ini denganmu si. Menyedihkan. Apa kau mau menertawakan aku Mei? Ternyata aku tidak sekeran itu kan."
Rion merasa malu sendiri, dia terlihat sangat menyedihkan. Hancur hanya karena Amerla. Sekarang terasa menggelikan, tapi dulu, dia memang benar-benar hancur karena kehilangan wanita itu. Sesuatu yang membuatnya membuang mimpinya, bahkan dia berfikir, game adalah mimpi buruknya bersama Amerla.
Mei buru-buru mendekati Kak Rion dan melingkarkan tangan di pinggang laki-laki itu lagi. Memeluknya erat.Teruskankan Kak, bicaralah, apa pun yang ingin Kakak katakan, aku akan mendengarkannya. Mei akan mendengarkan apa pun itu. Karena dengan berbagi kenangan ini, dia merasa menjadi berharga untuk Kak Rion..
Lagi-lagi, Rion menangkap senyum hangat dan pandangan tulus Mei untuknya. Dulu, dia melihat sorot mata itu diberikan Mei pada Serge. Apa kau benar-benar sudah move on dari Serge Mei? Seperti aku melupakan Amerla. Aku akan tahu besok, gumam Rion menantikan makan malam besok. Kalau kau belum move on, aku akan memaksamu untuk melupakan Serge.
"Aku siap mendengarnya Kak, walaupun itu tentang Amerla."
"Kenapa kau penasaran, tidak ada yang penting dalam hubunganku dengan wanita itu. Lihat, moodku langsung rusak karena membicarakannya. Menyebalkan." Mei langsung menjinjitkan kaki, memberi kecupan di bibir Kak Rion. "Wahhh, kau mulai pintar ya Mei, kau mulai tahu celah meluluhkan hatiku." Benar-benar terbukti, bibir Rion sudah tersenyum.
"Hehe..."
Kakak kan lemah terhadap sentuhan dan kecupan. Aku kan sudah belajar banyak selama ini. Mei tersenyum lagi, sambil memberi beberapa kali kecupan berulang kali. Sampai Rion akhirnya tertawa.
"Kau menang Mei, hatiku sudah senang lagi."
"Hehe."
"Kemarilah, kau boleh memegang action figure karakter game kesayanganku."
Rion mengeluarkan semuanya dari dalam lemari, lalu menyusunnya berjajar di atas meja. Menarik Mei untuk duduk dipangkuannya. Rion menyebutkan satu persatu nama action figure yang berjajar di meja. Sambil memeluk Mei. Dari suaranya saja Mei bisa mendengar antusias dan perasaan senang saat Kak Rion bicara tentang game miliknya. Rion menyebutkan nama satu persatu action figure yang dia pegang. Dia juga bicara tentang kekuatan mereka satu persatu.
Jujur saja, Mei agak nggak nyambung. Dia seumur-umur tidak pernah main game di hp, selain game menyusun batu bata. Dulu walaupun ayah masih hidup dan dia masih hidup dengan nyaman sekalipun, dia tidak hobi bermain itu. Apalagi saat ayah sudah meninggal dan hari-harinya cuma untuk bekerja. Bermain game adalah sesuatu yang sangat mewah untuknya.
"Kakak luar biasanya, masih mengingatnya."
"Haha, aku menyedihkan ya Mei."
__ADS_1
Kepala Rion menempel di bahu. Menciumi punggung Mei. Gadis itu tersentak saat lagi-lagi kata-kata getir itu terdengar. Dia loncat turun dari pangkuan Rion, memutar tubuh dan duduk lagi, menghadapi Rion. Mei menyentuh kedua pipi laki-laki di depannya.
"Kak, Kak Rion tidak menyedihkan. Ini kan impian Kakak. Kakak tidak perlu melupakannya, Kakak hanya perlu mengingat bagian indah dari impian Kakak itu." Mei benar-benar ingin membuat Kak Rion tersenyum. Melupakan semua mimpi buruk yang ditancapkan Amerla dalam hidupnya. Melepaskan belenggu Amerla seutuhnya. "Kak, aku akan menemani Kak Rion, apa Kak Rion mau, membuat mimpi baru bersamaku." Mei masih menyentuh kedua pipi Kak Rion. "Apa pun itu, mau Kakak membangun mimpi lama Kakak, atau membuat mimpi baru, aku akan menemani Kakak."
Apa ini artinya? Apa artinya kau mau hidup bersamaku Mei? Apa artinya kau akan mencintaiku juga dan melupakan Serge? Aku penasaran, apa aku tanya dia sekarang saja.
Deg.. deg...
Entah suara jantung siapa itu, tapi berdebar cukup kuat.
"Mei, besok malam setelah wawancara, aku mengajakmu makan malam, bersiaplah, ada yang mau kukatakan padamu."
"Apa?"
Kaget donk Mei, kenapa bisa waktunya bersaman begini. Apa Kak Rion lupa, aku yang mengatakan sesuatu. Mei mau bicara, tapi kemudian berfikir mungkin ini cara Tuhan membantunya juga.
"Baik Kak, aku juga mau mengatakan sesuatu, Kakak ingat kan, aku pernah bilang, aku mau minta dua hal dari Kak Rion."
Rion bergumam, dia sepertinya ingat Mei pernah mengatakan itu. Tapi mengganggap permintaan Mei paling tidak jauh tentang keluarganya ataupun uang.
"Apa yang mau kau minta? Katakan sekarang!"
"Ah, tidak! Memang apa yang mau Kak Rion katakan padaku setelah wawancara, coba katakan sekarang saja."
"Wahhh, kau mulai berani membantahku ya."
"Awwww, Kak, awww."
Rion mencubit pinggang Mei. Lalu mereka tertawa bersamaan. Dan bicara bersamaan juga.
"Tunggu besok malam." Saling tatap. "Haha."
Rion menghujani Mei dengan ciuman karena gemas dengan cara tertawa Mei. Suara cekikikan mereka di tengah malam sepertinya sampai di lorong lain. Karena terdengar derap langkah cepat mendekat.
"Tuan muda! Apa Anda di dalam?"
Suara kepala pelayan memecahkan kesunyian malam. Rion dan Mei langsung saling menutup mulut, menahan tawa. Mereka ketahuan.
"Nyonya bilang kalian harus tidur sekarang, karena besok kan, ada kegiatan penting." Kepala pelayan seperti sedang mengomel. Lalu tidak lama, pintu berderik terbuka. Rion muncul dengan wajah masam. "Tuan Muda, Nyonya kan hanya khawatir."
"Ia, ia, aku tahu. Ibu dan ayah juga, jam segini kenapa belum tidur." Rion menyeringai, mengejek. Kepala pelayan cuma bisa menahan senyum tapi tidak menjawab. "Suruh ayah dan ibu juga tidur sana. Ayo Mei, aku juga mengantuk."
Kedua orang itu meninggalkan kepala pelayan, yang masih berdiri di tempatnya sambil bergumam. Ya, ayah dan anak itu memang mirip sekali.
"Hoaam, ada-ada saja Tuan muda dan Nyonya ini, jam segini masih begadang saja."
Dia melihat pintu ruang rahasia milik Rion, Anda sudah menunjukkan kamar ini pada Nona Mei ya. Syukurlah, semoga kalian selalu bahagia. Pak Kun pergi ke kamarnya dengan hati tenang.
Bersambung
__ADS_1