Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
163. Ibram Berulah


__ADS_3

Masih di akhir pekan, di tempat yang berbeda.


Langit sudah mulai menghitam. Angin malam yang berhembus pun mulai terasa jauh lebih dingin. Keramaian jalanan semakin meningkat, karena orang-orang yang ingin keluar menghabiskan akhir pekan semakin banyak. Lampu jalanan yang terang bercampur sorot lampu mobil dan suara deru kendaraan, kehidupan malam telah dimulai.


Dan sebuah mobil terlihat memasuki komplek jalan perumahan dengan kecepatan melebihi rata-rata. Menjauhi hiruk pikuk kehidupan malam yang baru saja dimulai. Untung saja jalanan komplek lumayan sepi. Pengemudinya terlihat mendesah kesal beberapa kali sambil mencengkeram kemudi. Mobil masuk ke dalam gerbang utama sebuah rumah. Dia mengerem mobil sampai menimbulkan suara berdecit.


Di teras rumah seseorang yang terlihat seperti sopir sedang berdiri canggung, ada sebuah koper besar di sampingnya. Sementara itu, tuan dan nyonya yang ikut berdiri di sampingnya terlihat semakin pias saat mobil yang berdecit itu terbuka pintunya. Menunjukkan siapa yang baru datang. Ya, menantu mereka, Ibram.


Memang statusnya menantu, yang biasanya harus menghormati mertua. Tapi masalahnya, dia sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan, sekaligus pemilik modal. Yang hanya dengan satu perintah dan tanda tangannya sudah bisa menghancurkan perusahaan ayah Erla. Membuat kedua orang itu selalu ketar ketir setiap bertemu Ibram. Apalagi situasinya seperti sekarang ini.


Ibram menyuruh sopir keluarganya membawa koper berisi pakaiannya, karena dia mau tinggal di rumah mertuanya. Sebenarnya dia tidak memberitahu kedatangannya, orangtua Amerla juga sangat terkejut ketika sopir keluarga Andalusia Mall datang membawa koper milik Ibram. Sementara Amerla, masih tenggelam dengan dunianya yang baru di dalam kamarnya. Tidak tahu, badai besar yang sedang berjalan mendekatinya.


Ibram keluar dari mobil, membanting pintu. Melihat lantai atas, kamar Amerla yang menyala dengan terang. Dengan tidak munculnya dia menyambut, sudah dipastikan gadis itu tidak tahu kedatangannya.


Kau benar-benar menantang ku Erla, kau menyia-nyiakan kesabaranku. Dah inilah yang kau dapatkan.


Ibram menyudahi lamunannya dan berjalan ke teras rumah. Disambut oleh kedua orangtua Erla.


"Nak Ibram, apa kamu mau tinggal di rumah kami malam ini?" Ibu Amerla bertanya, walaupun sebenarnya sudah dicegah suaminya. Wanita itu melihat koper Ibram yang terlalu besar untuk ukuran hanya tinggal semalam saja.


"Kenapa? Apa ayah dan ibu keberatan?" Ibram menjawab sinis sambil menunjuk kopernya, laki-laki yang sedari tadi diam menundukkan kepala dan mengangkat koper ke dekat Ibram. "Kau boleh pergi, katakan pada ibu aku di mana."


"Baik Tuan Muda, kalau begitu saya permisi." Setelah menundukkan kepala pada Ibram, dia juga menundukkan kepala pada ibu dan ayah Amerla. Lalu berlalu menuju mobilnya terparkir.


Ibu Erla menarik baju suaminya supaya bicara, hanya bertemu sesekali di acara formal saja mereka sudah sangat tertekan dengan arogansi laki-laki di depannya ini, apalagi untuk tinggal satu rumah. Belum lagi harus menyesuaikan seleranya baik untuk makanan dan semuanya. Jadi ibu ingin memastikan berapa lama Ibram akan tinggal di rumah ini. Ibu semakin kesal pada Erla, karena anaknya sepertinya benar-benar tidak perduli, setiap diajak bicara Amerla hanya menjawab kalau mereka akan bercerai. Dia dan Ibram pasti bercerai, tinggal menunggu waktu.

__ADS_1


Bercerai apanya, kalau mau bercerai kenapa datang dengan koper sebesar itu. Ibu semakin terlihat panik saat mereka sudah masuk ke dalam rumah. Ibram langsung duduk di sofa ruang tamu. Angkuh dan sinis melihat semua hal di dalam ruangan. Dia menghela nafas semakin membuat ibu dan ayah Erla merasa tertekan.


"Suruh pelayan membawa koper ku ke kamar Erla." Ibram bicara dengan nada perintah.


"Eh, baik." Ibu langsung sigap memanggil pelayan. Kemudian kedua orang itu duduk di sofa juga di depan Ibram. "Nak Ibram, maafkan kami, kami sudah berusaha membujuk Erla, tapi dia benar-benar keras kepala dan tidak mau kembali." Ibu berusaha menunjukkan kalau mereka juga tidak diam saja. "Saya akan mengantarnya nanti kalau dia sudah menenangkan diri, jadi tolong beri kami waktu lagi."


"Benar Nak, percayalah." Ayah Erla menambahi. Walaupun ayah Erla terlihat mengepalkan tangan geram. Karena dia harus selalu memohon akhir-akhir ini karena Erla anaknya.


Ibram tergelak dengan sinis, menanggapi ucapan mertuanya. Tentu saja dia tidak percaya kalau mertuanya sudah melakukan sesuatu.


"Kalian tahu ayah memintaku menceraikan Amerla."


Deg, ayah Erla langsung panik. Dia sudah mau memohon tapi terdiam karena Ibram mengangkat tangannya.


"Ayahku sudah muak pada keluarga ini. Beliau mau aku mencabut semua uang modal ke perusahaan kalian, semuanya." Melihat kedua orang tua Amerla dengan jengah. "Aku datang karena memberi kalian kesempatan, kalau Erla keras kepala dan membuatku semakin kesal, maka bersiaplah ayah mertua. Aku bukan orang yang berbelas kasih." Ibram bangun dari duduk. "Jangan ada yang masuk ke kamar, apa pun yang kalian dengar. Kalian paham?"


"Hah! Aku lelah aku mau ke kamar."


"Baiklah, istirahatlah di kamar, kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan katakan saja, akan kami siapkan."


Ibram tidak merespon kata-kata ibu mertua. Dia menaiki tangga dengan langkah kecil, sambil tangannya mencengkeram pegangan tangga.


Setelah sepeninggal Ibram.


Ayah Erla menjerit tanpa suara sambil memegangi kepalanya, pusing. Kepalanya langsung berdenyut setelah mendengar kata perceraian. Presdir sudah mengancam seperti itu, itu artinya bisa saja terealisasi dalam waktu dekat kalau Ibram benar-benar mencampakkan Amerla. Nasib perusahaannya benar-benar ada di ujung tanduk.

__ADS_1


"Bagaimana ini, kamu bujuk Amerla Bu. Kita bisa hancur kalau Ibram tersinggung lagi."


"Ayah juga tahu kan, bagaimana keras kepalanya Erla akhir-akhir ini. Dia bahkan tidak pernah keluar kamar."


"Kamu paksa atau apa, bagaimana kamu ini, kamu kan ibunya." Ibu Erla menggigit bibirnya getir karena selalu dia yang disalahkan.


"Kamu kan tahu aku sibuk di kantor, berhentilah pergi belanja atau perkumpulan sosialita mu itu, kalau Ibram mencabut semua uangnya dari perusahaan, kamu bahkan harus menjual tas-tas mahal mu itu."


"Apa!"


"Makanya, lakukan apa pun supaya Ibram tidak membuang Erla!" Ayah Erla menjejakkan kaki kesal karena merasa istrinya tidak berguna.


Dilantai bawah, ayah Erla melampiaskan rasa kesalnya pada istrinya yang dia anggap tidak becus. Dan ibu Erla hanya bisa diam menahan hatinya yang sakit tercabik. Memang aku harus mengatakan apa lagi pada anak itu! Sekarang dia sudah berubah, tidak perduli lagi pada keluarganya. Karena pertengkaran Ibu dan Erla selalu berujung kemenangan Erla, kalau gadis itu sudah menyudutkannya, bahwa penderitaan yang dia rasakan selama pernikahan, juga akibat ayah dan ibu yang tidak perduli padanya.


"Dan kenapa aku harus perduli pada kalian, kenapa aku harus pusing kalau perusahaan ayah bangkrut. Sedangkan kalian sendiri, tidak pernah tahu bagaimana penderitaan yang aku rasakan saat menjadi menantu Andalusia Mall." Erla yang sudah membuang keluarganya. Walaupun gadis itu juga takut diusir, tapi dia berusaha menunjukkan kalau orangtuanya juga bersalah.


Dan ibu cuma bisa membeku diam saat mendengar Amerla mengeluarkan isi hatinya, karena dia tidak bisa menyangkal apalagi membuat alasan. Selama ini dia atau suaminya selalu berfikir, Erla gadis yang bisa menempatkan diri. Jadi, mau dia bahagia atau tidak, dia harus bertahan. Demi keluarga.


"Kau dengar tidak! Besok pagi seret Erla keluar dari kamar. Berlutut di ruang tamu sebelum Ibram keluar dari kamar. Atau keluarga ini benar-benar hancur!" Ayah Erla kembali menghardik istrinya.


"Baik."


Ibu Erla hanya bisa menjawab begitu.


Sementara ayah Erla masih bicara mendikte istrinya, mari bergerak, menuju lantai atas. Tepatnya di kamar Amerla, apa yang akan terjadi pada gadis yang mulai terlihat bersinar itu. Kemunculan Ibram yang tiba-tiba dan tidak terduga. Akankah menghabisi, impian yang baru saja dimulai gadis itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2