Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
190. Cerita Cinta (Part 1)


__ADS_3

Diceritakan Jesi dengan rona wajah yang memerah, campuran malu dan senang yang bersamaan. Kebahagiaan yang terpancar jelas dari bibirnya yang bicara dan bola matanya yang berbinar. Dia sangat bahagia, dilamar Kak Arman dengan cara itu.


Kejadian saat liburan, bersama Mei dan rekan kerjanya, di vila mewah milik kakak ipar ayah Rion.


Kak Arman, seperti karakter komik tampan dan keren yang selalu Jesi impikan ketika menghayal akan jatuh cinta suatu hari nanti. Dan laki-laki keren itu sedang bersamanya sekarang.


Mobil Arman melaju meninggalkan gerbang vila, mereka akan pergi kencan berdua. Arman sudah menyiapkan makan siang romantis dan manis di sebuah restoran yang ada di pusat perbelanjaan. Dia sudah survei tempat dan melakukan reservasi. Tempat makan paling besar yang ada di pusat perbelanjaan di pulau ini.


"Kak, kita mau ke mana?" Jesi menoleh kebelakang, melihat vila yang semakin menjauh dari pandangan.


"Makan.." Jawaban singkat Arman, lalu dia fokus mengemudi. Jalanan cukup lengang, jadi dia menambah kecepatan. "Lihat aku Jes."


"Hah? Kenapa Kak?"


"Ada laut yang berlarian di belakang ku kan?"


"Haha.. Ia, pemandangan di belakang punggung Kak Arman indah sekali."


Sepanjang jalan, di bagian kanan jalan tepat di belakang Kak Arman, deburan ombak yang berkejaran dengan bibir pantai masih terlihat. Warnanya yang biru, sungguh menyejukkan setiap kali mata memandang. Pepohonan yang ikut berlari seirama kecepatan kendaraan.


"Lautnya memang indah Kak, tapi yang di depanku juga tak kalah indah."


Deg, wajah Arman yang langsung memerah, tergelak kecil membuat rona yang sama di wajah Jesi muncul. Dua orang yang sedang malu-malu mengekspresikan cinta di antara keduanya. Saat tangan Arman berpindah dari kemudi, meraih tangan Jesi. Entah debaran jantung siapa yang terdengar paling keras, karena keduanya sama-sama berdebar.


"Apa kau mau membeli oleh-oleh untuk keluargamu, kita bisa pergi berbelanja setelah makan?" Demi mengusir suara degup jantungnya, malu kalau Jesi mendengar dadanya yang berdebar, Arman mengalihkan pembicaraan.


Mobil sudah memasuki area pemukiman penduduk, sebentar lagi masuk ke pusat perbelanjaan oleh-oleh, tempat para wisatawan berbelanja. Bangunan restoran yang mereka tuju, sudah terlihat di ujung mata.


"Apa tidak apa-apa kalau kita pergi terlalu lama Kak, Nona Sheri bagaimana?" Jesi menjawab ajakan Arman dengan pertanyaan.


"Jangan khawatirkan dia, aku sudah minta izin kok. Dia juga tidak akan ingat padaku selama ada Harven di sampingnya." Arman sudah menyerahkan Sheri pada Harven. Dan nona mudanya akan tenang menunggu, tidak ada yang perlu dia khawatirkan.


"Haha, benar juga. Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan dan berbelanja setelah makan Kak."


Arman mengganguk senang, tepat dia berhenti di area parkir. Terlihat di dalam restoran orang sedang lalu lalang, keluar masuk para pengunjung. Ramai, karena tempat yang dia tuju termasuk tempat makan paling besar di sini. Walaupun ramai, ada satu tempat yang terlihat lengang. Lantai dua, area makan di luar, kanopi berupa payung-payung aneka warna. Restoran ini dulunya satu lantai, tapi setelah ada kejadian yang menggemparkan membuat terjadinya pergantian kepemilikan, mereka melakukan pembangunan ulang, merenovasi beberapa bagian.


"Ayo naik?"


"Di atas Kak?"


Jesi mengikuti langkah kaki Arman yang menarik tangannya, sapuan angin menyegarkan langsung menerpa wajahnya. Rambutnya yang terikat bergoyang. Karena pohon-pohon di dalam pot, membuat mata yang memandang semakin sejuk.


Lantai dua benar-benar tidak ada siapapun.


"Padahal di bawah ramai sekali, kenapa tidak ada yang naik ke sini?" Jesi hanya bergumam bingung pada dirinya sendiri. Tapi Arman malah tersenyum mendengar kata-katanya, membuat Jesi tersentak, menebak arti senyuman Arman. "Kak, kau tidak menyewa semua lantai atas ini untuk kita berdua kan?"


Arman malah menepuk dadanya, merasa bangga.


"Bagaimana? Apa aku sudah seperti Robert?" Arman menyebut sebuah nama, salah satu karakter komik Jesi. Pria kaya raya yang menghamburkan uang hanya untuk makan malam dengan gadis yang ia kejar-kejar. "Tapi, aku tidak sekaya Robert. Haha, dan aku tidak bisa menyewa semua restoran." Sebenarnya bisa si, tapi pihak restoran menolak, karena ini akhir pekan, banyak wisatawan dari luar kota yang datang juga. Pihak restoran hanya mengizinkan lantai dua yang disewa.


Bola mata Jesi berkaca-kaca, entah kenapa baginya, ini bukan hanya mengejutkan, tapi juga mengharukan. Dia tidak perduli, seberapa luas restoran yang disewa Kak Arman, karena ini saja sudah seperti mimpi baginya. Ada seseorang yang menyiapkan kejutan makan siang, di tempat yang sangat indah ini, bagi Jesi, ini hadiah yang paling indah yang pernah dia dapatkan dalam hidupnya. Dia merasa menjadi gadis paling spesial hari ini.


"Kak..."

__ADS_1


"Kau senang..."


Jesi mengganguk, mengusap ujung matanya. Dia senang sekali. Sangat senang, sampai bingung bagaimana dia harus mengekspresikan perasaan bahagianya.


Langkah kaki dari arah tangga terdengar, suara pelayan naik, membawa makanan. Memutus pembicaraan Arman dan Jesi. Mereka saling pandang, sambil menautkan tangan, selama pelayan meletakan makanan yang mereka pesan di atas meja.


"Selamat menikmati tuan muda, dan juga nona muda. Dan ini..." Pelayan wanita itu menyodorkan bunga ke hadapan Jesi, membuat gadis itu kebingungan. Kenapa dia menerima buket bunga, mata Jesi langsung beralih melihat Arman yang tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Kak Arman yang menyiapkan ini?"


Para pelayan mundur teratur dan pergi, meninggalkan pasangan yang sedang terlihat dipenuhi bunga-bunga cinta itu.


"Kak..."


"Kau suka?"


"Tentu saja aku suka Kak, aku sangat menyukainya. Terimakasih banyak Kak."


Lagi-lagi, bola mata Jesi mulai dipenuhi kaca. Dia sampai menghardik dirinya sendiri, kenapa jadi secengeng ini. Sejujurnya hati kecilnya menginginkan semua ini. Ketika melihat Mei yang dicintai suaminya, saat lamaran Dean pada Kak Serge, hati kecil Jesi berharap, dia pun mendapatkan kebahagiaan ini. Namun, dia tidak pernah melontarkannya, bahkan pada Dean atau pun Mei.


Dan bagaimana bisa, semua ini satu persatu terwujud hari ini.


Jesi mencium bunga dalam dekapannya. Senyumnya yang merekah, membuat kelopak bunga di tangannya semakin bermekaran.


"Ayo makan, kau sudah lapar kan?"


"Hehe, ia Kak, Kak Arman juga makan."


Beberapa kali Jesi melirik bunga yang dia letakan di samping piringnya, bibirnya menyunggingkan senyum, tak habis-habis dia tersenyum. Sambil menyantap makanan mereka membicarakan banyak hal, tentang laut yang indah, tentang pemilik resort yang mereka tempati dan tentang rencana mereka setelah pulang ke ibu kota nanti.


Dan tak lama kemudian pelayan yang tadi menghidangkan makanan muncul, membawa desert. Cake stroberi mungil, dengan buah stroberi asli sudah diletakan di depan Jesi.


"Semoga rasanya seenak cake kesukaanmu dari kafe musim semi."


Lagi-lagi, jantung Jesi langsung berdegup dengan kencang. Kak Arman yang mengingat hal-hal sederhana, Kak Arman yang penuh kejutan, membuat gadis itu sekali lagi jatuh cinta pada laki-laki yang ada di depannya.


"Eh, apa ini?"


Sendok yang dipakai Jesi menyentuh sesuatu, dia korek lagi, sesuatu itu terlihat berkilauan. Saking kagetnya, dia korek-korek sampai berantakan cake stroberi di depannya, tepat seperti dugaannya. Adegan klise melamar pasangan memakai cincin yang dimasukan di dalam cake, salah satu adegan Robert melamar kekasihnya di dalam komik, seperti dipentaskan di dunia nyata oleh dirinya sendiri.


"Kak..."


Arman beranjak dari tempat duduknya, mengambil cincin yang terbungkus plastik kecil di cake milik Jesi, merobek bungkusnya dengan gigi. Lalu, dia menjatuhkan lututnya di lantai.


"Menikahlah denganku Jes, aku mencintai mu, aku janji akan selalu mencintai mu dan mendukung mu, semakin bersinar lah dengan mimpi mu bersama ku."


Arman menyematkan cincin yang dia pegang di jari manis Jesi, lalu mengecup punggung tangan Jesi. Sementara gadis itu masih terjebak dengan keterkejutannya. Wajahnya yang memerah, masih terlalu terkejut. Hingga dia masih kaku menatap cincin yang sudah melingkar di jari manisnya.


"Jes..."


Jesi tersentak kaget, lalu menghambur dalam pelukan Arman. Mereka jadi terduduk di lantai. Semua terasa seperti mimpi, berkencan dengan pembaca yang mencintai komiknya saja sudah seperti mimpi, dan ini.


"Hiks, Kak...kenapa kau bisa keren begini si. Selalu membuatku terkejut."


Jesi merasakan tepukan lembut di bahunya, tangan hangat dan lebar yang menggengam tangannya dengan erat tadi saat berkendara. Saat mereka berhenti berpelukan, gadis itu memundurkan badan, menyapu sisa Isak yang tertinggal.

__ADS_1


"Idolaku yang akan jadi istriku. Kau cantik sekali Jesi, aku mencintaimu."


Arman yang spontan mengecup bibir Jesi, kaget terjungkal jatuh ke lantai. Sepertinya saking terkejutnya, tangan Jesi spontan mendorong Arman. Sekarang, mata Jesi yang membelalak kaget.


"Kak! Maaf, aku kaget."


"Haha, kau lucu sekali Jes."


"Maaf Kak, aku benar-benar kaget."


Tangan Jesi terulur, membantu Arman bangun. Mereka berdiri, merangkul bahu, merasakan angin yang bertiup membelai keduanya. Dari lantai dua sebuah restoran, tangan mereka yang terpaut, wajah mereka yang memerah, saling pandang, lalu tanpa aba-aba, keduanya mendekatkan bibir, satu kali kecupan singkat, membuat wajah mereka memerah. Keduanya memalingkan wajah malu.


Hari ini, Jesi dan Arman telah membuat janji, bahwa mereka akan mengikat cinta mereka dalam pernikahan. Ah, tinggal melaporkan pada ayah dan ibunya, yang sebenarnya sudah sangat tidak sabar, menyambut Jesi di rumah mereka.


Sebelum pulang ke resort, mereka pergi berbelanja, oleh-oleh untuk semua keluarga.


...🍓🍓🍓...


Sementara itu, kembali ke resort.


Lautan biru yang ada di depan mata, sedang beriak. Keluarga para pegawai menikmati permainan air dengan riang gembira, dan di salah satu tempat duduk di dekat pantai, payung lebar menangkal panas mentari. Duduk dua orang, pasangan suami istri yang walaupun sudah lama menikah, namun selalu terlihat seperti pengantin baru, karena cinta yang mereka tunjukkan tanpa malu pada semua orang.


Ya, mereka adalah Frans Fernandez dan Yurika, suami istri yang sudah termakan waktu pernikahan, dan berhasil mempertahankan cinta di antara mereka seperti selalu terbarui setiap harinya.


"Sayang.." Yurika yang bersandar di bahu Frans tergelak kecil. "Setiap ke mari, aku selalu teringat cerita ibumu, saat tuan besar dan nyonya pergi bulan madu ke mari."


"Haha, kau ini, padahal itu sudah lama sekali."


Tangan mereka yang terpaut, mengalirkan kehangatan.


Yurika selalu teringat cerita mertuanya, ketika datang ke resort ini. Kisah cinta kedua orangtua suaminya selalu membuatnya takjub dan terpesona, ayah dan ibu Frans yang mengalami jatuh bangun perjuangan cinta.


"Ibu bilang, ayah dulu jahat, tapi dia membawa ibu ke dokter untuk memeriksa lukanya, ahhhh, aku tidak bisa membayangkan masa muda beliau berdua." Yurika kembali mengulang cerita. Frans disampingnya membelai rambut, sambil menjatuhkan kepala di bahu istrinya. "Apa beliau berdua bisa pulang ke tanah air? Saat pesta pernikahan Rion nanti."


"Ibu janji akan datang, tapi, kita lihat saja nanti."


"Ahhh, aku merindukan ibu. Beliau mengirimkan novel terbaru yang beliau tulis. Aku sampai begadang menyelesaikannya kemarin kan."


Frans mendengus, sampai dia dicueki, karena istrinya asik bertelepon dengan ibu, dan membahas novel yang dia baca. Seperti tahu arti dengusan suaminya Yurika tertawa, lalu mengecup pipi Frans.


"Aku mencintai mu sayang, terimakasih sudah menjadi suami yang luar biasa untuk ku, dan menjadi ayah yang hebat untuk Rion."


Senyum langsung terkembang di bibir Frans, dia menunjuk pipinya lagi minta dicium.


"Haha, kau ini! Jangan disini!"


Tapi, dengan tidak tahu malunya, Frans malah menunjuk kening dan bibirnya.


Dua orang pasangan suami istri, yang sedang menikmati hamparan lautan dengan angin yang lembut sambil bercerita tentang kisah cinta orangtua mereka yang penuh kenangan resort yang mereka tempati ini, sebelum mereka kembali ke ibu kota.


Sementara itu, tidak jauh dari mereka, dua orang terlihat tidak jauh berbeda, ada bunga-bunga berwarna pink dan tanda cinta berhamburan dari tenda miliknya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2