Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
145. Memeriksa Luka


__ADS_3

Masih di hari yang sama.


Suasana rumah yang tadinya hening seperti tidak berpenghuni, kembali terdengar suara yang menandakan ada kehidupan. Kepala pelayan dan bibi menunjukkan wajah khawatir mereka ketika bertemu dengan Rion dan Mei. Mereka semua tadi dilarang keluar dari kamar. Namun mereka hanya menunjukkan kekhawatiran melalui sorot mata, tidak berani bertanya juga. Kepala pelayan dan bibi berangsur mulai merasa lega, saat melihat tuan dan nyonya sudah bicara dengan normal pada menantu dan anak laki-lakinya. Walaupun suasana tetap agak berbeda.


Setidaknya semua baik-baik saja, tuan muda dan nona juha gumam mereka bersamaan, lalu meneruskan pekerjaan yang tertunda. Membereskan halaman rumah sisa wawancara tadi pagi.


Makan malam berlangsung dengan damai. Ayah dan ibu tidak banyak bicara, tapi Ibu terlihat memindahkan lauk ke piring Mei dan Rion. Menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada anak dan menantunya.


"Terimakasih Bu.." Mei tersenyum sambil menyuap makanannya.


"Makan yang banyak Mei, kamu sudah melewati hari yang berat kan." Ibu membalas senyuman Mei dengan memindahkan lauk lagi. "Makan semuanya."


"Ibu dan ayah juga, kalian luar biasa ya." Rion menyindir sambil mengunyah makanan yang masuk ke mulutnya. "Apalagi ayah, ah, badanku masih sakit Yah." Seperti bayi yang minta perlindungan dari ibunya, melihat ibu dengan tatapan sedih. "Ayah memukulku dan Serge, Bu."


Mei yang tangannya bergeser lalu mengusap punggung Rion, gadis itu tertawa kecil saat mendengar rengekan Rion. "Nanti aku obati Kak." Mei mengedipkan mata kirinya.


Dia benar-benar sudah pintar menjinakkan aku ya. Satu kecupan mampir ke pipi Mei. Sekarang, entah kenapa tatapan hangat dan lembut itu semakin bisa dirasakan Rion.


Dan setelah makan malam, ayah mengajak Rion bicara berdua. Kali ini, ayah menasehati anaknya panjang lebar dengan sangat serius. Telinga Rion malah rasanya lebih sakit ketimbang saat dia dipukul bantal tadi. Suara ayah berdengung tidak berhenti di kepalanya. Banyak sekali yang ayah katakan, dari mengungkit Amerla sampai ceramah tentang mencintai istri yang baik itu seperti apa. Rion menganggukkan kepala. Dan menjawab baik ayah, baik. Saya paham.


"Aku akan minta maaf secara khusus nanti saat kami berdua. Aku tahu Yah, aku salah. Aku salah."


Sementara di ruangan lain, ibu menarik tangan Mei, gadis itu mengekor dengan patuh di belakang ibu . Hati-hati, ibu menutup pintu. Setelah masuk dan duduk, ibu mulai bicara.


"Mei, ayah dan ibu sudah sepakat tadi, kami tidak akan mengungkit perihal kamu minum pil kontrasepsi pada Rion."


Deg.


Mei menundukkan kepala lemas, dari banyaknya hal yang terbongkar hari ini, ada satu hal penting yang dia sendiri bahkan lupakan. Pil kontrasepsi, benar, sampai detik ini Kak Rion belum mendengar perkara pil. Pantas ada pikiran yang mengganjal apa gitu dari tadi.


"Jangan membahasnya di depan Rion ya, kita kubur masalah pil itu sekarang? Kamu paham kan Mei?"


"Tapi Bu...?"


Mei takut dia tidak bisa menahan diri seperti saat bicara dengan ayah dan ibu tadi. Kalau Kak Rion bertanya padanya bagaimana? Setelah tahu Kak Rion mencintainya, entah kenapa Mei jadi merasa menjadi pengkhianat karena minum pil itu diam-diam. Dan sebenarnya dia ingin membuka masalah ini, biar hatinya diberi kelegaan juga.


"Mei, ibu tidak mau kalian bertengkar lagi, hari ini sudah melelahkan dan menakutkan buat ibu." Ibu meraih tubuh Mei dan memeluknya. "Kita bahas itu setelah semuanya mereda. Nanti kita juga pergi ke RS ya, untuk periksa kesehatan." Setelah melepaskan pelukan ibu menyentuh perut Mei. Mengusapnya searah jarum jam. "Ibu dan ayah tidak memaksamu Mei, jalani saja pernikahan kalian dengan baik. Nikmati kebersamaan kalian, kalau Tuhan titipkan bayi di perutmu, itu adalah hadiah untuk cinta kalian."


Sebenarnya saat melihat cinta putranya pada Mei, perasaan cemas ibu berkurang. Walaupun Rion tahu, ibu yakin, anaknya tidak akan semarah itu pada Mei. Tapi tetap saja, pasti menimbulkan ketegangan. Dan ibu ingin menghindari itu. Untuk sementara waktu ini.


"Baik Ibu, terimakasih banyak ya Bu karena sudah menyayangi menantu ibu ini."


Menyayangi dengan tulus orang seperti aku.


"Kau ini, ibu yang berterimakasih, karena kau sudah ada disamping Rion dan membuatnya bahagia. Ayo keluar, nanti dia kebingungan mencarimu, sepertinya ayahnya juga sudah selesai. Ingat ya, jangan ungkit masalah pil."


Anggukan kepala Mei, membuat keduanya tersenyum. Lalu mereka keluar dari ruangan.


Dan benar saja, saat keluar dan berjalan ke ruang keluarga, mereka melihat Rion sedang tiduran di sofa. Menunggu Mei sambil menggoyangkan kaki, bergumam entah apa. Sepertinya dia mengikuti nyanyian yang sedang di putar di TV.


"Kenapa lama sekali, aku mencari mu dari tadi."


"Maaf Kak, tadi ada yang ibu mau bicarakan sedikit.'


Rion langsung menghampiri Mei, meraih pinggangnya.


"Kami masuk kamar ya Bu, ibu juga istirahat."


"Ia, istirahatlah. Jangan tidur terlalu malam, Mei pasti lelah."


"Baik Bu." Rion menghentakkan kaki sambil meletakan tangan di dekat keningnya, memberi posisi siap. Tapi saat berjalan meninggalkan ibu, dia berbisik di telinga Mei. "Haha."


Apa sih Kak, kumat deh, tertawa sesuka hati mu. Eh, sepertinya Mei mulai paham arti tawa Kak Rion itu apa. Dia kan mau mengobati Kak Rion, ahhhh pasti panjang urusannya nanti. Versi pengobatan Kak Rion kan agak-agak gimana gitu kalau dilihat dari sudut pandang ilmu kedokteran.


Mei tersenyum geli sendiri, membayangkan Kak Rion minta di scan tubuhnya tapi pakai bibirnya. Sepertinya yang ketularan virusnya Rion bukan cuma Serge.

__ADS_1


...🍓🍓🍓...


Sudah di dalam kamar.


Rion melepaskan kemejanya setelah kakinya melangkah ke dalam kamar. Melemparkannya begitu saja ke lantai. Lalu dia menjatuhkan tubuh sambil terlentang di atas tempat tidur. Melebarkan tangan. Nyamannya, dia bergumam sambil melirik apa yang sedang dilakukan Mei.


"Mei..."


"Ia Kak.." Sedang berdiri di depan lemari sambil menyisir rambut.


"Tidak perlu ganti baju." Dibumbui tawa.


Apa sih, dasar! Padahal Mei baru mau mengambil baju tidurnya, sepertinya dia sama sekali tidak membutuhkan baju tidur sekarang. Gadis itu mendekat ke tepi tempat tidur, laki-laki setengah telanjang itu memutar tubuh. Tengkurap. Tepat saat dia mengangkat bajunya naik melalui kepala. Dia memutar tubuh malu. Rion tertawa sambil berkata dengan santainya, memang apa lagi yang mau kau sembunyikan dariku Mei.


"Buka semua!"


"Kakak!"


Lucunya, dia bahkan masih malu-malu dan memerah wajahnya. Kau memang menggemaskan sekali Mei. Aaaaa! Kenapa aku bodoh sekali si, aku bisa dengan jelas melihatnya saat menyukai Serge. Tapi kenapa aku tidak bisa tahu saat dia sudah move on. Rion sedang mengatai dirinya bodoh. Karena bisa-bisanya tidak melihat cinta di mata Mei yang tertuju padanya. Ya, ini sebenarnya terjadi karena selama ini kau hanya mempercayai fakta kalau Mei menyukai Serge. Padahal seperti hatimu yang bisa dibolak balik Tuhan dengan mudahnya, perasaan Mei juga seperti itu kan. Tapi, yang namanya belum sadar, ya begitulah.


Tubuh polos itu mendekat, menempelkan kaki ke tepi tempat tidur.


"Sentuh aku."


Maksudnya, Rion sedang minta diperiksa tubuhnya. Sedikit disentuh-sentuhlah, kalau perlu dikecup-kecup juga. Rion mau Mei melihat, apakah pukulan ayah tadi membekas luka atau tidak. Tapi lagi-lagi Rion memilih kata sesuka hatinya saja. Mei mengulurkan tangan menyapu punggung Rion. Menekan beberapa bagian. Posisinya dia masih berdiri di tepi tempat tidur.


"Naik ke tubuhku."


"Hah?"


Mei merayap naik ke atas tempat tidur. Naik tepat di atas pinggang Rion yang masih berbalut celana. Gadis itu menempelkan wajahnya di punggung Rion. Menciumnya dua kali. Dia perhatikan dengan seksama, memindai punggung Rion. Masih mulus, tidak terdeteksi luka atau pun memar.


"Sakit ya Kak?"


"Maaf, gara-gara aku. Kakak dan Kak Ge harus menanggung kemarahan ayah. Maaf ya Kak." Mei terdiam, hanya tangannya yang bergerak, berlarian di atas punggung Rion. "Yang dipukul ayah bagian mana? Bagian ini?" Setiap bagian yang ditunjuk Mei, dia berikan kecupan beberapa kali.


Tubuh yang di duduki Mei bergerak, sepertinya mau memutar tubuh. Mei jadi mengangkat pantatnya, dan benar saja, Rion membalikkan tubuh. Rambut panjang gadis itu jatuh menempel di dada Rion saat dia tertunduk.


"Kakak kesakitan ya? Bagian depan juga?"


"Semua.."


"Apa?"


"Semua sakit." Merengut sedih. "Bagian bawah yang kau duduki juga."


Kakak! Seharusnya aku tahu, ayah tidak mungkin memukul Kakak! Begitu protes keras. Tapi Rion malah tertawa.


"Buka..."


"Apanya Kak? Kan aku sudah nggak pakai baju."


Mei menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Memang apalagi yang harus aku buka si. Dia benar-benar malu apalagi saat Rion menatapnya dengan sorot mata begitu.


Rion menggoyangkan pinggangnya, Mei baru paham apa yang disuruh untuk dibuka. Saat celana panjang Rion sudah jatuh ke samping tempat tidur, Rion menarik selimut membuat Mei jatuh terjerembab ke atas tubuhnya. Gadis itu merayap naik, sampai kepalanya muncul.


"Kau mencintaiku? Aku mau mendengarnya Mei. Sekarang, katakan, kau mencintaiku."


"Kenapa? Kakak tidak percaya?"


Seharusnya aku kan yang tidak percaya, seharusnya aku yang bilang begitu. Mei menyentuh kedua pipi Rion. Mencium hidung dan bibir dengan gerakan kilat. Kak Rion yang mencintai orang sepertiku. Kalau aku tidak mendengarnya sendiri, aku juga pasti tidak percaya.


"Aku mau melihatnya, cintamu yang kau tujukan untuk ku."


Tangan Rion yang sudah merayap entah kebagian tubuh apa, menari sesukanya dibawah selimut. Mei kegelian, menggoyangkan tubuh. Semakin dia bergerak, tangan Rion semakin tidak mau diam.

__ADS_1


"Kakak! Katanya mau mendengar aku bilang cinta, tangan Kakak diam dulu."


"Suka-suka aku, ini kan tanganku. Cepat bilang!"


Meremas sesuatu di bawah selimut.


Aaaaaaaa! Merilin gila! Sebenarnya setiap hari kau mengalami ini kan? ia kan? tapi kau tidak menyadarinya sama sekali. Kau benar-benar bodoh ya! Memang siapa yang berani berfikir begitu si? Dia kan Kak Rion, manusia bunglon yang hatinya berubah dalam sekejap mata. Perang batin dengan hati, saling menertawakan sebenarnya.


"Aku mencintaimu Kak, aku mencintai Kak Rion." Sambil bibir bergerak, mencium pipi. "Aku menyukai semuanya dari Kakak. Tampan, tampan dan tampan." Rion tertawa ketika Mei mengulang kata tampan sebanyak tiga kali. "Bukan hanya tampan, tapi Kak Rion juga laki-laki yang baik dan hangat. Aku selalu berfikir, Kakak adalah hadiah indah dari Tuhan untukku. Menikah dengan Kak Rion adalah keajaiban untuk ku. Aku mencintaimu Kak."


Ada suara kembang api meledak di kepala Rion. Selasar hati Rion langsung dipenuhi bunga yang bermekaran. Selama ini, walaupun palsu dia senang mendengar Mei mengatakan kalau dia mencintainya. Dan sekarang, saat gadis itu benar-benar mengaku cinta, tentu hatinya luar biasa senangnya.


Rion meraih tengkuk Mei, mendekatkan bibir mereka. Dan ciuman saling mendorong, menjilat bahkan menggigit tak terelakan. Semakin dalam dan dalam, membuat nafas keduanya tersengal.


"Aku juga mencintaimu Mei, sangat mencintaimu."


Ciuman babak kedua berlanjut, Rion merubah posisi tubuh, Mei jatuh ke lengannya. Kakinya sudah terangkat mengunci pinggang Mei. Selimut masih menutupi seluruh aktivitas yang dilakukan kedua pasangan itu. Tempat tidur yang kokoh, tidak membuatnya bergoyang atau bergetar, walaupun yang di atasnya bergerak tidak bisa diam dari tadi.


"Mei, maafkan aku. Aku pasti menyebalkan sekali saat pertama kita bertemu."


Mei hanya membalas dengan tawa, karena kalau dia menjawab dengan jujur, bisa-bisa laki-laki yang hasratnya sedang memuncak di atasnya langsung berubah moodnya.


"Aku akan merobek surat kontrak tidak penting itu. Ke depannya, ayo berbahagia denganku. Kita hidup dengan bahagia dan saling mencintai."


"Ia Kak, Ahhhhh."


Seluruh tubuh semakin memanas, hanya bisikan cinta yang sahut-sahutan. Rion menebarkan kecupan merah tanda cinta jauh lebih banyak, sampai tumpang tindih. Mei mendesah beberapa kali, sambil bicara dengan nafas terengah.


"Aku mencintaimu Kak, aku mencintai Kak Rion."


Satu gigitan di bahu Mei, saat mata Rion terpejam. Mereka berbagi peluh di bawah selimut.


"Aku mencintaimu Mei, Merilin, istriku, kekasihku."


"Ahhh, aku juga mencintaimu Kak, aku mencintai Kak Rion."


Angin malam lewat, menampar jendela kamar.


...🍓🍓🍓...


Malam ini di tutup oleh Serge yang sedang jumpalitan di tempat tidur, dia belum bisa tidur. Baru saja voice call dengan Dean. Bukannya mengantuk setelah Dean menutup panggilan, matanya malah semakin terbuka. Dadanya yang berdebar tidak karuan sejak dia pulang tadi.


Dia bernyanyi riang saat bertemu dengan ayah dan ibunya, membuat kedua orangtuanya ikut senang. Soalnya biasanya anaknya kalau pulang larut yang ada menyeret kaki sambil mengeluh. Terkadang memaki dengan suara kecil. Jadi saat melihat anaknya pulang dengan hati gembira tentu orangtuanya ikut bahagia. Sampai tidak memperhatikan wajah Serge dengan hansaplasnya.


Aku sudah punya pacar! Aku bukan jomblo lagi. Hehe.


Serge tertawa geli, melihat layar depan hpnya. Bukan lagi foto gedung Andez Corporation. Sekarang, sudah berganti fotonya dan Dean. Jangan tanya siapa yang ngajak foto ya, yang pasti bukan Serge.


Apa begini yang dirasakan Rion dan Mei? Aaaaaa! Kenapa jantungku mau meledak. Serge menyentuh pipinya, sekarang bahkan sudah tidak sakit lagi. Apa karena aku bahagia ya, semua hal jadi terlihat indah. Hehe.


Monolog Serge belum berhenti, dia masih berkicau sendiri tentang rencana apa yang akan dia lakukan setelah resmi jadian.


Eh...


Serge mulai bengong, dia mulai terlihat bingung.


"Eh, ia, setelah kami resmi jadian, apa yang harus aku lakukan ya?"


Mesin pencarian adalah jalan ninja Serge, ditengah kebodohannya tentang pacaran normalnya manusia seperti apa. Hp ditangannya terjatuh. Dia membelalak kaget.


Layar hp menyala, menunjukkan jawaban dari mesin pencarian.


Setelah pacaran, menikah donk


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2