
Saat melihat Mei keluar kamar mandi dengan piayama handuk sebenarnya Rion kecewa, karena tadinya dia berfikir bisa menjahili gadis itu di kamar mandi. Dia ingin melihat wajah Mei yang pucat pasi saat melihatnya masuk ke dalam kamar mandi.
Cih, tidak seru pikir Rion karena Mei cepat sekali mandinya. Ibu bahkan baru keluar. Tidak, ini masih cukup seru kalau aku menggodanya sekarang. Rion meralat ucapannya sendiri. Dia menggeser kakinya, turun dari tempat tidur. Melihat Merilin yang memilih duduk di sofa sambil mengeringkan rambut ikalnya yang masih terlihat basah.
Hah, dia terlihat biasa saja. Dasar manusia bermuka dua! Bisa-bisanya membuat bekas kecupan di seluruh tubuh. Mei, kau juga sudah gila sepertinya, kenapa kau bisa tidak bangun dan sadar semalam.
Merilin merinding sendiri tidak mau membayangkan apa yang sudah Rion lakukan pada tubuhnya. Tapi saat dia memeriksa ************ dan area sensitifnya, dia tidak merasakan ada suatu keanehan. Gadis itu lega sekaligus bersyukur, karena setidaknya suaminya masih memiliki hati nurani.
Karena Merilin tidak mau menggunakan alat pengering rambut, dia mengusap-usap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Mei bisa merasakan aura mengancam dari langkah kaki Rion yang berjalan menuju sofa. Agak tersentak kaget. Untung saja Rion duduk di sofa di depannya.
"Air."
Hah! Sabar Mei, kau itu bonekanya, masih untung dia cuma memintamu melakukan hal begini.
Merilin bangun, berusaha tetap tenang sambil mengatur detak nafasnya. Dia meraih botol minum, lalu memutar tutup botol, menyodorkan pada Rion.
"Silahkan Kak."
Tanpa bicara sepatah kata pun Rion menyambar botol di tangan Mei.
Aku mencium aroma yang menyegarkan. Sambil menatap Merilin, Rion meminum air di dalam botol.
Glek, glek tegukan air terdengar. Ada yang menetes jatuh ke dada Rion yang telanjang saat dia menarik botol dan menyerahkan lagi pada Mei, bukannya meletakkan di atas meja. Gadis itu gelagapan meraih botol minum.
"Apa Kak Rion mau mandi? Mau aku siapkan air hangat supaya lebih segar. Aku juga mandi air hangat tadi, sepertinya ibu benar, rasanya lebih segar dan nyaman." Merilin mengusap lehernya, tertawa dengan kaku. Dia sedikit merasa menciut karena Rion malah menatap ke arahnya dengan tatapan yang terlihat aneh.
Dasar gila! Kenapa dia tidak mengusap air yang menetes di dadanya! Hah! Tolong Tuhan, tolong kuatkan mental dan hatiku. Yang aku cintai adalah Kak Ge, laki-laki berhati hangat dan baik hati.
Demi menjaga kesehatan jantung, sekali lagi Merilin memilih menunduk, sambil mengusap ujung rambutnya yang masih terasa basah.
Deg.
"Kenapa kau berteriak dan mengagetkan semua orang? Menggangu orang tidur saja." Kata-kata Rion yang keluar setelah cukup lama hanya terdiam dan menatap Merilin.
Aku pikir dia tidak akan membahasnya!
Mei mulai pucat, handuk yang ada ditangannya bergetar. Setelah melihat sekujur tubuhnya dengan noda merah, Merilin berfikir Rion bisa melakukan apa pun yang dia inginkan, untuk berakting, menunjukkan kalau pernikahan ini adalah pernikahan yang dipenuhi gelora cinta. Begitu pula, dia benar-benar bisa marah untuk sesuatu yang tidak dia sukai.
Kak Ge bilang, aku tidak boleh menggangunya selama dia ada di ruang kerja, tidur, atau saat dia terlihat lelah.
__ADS_1
"Ma, maaf Kak, kalau tadi aku sudah membangunkan Kak Rion, bahkan ibu sampai datang kemari." Mei menutup bagian dadanya dengan tangan kanan. "Aku akan sangat berhati-hati supaya tidak membuat ibu khawatir dan tidak akan menggangu Kak Rion."
Merilin mengangkat sedikit kepalanya, melihat reaksi Rion. Apa benar laki-laki di depannya ini marah, dan sudah cukup puas dengan permintaan maaf darinya. Saat mendongak, gadis itu mendelik kaget, dan tubuhnya terdorong ke arah sofa.
Rion melakukan lagi, memojokkan Merilin di sofa. Senyum di bibir Rion mengembang, saat gadis yang ada di depannya pias. Ah, lucunya. Dia bukan boneka, dia persis kelinci yang ketakutan dengan matanya yang mengecap. Begitulah yang menari-nari di kepala Rion. Tapi mana ada kelinci yang rambutnya cruel, cruel begini. Lagi-lagi terhibur melihat Mei yang ketakutan.
Rion menyentuh rambut Mei, gadis itu berteriak dalam hati mengumpat karena kaget. Sebenarnya kau mau apa si, membuat orang kaget setengah mati saja. Begitulah bola mata yang seperti terjebak di mulut harimau.
Ia, ia aku tahu aku bonekamu yang bisa kau sentuh dan pegang sesukamu. Tapi tolong beri peringatan dulu kalau kau mau bergerak.
"Kak, Kak Rion." Merilin memalingkan wajah, di depannya otot perut kotak-kotak, persis seperti gambar Jesi. Kalau Jesi menyebutnya roti sobek. "Maaf Kak, maaf. Aku tidak akan menggangu Kak Rion tidur lagi ke depannya. Kali ini mohon maafkan aku."
Bukankah kesalahan pertama wajar dan seharusnya mendapat toleransi. Begitulah Merilin berharap.
Rion menunduk, mensejajari wajah Merilin. Lututnya menggesek paha Merilin. Membuat otak Mei langsung tersengat listrik. Apalagi saat tangan Rion menyentuh kerah piayama handuknya.
"Merah juga ya, aku tidak berfikir akan Semerah ini. Kau suka?"
Dasar orang gila sialan! Kau mau aku menjawab apa! Oh tentu saja Kak, aku senang sekali, geli-geli gimana gitu. Kau mau aku bicara begitu!
Rion menuding kening Mei yang berkerut, terlihat sekali di matanya kalau Mei kesal dengan pertanyaannya. Tapi bagaimana ya, pagi ini dia masih ingin menjahili Merilin lebih banyak lagi. Rion menggerakkan lututnya, membentur paha Merilin lagi.
"Kau tidak menjawab?" Tangan Rion menunjuk kening Merilin lagi. Membuat gadis itu menarik senyum sepanjang yang bisa ditarik bibirnya.
Sekarang, puaskan dia dengan jawabanmu.
"Aku senang sekali Kak, Kak Rion sedang menandai boneka kakak Kan." Mei tertawa dipaksakan sambil menutup mulutnya. "Karena tanda kecupan di se-lu-ruh tu-buh-ku ini, ibu jadi sangat bahagia tadi. Kak Rion sungguh luar biasa, pasti kakak sudah bekerja sangat keras semalam kan."
Puas, apa kau ingin mendengar pujian itu Kak, baiklah aku akan memujimu. Bonekamu yang lucu dan menggemaskan ini akan memujimu dengan imutnya.
"Aku bahkan sampai tidak tahu bagaimana caranya harus berterimakasih." Mei tersenyum dan tertawa. "Aku kan jadi tidak perlu bingung untuk memamerkan tanda kecupan ini pada ibu, karena ibu sudah melihat semuanya langsung. Hehe."
Aku pasti sudah gila.
"Haha." Rion tertawa terbahak, kata-kata Merilin benar-benar menghiburnya. Rion mundur dan jatuh duduk kembali ke sofa. Dia masih tertawa. Menutup separuh wajahnya dengan. Kata-kata Merilin benar-benar memantik gelak tawanya. "Kalau begitu, kau harus membalasnya donk."
Senyum licik itu muncul lagi di bibir Rion.
"Apa maksudnya Kak?" Merilin takut-takut menggeser tubuhnya. Dia menatap pintu keluar, lalu tas berisi bajunya. Tadinya dia akan ganti baju dengan cepat kalau Rion masuk ke kamar mandi. Tapi kenapa situasinya malah mengancam begini gumamnya.
Dia tidak akan menyuruhku mencium lehernya dan menorehkan tanda kecupan di seluruh tubuhnya kan! Mei menjerit dalam hati sambil membuang muka setelah melihat otot perut dan dada yang bidang itu.
__ADS_1
Tapi sepertinya pikiran gila Merilin barusan benar-benar hal gila yang dipikirkan Rion. Karena laki-laki itu menepuk pahanya. Lalu menunjuk leher dan mengusap dadanya dengan tangan.
"Ayahku sangat jeli dan peka, dia harus lebih diyakinkan. Jadi." Menepuk pangkuannya. Rion tergelak kecil. "Lakukan tugasmu dengan benar Mei, kalau kau mau segera keluar dari kamar ini."
Rionald Fernandez manusia sialan!
Ketika Rion menepuk pangkuannya lagi. Wajah Merilin semakin pucat. Sebelum Rion bicara kalau dia tidak suka mengulangi kata-katanya, dengan langkah gemetar gadis itu mendekat. Rion menyandarkan tubuh dan memiringkan kepala, tangannya menunjuk bagian mana yang ingin Merilin mencium untuk pertama kalinya.
Glek, Merilin menelan ludah.
Tidak Mei, jangan bayangkan kau mencium tubuh Rion, bayangkan saja ini Kak Ge. Plak! Seperti ada yang menampar wajah Merilin, Kak Ge kan tidak mungkin melakukan ini Mei. Jangan mengotori kesucian Kak Ge walaupun dalam bayanganmu.
"Duduk." Kali ini Rion menarik tangan Merilin, tubuh gadis itu jatuh dipangkuan Rion. Rasanya pangkuan ini panas."Paman sudah menunggumu untuk sarapan, jadi lakukan dengan cepat Mei." Rion meraih dagu Merilin, mengusap bibir Mei dengan jemarinya. "Kau bilang aku sudah bekerja keras kan semalam, jadi tunjukkan rasa terimakasihnya dengan benar. Supaya ayahku semakin yakin, kau harus menorehkan banyak tanda di tubuhku kan."
Aaaaaaa! Bisa gila aku.
Dengan tangan gemetar Mei mencengkeram dada Rion, dan memberi stempel merah pertamanya di leher bagian kanan Rion. Selanjutnya, dia lakukan sesuai dengan instruksi telunjuk tangan Rion mengarah ke bagian mana yang diinginkan laki-laki itu.
Sampai sini aja ya 🤭 Kejadian lengkapnya biar Rion dan Mei saja yang tahu 🤣
...🍓🍓🍓...
Wajah Merilin rasanya seperti habis terbakar. Dia keluar kamar menggandeng tangan Rion. Menuruni tangga dengan dada yang bergemuruh, sementara laki-laki di sampingnya berjalan dengan sangat tenang. Rion menoel dagunya saat mereka sudah sampai di meja makan. Semua orang sudah ada di sana. Mei tersadar dari lamunan.
Ibu segera meraih tangan Merilin, merangkul bahunya. Mengenalkan pada paman dan bibi, laki-laki yang terlihat mirip dengan ibu jika dia tersenyum menyambut uluran tangan Mei dengan hangat. Sementara wanita di sebelahnya, memeluk Merilin seperti pada anaknya sendiri.
"Cantiknya, selamat ya atas pernikahan kalian. Maaf, paman dan bibi tidak bisa hadir kemarin." Bibi memukul bahu suaminya. "Gara-gara pekerjaannya banyak sekali."
Paman yang dipukul cuma tertawa.
"Nggak papa Bi, kalian kan sudah menyempatkan datang, saya sangat berterimakasih. Perkenalkan, nama Saya Merilin Anastasya. Paman dan Bibi bisa memanggil saya Mei, terimakasih sudah memberi restu dan doa untuk kami." Merilin mendekati kursi yang diduduki Rion. Ibu dan bibi juga sudah duduk disamping suami mereka masing-masing. Merilin meletakkan tangannya di bahu Kak Rion. Lalu dia menjatuhkan kepalanya di bahu Rion, sampai pipinya menyentuh rambut Rion. "Saya sangat bahagia karena di terima di keluarga ini, terimakasih Kak." Merilin menoleh, ingin menarik kepalanya dengan cepat, tapi terlambat, Rion sudah menyambar bibirnya. "Kakak!"
Merilin menjerit, wajahnya merah padam karena kecupan singkat di depan semua orang. Apalagi saat semua orang yang ada di meja makan tertawa. Bahkan Presdir pun terlihat puas dengan interaksi anak dan menantunya.
Walaupun hati Merilin berdenyut, karena merasa takut, bagaimana kalau orangtua Kak Rion mendapati fakta pernikahan mereka. Tapi sekarang, Mei ingin sedikit menikmati kasih sayang itu.
Obrolan mereka berjalan cukup lama. Setelah sarapan, ibu dan bibi mengajak Merilin jalan-jalan, sambil melihat pemandangan, kedua wanita itu menceritakan tentang Rion. Masa-masa kecil sampai dewasa. Layaknya seorang ibu yang bangga pada anaknya.
Sampai waktunya mereka harus kembali ke ibu kota.
Merilin akhirnya bisa bernafas lega, karena dia terbebas dari sepetak kamar dan tempat tidur berkanopi. Akhirnya dia bisa memiliki kamar yang terpisah.
__ADS_1
Bersambung