
Hari yang melelahkan dan tidak terduga.
Baru saja menenangkan ibu, kemudian sekarang melihat hal memilukan di depan mata. Mei yang pernah bertemu dengan wanita yang sedang ditenangkan ibu, ikut merasa pedih dan geram. Kenapa ada suami sejahat itu. Seumur hidup dia melihat ayah dan ibunya saat ayahnya masih hidup sekalipun, dia tidak pernah melihat ayahnya mengangkat tangannya ke tubuh ibu untuk menyakiti ibu.
Beberapa saat dia masih berdiri di depan pintu, mendengar Isak tangis. Lalu, Mei menuju ke dapur, membuat teh hangat. Dia membawa dua, satu untuk pelayan muda yang lukanya sedang diobati Sheri dan Harven, satu gelas lagi, dia bawa ke kamar.
Usapan lembut tangan Mei di bahu ibunya Ibram, wanita itu mendongak, lalu mengusap airmatanya. Ibu Ibram sudah bicara dengan ibu Mei permasalahan sebenarnya. Dia yang kabur dari suaminya. Suaminya yang seorang pelaku KDRT, kejadian seperti ini sudah sering terjadi dulu. Selama ini dia cuma bisa menahan, dan menahan. Karena anaknya Ibram, dia punya keberanian untuk kabur.
Ujung mata Mei ikut sembab, rasanya sakit mendengarnya. Sebagai sesama wanita, dia juga merasa marah. Kenapa Anda bertahan selama ini? Ah, banyak alasan pastinya, Mei menjawab pertanyaan yang terlontar di kepalanya. Dia bertanya, namun dia juga tahu jawabannya. Seorang wanita, apalagi seorang ibu, selalu punya alasan kenapa bertahan di pernikahan yang sebenarnya tidak jauh seperti neraka.
Dalam hati kecil gadis itu, dia benar-benar sangat bersyukur. Walaupun dulu, aku menikah hanya menjadi istri boneka, namun Kak Rion, tidak seperti laki-laki itu.
Mei menyodorkan cangkir teh, setelah ibu Ibram lebih tenang, ada yang mendengar ceritanya membuat wanita itu merasa sedikit lega.
"Lisa sudah menghubungi Tuan Ibram dan Nona Amerla, sebentar lagi pasti mereka berdua datang."
Ibu Ibram mendongak dari cangkir tehnya, dia terkejut melihat wajah gadis yang memberinya segelas teh yang duduk di sampingnya.
"Anda?" Sepertinya ibu Ibram mulai mengenali sekitarnya, dan dia masih ingat dengan wajah Mei. "Bukannya Anda menantu Andez Corporation? Nona Merilin?"
Anggukan kepala Mei, sambil meraih tangan ibunya.
"Ini rumah ibu saya, kebetulan, saya dan Kak Rion sedang berkunjung hari ini."
"Ah, ternyata. Maaf, sudah merepotkan kalian." Ibu Ibram jadi merasa tidak enak hati, ya bagaimana pun dia tahu kejadian Erla dulu yang menggoda CEO Rion. Tapi, tangan ibu Mei menggoyangkan lengannya. Tetangga yang sebenarnya baru dia kenal selama beberapa hari. "Maaf ya Bu, saya jadi merepotkan."
"Jangan bilang begitu, tetangga itu harus saling membantu. Apalagi kita sama-sama perempuan." Ibunya Mei memeluk ibu Ibram. "Jangan takut, katanya suami mu langsung pergi tadi. Malam ini tinggal saja di sini dulu, sampai anak-anak mu datang."
Deg...
Entah kenapa langsung ada yang mengganjal di hati Mei. Dia tersadar, akan sesuatu yang sangat penting. Tuan Ibram dan Nona Erla? Kenapa aku baru terpikir sekarang! Mei langsung bangun dari duduk, permisi pada ibunya untuk mencari Kak Rion. Saat berada di depan pintu, kedua wanita yang terlihat seumuran itu saling berpelukan lagi. Menguatkan hati satu sama lain.
Mereka terlihat akur, gumam Mei. Sambil keluar, mencari keberadaan Kak Rion.
Di teras depan, Kak Ge dan Kak Brama masih mengobrol. Sambil berjaga, memastikan tidak ada orang mencurigakan yang mendekat. Lisa di depan TV, dia berbaring miring, sambil pandangannya melihat entah kemana. Tidak mau menggangu, Mei tidak menyapanya. Dia melihat adiknya.
"Ven!"
Harven sedang di dapur, di depan kulkas, Sheri tidak terlihat.
"Lihat Kak Rion?"
"Di kamar ku." Mei yang sebenarnya mau langsung ke kamar Harven, tapi terhenti langkahnya saat Harven menarik lengannya. Tatapan laki-laki itu terlihat gelisah. "Kenapa Dek? Masih memikirkan penipu itu? Kak Mei kan bilang..."
Harven menggelengkan kepala. Lalu, dia menunjuk pintu belakang.
"Sheri Kak.."
"Kenapa Sheri? Mengajak mu menikah?"
"Kak Mei!"
"Haha, maaf. Habis kalau ketemu Kak Mei, dia selalu melamar mu si, jadi Kak Mei inget itu terus."
Wajah Harven berubah serius, hemm, apalagi ini, kenapa tiba-tiba pikir Mei, perasaan tadi mereka masih rukun saat mengobati luka Lisa.
"Kenapa lho Dek?"
"Ternyata Sheri anak konglomerat Kak, aku tahu dia memang anak orang kaya, tapi aku tidak tahu kalau keluarganya sekaya itu." Harven diam sebentar, melihat pintu belakang lagi. "Selama ini aku tidak mau tanya-tanya tentang detail keluarganya."
Pacaran dengan Sheri saja dia selalu dibilang tidak tahu malu, mendompleng Sheri lah, enak sekali kamu pacaran sama Sheri, sudah dibelikan apa saja kamu. Kalau menikah dengan Sheri, kamu pasti langsung jadi tuan muda. Kata-kata nyinyir yang pernah dia dengar dari barisan sakit hati Sheri. Membuat Harven tidak mau penasaran terlalu jauh pada latar belakang Sheri. Karena dia seperti membenarkan, omongan orang tentangnya.
"Kapan kamu tahu Ven?"
__ADS_1
"Barusan, dia mengaku saat kita menyelamatkan ibu tetangga sebelah."
Hah? Ada kejadian seperti itu? Mei saja tidak menyadari karena fokusnya hanya pada ibu Ibram dan pelayan muda itu. Kalau Sheri yang ternyata adalah putri kesayangan Presdir Gardenia Pasifik Mall dia sendiri sudah tahu, Kak Ge yang memberitahunya. Dia pun sudah bertanya pada Sheri. Karena Sheri yang memintanya untuk menjaga rahasia, makanya Mei masih menyimpan rapat masalah ini. Memang yang harus terbongkar, akan terbuka pada waktunya.
"Kamu marah?"
Harven masih diam, entahlah dia marah tapi seperti kenapa juga dia harus marah. Toh dia memang tidak pernah bertanya pada Sheri. Jadi sebenarnya bukan Sheri yang menyembunyikan latar belakang keluarganya, tapi dia memang yang tidak mencari tahu. Jadi dia sendiri tidak punya alasan untuk marah.
"Apa kalau Sheri hanya gadis biasa kau tidak akan suka padanya?"
"Apa si Kak. Aku kan suka padanya karena dia Sheri." Harven menutup wajahnya dengan tangan, sambil melengos menyembunyikan rona merah. "Aku menyukai Sheri, tidak perduli latar belakang keluarganya. Tapi..." Karena bagi Harven bukan itu yang penting. "Apa aku pantas untuk Sheri Kak, aku yang seperti ini."
Deg..
Mei tahu arti pertanyaan Harven, aku yang seperti ini, apa aku pantas? Karena dia pun berkubang dengan rasa rendah diri ini dulu, saat dia mencintai Kak Ge. Perasaan tidak pantas karena hanya gadis miskin dengan gunungan hutang keluarga. Beraninya mencintai seseorang yang seperti bintang di langit. Seseorang yang indah bahkan saat hanya dilihat dari kejauhan.
"Dek..."
"Aku malu Kak. Walaupun kami saling menyukai, bagaimana dengan keluarga Sheri."
Bingung, bagaimana harus menjawab dengan bijak. Karena Mei tidak tahu bagaimana keluarga Sheri. Apakah cinta mereka bisa menjadi perisai.
Saat Mei sedang kebingungan, terdengar helaan nafas. Kedua kakak beradik itu langsung menoleh. Seorang gadis sedang berkacak pinggang sambil cemberut di depan pintu.
"Pantas saja, katanya kau cuma mau ambil air dingin, tapi kok lama banget. Ven, kita kan baru mau membicarakannya, kenapa kau sudah mengambil kesimpulan."
Harven tidak bisa berkata-kata ketika mendapat serangan fakta. Mei, tertawa canggung sambil memukul bahu Harven. Mendorong tubuh adik laki-lakinya.
"Kak Mei cari Kak Rion dulu ya. Bicaralah baik-baik dengan Sheri."
"Kak Mei..."
"Hehe.." Mei nyengir sambil berbalik, mengambil jalan pintas untuk kabur dari percintaan remaja. Hari ini, sudah terlalu berat baginya. Dan dia yakin, Harven pasti bisa berfikir dengan bijak. Karena dia juga tahu, Sheri memang tulus menyayangi adiknya. Hingga mereka pasti bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri.
Suara Rion.
"Pokonya ayah jangan membicarakan perusahaan mereka lagi. Hah! Aku kesal sekali dengan kelakuan presdir mereka."
Rupanya Kak Rion langsung mengadu gumam Mei. Dia tersenyum lucu. Kak Rion yang terkadang selalu seenaknya, tapi memang hubungannya dengan ayah dan ibu sangat dekat. Mei sedang menyaksikan mode manja Kak Rion pada ayah.
"Sekarang masih di sini, ditenangkan ibu dan Mei. Dia menunggu anaknya menjemput. Aku tidak tahu masalah mereka apa, sampai istrinya bisa tinggal di dekat sini."
"Kamu nggak papa kan?"
"Memang aku kenapa? Aku tidak memukul siapa pun, jadi ayah tenang saja." Terdengar Rion mendengus.
Mei menutup mulutnya yang tersenyum, dia cuma menendang penipu itu yah. Kalau tidak dicegah, entah apa yang terjadi.
Ayah Rion bicara lagi.
"Bukan itu Nak, tapi, nanti kamu kan bertemu Ibram dan wanita itu. Kamu nggak papa?"
Deg... Entah kenapa Rion tidak pernah memikirkan sampai ke situ. Benar juga, kalau CEO Ibram datang, dia pasti datang dengan istrinya kan. Dan istrinya itu?
"Kalau kamu belum bisa bertemu dengannya, tidak usah keluar." Ayah Rion terdengar sangat mencemaskan situasi anaknya saat ini. Bertemu mantan, adalah situasi paling tidak mengenakkan, apalagi mantan yang berakhir tidak baik. "Serge masih di sana kan? Biar dia yang mengurusnya. Ayah yang akan bicara dengannya."
Sejenak hening, Rion mengangkat kakinya naik ke atas tempat tidur. Dia memiringkan tubuh.
"Aku tidak apa-apa Yah, ada Mei. Mei yang aku cintai sekarang, aku tidak perduli dengan wanita itu, walaupun dia berdiri di depan ku sekalipun. Ayah tahu kan, kalau aku bilang, aku sudah tidak perduli, artinya apa?"
Mei yang menguping, hatinya berdenyut karena berdebar. Yang dia takutkan, sama seperti yang sedang dikhawatirkan ayah Kak Rion. Tangan Mei mengetuk pintu, setelah hatinya yang berdebar kembali normal.
"Kak, Kak Rion di dalam?"
__ADS_1
Rion langsung bangun duduk.
"Ah, Kakak sedang menelepon? Apa aku keluar dulu?"
Tangan Rion langsung terulur. Sambil mengangkat hpnya dan mengatakan kalau dia sudah selesai bicara dengan ayahnya. Sambungan terputus. Mei meraih tangan Rion, dan dalam satu gerakan tarikan pelan, gadis itu sudah menabrak kaki Rion.
"Apa ibu itu sudah tenang?" Rion bicara sambil menepuk pangkuannya. Mei tersenyum, tapi langsung naik ke pangkuan Kak Rion tanpa perlawanan. Setelah pinggulnya menempel, Rion langsung memeluknya, membenamkan wajah di dada Mei. "Aku lelah Mei, hari ini benar-benar membuatku kesal setengah mati."
Mei bisa merasakan kegeraman dari suara Kak Rion. Gadis itu memberikan kecupan di atas kepala Rion, lalu menyapu punggung Rion beberapa kali.
"Terimakasih Kak."
"Untuk apa?"
"Karena sudah menemani ku. Karena sudah perduli pada keluarga ku, karena sudah mengganggap ibu ku, sebagai ibu Kakak." Mei menyapu kening Rion yang mendongak dengan kecupan. "Terimakasih banyak."
Rion tidak menjawab, tapi dia tersenyum senang dengan kata-kata Mei. Dia menggoyangkan wajahnya dan mempererat pelukan. Mengisi daya hidupnya dengan aroma tubuh Mei. Hari ini seharian mereka memang bersama, tapi dia bahkan tidak bisa menggandeng tangan Mei.
"Cium aku."
"Haha...Kakak!"
"Cium aku sampai lelah ku hilang."
Saat Rion mendekatkan bibir, Mei menyambut, dan dalam satu gerakan, bibir mereka sudah bertemu. Beradu, saling mengalahkan sampai terengah mengambil jeda nafas.
Setelah mereka berciuman, sampai ambruk jatuh di tempat tidur. Rion menyelipkan rambut Mei di belakang telinga. Lalu dia menggoyangkan kepalanya minta dibelai juga. Mei tertawa sebelum tangannya bergerak membelai kepala Rion.
"Kak.."
"Kenapa? Mau dilanjutkan?"
"Kakak!"
"Haha, buka Mei."
Mei menghujani pipi Rion sampai laki-laki itu tergelak. Tapi dia memegangi bajunya.
"Terimakasih Mei.."
"Kenapa Kakak tiba-tiba berterimakasih?"
Rion meraih punggung Mei, menariknya supaya gadis itu mendekat dan juga memeluknya dengan erat.
"Aku tidak apa-apa, jadi jangan khawatir seperti ayah ku." Mei melotot, dia ketahuan menguping ya tadi. Aaaaaaa! "Aku sudah punya kamu Mei, aku mencintai mu. Dia hanya masa lalu yang sekarang tidak berarti untuk ku. Kalau nanti kau mau bicara dengannya bicaralah, aku tidak melarang." Rion ingin membuktikan, kalau Erla benar-benar sudah tidak meninggalkan bekas apa pun di hatinya. Kebencian sekalipun sudah memudar, seiring hatinya yang dipenuhi cinta kepada Mei. "Aku mencintai mu Mei, aku hanya mencintai mu."
"Kak... "
"Buka!"
"Kakak!"
Keduanya tergelak bersamaan. Lalu kembali berciuman.
Ketika hati memang disibukkan dengan cinta, memang kebencian bahkan tidak menyimpan sisa ruang di hati lagi. Mei pun berharap, suatu hari nanti, dia dan keluarga bisa mengiklaskan semuanya. Kepada penipu itu, bukan untuk si penipu, tapi untuk diri mereka sendiri. Agar hati mereka lebih damai, tanpa membenci siapa pun.
Karena siapa pun orangnya, akan mendapatkan balasan yang seadilnya dari Tuhan. Biarkan aku menyelesaikan urusan ku dengan mereka, dengan mengiklaskan dan memaafkan. Mei yakin, dia dan keluarganya bisa hidup dengan lebih tenang.
Saat masih meladeni Kak Rion, ketukan pintu Harven terdengar. Membuat Mei langsung tergagap kaget.
"Kak Mei, anak-anak Ibu tetangga sudah datang." Panggilan Harven di balik pintu.
Bersambung
__ADS_1