
Sebuah mobil berhenti di depan pintu rumah. Kaca mobil turun, seraut wajah lelah namun tetap terlihat cantik dalam segala situasi itu melambaikan tangan. Deandra baru pulang lembur dari kantornya. Waktu dihubungi tadi, dia masih di duduk di depan meja kerjanya. Langsung datang ketika Mei meneleponnya. Apalagi saat Mei menyebut nama Serge.
Mei yang sudah berdiri di depan pintu langsung mendekat ke mobil. Dia menunduk di kaca sebentar lalu masuk ke dalam mobil. Kak Rion sedang bicara dengan Kak Ge, jadi Mei punya kesempatan untuk menjelaskan kenapa dia memanggil Dean.
Dean sempat melirik pintu rumah yang tidak ada siapa-siapa, dimana Kak Ge gumamnya sendiri. Mei terlihat sudah menenangkan diri, dia bicara pelan dan hati-hati.
"De, aku ketahuan ayah dan ibu."
"Apa Mei? Kau ketahuan kenapa?"
"Aku ketahuan tentang pernikahan kontrakku dengan Kak Rion."
Deg. Deandra langsung shock, dia meraih tangan Mei. Memastikan sahabatnya itu tidak kenapa-kenapa. Bahkan dia memeriksa wajah dan tangan Mei.
"Kamu nggak papa kan? terus bagaimana sekarang?" Pikiran buruk Dean mulai berlarian, walaupun dia memang melihat Mei baik-baik saja, tapi rasa takut langsung menyerangnya. "Sebenarnya aku menjemputmu kan? bukan Kak Ge?"
Diusir, cuma itu yang terasa masuk akal sekarang bagi Dean. Apalagi Mei muncul sendirian, bahkan suaminya tidak ada, pelayan pun tidak terlihat satu pun. Rumah terasa sepi. Hanya ada pengawal di dekat gerbang utama.
Bagaimana nasib mu selanjutnya Mei, padahal kau baru saja merasakan kebahagiaan. Padahal kau baru saja merasa tenang setelah semua beban hidupmu terangkat. Dean sudah merasa kalut, memikirkan apa yang akan terjadi pada Mei kedepannya.
"Mei!" Dean setengah berteriak karena Mei masih diam. Mei masih membisu karena dia sedang memilih kata, mau menjelaskan dari mana. "Kamu nggak papa kan Mei?" Bagi Dean, itu hal penting yang dia harus ketahui dulu. Kondisi hati Mei.
Melihat Dean yang begitu mengkhawatirkannya, Mei jadi ingin memeluk gadis di belakang kemudi itu. Sahabat yang selalu menggandeng tangannya walaupun apa pun yang terjadi. Orang yang akan bertanya tentang kondisinya lebih dulu sebelum menanyakan hal yang lain.
"Dea, terimakasih ya, karena selalu mendukungku. Hiks. Aku mau memelukmu dulu."
Mei sudah membuka tangannya.
"Apa sih, jangan membuatku semakin khawatir. Kamu nggak papa kan?"
Dean, mendorong tubuhnya ke depan dan membiarkan Mei memeluknya, tangan Dean mengusap bahu Mei dan menepuknya lembut. Beberapa saat mereka berpelukan tanpa bicara. Setelahnya Mei mendorong tubuhnya, wajahnya sudah bisa tersenyum dan mau menunjukkan kalau dia baik-baik saja.
"Mei, bagaimana ayah dan ibu Tuan Rion tahu mengenai kontrak pernikahan kalian?" Karena sepertinya tidak ada angin atau hujan apa pun, kenapa tiba-tiba ada badai. Setahunya Mei baru saja menyelesaikan wawancara penting untuk majalah bulan ini. Dean mendapat bocoran saat mengobrol dengan Serge. Lagi-lagi, karena obrolan mereka belum bergerak jauh seputar pekerjaan dan Mei.
Mei terlihat muram, karena dia harus menjelaskan awal mula semua masalah ini karena dia yang merasa bersalah setelah menerima kebaikan ayah dan ibu yang berlimpah ruah itu.
"Pil kontrasepsi yang aku simpan ketahuan ibu."
"Apa! Terus bagaimana?
"Aku sudah ketakutan, tapi ayah dan ibu malah masih membelaku, akhirnya aku semakin bersalah dan malah mengakui semuanya. Sampai tentang kontrak pernikahanku dengan Kak Rion."
Sebenarnya kepala Dean sudah berdenyut saking kagetnya. Situasinya sudah sangat gawat kan kalau begini, tapi kenapa Mei masih terlihat tenang begini si. Dean saja sudah kebat kebit hatinya, memikirkan rencana apa yang akan dia ambil kalau sampai Mei benar-benar berpisah dari suaminya.
"Lantas bagaimana sikap mereka Mei? Kamu disuruh berpisah? Benar kan! Aku menjemputmu, bukan Kak Ge!" Rasa khawatir Dean berubah menjadi teriakan. "Kenapa kamu masih tenang begini si Mei, kamu disuruh berpisah kan dari Tuan Rion?" Mungkin karena saking kagetnya dengan situasi yang mendadak ini, pikiran sehat Dean jadi saling bertubrukan. Hingga yang muncul malah ketakutan dan pikiran negatif.
"Tenanglah Dea, nggak, nggak begitu, sungguh! Kak Ge memang yang nanti kamu antar pulang, dia sedang bicara dengan Kak Rion sebentar." Mei menepuk tangan Dean menenangkan sahabatnya.
Itulah yang membuatnya sangat bersyukur, ayah dan ibu masih memberinya kesempatan. Setelah semua hal yang dia lakukan. Cerita singkat namun merangkum semuanya dijelaskan Mei. Pil kontrasepsi, bagaimana ayah dan ibu mau menolongnya menutupi itu semua dari Kak Rion. Tentang pengakuan cinta tak terduga Kak Rion juga. Ini sungguh diluar dugaannya. Mei sampai berkaca-kaca lagi saat mengulang cerita ini.
__ADS_1
"Kak Rion bilang, dia mencintaiku De, dia bilang dia sudah tertarik saat kami pertama kali bertemu saat wawancara."
"Tuh kan, apa aku bilang!" Dean tidak bisa menutupi rasa senangnya karena prediksinya benar. Suami Mei memang mencintai Mei, bahkan sejak hari pernikahan. Dia kan sudah bilang, dia bisa melihat itu. "Berarti kalau semua baik-baik saja, kenapa Kak Ge? kenapa dia perlu dijemput segala?"
Walaupun aku senang si bisa menjemput dan bertemu Kak Ge, tapi Dean memang penasaran. Kenapa dia diminta datang.
Senyum Mei langsung menghilang, karena dari semua hal yang berjalan dengan baik, satu-satunya orang yang harus menanggung sakit dan derita paling banyak itu adalah Kak Ge. Kak Ge yang berusaha membelanya dan Kak Rion harus menanggung amarah ayah.
"Kak Ge, wajahnya memar karena dipukul sekretaris ayah, karena tadinya dia tidak mau bicara tentang pernikahan kontrak kami. Aku merasa bersalah De, semua ini gara-gara aku." Dean menggengam tangan Mei. "Kak Ge tidak mau bilang pasti karena takut aku kenapa-kenapa, tapi aku malah menyeret namanya. Dia pasti dimarahi ayah karena dia yang menjodohkan aku dan Kak Rion."
Deg...
Seberapa parah Kak Ge? Apa sampai babak belur dan tidak bisa berjalan. Kasihan sekali dia.
Bersamaan dengan berakhirnya cerita Mei, Rion dan Serge terlihat keluar dari pintu.
"Tolong titip Kak Ge ya Dea, tolong antar dia sampai ke rumah. Orangtua Kak Ge pasti khawatir kalau melihat Kak Ge babak belur begitu. Ini semua salahku."
"Jangan menyalahkan dirimu."
Rion dan Serge mendekat, menghentikan pembicaraan Dean dan Mei. Dean menundukkan kepala sopan pada suami Mei, lalu tersenyum pada Serge. Saat Mei keluar dari mobil, Serge sudah memegang pintu. Bicara dengan Rion dan Mei.
"Aku pergi dulu ya. Mei, Rion istirahatlah, sampai bertemu besok."
"Hemm, kau juga." Rion menjawab sambil merangkul Mei dan memeluknya dari belakang. "Kalau masih sakit, aku beri libur besok."
Serge tertawa, kalau libur kerjaannya beres si dia senang saja. Tapi masalahnya, kalau dia libur pekerjaannya hanya menumpuk itu mah sama aja bohong. Mending dia bekerja saja.
"Hati-hati Dea membawa mobilnya, Kak Ge istirahat dan obati lukanya ya Kak." Mei bisa merasakan pelukan Rion semakin menjadi erat saat dia menunjukkan kekhawatiran pada Serge.
"Ia Mei aku pergi ya. Kalian masuklah."
Serge masuk ke dalam mobil, mobil Dean sudah berlalu pergi. Dua orang itu masih memandang jauh, sampai mobil tidak tampak lagi di pandangan. Rion terlihat meraih pinggang Mei, menggendong gadis itu dalam pelukannya, masuk ke dalam rumah.
...🍓🍓🍓...
Kecanggungan sesaat tercipta di dalam mobil. Bahkan sampai mobil keluar dari komplek perumahan dan masuk ke jalan raya. Suara klakson terdengar saat mereka berhenti di lampu merah. Belum memecah kesunyian yang tercipta dari saat Serge masuk ke dalam mobil.
Kedua orang itu sedang berfikir mau mulai dari mana. Mau bicara apa duluan.
Serge mau menanyakan kabar, tapi dengan wajah babak belur, dia jadi merasa pertanyaan itu hanya terdengar seperti basa basi. Sementara Dean, dia memang mengemudi dengan tenang, tapi dari tadi hatinya berdebar khawatir, dia sudah melihatnya dengan jelas saat Serge masuk ke dalam mobil tadi, sebanyak apa luka yang diceritakan Mei. Gadis itu bergumam, bahkan walaupun memar, dia masih bisa tersenyum dengan manis dan tampan begitu.
Dan akhirnya Dean menghentikan mobil di sebuah apotik.
"Kenapa berhenti De?"
"Aku mau membeli obat Kak, untuk luka kakak."
"Eh, aku sudah diobati, memang lukanya belum hilang, tapi tidak sakit kok." Serge mengibaskan tangan, lalu mengusap pipinya. "Lihat, sudah tidak sakit. Tiga hari juga nanti bekasnya hilang. Hehe."
__ADS_1
"Tapi, kalau Kak Ge pulang begitu, apa orangtua Kakak tidak khawatir. Aku akan membeli hansaplas untuk menutup luka. Tunggu sebentar ya Kak."
Deg..Deg..
"Baiklah." Serge tersenyum.
Dean akhirnya keluar dari mobil. Serge mengikuti setiap langkah kaki Dean saat memasuki apotik. Setelah gadis itu menghilang dari pandangan, Serge langsung menyentuh dadanya yang berdebar.
Apa ini! Kenapa jantungku dari tadi berdebar dengan kencang. Ah, ada apa ini! Ah, sialan! Dean jadi terlihat semakin cantik saat mengkhawatirkan ku. Serge memukul kakinya sendiri. Merasa geli dan malu. Karena dia entah kenapa merasa senang mendapat pehatian dari Dean seperti ini.
Tunggu! Ih apa si ini?
Serge mengeluarkan hpnya, dengan pikiran yang entah mengarah kemana, hati yang berdebar, dia mengetikkan sesuatu di mesin pencarian. Bunyinya, hati yang berdebar saat melihat seseorang, artinya apa ya?
Saat Dean terlihat dari kejauhan, Serge kembali menyentuh dadanya. Semakin bergemuruh saat Dean semakin mendekat. Gadis itu menenteng tas yang dia angkat dan dia tunjukkan pada Serge. Dean berlari kecil supaya cepat sampai ke mobil.
"Maaf Kak, menunggu lama ya? Ada antrian tadi."
"Nggak kok, aku yang seharusnya minta maaf. Kau pasti lelah kan habis pulang kerja, malah harus jauh-jauh mengantarku, aku pasti merepotkan."
"Hehe, aku senang kok bisa mengantar Kak Ge."
Tunggu, apa ini!
Ada yang meledak di tubuh Serge. Bunga-bunga seperti bermekaran, mendengar Dean yang padahal cuma bicara begitu, yang mungkin hanya basa basi.
"Aku oleskan obat lagi ya Kak, baru nanti aku tutup lukanya pakai hansaplas."
"Eh, biar aku saja." Serge sudah merebut salep dari tangan Dean. Gadis itu tertawa, tawa Dean membuat Serge juga tersenyum. Lalu tangan Dean menyambar salep di tangan Serge.
"Memang Kak Ge bisa melihat lukanya? Hehe, nggak kan, jadi biar aku saja. Aku sudah cuci tangan tadi." Dean mengangkat tangan ke depan wajahnya. "Sudah bersih."
Deg..deg...
Debaran hati semakin mengeras, kali ini bukan hanya milik Serge, hati Dean juga tidak jauh berbeda.
"Kak, kenapa ayah Tuan Rion memukul Kakak?"
Deg...
Kali ini debaran hati Serge berbeda frekuensinya dengan tadi. Dia panik, karena kalau dia mengatakan semuanya, artinya dia juga akan membocorkan rahasia Mei. Tapi, dia juga tidak mau berbohong pada Dean. Dia tidak tahu bagaimana menghindari pertanyaan ini. Atau bagaimana menjawab, tanpa membongkar rahasia Mei.
"Kak Ge, aku juga sudah tahu rahasia Mei, jadi jangan tegang begitu. Hehe."
Salep dingin, membuat luka memar terasa sejuk.
"Apa! Dean sudah tahu?"
"Hehe..."
__ADS_1
Dan sepertinya, rahasia tentang Mei, membuat hubungan mereka semakin dekat.
Bersambung