Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
162. Berdamai Akhirnya


__ADS_3

Masih di akhir pekan, masih di apartemen milik Rion.


Sesaat langsung tercipta kepanikan, Mei saja yang panik, Rion mah tetap santai tidak perduli, panggilan Serge yang mengeras dibarengi ketukan pintu memanggil nama Rion di luar sana. Semakin keras dan keras, kalau tetangga ada di rumah, bisa-bisa dia keluar karena merasa terganggu.


Mei agak mengangkat kepalanya, melihat pintu.


"Kak, apa kita mau pura-pura tidak ada di rumah?" Apa kalau tidak ada sahutan, Serge akan memutar tubuh dan pergi begitu saja pikir Mei. Mei kan tidak tahu, kalau Serge datang karena mengkhawatirkannya. Dia hanya berfikir mungkin tentang pekerjaan laki-laki itu datang. "Kak Ge bakal pergi kan, kalau kita tidak membuka pintu."


"Dia tahu kode kunci dan punya kunci darurat, dia pasti menerobos masuk kalau aku tidak keluar." Sudah tahu begitu, tapi Rion masih saja santai tanpa beban.


Hah? Mei semakin panik.


Rion tahu alasan kemunculan Serge di depan pintu rumahnya, pasti karena laki-laki itu khawatir pada Mei. Dari panggilan telepon tadi saja Rion bisa merasakan kecemasan Serge. Laki-laki itu pasti ingin memastikan kalau Mei baik-baik saja. Cih, walaupun kesal karena Serge terlalu perduli pada istrinya, tapi marah pun rasanya menyebalkan, karena tahu Serge benar-benar menganggap Mei sebagai adik. Dia jadi merasa gengsi untuk emosi. Tapi dia tetap kesal dan marah. Hah, sialan! pikir Rion. Kemunculan Serge malah memantik kesal di hatinya lagi.


"Kak Ge mau masuk walaupun kita tidak membuka pintu?" Mei semakin panik karena melihat kondisi tubuhnya, tidak ada selimut atau apa pun yang bisa dia pakai menutupi tubuhnya. Bukan hanya tubuhnya yang perlu ditutup, Kak Rion juga. Aaaaaa! Dia menjerit dalam hati setelah menyadari, sepolos apa mereka sekarang. Tapi saat dia mau mengangkat tubuh bangun menyelamatkan diri ke kamar. Kak Rion malah menarik bahunya lagi, hingga dia jatuh terjerembab di dada Rion. "Kakak! Nanti kalau Kak Ge beneran masuk bagaimana!"


"Dia baru akan masuk setelah setengah jam, jadi diamlah sebentar." Rion meraih hp yang sedari tadi bergetar pantang menyerah di atas meja. "Aku usir saja dia sekarang." Menggangu saja gumam Rion.


Hah! Apa Kak Ge yang tidak akan masuk seperti saat di kantor berlaku juga sekarang. Mei sepertinya tidak mempercayai kata-kata Rion, dia menggoyangkan tubuh minta dilepaskan, tapi malah cengkeraman tangan di lengannya menguat. Kak Rion benar-benar tidak mau melepaskannya.


Rion mengangkat telepon Serge. Mei menyerah berontak dan hanya memutar tubuh, tengkurap separuh, penasaran mau mendengar apa yang akan dikatakan Kak Rion.


"Hallo!"


Rion menjawab dengan suara seperti teriakan, hah, sudah kuduga Kak Rion marah gumam Mei dan ajaibnya suara bell pintu langsung berhenti setelah satu kata Kak Rion terucap.


"Kau menggangu sialan!" Rion memaki sambil mengusap punggung Mei. Dia nyengir setelah memaki karena Mei kaget sesaat dengan kata-kata keras yang Rion tunjukkan untuk Serge . Setelah nyengir mencium bibir Mei dua kali supaya Mei tidak tegang.


"Aku di depan pintu rumah mu? Kau di dalam kan? Apa aku boleh masuk?" Suara Serge menjawab Rion, berusaha bersikap tidak tahu malu walaupun sudah dimaki sekalipun, tangannya bahkan sudah mau memencet kunci pintu. "Aku boleh masuk kan?"


"Enyah sana! Aku tidak menerima tamu." Jawaban Rion terdengar sengit. Membuat Serge melepaskan kunci pintu. "Katanya kau sedang bersama pacarmu kan, jadi enyah sana jangan menggangu!"


Mei yang membelalak kaget.


"Aku datang dengan Dean, katanya dia mau bertemu dengan Mei." Serge menjawab cepat.


Hah! Dean juga ada di depan pintu! Mei langsung mendorong dada Rion supaya bisa duduk. Dia sedang mendeteksi keberadaan baju yang berserak di lantai. Dimana bajuku, mau segera dia ambil dan kabur ke kamar dulu. Malah itu yang dia pikirkan. Dia malu pada Dean.


"Dasar pengganggu!" Tapi saat melihat Mei, akhirnya Rion mengalah, karena Mei. Gadis itu pasti akan merasa tidak enak kalau dia sampai mengusir temannya. Keberadaan Dean lagi-lagi menyelamatkan Serge.


"Aku masuk ya?"


Serge masih tetap tidak goyah, karena tujuan kedatangannya adalah melihat Mei. Dia belum akan tenang sebelum melihat Mei dengan mata kepalanya sendiri. Memastikan adiknya itu baik-baik saja.


Di atas sofa.


Mei yang berusaha bangun hampir terjungkal karena buru-buru, untung saja Rion menangkapnya dari belakang. Masih sempat Rion mencium punggungnya sambil tertawa. Kakak! Mei menyambar semua pakaiannya lalu lari seperti rusa kecil yang melesat masuk ke dalam kamar. Menjauhi predator. Dia terbentur pintu. Bukannya khawatir, malah ditertawakan oleh Rion.


Haha, dia lucu sekali, kabur secepat kilat begitu. Hah, aku jadi ingin menciumnya. Tapi saat melihat layar hp yang masih tersambung, dia merengut kesal.


"Kalau kau mau mati masuklah." Mengancam.


"Hei!" Panik, tapi sok menantang.


"Cih.." Rion acuh menjawab sambil berjalan ke ruang ganti. Dia tidak mau memakai baju yang dia pakai tadi, karena sudah banjir peluh.

__ADS_1


"Rion!"


"Baiklah, baiklah, tunggu sebentar, aku keluar."


Sambungan terputus.


Dia mau apa si, memang kau pikir Mei akan aku apakan sampai kau datang. Dasar bodoh, katanya sudah punya pacar, tapi masih saja mengurusi Mei, memang pacar mu tidak akan cemburu kalau yang kau pikirkan cuma Mei. Sambil ngedumel Rion berjalan menuju pintu. Dan saat dia membuka pintu, Serge langsung menerobos masuk tanpa permisi. Dengan gagah berani.


Padahal Serge memang merancang strategi untuk langsung masuk ketika Rion membuka pintu, supaya dia tidak menciut duluan. Rion berdecak saat Serge melewatinya dan langsung masuk ke ruang tamu. Sementara Dean menundukkan kepala dan memberi salam terlebih dahulu.


"Selamat sore Tuan, maafkan saya dan Kak Ge, karena datang tanpa pemberitahuan."


"Masuklah, Mei ada di kamar. Dan kau, ikut aku!" Menuding kening Serge dengan telunjuk. Lalu tanpa menunggu Dean masuk dia sudah berjalan menuju ruang kerja. "Kenapa diam? tinggalkan pacarmu, biar dia menemui Mei."


Dean berjalan mendekati Serge yang mulai tegang, Dean melihat sofa yang berantakan, dan pakaian yang berserak di lantai. Gadis itu terlihat kaget tapi segera bisa bersikap sewajarnya. Dia menarik tangan Serge.


"Maafkan kami Tuan Rion, kami pasti sudah menggangu kalian ya, Kak Ge, sekarang kita keluar saja yuk." Dean yang langsung membaca situasi dengan cepat.


"Hah? Apa si Dea. Kita kan mau bertemu Mei."


Sebenarnya Dean sedang berusaha menyelamatkan Serge, tapi mana Serge paham. Serge bahkan tidak melihat sofa dan baju yang berserak dilantai. Kalaupun dia melihat, dia pun tidak paham itu artinya apa. Dia mungkin berfikir, apa bibi tidak datang untuk bersih-bersih.


Rion memukul pintu ruang kerja. Membuat Dean dan Serge langsung menoleh.


"Sudahlah, kalau kau mau menyelamatkan Serge sudah terlambat." Rion menyeringai, lalu membuka ruang kerjanya. "Kemari kau! sebelum kau menyesal nanti karena semakin membuatku marah."


Dasar pengganggu, dasar mantan, kau itu cuma mantan yang pernah disukai Mei, sekarang dia itu mencintaiku. Sewot sendiri seperti bocah sambil menghilang masuk ke dalam ruang kerja.


Dasar orang gila! Bisa tidak si, kau bicara lebih manusiawi, kan ada Dean di sini! Buru-buru Serge mengelus dadanya. Memompa kewarasan dan kesabaran supaya mengalir lancar ke aliran darahnya. Serge kemudian menenangkan Dean, lalu menunjuk pintu kamar di mana Mei berada. "Pergilah temui Mei, biar aku bicara dengan si gila itu."


"Tapi Kak, Tuan Rion sepertinya kesal, kita keluar saja yuk. Kalau kita di sini terlalu lama, nanti dia tambah marah." Dean yang dari tadi sudah menyadari, kalau sepertinya mereka datang di waktu yang tidak tepat sebenarnya ingin segera menghilang. Baju berserak sudah menunjukkan kalau Mei dan suaminya baik-baik saja. Kedatangan mereka berdua lah yang mengacaukan suasana. "Kak, ayo kita pergi saja."


"Si gila itu memang selalu marah, aku nggak papa. Masuklah, lihat Mei, apa dia baik-baik saja." Serge akhirnya mendorong bahu Dean mendekati pintu kamar. "Aku sudah terbiasa dengan sikap Rion yang begitu, jadi jangan khawatir."


"Tapi Kak..."


Serge menepuk bahu Dean, tersenyum cerah menenangkan Dean. Setelah memastikan Dean masuk ke kamar, dia langsung melesat masuk ke ruang kerja.


Deg...


Si gila itu sedang berdiri sambil menyandarkan tubuh di kursi kerja. Ah, gila! Kenapa kau terlihat kesal begitu si. Sudah sewajarnya aku khawatir pada Mei kan, setelah kau meneleponku dengan emosi begitu. Sorot mata Serge jadi berapi-api.


Ruang kerja yang berantakan, sesuai dengan prediksi Serge. Rion melampiaskan amarahnya di ruangan ini.


"Karena datang dengan pacar mu, kau pikir aku tidak bisa menghajar mu?" Rion menyeringai dengan sinis.


Serge langsung mundur tiga langkah dari tempatnya berdiri. Menginjak benda, entah apa itu. Dia hanya menendangnya. Akan semalu apa dia pada Dean nanti kalau pipinya merah karena di tampar Rion yang kesal. Serge sedang memutar otak dengan cepat mencari alasan yang bisa menyelamatkan dirinya.


Dan inilah yang terpikirkan.


"Sampai kapan pun Mei itu adikku! Jadi berhentilah salah paham!" Berteriak dengan lantang, sampai suaranya memenuhi ruang kerja. "Kau berfikir Mei minum pil kontrasepsi karena aku kan? jadi kau marah? Kau tidak bertengkar dengan Mei dan melampiaskan amarah mu kan?" Serge mundur dua langkah setelah bicara dengan berapi-api.


"Hah! Otakmu mulai pintar sekarang ya setelah punya pacar. Jadi kau tahu kan, aku punya banyak alasan untuk menghajar mu. Seharusnya kau tidak datang sekarang bodoh, kau menggangu ku dan membuatku semakin kesal."


"Apa sih? Aku hanya khawatir pada Mei, Dean juga, dia takut kalian bertengkar, jadi aku mengajaknya kemari. Tapi Mei tidak apa-apa kan? Hei! Kau mau apa?"

__ADS_1


Sekarang, Serge sudah lari ke belakang sofa saat Rion berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku menyukai Deandra, aku mencintai Dean! Jadi berhentilah curiga padaku Rion. Walaupun aku tahu Mei pernah menyukai ku dulu, bagiku dia tetap seperti adikku, dan tidak ada yang berubah."


"Hah! Kau semakin membuatku kesal! Memang kau punya apa! Sampai dulu Mei jatuh cinta padamu sialan!" Rion mengerakkan tangannya, menyuruh Serge mendekat. Tapi Serge tidak bergerak dari belakang sofa, laki-laki itu lebih senang main kucing-kucingan dari pada kena hajar. "Aku mau memukul mu sekali saja, kemarilah, aku mau menghajar mu karena kau jadi cinta pertama istriku sialan!"


"Memang itu salah ku dasar gila!"


"Kau benar-benar mau mati Ge?"


"Maksudku, kau itu benar-benar tergila-gila pada Mei sampai tidak bisa berfikir waras." Intinya sebenarnya sama, cuma intonasinya tidak terdengar seperti makian sekarang. "Aku itu cuma menganggap Mei adikku Rion, dulu maupun sekarang tetap seperti itu. Dan yang penting kan, sekarang kalian saling mencintai. Presdir juga sedang menyiapkan pesta resepsi untuk kalian. Jadi berhentilah marah."


Entah kenapa Rion masih merasa menjadi pecundang yang kalah dari Serge. Laki-laki di depannya punya apa si dulu, sampai membuat Mei jatuh cinta padanya. Sebenarnya didominasi penasaran, tapi rasa kesal dengan fakta itu juga membuncah.


"Apa karena kau baik padanya? menggantikan kakaknya yang pergi, dia jadi mencintaimu, ia? Apa kau benar-benar tidak berdebar saat melihat Mei sekarang, setelah tahu dia pernah menyukai mu?"


Hah! Serge menghela nafas. Lalu dia melompati sofa dan duduk. Dia menunjuk sofa di depannya dengan mulut monyongnya, menyuruh Rion duduk.


"Duduklah, akan aku katakan semua yang ingin kau tahu, jadi berhenti menatapku dengan garang begitu. Dean ada di luar, jadi aku mohon, aku harus menjaga kehormatan ku di depannya kan."


"Cih, bodo amat, memang itu urusanku." Tapi Rion mendekat dan menjatuhkan tubuh ke sofa. "Sebaiknya kau tidak bicara omong kosong Ge. Aku masih marah karena kau cinta pertama istriku, dan aku masih kesal kau datang sekarang."


"Apa sih, memang kau sedang ngapain tadi?"


Rion tidak menjawab, malah tertawa dan melempar bantal kursi ke wajah Serge. Tepat mengenai muka bodohnya Serge.


"Seharusnya kau bisa masuk musium rekor karena kebodohan Ge."


Serge merengut kesal, tapi dari pada dihajar dikatai bodoh lebih baik kan, setidaknya dia bisa keluar dengan bangga nanti saat dilihat Dean.


Dan akhirnya, obrolan Serge dengan Dean tadi, mengenai alasan Mei menyukainya dia ceritakan dengan panjang lebar pada Rion. Mirip, sedikit dia tambah-tambahi.


"Kau juga tahu kan, bagaimana beratnya Mei menjalani hidup, aku hanya hadir sebagai pengganti Brama. Ah, sebenarnya kalau ditelaah mungkin itu bukan cinta, tapi apa ya, seperti ungkapan terimakasih yang ingin dia tunjukkan padaku." Rion semakin tenang setelah mendengar penjelasan Serge. "Kau sendiri sudah merasakan cinta itu seperti apa kan? Perasaan ingin memiliki, kau selalu ingin menunjukkannya kan, seberapa besar kau mencintai Mei. Aku juga begitu, aku ingin Dean tahu aku mencintainya."


Rion semakin terlihat santai, urat marahnya sudah menghilang. Ya, dia saja rasanya hampir gila menyimpan cintanya pada Mei.


"Jadi berhentilah salah paham."


"Tapi, kau tetap laki-laki yang pernah disukai Mei." Mendengus lagi.


"Kau juga kan pernah menyukai Amerla! Bahkan kau pernah pacaran dengannya kan!"


Bantal kursi melayang lagi, kali ini lebih keras membentur kaca mata Serge.


"Hah! Apa sih!" Serge mengucek matanya. "Kalau kau bisa melupakan Amerla, apalagi Mei, aku itu cuma cinta masa lalunya!" Semakin berani bicara karena bantal kursi sudah ada di sampingnya semua. "Apa sekarang kau berdebar-debar saat melihat Amerla?"


"Kau sudah gila!"


"Nah sama saja denganku, kenapa Mei berdebar melihatku, sedangkan dia punya suami sekeren dan setampan dirimu." Ge, apa perlu kau sampai menjilat begini, hati nurani Serge berteriak. "Mei jatuh cinta padamu, dan kau jatuh cinta pada Mei. Sudah sempurna kan?"


Rion mengusap wajahnya, memang si, alasan dia masih kesal pada Serge memang hanya karena keegosiaannya saja yang merasa kalah pada Serge.


"Tapi, aku masih ingin menghajar mu tuh, bagaimana ya."


"Dasar gila!"

__ADS_1


Serge langsung bangun dari duduk melempar bantal kursi tapi hanya berani melempar ke pelukan Rion, dan dia berlari ke luar ruang kerja menginjak lantai yang berserak.


Bersambung


__ADS_2