
Hari ini resepsi pernikahan putra tunggal Andez Corporation, Rionald Fernandez dengan Merilin Anastasya akan dilangsungkan.
Hari yang cerah, langit dengan warna kebiruan. Awan berarak di kejauhan, warnanya yang putih memberikan corak seperti domba yang bergerak. Semua orang berharap, alam akan berseri sampai semua acara selesai hari ini.
Dan sekarang, masih di rumah Frans Fernandez.
Sejak pagi, para pelayan sudah bersiap diri. Mereka menyiapkan segala kebutuhan dan perlengkapan. Penata rias juga sudah datang. Keluarga besar baik dari ayah ataupun ibu Rion, sebagian datang ke rumah. Untuk membantu persiapan, membuat semakin banyak orang berlalu lalang.
Dan di dalam sebuah ruangan, pemandangan seru terlihat. Rion sedang bersitegang dengan Dean. Sementara Mei sedang ada di kamar mandi.
"Anda harus keluar sekarang Tuan, Mei mau mempersiapkan diri dulu. Banyak hal yang harus dilakukan." Dean dengan tegas bicara, ditangannya buket bunga yang baru datang sedang dia rapikan dengan hati-hati. Misinya adalah mengusir Tuan Rion, supaya tidak menggangu persiapan Mei.
Anda kan sudah bertemu Mei sebelum dia mandi tadi, makanya dia belum selesai juga. Aaaaa! Dean yang frustasi melihat kedua pasangan pengantin itu, mentang-mentang sudah sah sebagai suami istri ya kalian ini. Ya, inilah keuntungan jika mengambil waktu resepsi dan akad nikah berbeda waktu.
"Lakukan saja, memang aku menggangu apa si. aku kan cuma mau melihat istriku." Dengan acuh Rion malah duduk di sofa. Tidak perduli tatapan Dean yang terlihat menusuk dengan tegas itu.
Hah! Sabar De, sabar. Dia bos pacar mu.
"Anda kan harus bersiap-siap juga. Penata rias Anda sudah menunggu sedari tadi." Setelah wajah Dean masih tenang, walaupun dia sebenarnya sudah sedikit kesal dengan Rion. Lihat, tangannya terkepal. "Anda kan perlu ganti baju juga." Menunjuk pakaian yang dipakai Rion. "Belum lagi berdandan, pasti butuh waktu tidak sedikit."
Dean bahkan berjalan menuju pintu keluar.
"Aku sudah tampan, memang mau melakukan apa lagi." Jawaban Rion terlontar sambil mendorong rambutnya ke belakang. Membuat yang mendengar menggemerutukkan gigi. Semakin sebal. Yang membuat lebih sebal, karena itu fakta. "Aku tinggal ganti baju dan menyisir rambut juga sudah sempurna."
Mau protes, tapi itu memang kenyataan. Jadi membuat Dean hanya menghela nafas sambil matanya juling ke atas. Ya, ya, terserah Anda, cercau Dean, yang samar terdengar ke telinga Rion. Atau mungkin sebenarnya Dean sengaja bicara begitu supaya terdengar oleh Rion. Rion sendiri tidak perduli dengan gumaman Dean. Ya, dia kan tidak perduli pada banyak hal.
Sementara itu, Jesi tergelak kecil sambil menutup mulut, dia sendiri tidak akan berani bicara dengan suami Mei. Dean memang beda gumamnya. Jesi meletakan dengan hati-hati perhiasan dan Tiara yang akan dipakai Mei nanti di atas meja rias.
Perdebatan kecil Dean dan Rion terhenti saat Mei keluar dari kamar mandi. Masih memakai piyama handuk, dengan rambut basah yang jatuh di bahunya. Dean langsung meraih handuk untuk membantu Mei mengeringkan rambut.
"Lho, Kakak kenapa masih di sini? Kakak juga harus bersiap-siap kan?"
Dean menunjukkan pandangan penuh kemenangan, sambil memicingkan mata. Rion mendengus melewati Dean, lalu mendekati Mei. Memeluk gadis yang masih diselimuti aroma sampo itu. Dean mundur menjauh pada akhirnya mensejajari Jesi yang tidak berhenti menutup mulut karena merasa lucu.
Pemandangan yang dilihat Dean dan Jesi.
"Aku hanya ingin melihat mu sebentar, setelah ini aku juga keluar." Kecup-kecup pipi. Setelah mendapat kecupan balasan dari Mei, Rion baru berjalan menjauh, mendengus di depan Dean lagi. Membuat gadis itu geleng kepala sambil menyentuh tengkuknya.
Dasar! Kak Ge, bagaimana kau bisa tahan menghadapi orang seperti ini! Saat pintu tertutup, Dean langsung meninju udara kosong ke arah pintu. Dia menceritakan pada Mei pertengkaran kecil yang baru saja terjadi, Mei malah tertawa dan dengan ceria menanggapi.
"Haha, Kak Rion memang begitu De.." Mei menjawab seperti sudah sangat terbiasa dengan sikap suaminya. "Lucu dan menggemaskan, ia kan?"
"Dih..." Dean dan Jesi menjawab bersamaan. Lalu mereka bertiga saling bertatapan dan tertawa bersamaan. Dari pada hanya mendengar Mei membanggakan Tuan Rion, Dean tidak mau kalah memamerkan kerennya Serge saat mencoba pakaian pernikahan Mereka. Jesi ikut tidak mau kalah.
Dan ketiga orang itu mulai bersiap-siap, saat penata rias masuk sambil membawa koper besar berisi alat make up.
...🍓🍓🍓...
Berbeda dengan gadis yang dengan lantang mengusir Rion. Tidak jauh dari sana, seseorang yang baru saja keluar dari ruang kerja Presdir, wajahnya pucat pasi. Siapa lagi kalau bukan manusia tidak peka, sekretaris Serge. Dia melihat Rion keluar dari kamar yang dipakai Mei berdandan. Dia berjalan ke ruangan sebelah, tempatnya merias diri. Dua orang penata rias sudah menunggunya di depan pintu.
Serge berjalan gontai mendekat.
"Kenapa kau? Kenapa wajah mu pucat sekali?"
Rion mengangkat tangannya, melarang dua orang di depan pintu untuk masuk. Sementara Serge mengikutinya, langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa setelah masuk ke dalam ruangan. Belum terlontar sepatah kata pun dari mulutnya. Dia sedang menenangkan hati dan pikirannya.
"Kau mau minum?"
"Boleh."
Rion menyodorkan air mineral yang dia sambar di atas meja. Tumben baik kau, gumam Serge. Memberi ku minum segala.
"Kau kenapa? Dimarahi ayah ku?"
Tidak ada hal buruk yang terjadi pikir Rion, akhir-akhir ini dia merasa tidak membuat masalah yang bisa menjadi alasan Serge dipanggil ayahnya. Gelengan lemas kepala Serge menjadi jawaban kalau tebakan Rion salah.
"Jadi kenapa?"
__ADS_1
"Aku baru bicara dengan kakek mu. Hiii, aku rasanya tidak bisa bernafas saking tegangnya." Serge mengendurkan dasi yang dia pakai. "Kakek mu, seribu kali lipat menakutkan di banding Presdir. Auranya itu lho, rasanya membuat udara di sekitar kami membeku." Sambil menggoyangkan bahu bergaya merinding.
Rion melemparkan bantal ke tubuh Serge. Rion pikir ada apa tadi, khawatir Serge kelelahan, karena mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus sebelum hari resepsi ini. Ternyata..
"Dasar penakut, kenapa kau beda sekali dengan pacar mu. Dia saja berani mengusir ku tadi."
Tapi, mungkin itu yang membuat kalian berjodoh ya. Entah kenapa, Rion merasa ini lucu sekaligus menakjubkan. Yang satu bodohnya nggak ketulungan, yang satunya selalu di depan.
"Hah? yang Benar? Kau bertengkar dengan Dean? Dean tidak apa-apa kan?"
Apa yang dilakukan si gila ini si? di man Dean? aku harus melindungi dan menyelamatkannya dari orang aneh ini.
"Dean bersama Mei?"
Rion malas menjawab, dia bangun dari duduk, meraih baju pengantin yang tergantung di dekat lemari. Sambil mematut di cermin, dia memegang dagunya. Bergumam, memang aku mau berdandan apa lagi, aku sudah setampan ini.
"Di mana Dean sekarang?" Bertanya lagi karena belum mendapat jawaban.
"Di kamar Mei. Dia mengusir ku, Ge..."
"Kenapa?"
"Suruh dia mengajari mu biar jadi pemberani. Bertemu kakek saja kau sudah pucat pasi, padahal kakek ku itu orang paling baik kan."
Serge kembali lemas saat nama kakeknya Rion disebut, dia jadi tidak bertenaga untuk meladeni Rion, dia hanya menatap Rion yang sedang ganti baju. Diakan kakek mu sialan! Tentu saja dia baik pada mu. Hah! Tidak Presdir maupun kakek mu, kau beruntung sekali, karena mereka sangat sayang pada mu.
"Kenapa kakek memanggil mu?"
Sambil menghabiskan air dalam botol di tangannya Serge menceritakan apa yang baru saja dia alami. Seperti merasakan lagi suasana tadi, tengkuknya jadi merinding lagi.
Sebenarnya Serge sendiri yang meminta izin untuk bertemu dengan kakek Rion, karena dia ingin memberi salam dan berterimakasih secara langsung, karena hadiah apartemen mewah.
Dalam rencana Serge, dia hanya perlu menundukkan kepala dua kali lalu berterima kasih, setelahnya langsung menghilang dan pergi. Jujur saja, dia takut bertemu dengan kakek Rion. Siapa pun tahu, rekam jejak kakeknya Rion dalam dunia kerja. Namanya seperti menjadi legenda dalam dunia sekretaris pribadi.
Tapi, rencananya untuk hanya memberi salam, gagal total.
"Duduklah."
Deg.. tangan Serge langsung berkeringat. Dia tidak mau duduk. Benar-benar tidak mau.
"Saya berdiri saja Tuan."
Kakek Rion melirik dengan mengangkat sedikit kepalanya, tatapan itu seperti panah beracun yang menghujani tubuh Serge. Membuat laki-laki itu langsung menarik kakinya, ambruk di sofa.
"Terimakasih Tuan."
Aku tidak mau duduk! aku cuma mau berterimakasih dan kabur. Kenapa Anda mau bicara dengan saya.
"Aku dengar kau awalnya menolak hadiah apartemen yang aku berikan ?" Suara yang sebenarnya terdengar biasa, namun karena otak Serge sudah menyetel suasana mencekam. Jadi, nada bicara kakek Rion terdengar seperti kesal di telinga Serge.
"Ti, tidak Tuan." Meremas jemari di pangkuan. "Bagaimana saya berani menolaknya, saya hanya merasa tidak pantas mendapatkan hadiah istimewa itu. Saya tidak bermaksud menolak. Sungguh."
Jangan marah! Aku mohon! Aku belum menikah! Aku masih ingin hidup lama dan menghabiskan hidupku dengan Dean. Seperti Anda yang menua bersama istri Anda. Saking tegangnya, pikirannya berlarian ke mana-mana.
Kakek Rion berdehem. Sebenarnya suara Ehmm yang terlontar biasa saja, tapi karena Serge yang penakut jadi terdengar menyeramkan.
"Saya, saya sangat berterimakasih Tuan. Terimakasih sudah memberikan hadiah istimewa itu." Serge duduk dengan tidak tenang, sambil melirik pintu keluar, berharap ada yang muncul menyelamatkannya.
Aura yang memancar dari kakek Rion masih sama seperti saat dia masuk. Dingin dan mencekam.
"Awalnya aku memberikan apartemen itu untuk Rion. Karena dia suka keramaian dan keluarga berkumpul. Aku pikir, dia akan suka dengan apartemen yang luas. Tapi.." Menatap Serge, sebenarnya biasa saja, tapi Dimata Serge, bola mata itu seperti membesar, tajam. Serge langsung refleks menunduk. "Seseorang telah merubahnya kan. Dia jadi berubah."
Dingin dan rendah, di kalimat terakhir kakek Rion. Kali ini Serge tidak mengada-ada.
Tengkuk Serge merinding, nada suaranya terdengar sangat dingin. Ketika merujuk pada sosok yang sudah merubah Rion.
Erla! Ah Erla, untungnya kamu sudah sadar!
__ADS_1
"Tapi sekarang dia sudah bahagia dengan istrinya. Terimakasih, karena sudah menemani Rion selama ini, dan membawa Mei ke dalam keluarga ini." Samar, Serge melihat wajah yang biasanya tak pernah tersenyum itu menarik sedikit bibirnya. "Terimakasih Serge."
Deg.. walaupun legenda sekretaris pribadi di depannya saat ini bicara sebagai seorang kakek, namun entah kenapa, Serge merasa tersanjung dan bangga. Rasa takutnya sedikit berkurang.
"Apartemen itu hanya hadiah kecil dari kami, karena itu semua tidak akan bisa membayar ketulusan mu menemani Rion." Serge bahkan mulai berkaca-kaca karena terharu. "Kedepannya tetaplah menjadi sahabat Rion yang berharga."
"Ia, Tuan." Serge tersenyum bangga, sambil menyentuh dadanya. "Terimakasih banyak." Benar, beliau tidak semenakutkan itu. Beliau bahkan berterimakasih dan memberiku nasehat.
"Teruslah bekerja dengan baik di Andez Corporation Ge, karena aku akan selalu mengawasi mu."
Deg.. keharuan langsung tercerai berai. Dan setelah itu, yang keluar dari mulut kakek Rion, hanya hal-hal yang menegangkan. Legenda seorang sekretaris pribadi sedang menasehati Serge bagaimana bekerja dengan baik dan menjaga segala sesuatunya berjalan dengan semestinya untuk tuan yang dia layani.
Serge rasanya sudah mau pingsan saat keluar dari ruangan.
"Haha, dasar bodoh, padahal kakek cuma mengajari mu. Kenapa kau pucat pasi begitu. Beruntung sekali kau, aku selalu memuji mu di depan kakek. Jarang sekali, kakek mau bicara dengan orang lain dan memberi nasehat begitu. Kakek ku memang yang terbaik. Kakek ku keren kan?"
Rion bicara sambil penata rias menyelesaikan tugasnya. Serge menatap tubuh Rion dari belakang.
"Ya, beliau adalah legenda. Dan panutan bagi para sekretaris."
Ya, kakek mu memang yang terbaik. Aku bahkan tidak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Ternyata, beliau selalu selangkah lebih di depan dibandingkan siapa pun.
Salah satu isi percakapan yang tidak dikatakan Serge, karena kakek Rion melarangnya.
"Apa Rion pernah membicarakan perusahaan game miliknya setelah kembali ke Andez Corporation?"
"Ti..tidak Tuan. Sebelum bertemu dengan Mei, kalau saya tidak sengaja membahas masa lalu, dia bisa langsung marah. Baik wanita itu atau game, dia tidak pernah membicarakannya."
Awalnya Serge agak heran, kenapa kakek Rion mengungkit tentang perusahaan game yang sudah dilupakan Rion itu.
"Ini rahasia kita Sekretaris Serge, perusahaan game itu sudah ada di tangan ku. Tapi, kalau Rion tidak pernah mengungkitnya, jangan pernah membahasnya. Karena Frans juga lebih senang, Rion menjadi penerus perusahaan yang sudah dia bangun dari nol ini."
Serge cuma bisa tercengang kaget. Dan buru-buru menganggukkan kepala.
Kakek mu memang sangat keren. Dia memang legenda yang bisa melakukan banyak hal di luar nalar. Tapi yang pasti Serge ketahui dari pembicaraannya dengan kakeknya Rion adalah, Beliau sangat menyayangi putranya Presdir Frans, sama halnya dia menyayangi cucunya Rion.
"Ge..."
"Hah! Apa?"
Bantal kursi melayang.
"Apa sih, aku sedang memikirkan sesuatu. Apa? Kau butuh apa?"
"Aku butuh Mei, bawa dia ke sini. Aku malas bertemu pacar mu yang galak itu."
"Hei, siapa yang galak! Kau itu yang galak! Dean itu lucu dan menggemaskan."
"Bodo amat! Keluar sana, bawa Mei kemari. Aku mau menunggu bersamanya."
Walaupun menggerutu Serge keluar juga, dia mendapati orang-orang yang sudah selesai bersiap dan merias diri. Presdir juga sudah duduk menunggu di ruang keluarga bersama kakek. Sepertinya tinggal menunggu para wanita selesai, mereka akan langsung berangkat.
Tapi tiba-tiba, Pak Kun, kepala pelayan menghampirinya.
"Dari mana saja? dari tadi aku mencari mu."
"Saya menemani Rion Pak, sekarang mau memanggil Mei. Rion mau menunggu bersama Mei."
"Biar nanti saya yang panggil Nona Mei, sekarang temui beliau dulu. Dari tadi beliau mencari mu."
Serge mendadak langsung tegang, apalagi si, siapa?
"Siapa Pak?"
"Nyonya besar."
Hah! Neneknya Rion? Apalagi ini! Aaaaaa!
__ADS_1
Bersambung