Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
204. Cinta Selamanya


__ADS_3

Sebuah kelopak bunga mekar, diantara banyaknya pohon yang berderet di balkon apartemen. Warna merah muda merona, memancarkan keindahan. Hanya ada satu bunga itu yang mekar, yang lain masih kuncup bahkan ada yang baru berbentuk bola kecil seperti kerikil. Tapi, disela keindahan itu ternyata terselip daun yang layu dan mengering. Sepertinya, bibi sedang sangat sibuk karena persiapan resepsi pernikahan yang tinggal menghitung hari, membuatnya hanya sempat menyirami tanaman, dan tidak memperhatikan daun-daun yang layu.


Di langit malam bertabur bintang, angin menerobos celah jendela yang sengaja belum ditutup. Menggoyangkan daun yang layu.


Dan..


Plug.


Daun itu terbang, jatuh tepat di hidung Mei yang sedang merona pipinya, karena Rion sedang menciumi lehernya sambil membisikkan rayuan dan kata cinta. Benda yang tiba-tiba melayang jatuh itu sontak membuat Rion kaget.


"Haha, apa ini?" Rion tergelak, melihat daun layu yang menempel di hidung Mei. Mei pun mencoba menggoyangkan kepalanya, tapi, bukannya pergi malah membuat daun meluncur jatuh, menyusuri lehernya yang licin dan jatuh ke dadanya yang sudah polos terbuka, kain yang dia pakai tersibak ke mana-mana. Tali baju tidurnya sudah melorot ke lengannya.


"Kak, biar aku yang ambil."


"Diamlah..." Dengan suara berbisik Rion menjawab, sambil membenturkan keningnya ke kening Mei. Membuat gadis itu berhenti menggoyangkan kepala.


Tangan Mei memang sedari tadi terkunci membuatnya tidak bisa memindahkan daun di hidungnya. Kedua tangannya erat dipegang Kak Rion, sambil bibir laki-laki itu menjelajah sesuka hatinya sejak tadi di bagian tubuhnya. Ritual kecup-kecup basah yang kata Rion berfungsi menetralisir rasa lelah. Mei cuma tergelak tadi saat kata "Buka!" terucap dengan fasih.


Sekarang Mei sudah tidak terlalu kaget lagi, walaupun dia masih sering refleks menyentuh kancing bajunya setiap mendengar kata-kata itu. Walaupun tidak dia dengar dari mulut Kak Rion sekalipun.


Hah! Tubuhku benar-benar sudah beradaptasi dengan baik sekarang ya?


"Jangan bergerak Mei."


Apa sih Kak? Kau mau apa? Sepertinya kau selalu menemukan celah untuk menjahili ku dengan apa pun yang ada di tubuh ku.


Mei memperhatikan dengan seksama, kira-kira apa yang akan dilakukan Rion. Gadis itu sedang menduga-duga, hal iseng apa lagi yang akan dilakukan Rion di tubuhnya dengan selembar daun layu itu.


Rion meniupkan udara dari mulutnya beberapa kali, tapi daun layu dan mengering itu hanya bergoyang. Mei yang sudah kegelian akhirnya tertawa terbahak, karena daun itu sama sekali tidak berpindah dari tubuhnya. Hembusan udara yang ditiupkan Kak Rion hanya membuatnya geli. Apalagi ekspresi Kak Rion terlihat lucu sekali.


"Apa si Kak, buang pakai tangan Kakak." Mei menggoyangkan tubuh, berharap daun jatuh ke lantai, eh tapi malah daun itu meluncur turun. Dan dari senyum menyeringai Kak Rion, Mei tahu artinya, Kak Rion seperti menemukan mainan lucu dari selembar daun kering itu. "Ahhhhh, Kak, Kakak."


Tawa Rion yang memenuhi balkon, mengisi malam yang baru saja akan di mulai.


Padahal sebenarnya, Rion sudah mendapat peringatan keras dari ibunya untuk jangan terlalu menggangu Mei, karena Mei yang lelah di siang hari melakukan persiapan ini dan itu. Makanya ibu sudah menyuruh mereka untuk banyak istirahat. Terutama Mei. Tapi, kata-kata ibu seperti masuk ke telinga kanan, dan keluar ke telinga kiri. Bukan hanya untuk Rion, karena Mei sendiri dengan senang hati meladeni keinginan suaminya.


"Kakak!"


Mei berhasil melepaskan tangannya, saat Rion menggigit daun layu, berserta kulit yang menempel diantara daun itu. Yaitu perutnya di dekat pusar.


"Apa si Kak."


"Hoek, pahit."


"Haha, apa sih Kak, siapa juga yang menyuruh kakak memakan daun itu."


Setelah menjulurkan lidah, dan dauh layu itu jatuh ke lantai, Rion menoel dagu Mei sambil mendekatkan bibirnya.


"Berikan penawar." Jemari Rion yang hangat mengusap bibir mungil merona milik Mei. Gadis itu pura-pura melengos, tapi kemudian melirik mulut Rion yang manyun. Wajah tampan yang selalu terlihat seperti bocah kalau sedang merajuk. "Cium aku," ujar Rion sambil memajukan bibirnya.


"Makanya jangan aneh-aneh, kenapa daun juga di makan."


"Cium, pahit." Dengan mulut maju seperti bocah yang sedang merajuk.


Kenapa si, kakak selalu menggunakan senjata mimik wajah begitu kalau sedang merajuk, kan aku jadi gemas. Aaaaaa! Terserahlah!


Mei memegang belakang kepala Rion, lalu mendorongnya kuat ke depan, sampai bibir mereka beradu. Saat dia membuka mulut sedikit saja, gerakan bibir Rion langsung mendominasi, menyambar dengan cepat. Menyerang dengan gencar.


Nggak pahit kok? Malah, aaaaaaa! Merilin masih malu sendiri dengan hati dan pikirannya, karena rasanya dia pun sudah seperti ketagihan sentuhan Kak Rion. Kecupan lembut bibirnya, kehangatan setiap sentuhan jemarinya. Hingga dia pun tidak ambil pusing dengan perkataan ibu. Walaupun, akhir-akhir ini dia memang sedikit merasa lelah, tapi Mei menduga, rasa lelahnya hanya karena dia kecapaian pergi ke sana ke mari mempersiapkan resepsi bersama ibu.

__ADS_1


Angin malam menerobos lagi, masuk menggoyangkan daun dan kelopak bunga yang sedang mekar. Sementara udara yang melingkupi kedua orang itu semakin memanas, saat Rion menarik kaki Mei ke atas, memberi kecupan lembut di paha Mei, selanjutnya, biarkan angin malam yang menemani mereka.


"Ahhhhh."


Deru nafas yang memburu di antara keduanya, terdengar dengan jelas.


...🍓🍓🍓...


Sofa ruang tamu, menjelang tengah malam.


Entah kenapa, setelah selesai memberikan penawar daun layu pada Kak Rion, yang berbuntut minta yang lain, Mei jadi ingin makan es cream. Untung saja, bibi selalu menyediakan di lemari es. Semangkuk es cream dengan beberapa potongan stoberi sudah ada di pangkuan Mei.


Rion hanya mencicipi beberapa suap.


Sementara Mei sedang menikmati lumernya es yang mencair di mulutnya, Rion yang duduk di belakangnya sambil kaki mereka berdempetan, Rion sedang mencoba mengikat rambut Mei. Mei merasakan, tangan yang kokoh itu menarik rambutnya dengan kesusahan. Apa sih, batin Mei, padahal kau tinggal tarik, pegang dan ikat. Mei bisa merasakan, tangan Kak Rion yang beberapa kali menyapu kepalanya, supaya rambut ikalnya yang mengembang bisa menyatu di tangan kirinya.


"Hah? Ini bagaimana? Kalau melihat mu mengikat rambut sepertinya gampang?"


"Hehe, akhirnya aku mendengar Kakak kesusahan melakukan sesuatu. " CEO Andez Corporation yang biasanya selalu sempurna dalam melakukan sesuatu pikir Mei. Ternyata, mengikat rambut saja tidak bisa. Mei terkikik dalam hati. "Susah ya Kak? Karena rambut ku ikal sepertinya, ehm rambut ku jelek ya Kak?" Entah kenapa Mei bicara begini, rambutnya yang dulu selalu membuatnya kurang percaya diri, dia selalu mengagumi rambut Dean ataupun Jesi, yang lurus dan panjang.


Masih kesusahan memasukan karet rambut, beberapa kali berpindah tangan yang memegangi rambut.


"Biar aku saja Kak.."


"Diamlah, teruskan saja makan es cream mu."


Rion masih serius berusaha.


"Rambut nenek ku juga bergelombang. Walaupun tidak seikal rambut mu." Mei merasakan kecupan berulang di bagian lehernya. Di pangkal rambutnya juga. Seperti Kak Rion ingin menghisap aroma tubuhnya. Padahal tangannya masih belum berhasil mengikat rambut, ada saja selingan yang dia lakukan. "Istri paman ku juga rambutnya bergelombang," Fokus lagi mengikat rambut sambil bicara. "Bibi ku adiknya ayah juga begitu. Kalau keluarga ibu ku, nah jarang yang rambutnya ikal dan bergelombang."


Rion menyebutkan nama-nama keluarga ayah dan ibunya, ada yang beberapa di ingat Mei, tapi ada juga yang dia lupa, karena baru sekali atau dua kali bertemu.


"Aku suka rambut mu, karena ini rambut mu. Lucu juga, saat kau bangun tidur kau seperti singa."


"Kakak!"


"Haha. Kau memang lucu dan menggemaskan Mei. Bagaimana ini, aku jadi ingin menerkam mu lagi."


Belum juga Mei berteriak.


Hap, Mei yang mendongak dengan bibir yang bernoda es cream langsung disergap Rion. Gelagapan gadis itu meladeni ciuman Kak Rion. Sejenak, es cream yang ada di pangkuannya tidak tersentuh.


Cium lagi, dan lagi. Lagi-lagi berciuman dengan panas dan gelora yang meningkat. Manisnya bibir Mei yang bercampur aroma es cream membuat Rion kembali bergairah. Kalau Mei tidak menahan bibir Kak Rion dengan sendok yang berisi penuh es cream, mungkin ciumannya akan terus berlanjut.


"Enak kan Kak? coklat stroberi."


"Lebih enak bibir mu. Muahh." Menyambar bibir Mei lagi. Mei panik, dari wajahnya terlihat sekali. "Haha, baiklah, aku berhenti. Habiskan es cream mu. Tumben sekali kau makan es cream sebanyak itu malam-malam." Hanya menyambar bibir Mei, dan kembali duduk. Lalu mengusap kepala Mei, dan memeluk Mei dari belakang. Menjatuhkan kepala dan menciumi punggung Mei.


"Kakak mau lagi?"


"Mau, bibir mu."


"Hah! Apa sih Kak!"


Rion mempererat pelukannya, sambil menciumi leher bagian belakang Mei. Sementara gadis itu kembali ke mangkuk es creamnya.


Sudah lebih dari separuh, yang sudah berpindah ke perut Mei. Gadis itu juga heran dan menggelengkan kepala, entahlah, kenapa dia akhir-akhir ini suka makan sesuatu yang biasanya tidak terlalu dia sukai. Sebenarnya, dulu dia tidak terlalu suka es cream.


"Hemm, enak. Benar, Kak Rion nggak mau?"

__ADS_1


"Aku mau bibir mu."


Hih! Dasar! Aaaaa, kenapa Kakak manja sekali si malam ini. Kecupan di belakang leher masih di rasakan Mei.


Sejenak, kedua orang yang sedang duduk sambil berpelukan terdiam dengan aktifitas mereka masing-masing. Yang satu makan es cream, yang satunya, entah sedang makan apa dia, tapi terlihat sangat menikmati.


Setelah suapan buah stroberi terakhir, Mei meletakkan mangkuknya.


"Kak, kau ingat tidak, di sofa ini saat kita pulang ke rumah ini setelah bulan madu?" Tiba-tiba, entah kenangan apa yang menelisik saat dia makan es cream tadi, Mei teringat hari itu. "Saat Kak Rion menyambut ku, dengan kata-kata. Selamat datang Merilin, boneka ku."


Kejadian itu terbiaskan di ingatan Mei.


"Jangan membahasnya." Lansung terpancar aura sengit di wajah Rion. Dari nada bicara ketusnya juga terlihat jelas.


Seperti pendosa yang selalu diingatkan dosa-dosanya, membuatnya sebal setengah mati. Dia benci kalau ada yang mengungkit kejadian awal pernikahannya, Mei sekalipun. Dia tidak mau mendengar.


"Haha, maaf Kak." Mei memutar separuh tubuhnya dan melingkarkan tangan ke pinggang Rion. "Aku membahasnya, bukan untuk menyindir Kak Rion atau membuat Kakak marah."


Wajah Rion masih merengut, saat Mei mendongak dan mengecup bibirnya tiga kali, dia mulai bisa menarik garis bibirnya. Sedikit tersenyum.


"Walaupun Kakak sudah sering mendengar aku berterimakasih, tapi hari ini aku akan berterimakasih lagi Kak, terimakasih karena dari banyaknya wanita di muka bumi ini, Kakak memilih ku. Terimakasih sudah memilih ku menjadi boneka Kakak." Bibir Rion merengut lagi mendengar kata boneka disebut. "Percayalah Kak, aku beruntung, walaupun saat itu Kakak menganggap ku hanya sebatas menjadi istri boneka, karena Kakak merubah harapan dan mimpiku menjadi nyata."


Kalau aku tidak menjadi boneka Kak Rion, entah sekarang, apakah Mei bisa bicara dengan hangat dengan Kak Brama. Apa hubungannya dengan Kak Brama akan membaik. Melihat kesembuhan ibu juga, adalah hadiah yang diberikan Tuhan melalui Kak Rion. Harven yang bisa sekolah dengan penuh percaya diri sekarang. Bahkan, dia yang bisa menemukan penipu perusahaan ayah. Semua yang dulu seperti mimpi, satu persatu menjadi kenyataan yang indah.


"Bagaimana pun kita memulai pernikahan ini, walaupun Kakak tahu dulu aku pernah menyukai siapa, dan Kakak juga pernah mencintai siapa." Tangan Mei terulur, menyapu kedua pipi Rion. "Tapi, Tuhan mempertemukan kita dalam cinta yang indah ini, ayo berjanji Kak, untuk hanya melihat masa depan. Dan kedepannya, kita saling mencintai selamanya."


Seutas senyum yang sebenarnya berisi keterkejutan, Rion tidak menyangka, Mei akan membuat kalimat panjang yang syarat akan makna itu.


"Mencintai mu selamanya Mei. Aku mencintai mu. Terimakasih sudah membuat hidup ku yang tadinya entah mau aku bawa ke mana ini, menjadi berharga. Aku mencintai mu Mei, istriku tersayang."


Bibir mereka bertemu lagi, berawal hanya kecupan ringan, menjadi lebih intens. Mei sudah tidak bisa mendorong tubuh Kak Rion lagi, karena suasana yang tiba-tiba berubah. Luapan cinta yang berkobar di mata Kak Rion, membuatnya berbunga sekaligus bahagia. Dadanya pun berdebar dengan kuat.


"Ahhhh, Kakak!"


Tiba-tiba, Rion mengangkat tubuh Mei. Menggendongnya dalam pelukannya.


"Kita lanjutkan di kamar."


Mei melotot panik. Langsung membuat bibir Rion merengut, dia membenturkan kepalanya ke dada Mei. Sedih.


Apa sih? Dasar! Lagi-lagi, memakai ekspresi itu.


"Kakak tidak mau menggendong ku?"


Langsung mendongak dengan wajah sumringah. Seperti Kucing lapar yang disodori makanan.


Suara pintu kamar yang tertutup dengan keras, lampu ruang tamu yang sempat di sambar Mei dengan tangan kiri tadi, hanya ada gulita yang tertinggal.


"Buka!"


"Buka Kakak sendiri."


"Haha, kau lucu sekali Mei."


Muah, muah, muah. Sebuah kecupan, mulai terdengar, bersama bisikan cinta dan kehangatan malam yang melingkupi kedua insan yang sedang di mabuk oleh cinta itu.


Malam semakin larut.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2