
Meninggalkan gedung Andez Corporation.
Sepanjang perjalanan hanya deru mesin mobil yang mengisi pendengaran mereka. Rion maupun Serge tenggelam dalam dunia mereka masing-masing.
Rion membisu di kursi belakang, hanya memikirkan Mei, demi mengusir perasaan muak yang berlomba naik bahkan sampai tenggorokannya. Daripada memikirkan kejadian tadi, lebih baik membaca pesan yang dikirimkan Mei pikir Rion. Gadis itu membagikan senyum dan kebahagiaannya saat menjemput ibu dan dikelilingi orang-orang yang berharga baginya.
Sementara Serge yang duduk di belakang kemudi, tidak berani membuka mulut, hanya sekilas melirik ke kaca spion. Sambil fokus melihat jalan di depan. Saat Rion bicara "Pulang ke rumahku" sebelum masuk ke dalam mobil tadi, dia juga tidak bertanya. Padahal kenapa harus pulang dulu si, pikir Serge. Kenapa tidak langsung ke rumah Harven. Karena arahnya bersebrangan jadi memang memakan waktu.
Tapi, karena wajah suram Rion, Serge tidak berani bertanya.
Sepertinya dia kesal sekali pada Amerla. Hah, walaupun kasihan, memang kau benar-benar keterlaluan Erla. Kalau kau hanya mencoba menggangu Rion tanpa melibatkan Merilin, mungkin Rion tidak akan semarah ini. Bayangan Amerla diseret paksa suaminya seperti berparade lagi di kepala Serge. Dia mengusir pikiran itu, karena tidak mau memikirkan, apa yang akan dilakukan suami Amerla sekarang. Dia tidak mau merasa bersalah.
Kontrak penting Andalusia Mall sudah hancur, jangankan mendapat uang dari pinalti kontrak yang dibatalkan sepihak oleh Rion, mereka bahkan harus kehilangan uang muka. Rion sedikit pun tidak mau berkompromi. Serge melirik spion lagi, yang dikursi belakang sedang melihat hpnya.
Tapi untung saja Rion tidak menuntut ganti rugi pada Andalusia Mall. Setidaknya ini melegakan untuk CEO Ibram. Apa dia sedikit merasa kasihan pada suami Amerla ya? Lagi-lagi Serge menertawakan hipotesanya, sejak kapan Rion perduli dengan orang lain. Dia tidak mau menuntut ganti rugi, pasti hanya karena malas masalah akan melebar ke mana-mana. Apalagi sampai membuatnya bertemu lagi dengan Amerla.
Sekarang, apa Mei sudah benar-benar kau akui sebagai istrimu. Kau bahkan melindungi Mei sampai mengorbankan keuntungan perusahaan. Apa kau sudah mencintai Mei? Serge jadi teringat cerita sekretaris Presdir tentang Presdir yang sangat mencintai nyonya, kalian benar-benar sangat mirip. Ayah dan anak yang sangat mirip. Presdir dan CEO memiliki darah yang sama persis. Sama-sama menakutkan.
Semoga Erla baik-baik saja.
Sudahlah Ge, jangan memikirkan Amerla. Hati Serge lagi-lagi mengingatkan. Kau kan sudah mencoba mencegahnya tadi. Tapi gadis itu malah menertawakan mu kan. Dengan ejekannya itu. Serge mengubur perasaan bersalah di hatinya.
Saat lamunan masih mengudara, mobil sudah memasuki komplek apartemen Rion. Serge ikut turun dari mobil. Mengikuti langkah kaki Rion.
"Kau mau mengambil sesuatu? atau aku menunggu di dalam mobil saja?"
Rion yang tidak menjawab membuat Serge mengikuti sampai masuk ke dalam lift.
"Rion!"
"Aku mau mandi bodoh!" Menjawab kesal, sepertinya upayanya meredam emosi sama sekali tidak berhasil. Terpancing sedikit saja oleh Serge akhirnya meledak juga Rion. "Kau kan liat, dia meraba-raba pahaku sampai mencium tanganku." Membuat gerakan merinding sampai mengibaskan tangan yang dicium Amerla beberapa kali. "Aku mau mensucika tubuhku sebelum bertemu Mei."
Apa sih, kau bicara apa lagi. Mensucikan diri segala.
Aku pikir dia biasa saja tadi, ternyata dia bekerja sangat keras menahannya ya. Kau hebat sekali Rion. Serge membatin, kalau dia yang sampai membuat Rion emosi seperti tadi, dia yakin dia pasti sudah dihajar habis-habisan. Serge pasti babak belur kalau sampai menyulut amarah Rion seperti yang dilakukan Amerla.
"Benar, mandi yang bersih sana, biar kau suci lagi. Hehe. Kau sudah bekerja keras menghadapinya Rion. Kau sudah mengalahkan masa lalumu . Mei pasti bangga dan berterimakasih padamu, Mei pasti bahagia, kalau tahu kau sudah membalas Amerla demi melindungi istrimu." Sebenarnya kata-kata yang meluncur dari mulut Serge sekedar basa basi belaka. Tapi ternyata reaksi Rion diluar dugaan.
Ehm, ehm. Rion batuk-batuk sambil berjalan keluar dari lift. Wajahnya terlihat puas dan bangga. Dia mendorong rambutnya sambil berdehem lagi.
"Huh! Biasa saja, kalau cuma seperti ini memang sudah seharusnya aku lakukan. Ehem." Sambil mengusap wajah. Bahasa lain dari kata, aku memang keren kan.
__ADS_1
Dih, masih sok nggak mau mengaku. Padahal jelas sekali kau senang kan, aku memujimu. Dasar!
Melihat kelakuan Rion, entah kenapa terbitlah rasa iseng Serge.
"Oh, kalau begitu, kau tidak mau Mei tahu? Baiklah aku akan menyimpan rahasia ini dan tidak mengatakan pada Mei."
Rion berhenti saat mereka tepat ada di depan pintu. Sorot mata kesal dia tujukan menanggapi kalimat bodoh Serge barusan. Dasar tidak peka, begitulah arti tatapan Rion.
Apa! Apa! Kau mau marah! Dih, makanya mengaku saja, kau senang kan aku puji. Kau mau memintaku cerita pada Mei kan? Hah! Padahal kau sering bilang aku tidak boleh bicara pada Mei, tapi kalau pamer tentang mu kau tidak keberatan ya? Serge cuma nyerocos tidak berhenti dalam hati.
"Siapa yang melarangmu bilang pada Mei?"
Kan, kau mau aku pamer dan memuji-muji dirimu di depan Mei, kan, kan.
"Kan kamu yang bilang." Serge berdalih. "Kalau yang kau lakukan ini biasa saja." Wah, kau mau menghajarku gumam Serge. "Makanya aku tidak akan bilang pada Mei. Biar ini jadi rahasia kita saja."
Cengkeram tangan Rion kalau sedang kesal langsung beraksi, tangan Rion meraih kerah jas Serge. Kali ini Serge bukannya takut, dia malah tertawa dengan kemarahan Rion. Karena tahu alasan Rion marah itu apa.
"Ceritakan semua pada Mei bodoh, apa yang aku lakukan untuknya. Ceritakan juga sampai aku mandi karena jijik disentuh wanita itu. Dengar tidak! Aku tidak mau disentuh wanita lain kecuali Mei bilang juga begitu." Rion melengos. "Tapi jangan bilang aku yang menyuruhmu cerita."
Serge cuma bisa mengangkat bahu saking tidak percaya dengan tingkah Rion yang kekanakan ini. Dia hanya bisa menahan senyum saat melihat mata Rion yang berapi-api.
"Hih, ia, ia. Aku ceritakan semua nanti pada Mei, bagaimana kau membelanya di depan Amerla." Serge tertawa sambil masuk mengikuti langkah kaki Serge ke dalam rumah. Saat melihat sandal rumah berjejer, salah satunya milik Mei. Serge jadi terpantik rasa penasannya. Sudah lama dia ingin menanyakan ini pada Rion. "Rion, apa sekarang kau sudah benar-benar membuka hatimu pada Mei? Bukan hanya sebatas menganggap dia milikmu, bukan hanya karena dia boneka mu. Tapi, apa kau menyukai Mei dan mencintainya sebagai seorang wanita."
Bukan lagi boneka, bukan hanya boneka yang bisa kau perlakukan sesukamu. Walaupun Serge sudah tahu, kalau hubungan Mei dan Rion sudah teramat dekat untuk hanya disebut pernikahan kontrak, tapi, bagaimana dengan hati mereka. Kalau Mei, kan memang sudah menyukai Rion dari awal. Tapi, bagaimana dengan Rion.
Rion melepaskan handle pintu kamar mandi yang tadi sudah dia pegang, dia sepertinya kesal mendengar kalimat terakhir Serge. Saat Serge menyadari situasi dia langsung mundur ke belakang sofa ruang tamu.
"Apa! Kenapa kau marah?"
Apa sih! Apa dia tersinggung karena aku bertanya tentang perasaanya!
"Mei istriku, dia bukan bonekaku lagi. Kau paham! Merilin itu istriku bodoh!"
Gila! Aku merinding, padahal dia yang dulu selalu menyebut boneka, boneka seenak jidatnya sendiri. Sekarang dia marah aku bilang Mei bonekanya.
"Dia istriku!"
Kau sudah mencintai Mei rupanya. Hah! Mei, kau berhasil merubah manusia batu ini Mei. Hati Serge langsung rasanya meluap-luap dengan perasaan lega. Dia bahagia untuk kebahagiaan yang didapatkan Merilin.
"Syukurlah..."
__ADS_1
"Apa?"
"Aku bahagia, kalau kau sudah bisa melupakan Amerla dan membuang masa lalumu Rion. Aku juga bahagia karena kau membuka hatimu untuk Mei. Kau tahu, sebenarnya Mei sudah memiliki perasaan padamu."
"Apa?"
"Hehe, kau tidak tahu kan? Waktu aku menawarkan pernikahan denganmu dia dengan malu-malu bilang kalau dia ikut grup chat para penggemarmu di kantor."
Mei, maaf aku membongkar rahasiamu. Hehe.
"Bodoh!" Rion menuding kening Serge dengan kesal sekaligus lucu. "Teruslah bodoh seperti ini Ge, demi kedamaian semua orang." Mendorong bahu Serge. "Sudah sana, aku mau mensucikan diri. Kau boleh duduk di kursi meja makan dan ambil apa pun di kulkas, tapi, kau tidak boleh duduk di sofa." Menyeringai sambil menuju pintu kamar mandi. "Sofa itu milikku dan Mei." Suara tawa Rion masih terdengar walaupun pintu sudah tertutup.
Dasar gila! Apa sih!
Serge berhenti di depan sofa, memperhatikan dengan seksama benda bernama sofa yang tidak boleh dia duduki itu. Perasaan tidak ada yang berubah, masih sofa yang lama. Dia mendekat, menyentuhnya. Masih mencoba menemukan alasan kenapa dia tidak boleh mendudukinya.
Halah! Aku malah ngapain sih!
Dia menertawakan dirinya sendiri sambil pergi ke dapur. Ternyata banyak makanan dan buah-buahan di dalam kulkas.
"Mei benar-benar merubah hidupmu."
Serge mengambil apel, dia usap-usap di kemejanya lalu dia gigit begitu saja sambil duduk di kursi meja makan. Sekilas dia melirik sofa di ruang tamu.
"Padahal aku saja belum boleh melihat balkon rumahnya, sekarang tambah lagi tidak boleh duduk di sofa."
Apa sih, memang ada apa dengan sofa?
Sambil menunggu Rion mensucikan diri, dia bermain dengan hpnya.
"Eh, Dean kirim apa ini."
Dan pikiran Serge dari sofa pun teralihkan dengan membaca pesan dari Dean.
"Wahh, seru sekali. Bahkan Arman juga datang, apa karena Jesi di sana. Aku juga mau cepat disana. Hei, Rion! Sampai kapan kau mau mandi dan mensucikan diri! Segeralah! Mei pasti sudah menunggumu."
Selang tidak lama dari ucapan Serge, pintu kamar mandi terbuka. Aroma sabun dan sampo langsung menguat ke udara.
Dia ganti kulit ya?
Bersambung
__ADS_1