
Di sebuah rumah yang sangat kontras dengan apa yang biasanya ditempati ibu Ibram. Rumah ini memang ada di kawasan elite, dengan satu akses pintu masuk. Namun berada di komplek rumah-rumah yang kecil. Ada halaman depan yang hanya ditumbuhi rumput. Ada juga pagar dan gerbang kecil. Hunian yang cukup nyaman bagi keluarga kecil.
Ketika memasuki rumah, tidak sekecil yang dibayangkan ibu Ibram. Perabotan di dalam rumah masih sebatas perabotan utama. Sofa dan meja.
Ibram tahu, ibu pasti terkejut, kenapa dia membawa ibu ke rumah seperti ini. Bukannya ke apartemen yang dia tinggali sekarang.
"Maaf Bu, rumah ini memang kecil. Tapi, hanya ini rumah yang tidak diketahui ayah." Ibram memang memiliki properti berupa rumah, tanah dan apartemen. Tapi semua itu diketahui ayahnya. Alamatnya ada di mana ayahnya tahu. Sedangkan rumah ini, baru saja beli. Tadinya akan dia pakai sebagai tempat menyembunyikan diri, kalau dia nekat kabur dari ayahnya. Malah jadinya terpakai untuk ibunya.
"Ia Nak."
Wajah takut ibu belumlah pergi. Sepanjang jalan saja beberapa kali ibu berubah pikiran untuk kembali. Takut kemarahan ayah Ibram juga akan merambat pada anaknya. Namun sekeras apa pun ibu membujuk Ibram, laki-laki itu seperti batu yang tak bergeming. Dia tidak sudi memutar arah dan kembali ke rumah. Membiarkan ibunya kembali pada kehidupan yang menuntutnya hanya untuk menganggukkan kepala.
"Nak, tapi, Ibu masih takut. Bagaimana kalau ayah mu menemukan kita." Bagaimana pun, suaminya punya banyak orang untuk dia suruh mencarinya.
Deg, dada ibu malah langsung tersentak. Ada ketakutan baru yang muncul. Bagaimana kalau suaminya tidak mencarinya. Bagaimana kalau suaminya menceraikannya. Suaminya saja memaksa Ibram untuk bercerai. Bagaimana ini? Tangan ibu bergetar lagi. Memikirkan, akan hidup seperti apa dia kedepannya.
"Ibu, aku mohon, percayalah padaku Bu. Aku membeli rumah ini tanpa sepengetahuan ayah. Makanya aku membawa ibu ke mari bukannya ke apartemen. Tolong Bu, beranikan diri ibu. Jadilah seperti Erla Bu."
Wajah pias ibu belum pergi, apalagi sambil dia mengusap memar yang ada di pipinya.
"Kita lihat saja, bisa apa ayah tanpa ibu."
"Tapi, bagaimana kalau ayah mu malah menceraikan ibu." Kepala ibu layu tertunduk, akhirnya terucap juga kegelisahannya. "Bagaimana kalau dia juga mengusir mu dan memecat mu."
Ibram tertawa. Lalu tergelak sinis. Memang bisa apa ayah tanpa aku pikir Ibram. Selama ini dia sudah bekerja mati-matian saja belum bisa bersaing dengan mall yang lainnya.
"Ayah tidak mungkin melakukan itu Bu, melihat sifatnya yang bahkan tidak sepenuhnya percaya pada orang lain. Dia tidak mungkin memberikan posisi CEO pada orang lain." Ya, untuk yang satu ini, Ibram bisa yakin.
Ibram membuka pintu belakang, supaya udara segar memasuki ruangan.
"Kemarilah Bu, di sini udaranya sejuk."
Ibu mengikuti anaknya, lalu ikut duduk di teras belakang rumah. Sambil memandang, dedaunan yang terlihat cukup terawat.
"Apa kau membersihkan rumah ini sendiri?"
"Tidak, aku baru membelinya, jadi ini masih bersih dan terawat."
"Ibu tidak apa-apa kan, sementara tinggal di sini. Tetangga di sekitar sini tidak saling menggangu. Mereka hanya saling menyapa kalau bertemu. Jadi ibu bisa nyaman berada di sini. Aku akan datang membelikan keperluan ibu untuk sementara."
"Rumah yang disebelah, ada yang menempati?"
"Hemm, katanya ibu dan anak. Mereka juga belum lama tinggal disini waktu aku membeli rumah ini."
Walaupun keraguan itu membayangi, tapi ibu menganggukkan kepala meyakinkan hatinya sendiri. Sekaligus meredakan kegelisahan anaknya.
Dia tidak tahu, apakah suaminya akan mendapatkan kesadaran seperti anaknya yang berubah. Atau malah sebaliknya, tengkuknya merinding takut. Bagaimana kalau nanti suaminya menemukannya. Menyeret rambutnya dan memukulnya lagi karena dia sudah berani membuat keributan begini. Atau yang lebih menakutkan, jika suaminya tidak menghiraukannya. Menceraikannya, dan mencari wanita lain.
Tangan Ibram terulur, meraih tangan ibu. Dia genggam erat di atas pangkuannya. Mengusir kegelisahan ibu.
"Ibu..."
"Ia Nak... kenapa?"
"Maaf, karena aku baru menyadarinya sekarang." Ibram mencium punggung tangan ibu. "Kalau aku baru sadar, selama ini, ibu menderita. Maafkan aku Bu."
Tak bisa dicegah, Isak itu muncul lagi. Seperti semua rasa sakit yang langsung terbayang di pelupuk mata, membuat ibu menjadi sedih.
"Erla yang sudah membuka mata ku yang buta ini Bu. Karena Erla lah aku bisa melihat penderitaan Ibu. Jadi, aku mohon, bisakah ibu mendukungku."
Ibu mengusap ujung matanya dengan punggung tangan.
"Apa kau benar mencintai Erla?"
"Aku baru menyadari betapa berharganya Erla setelah dia pergi. Kalau aku tidak bisa hidup tanpanya Bu. Aku mencintainya. Tolong, dukung kami Bu."
"Lalu, bagaimana dengan Erla?" Suara ibu terdengar getir. Bagaimana tidak, hari itu dia mendatangi menantunya. Melampiaskan semua penderitaan yang ia peroleh dari suaminya pada menantunya. "Maaf, maaf. Ibu sudah bersikap kasar pada Erla, dia pasti jadi membenci mu."
__ADS_1
Surat perceraian yang ditanda tangani Erla memang sudah dirobek Ibram di dalam mobil tadi. Tapi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka. Dia sendiri sudah memperkeruh keadaan. Berada di posisi mertua yang jahat.
"Apa Erla masih mau melanjutkan pernikahan dengan mu."
Terdengar Ibram menghela nafas sedih. Dari situ saja ibu sudah tahu jawabannya. Bahwa Erla menolak anaknya.
"Tapi aku tidak akan menyerah semudah itu Bu, aku akan memperjuangkan Erla. Karena aku mencintainya."
Hati ibu terhenyak, anaknya benar-benar berubah. Erla sudah membuat hatinya berubah. Apa aku juga bisa begitu? Membuang perasaan takut di hati ini. Kabur dari suami yang selama ini memperlakukan ku dengan kasar.
"Ibu jadi iri pada Erla Nak, dia berani. Sedangkan Ibu..."
Ibram lalu menghadapkan wajah ke arah ibunya. Memeluk ibunya dengan erat. Mengusap punggung ibunya lembut.
"Ibu juga harus bisa seperti Erla, biar ayah tahu rasa. Berjanjilah pada ku Bu, demi aku dan adik-adik, ibu harus berani."
Angin semilir berhembus, menenangkan kedua orang yang sedang saling menguatkan itu. Di saat Ibram dan ibu sedang terdiam, hp yang ada di saku kemeja Ibram bergetar. Sekretarisnya memanggil.
Kenapa lagi si dia. Tidak biasanya, dia menelepon di luar jam kerja.
"Hallo?"
"Tuan, Anda ada di mana?"
"Kau menelepon di hari libur cuma untuk bertanya aku di mana!" Marah.
"Ah, maafkan saya. sekarang saya sedang menuju apartemen Anda. Presdir menelepon dan meminta saya datang untuk membuka kunci rumah. memang Anda ada di mana?"
Hah? Ayah bahkan datang sendiri?
"Tuan, apa yang harus saya lakukan? Anda ada di mana?"
"Buka saja pintunya. Kalau ayah bertanya sesuatu, bilang saja kau tidak tahu. Aku segera pulang."
"Tuan, memang ada apa? Tolong sedikit saja beri penjelasan biar saya tidak salah menjawab."
Dan Ibram langsung menutup telepon, tidak menggubris pertanyaan lanjutan, setelah sekretarisnya selesai kaget. Di samping Ibram, ibu terlihat tegang lagi.
"Bagaimana ini Ibram, apa ibu pulang saja. Ayah mu bahkan datang sendiri mencari mu."
Ibram meraih kedua pipi ibunya. Tersenyum dengan hangat menenangkan ibunya.
"Ayah bahkan sudah mencari ibu, padahal baru beberapa jam ibu pergi, dia bahkan datang sendiri mencari ku. Percayalah Bu, ayah sedang menggila karena kehilangan ibu."
Karena perasaan itu jugalah yang dirasakan Ibram.
Ibram berjanji akan datang lagi nanti, dan akan mengirim sekretarisnya untuk membelikan semua kebutuhan ibu. Wanita yang selama ini terkurung dalam sangkar emas itu, melambaikan tangan pada anaknya. Dia berjanji pada anaknya, akan menunggu.
...🍓🍓🍓...
"Di mana ibu mu? Kemana kau membawa Ibu mu?"
Teriakan ayah Ibram menggema di dalam ruangan. Sekretaris Ibram maupun sopir Presdir hanya bisa menunggu di belakang pintu dengan was-was. Mereka saja sudah mendengar suara benda pecah.
"Mana aku tahu? Kenapa ayah mencari ibu di rumah ku. Aneh."
Ibram menendang benda berserak di lantai, seperti sudah terbiasa.
"Anak kurang ajar! Kau pikir aku belum mengecek CCTV. Kemana kau membawa istriku!"
Ibram tertawa sinis menanggapi kata-kata ayahnya. Setelah duduk di sofa di depan ayahnya dia kembali menyeringai mengejek.
"Apa sekarang, ayah baru menyadari pentingnya keberadaan ibu?"
Wajah ayah Ibram semakin memerah karena mendidih amarahnya. Anak yang biasanya patuh dan menurut, kenapa bisa menjadi begini kurang ajarnya pikir ayah. Apa istrinya yang tidak tahu diri itu yang sudah meracuni anaknya dan menjadikannya pembangkang.
"Hah! Tutup mulut mu Ibram. Kalau kau melakukan ini hanya karena tidak mau bercerai dengan Erla, baiklah. Ayah akan mengalah untuk kali ini. Jadi hentikan protes tidak masuk akal mu dan bawa pulang lagi ibu mu ke rumah." Ayah sudah merasa di atas angin, dia sudah mengalah sebesar ini, tidak mungkin Ibram akan melawan lagi pikir ayah.
__ADS_1
Tapi ayah salah, jawaban Ibram semakin menyulut bara kemarahan yang memang sudah berkobar sejak tadi.
"Ibu yang mau pergi tuh, bukan aku yang memaksa ibu."
Plak! Plak!
Tangan ayah Ibram bergetar menggantung, rasa pedih yang sering dirasakan ibu, berdenyut di pipi Ibram sekarang.
"Anak kurang ajar! Kau berani menentang ayah mu! Kau sudah merasa hebat! Siapa yang memberimu kedudukan dan kemewahan hidup seperti ini kalau bukan aku, ayah mu. Beraninya kau menentang ayah mu!"
Ibram malah tertawa, lalu mengusap pipinya yang masih terasa sakit.
"Padahal rasanya sakit, tapi bagaimana bisa ibu dan Erla tidak menangis." Diusapnya lagi pipinya, sambil tertawa getir. "Sakit, kenapa kalian tidak pernah menangis."
Deg..
Ayah malah langsung terdiam, saat melihat tingkah aneh anaknya. Ayah Ibram melihat lagi, pipi memerah yang diusap anaknya.
"Karena ayah tidak pernah mendengar ibu protes dan menangis, apa ayah pikir ini tidak sakit! Ibu pergi dari rumah karena sudah tidak tahan dengan perilaku ayah."
Ya, walaupun memang aku yang menghasut dan berusaha meyakinkan ibu untuk kabur.
"Jadi jangan cari Ibu ku! Anggap saja, istri ayah sudah mati!" Saking kesalnya Ibram dia semakin memprovokasi ayahnya. Saat tangan ayahnya terangkat dan mau menampar lagi, tangan Ibram mencengkeram lengan ayahnya. Kalau mau adu kuat, tentu tenaganya yang lebih mudalah yang menang. "Aku bukan ibu, yang akan diam saja ayah pukul."
Ibram menghentakkan tangannya, lalu berjalan menjauhi sofa. Dia berdiri di dekat pintu yang terbuka. Semua makian dan kata-katanya serta tamparan ayah pasti didengar jelas orang yang sedang berdiri di luar pintu.
"Dan tidak perlu mengancam ku mau memecatku." Lagi-lagi ejekan Ibram keluar. "Memang siapa yang mau ayah tunjuk sebagai CEO. Adik-adik ku?" Ibram mengusap pipinya. "Memang, kapan terakhir kali ayah bicara pada mereka. Mereka akan percaya pada ayah yang bahkan tidak mereka temui, atau ibu yang setiap Minggu menelepon mereka."
Dia mulai goyah kan? Jujur saja, dari tadi tangan Ibram bergetar. Dia memang terlihat berani dan menantang, sejujurnya dia menahan rasa takut yang membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Ayah masih terdiam, tidak bisa menjawab kata-kata Ibram. Karena semua fakta yang disampaikan Ibram benar adanya.
"Di mana ibu mu?"
Akhirnya, malah itu lagi yang terucap dari bibir ayah.
"Entahlah.."
"Ibram!"
"Jangan mencarinya, kalau ayah hanya ingin menyakiti ibu! Sekarang, ibu ada dalam perlindungan ku." Ibram mundur, keluar dari pintu. "Kalau ayah sudah selesai bicara, ayah bisa pergi. Pak! Tolong bawa Presdir pergi dari rumah ku." Ibram melirik sopir yang sedari tadi berdiri kaku.
Sebentar semua orang terdiam. Lalu ayah Ibram berjalan keluar dari pintu. Tanpa sepatah kata pun, hanya mengeram saat melihat Ibram. Dia berjalan, menunjukkan kekalahan.
"Setelah ibu pergi, ayah baru menyadari betapa berharganya ibu kan? Aku tahu, karena itu juga yang aku rasakan saat Erla pergi."
Ayah berhenti melangkah, tapi tidak berbalik.
"Jangan mencari ibu ku, sampai ayah merasa hampir gila karena kehilangan ibu."
Karena saat itulah, kesadaran akan mulai menampar wajah ayah.
Masih tanpa sepatah kata pun, ayah Ibram menghilang masuk ke dalam lift. Setelah ayahnya tak terlihat, kaki Ibram langsung lemas. Dia bersandar ke tembok.
"Tuan! Anda tidak apa-apa?"
"Kau masih bertanya! Dasar gila! Bantu aku masuk!"
"Ah, maaf. Saya takut sekali tadi. Apalagi saat Presdir menampar Anda."
"Diam kau! Jangan mengungkit itu. Sakit tahu!"
Keduanya jatuh terduduk di sofa. Ibram mengusap wajahnya. Dia saja gemetar di depan ayahnya. Apalagi ibu yang sudah puluhan tahun mendapatkan perlakuan ini. Rasa takut ibu yang terlihat jelas tadi, bisa dirasakan Ibram. Laki-laki itu mengepalkan tangannya. Semakin menguatkan hati, dia akan melindungi ibunya.
Aku ingin bertemu Erla, gumamnya. Dia mau mengadu pada Erla. Dia mau berlutut dan memohon pengampunan gadis itu.
"Maafkan aku Erla."
Sekretaris di samping Ibram hanya bisa menepuk bahu bosnya supaya sedikit tenang.
__ADS_1
Bersambung