
Ayah Rion sudah mengatakan pada istrinya, perkara anaknya yang ingin segera mengadakan resepsi pernikahan. Namun, istrinya mengingatkan lagi. Kalau di awal pernikahan, menunda resepsi itu adalah keinginan sang menantu. Soal ibunya yang masih berada di RS. Jadi, ibu sengaja mau bertemu dengan ibunya Mei hari ini. Untuk menanyakan dan melihat kondisi ibu Mei, apakah memungkinkan untuk mengadakan resepsi. Ibu tetap menitik beratkan pada kondisi Mei.
Betapa sayangnya ibu Rion terhadap menantu yang sudah mengembalikan kebahagiaan anaknya itu. Dia tidak mau membuat Mei merasa tidak nyaman atau terbebani dengan resepsi pernikahan ini.
"Memang, kenapa Rion minta ini di rahasiakan dari Mei? Seharusnya kita kan meminta pendapatnya? ini kan pesta pernikahannya." Ibu juga sempat protes pada suaminya.
"Entahlah, maunya Rion begitu. Dia ingin memberi kejutan pada Mei katanya."
Lagi-lagi ayah dan ibu bukannya curiga, tapi malah merasa, alasan Rion terdengar menggemaskan. Jadi akhirnya, mereka pun menyimpan rahasia mengenai resepsi pernikahan dari menantunya. Dan langkah awal, sebelum semua rencana dilanjutkan, adalah bertemu dengan ibu Mei. Memastikan kondisi ibu Mei.
Sesampainya di butik, Mei minta izin untuk mengabari Harven kalau nanti mereka mau berkunjung. Bahkan dia juga menelepon Kak Brama. Memberi tahu kedatangan ayah dan ibu Kak Rion. Kak Brama ingin sekali datang sebenarnya, tapi dia sedang ada diluar kota karena urusan pekerjaan.
"Nggak papa Kak, lain kali kan masih bisa bertemu. Mereka hanya mau menyapa ibu kok. Kan mereka belum pernah bertemu secara langsung. Ia, ia. Kakak juga, jaga kesehatan ya, salam untuk kakak ipar." Melibatkan Kak Brama bagi Mei sekarang seperti sebuah keharusan. Pikirannya secara tidak sadar langsung mengingat Kak Brama sekarang. Kalau dulu, tahu kan siapa yang dia pikirkan kalau sedang bahagia atau pun bersedih.
Terdiam sebentar, lalu mengirim pesan lagi pada Kak Brama. Jangan mengkhawatirkan apa-apa. Saat sedang mengirim pesan, tiba-tiba sebuah tangan terulur dan langsung melingkar di pinggang Mei. Sesaat membuat Mei tersentak, lalu mulai terbiasa saat kepala Rion menyandar di bahunya.
"Kenapa? Ada masalah? Kata ibu, kalau memang belum siap, bisa diundur nanti." Sempat memberi kecupan di pipi, lalu mengintip layar hp. "Kakakmu, kenapa dia?" Masih memeluk dari belakang, tidak mau bergeser sedikit pun.
"Ia Kak, mengabari Kak Brama kalau ayah dan ibu mau datang, apa dia bisa datang juga, ternyata Kak Brama lagi di luar kota." Mencari nama Harven di phonebook. "Kalau soal ibu ku, ayah dan ibu bisa datang hari ini kok, aku telepon Harven dulu ya, biar dia nggak kaget kalau kita tiba-tiba muncul."
"Baiklah, cepat kembali. Ibu mau membuat baju untukmu juga."
Apa! Belum protes Rion sudah mendaratkan kecupan, lalu berjalan meninggalkannya. Kembali ke tempat ibu. Dia terlihat bicara, menjelaskan pada ibu apa yang Mei katakan.
Tidak! Kenapa aku juga ikut membuat baju!
Sambungan telepon dengan Harven terhubung.
"Hallo Dek apa kabar, kamu lagi di mana? Kak Mei mau datang ke rumah."
Mendengar adiknya bicara. Dia sedang ada di minimarket, berbelanja bahan makanan, karena katanya ibu ingin masak ayam kecap. Deg. Mendengar menu itu disebut, perasaan Mei langsung seperti terserang badai. Itu menu masakan kesukaan ayah, sering ibu masak di akhir pekan, saat ayah dulu masih hidup. Sebenarnya tidak masalah kalau ibu mau memasak itu, tapi, Mei selalu menghubungkan semuanya dengan kondisi ibu yang belum bisa merelakan kepergian suaminya.
"Ibu bilang, dia punya firasat kalau ayah mau pulang Kak, jadi..." Suara Harven terdengar menyayat.
Badai di hati Mei, langsung berubah menjadi gelombang tinggi.
"Dek.. maaf kan Kak Mei." Mei langsung minta maaf, karena Harven pasti berada di situasi yang sangat sulit sekarang. Dan dia tidak ada di sana untuk sama-sama saling menguatkan. "Maaf ya Dek."
"Apa sih Kak, kenapa minta maaf. Aku juga tahu Kak Mei sudah berkorban sangat banyak. Kalau cuma seperti ini, aku juga bisa menghadapi ibu."
Ujung mata Mei menjadi basah tanpa bisa dia cegah. Harven sekarang seperti menggantikan posisinya menjaga ibu.
"Kak, jangan merasa bersalah. Sekarang ibu sudah lebih baik kok. Sungguh. Bisa tinggal bersama ibu saja aku sudah bahagia. Oh ya, Kak Mei kenapa menelepon? aku malah bicara yang tidak-tidak." Di tempat yang tak terlihat Mei, Harven juga memaksakan tersenyum. Memperbaiki intonasi suara, seperti tidak terjadi apa pun.
Mei buru-buru menghapus sisa kesedihan dimatanya. Kalau ayah dan ibu melihat, nanti mereka pasti bertanya-tanya. Mei segera menjelaskan, kalau dia nanti akan datang dengan keluarga Kak Rion. Harven yang kaget memberondong Mei dengan deretan nama barang apa yang perlu dia siapkan untuk menyambut kedatangan tamu.
"Aku perlu membeli apa Kak, camilan? makanan? buah-buahan. Mumpung aku masih di minimarket."
"Nggak usah, biar Kak Mei saja yang beli." Saat menengok, Mei melihat lambaian tangan Rion untuk segera mendekat. "Sudah dulu ya Dek, Kak Mei lagi menemani ibu di toko baju."
Harven pun paham, dan akhirnya panggilan terputus. Laki-laki muda itu bergumam, sambil mendorong kereta belanjaannya. Ahh, apa aku terdengar seperti mengeluh tadi, sampai membuat Kak Mei khawatir. Terkadang, kebiasaan ingin manja-manja dengan Kak Mei, selalu muncul saat mereka bertemu atau teleponan. Jadi tanpa sadar dari suara pasti sudah bisa terlihat. Harven jadi menyesal sudah membuat Kak Mei cemas. Dia akan memperbaiki sikapnya ini pelan-pelan.
__ADS_1
"Ven, kita beli ini juga ya?" Sheri membawa banyak sekali camilan dalam dekapannya. "Buat kita belajar bersama. Hehe."
Ternyata mereka belanja berdua. Sebagian besar isi kereta belanjaan, adalah barang yang diambil Sheri. Harven hanya tertawa lucu dengan semua hal yang Sheri lakukan.
Sementara itu, kembali ke butik pakaian.
Mei bergegas menghampiri ibu yang sedang duduk di sofa, mereka sudah menentukan model pakaian mana yang akan mereka pilih.
"Sudah teleponnya? Bagaimana?" Ibu bertanya.
"Ia Bu, sudah. Cuma mengabari Harven dan Kak Brama. Kak Brama yang nggak bisa datang karena sedang di luar kota."
"Ya, udah, nggak papa, kan bisa bertemu kakakmu lain kali." Ibu menyodorkan buku desain di depannya. "Bagaimana? cantik kan? Nanti Mei juga pakai, biar kita semua serasi."
Apa! Lho beneran aku juga! Aku kan yang mau wawancara kalian.
"Nah, ayah dan Rion sudah selesai, sekarang ukur tubuhmu dulu Mei."
"Tapi Bu, aku nggak usah. Kan nanti kalian bertiga saja yang foto." Mei berkilah, aduh, pasti lucu sekali kalau dia memakai pakaian yang sama persis dengan ibu. Memang orang kantor sudah tahu, tapi kan majalah ini akan dikirimkan pada semua rekanan Andez Corporation. Dia sudah membayangkan, Mona akan dengan isengnya menggodanya.
Tapi, jangankan Mei, Presdir saja menurut pada ibu. Akhirnya Mei ikut mengukur tubuh juga. Ibu menambahkan beberapa detail perhiasan yang ingin dia pakai untuk mencocokan dengan baju dan aksesoris yang sudah melekat di baju.
Ibu terlihat senang sekali, ketika mencoba mendadani Mei. Dengan ini dan itu. Bahkan dia meminta pelayan butik untuk membawakan pakaian kerja yang bisa dipakai menantunya. Ternyata dia sekalian belanja.
"Hoho, ibu kangen banget lho situasi begini. Mei, nanti sering-sering keluar sama ibu ya. Nggak usah ngajak ayah dan Rion." Melirik dua laki-laki yang sama sekali tidak terlihat antusias. Duduk lemas di sofa setelah mereka selesai pengukuran baju. "Mereka nggak seru kalau di ajak belanja." Mengambil baju lain, memilah-milah sambil menempelkan ke tubuh Mei.
"Dih Ibu, Mei kan punyaku. Ibu ajak ayah saja sana." Rion bersandar di sofa dengan malas, hanya menatap Mei seorang. "Cantik, kau cocok pakai baju itu Mei. Bu, biar aku yang bayar punya Mei."
Aaaaaaa!
Menjerit tanpa suara di dalam ruang ganti. Karena ini entah baju yang keberapa yang dicoba Mei. Setiap mencoba ibu selalu bilang lucu, cantiknya, wahh, kamu cocok sekali Mei. Kita ambil yang ini ya. Nanti kamu bisa pakai buat kerja. Yang ini juga, coba Mei, semua dicoba. Hoho, senangnya ibu seperti punya anak perempuan.
Walaupun lelah Gonta ganti baju, entah kenapa hati Mei berdesir dengan hangat. Ibu dan ayah benar-benar orang yang sangat baik. Mungkin kehangatan hati itulah yang menurun pada Kak Rion. Kak Rion yang belum tersakiti Amerla pasti sangat mirip dengan ayah dan ibu.
"Ibu, sudah ya, sudah banyak sekali yang ibu belikan. Nanti saya malah bingung kalau mau pakai yang mana."
Ada yang tertawa mendengar Mei bicara begitu, siapa lagi kalau bukan Rion. Seringainya yang nakal itu terlihat. Pasti kau sedang berfikir, lebih senang aku tidak pakai baju kan? Mei yang tanpa sadar mendelik ke arah Rion. Disambut tawa lebih keras oleh Rion.
"Wahh, kau pintar juga Mei, tahu apa yang aku pikirkan. Haha."
Dasar orang aneh!
Ibu yang sudah melihat setumpuk pakaian yang dia pilih akhirnya mengalah. Menyudahi kerja kerasnya mendadani Mei.
"Hehe, nanti kalau kamu sudah punya anak, ibu bolehkan yang belanja buat baju-bajunya. Kita belanja bareng ya Mei, aahhh, membayangkan saja ibu sudah bahagia. Anak kalian pasti lucu dan menggemaskan seperti kamu dan Rion."
Deg...deg...
"Ia Bu." Mei memeluk ibu. "Terimakasih Bu. Terimakasih banyak."
Dan maafkan aku! Terimakasih untuk semua ketulusan dan cinta yang ibu berikan untuk orang sepertiku.
__ADS_1
Kali ini Mei merasa dirinya sangat serakah, dia tidak mau kehilangan semua yang ada di depannya ini. Kak Rion yang tersenyum jahil tapi memperlakukannya dengan baik. Ayah dan ibu yang sama sekali tidak melihat latar belakangnya, dan menyayangi menantu sepertinya. Membuatnya haru dan tanpa sadar memeluk ibu sambil menangis.
"Lho kenapa kamu menangis Mei. Ia, ia. Ibu sayang sama kamu. Sama seperti ibu sayang sama Rion." Menepuk-nepuk bahu Mei dan memeluknya juga.
Rion yang melihat, hatinya juga berkedut. Jangan sampai ibu tahu alasan apa aku menikahi Mei. Pokoknya, aku harus segera membuat Mei jatuh cinta padaku. aku harus segera menyatakan cinta. Persetan dengan kontrak pernikahan. Aku akan bahagia bersama Mei, selamanya.
Sementara ayah, terlihat memeriksa pesan di hpnya.
"Saya sudah memeriksa semua tempat di rumah Tuan, saya tidak menemukan pil kontrasepsi yang lain. Sepertinya benar, nona sudah tidak meminumnya karena tidak menyadari pil di dalam lemari sudah menghilang."
Pesan dari bibi yang mendapat tugas dari ayah Rion untuk memeriksa rumah. Karen Mei sepertinya tidak terlihat cemas atau khawatir, padahal dia sudah kehilangan pil yang dia minum diam-diam.
"Baiklah, kerja bagus. Bereskan semuanya dan pulanglah."
"Baik Tuan."
Pesan ditutup. Ayah Rion memasukkan hp ke dalam saku kemejanya. Memperhatikan istri dan menantunya yang sedang peluk-pelukkan dengan penuh kehangatan. Aku memang harus memanggil Mei, tapi, kapan aku bisa memanggilnya tanpa Rion. Melihat anaknya yang matanya cuma tertuju pada istrinya. Benar, setelah wawancara. Ayah menemukan waktu yang tepat. Sebelumnya dia akan menyampaikan perkara pil ini dengan istrinya. Dia akan melibatkan istrinya untuk masalah pil kontrasepsi.
Setelah wawancara, dia bisa menahan Mei untuk tidak kembali ke kantor. Rion pasti akan langsung bekerja setelah itu. Ya, ya, ayah akan menyiapkan semuanya.
Ayah juga yang membayar semua belanjaan ternyata. Dia meminta pegawai butik untuk mengirimkan langsung ke alamat rumah. Pembayaran selesai.
"Sekarang mau membeli apa untuk ibumu Mei? Sekalian beli disekitar sini saja?" Ayah sudah meraih tangan ibu, menggandengnya, saat mereka keluar pintu butik. Pelayan menundukkan kepala dan berterimaksih di depan pintu.
Ayah dan ibu berjalan di depan.
Mei baru mau menjawab, saat tasnya bergetar, suara dering hp cukup keras terdengar.
"Siapa?"
Mereka semua berhenti melangkah. Mengimbangi Mei yang berhenti.Saat melihat layar hp, ternyata Harven. Tanpa rasa curiga, Mei mengangkat panggilan. Rion juga merapatkan telinga, untuk mendengar percakapan.
Suara tangis Harven, langsung membuat Mei tersentak panik.
"Ven, kenapa? Harven? kenapa Dek."
"Kak Mei, ibu!" Sepertinya hp terjatuh. "Ibu tenanglah Bu, Bu." Suara Harven yang serak, bercampur tangis. Tapi sepertinya bukan tangis Harven sendirian, itu juga tangisan ibu.
Mei yang semakin panik, mendengar suara wanita.
"Kak Mei, ini Sheri. Kak Mei bisa segera ke sini? Waktu kami pulang dari minimarket, ibu sudah menangis meraung-raung. Harven juga nggak tahu kenapa bisa begini. Dia bingung sekali Kak." Sheri menjelaskan sebisanya.
Setelah menutup telepon. Rion langsung menarik tangan Mei dengan cepat. Di dalam mobil sambil melajukan mobil dengan cepat, Rion menjelaskan permasalahan.
Ibu mendekap Mei, menenangkan menantunya di kursi belakang.
"Lebih cepat Rion." Ayah memukul bahu anaknya. "Fokus ke jalan, Mei dengan ibumu."
Seketika hanya pikiran buruk yang melintas di kepala mereka semua.
Bersambung
__ADS_1