
Waktu perilisan diundur, karena ada beberapa hal yang masih kurang lengkap. Bahkan ada tambahan syuting ulang yang melibatkan karyawan Andez Corporation. Semua anggota divisi lembur hingga larut malam, demi hari esok.
Dan akhirnya, hari ini tibalah.
Semua persiapan sudah selesai, di ruangan aula, sebuah layar lebar terbentang. Launching film promosi, bisa dibilang ini seperti dokumenter Andez Corporation. Akan serentak ditayangkan di semua akun sosial media milik Andez Corporation. Iklan TV pun ada nanti, namun baru akan tayang di akhir pekan. Bersamaan terbitnya majalah perusahaan. Itu pun durasinya singkat sekali kalau untuk iklan TV.
Setelah semua teknis selesai di persiapkan, mereka akan pergi makan siang dulu, Mei berpisah dengan rekan-rekannya yang berjalan ke kantin kantor. Dia hanya nyengir, semua orang sudah paham, ke mana dia akan pergi makan siang.
Mei menundukkan kepala dan tersenyum pada sekretaris wanita di depan ruangan Rion, gadis itu pun menunduk dan tersenyum ramah juga. Tidak beranjak dari tempatnya berdiri, karena kedatangan pimred Merilin ke ruangan CEO sudah menjadi hal yang sangat biasa sekarang. Mei pun tidak perlu di antar lagi. Rion menyuruhnya datang ke ruangannya sebelum jam perilisan. Katanya untuk makan siang bersama.
Mei merapikan rambutnya, refleks mengusap pipi dan bibir sebelum mengetuk pintu, dan mendorong pintu.
"Kak Rion, aku datang." Kepala Mei menyembul ke dalam.
Cring.. kilau, kilau, ada yang bersinar dari arah sofa. Membuat Mei mengerjapkan mata. Senyum cerah pemilik ruangan, yang sedang duduk sambil memangku kaki kanannya ke atas kaki kiri, Rion memiringkan kepala sambil tersenyum lagi.
Apa si Kak? Kenapa kau bersinar.
"Kak..."
"Kau sudah datang? Kemarilah Mei." Tangan Rion terulur.
Di meja di depan Kak Rion sudah ada dua boks makan siang. Mei yang sudah menghampiri Rion, dan mau duduk di sampingnya akhirnya jatuh ke pangkuan Rion karena tarikan tangan laki-laki itu.
"Kakak!"
Rion cuma tertawa saat Mei menjerit kaget.
"Kau lapar? Kenapa buru-buru sekali." Rion mendekap Mei, merasakan setiap bagian tubuh Mei bersentuhan dengannya. "Aku merindukan mu Mei."
Mei mengusap kepala Rion lembut. Lalu mencium kepala bagian kanan.
"Aku kan harus membantu persiapan Kak, kami akan berkumpul di aula duluan, sebelum yang lain." Semua kegiatan hari ini pun akan di abadikan, karena ini momen penting.
Mulut manyun Rion muncul. Walaupun dia tahu kalau alasan itu benar adanya. Mei dan rekan kerjanya akan menjadi yang paling sibuk sekarang. Tapi, bodo amat batinnya, dan seringai dibibirnya yang muncul sudah menunjukkan ketidakpeduliannya. Dan dia mau melakukan apa.
Toh, waktu makan siang masih panjang pikir Rion seenaknya.
"Kak..." Mei sudah menyadari, gelagat mencurigakan dari senyum Kak Rion. "Kita makan sekarang yuk."
"Baiklah," akhirnya Rion mengalah. "Tapi, cium aku dulu. Baru kita makan."
Mulai deh, Mei tertawa kecil. Kak Rion masih saja sering melakukan ini. Minta imbalan untuk semua hal yang sudah dia lakukan untuk Mei. Bagian ini tidak berubah sama sekali, bahkan lebih parah. Dikit-dikit minta hadiah.
"Buka.."
"Kak!"
"Dua kancing atas mu saja."
Rion sudah dusel-dusel membenamkan wajah, bahkan menggigit baju Mei. Akhirnya dengan gerakan perlahan, tangan kecil itu membuka dua kancing kemejanya. Saat sudah selesai dengan dua kancing, terdengar Rion tertawa. Dengan bola mata berbinar-binar, artinya laki-laki itu mau satu kancing terbuka lagi.
Aaaaaa! Apa si Kak! Tapi, kalau dia tidak melakukannya, tidak akan selesai-selesai. Bisa-bisa dia terlambat. Mei benar-benar gemas melihat bola mata berbinar itu.
Dan satu kancing akhirnya terlepas lagi, disambut tawa Rion. Mei memberikan kecupan di wajah, sementara Rion asik sendiri dengan urusannya. Setelah merasa hadiahnya cukup, Mei baru bisa turun, duduk di samping Rion. Kali ini, laki-laki itu berulah lagi, dia merebut sendok di tangan Mei. Menyuapi Mei, silih berganti dia juga ikut makan dengan sendok yang sama.
"Terimakasih ya Mei."
"Kenapa Kak?" Mei sambil mengunyah bertanya, untuk apa terimakasih yang barusan terucap Kak Rion."
__ADS_1
"Karena sudah bekerja keras untuk Andez Corporation, kau memang luar biasa Mei, sejak aku belum mengenalmu, aku sudah tahu, kau memang hebat memimpin rekan kerjamu. Dan melakukan yang terbaik untuk perusahaan."
Pipi Mei yang penuh dengan makanan merona. Bagian hatinya yang selalu berdesir saat Kak Rion mengakui hasil kerjanya. Rasa bahagia itu berbeda, dari saat bibir mereka bersentuhan. Hatinya merasa bangga, karyawan yang diakui hasil kerjanya oleh atasannya.
"Ayah sudah menyiapkan hadiah untuk kalian."
"Benar kak! Apa itu Kak?"
Rion mencubit pipi Mei, karena reaksi gadis itu terlihat senang sekali. Kalau dia yang memberi hadiah dan Mei suka, dia ikut bahagia, tapi karena ini hadiah dari ayahnya jadi dia merasa iri dan cemburu.
"Nanti kalian juga tahu. Tapi, aku juga bisa memberikan lebih dari hadiah ayah itu."
"Hehe, ia Kak, aku percaya, terimakasih ya Kak. Semoga semua orang menyukai film promo kali ini, dan Andez Corporation semakin dikenal orang, klien kita semakin bertambah, dan jadi perusahaan yang nomor satu."
Mendengar kata-kata Mei, hati Rion tersentuh, jadi dia tergerak untuk menyentuh Mei juga. Rion meraih dagu Mei, bibir yang sudah berhenti bergerak karena baru saja meneguk air itu, dia tarik ke arahnya. Dalam sekali hap, sudah dia luma*t tanpa memberikan jeda Mei bereaksi. Akhirnya gadis itu cuma memejamkan mata, menikmati setiap sensasi sentuhan yang Kak Rion berikan.
Begitulah makan siang yang akhirnya menjadi makan-makan yang lain di ruangan CEO, sebelum perilisan film promo.
...🍓🍓🍓...
Para karyawan mulai berdatangan ke dalam aula, riuh rendah mereka membicarakan akan sebagus apa film yang dibuat, mereka penasaran dengan trailer yang sudah ditayangkan dan foto yang sudah diupload untuk memberi spoiler.
Dan hari ini Presdir pun akan datang. Antusias para karyawan bertambah.
Kendra dan rekannya sudah standby di belakang kamera masing-masing. Baim sedang duduk di belakang laptop bersama dengan Mona. Senior Mei juga sedang memeriksa file di laptop. Sementara Mei baru saja selesai mengambil foto. Dia ikut duduk di samping senior.
Suara berisik memenuhi ruangan bersamaan dengan masuknya orang-orang.
Setelah para karyawan memasuki ruangan, Presdir, CEO dan para petinggi perusahaan masuk. Tepuk tangan menyambut kedatangan mereka. Serge yang ditunjuk sebagai MC maju ke depan. Membuka acara. Seperti biasa dia mengucapkan terimakasih dan mengatakan kenapa sekarang mereka berkumpul di sini.
Dan tibalah saatnya acara dimulai.
Tepuk tangan memenuhi ruangan lagi. Mei bangun membawa kameranya, dia dan dua orang lain mengambil foto. Mendokumentasikan semua acara.
"Terimakasih untuk semuanya tanpa terkecuali, yang sudah bekerja keras untuk Andez Corporation." Presdir membuka kata, sambil mengedarkan pandangan ke semua orang bergantian yang ada di dalam ruangan. "Selaku pimpinan, saya mengapresiasi kerja keras kalian semua, pimred Merilin dan rekan-rekannya, yang siang malam lembur dan bekerja untuk memberikan hasil yang terbaik."
Tepuk tangan dari segala penjuru terdengar. Diantara keriuhan itu, pandangan Mei bertemu dengan Kak Rion, senyum hangat yang diberikan Kan Rion tertangkap jelas di hati Mei. Apalagi saat Rion mengangkat ibu jari yang dia tempelkan dibibir untuk Mei. Deg, gadis itu serasa hanyut dalam dunia mereka berdua selama sesaat.
"Film promo ini hanyalah awal, setelah ini semua karyawan Andez Corporation akan mulai bekerja jauh lebih keras. Bagian promosi, para arsitek, serta semua karyawan di lapangan yang sedang membangun desain-desain terbaik yang kalian buat, jadi semakin bersemangat lah untuk semuanya. Saya selalu pimpinan Andez Corporation akan memberikan fasilitas dan reward yang adil, untuk kalian semua yang telah bekerja keras."
Sekali lagi, MC mengajak semua orang untuk bertepuk tangan dan berdiri, sampai Presdir duduk mereka baru kembali duduk.
Dan, saat yang sudah ditunggu-tunggu. Hitung mundur, peluncuran perdana di semua sosial media Andez Corporation. Baim dan Mona siap siaga di posisinya. CEO Rionald maju ke atas podium, untuk memimpin hitung mudur. Serge memberikan ketukan seperti palu.
"Satu... dua... tiga."
CEO selesai menghitung.
Dan semua sosial media menayangkan film bersamaan dengan layar lebar yang ada di depan mereka. Suasana hening, lampu yang redup, hanya cahaya dari layar dan suara dari layar yang terdengar. Rion turun dari podium, untuk kembali ke kursinya. Saat melewati Mei yang sedang menatap layar lebar, tangannya dengan isengnya mampir mencubit pipi Mei. Karena gelap, dia pikir tidak ada yang melihat. Padahal mata menyala para karyawan wanita mengikutinya. Untung tidak ada yang mendadak pingsan, hanya terlihat shock.
"Kakak!" Mei berteriak tanpa suara. Melihat Rion yang duduk di kursinya sambil tertawa. Mei fokus lagi ke layar.
Hasil kerja keras, Mei dan rekan kerjanya, berputar dilayar.
Gedung Andez Corporation dari awal berdiri menjadi pembuka. Adegan berganti wajah-wajah para petinggi perusahaan. Dimulai dari Presdir tentunya, sampai pada jajajaran OB dan cleaning servis, para penjaga dan koki kantin kantor, tim keamanan, semua melambaikan tangan bahagia. Ikut muncul di dalam layar.
Suasana kantor yang nyaman, hubungan antar karyawan yang baik, fasilitas kerja yang mumpuni, hal yang ingin disampaikan, satu persatu muncul di layar.
Dan munculnya, karyawan senior yang sekarang sudah menjabat sebagai direktur utama yang membawahi para arsitek. Dia bicara dengan suara tenang, ditambah efek editing membuat baground di belakangnya adalah gedung Andez Corporation.
__ADS_1
"Saya masuk menjadi karyawan Andez Corporation, setelah saya lulus kuliah. Sebagai orang yang belum berpengalaman menangani proyek penting, Presdir memberikan satu proyek besar untuk saya. Ada banyak keraguan, saya takut salah, saya takut gagal, apalagi saya saat itu masih baru, dan ada karyawan yang jauh lebih berpengalaman dari saya." Dia berhenti sejenak, ditambah editing suasana menjadi terlihat dramatis. "Presdir mendatangi saya, dan mengatakan, Andez Corporation memberikan kesempatan yang sama bagi karyawan baru atau pun lama untuk menunjukkan potensinya. Apa kau pikir aku menunjuk mu tanpa alasan. Beliau meletakan setumpuk kertas di depan saya. Semua itu adalah cetak biru hasil desain saya yang saya kirimkan kepada HRD Andez Corporation, sejak saya masih kuliah. Aku menerima mu bekerja di sini tentu karena alasan juga. Beliau berkata begitu."
Semua orang yang hening menonton mengarahkan satu pandangan, pada sosok wanita bertangan besi yang saat ini duduk tidak jauh dari Presdir. Dialah wanita yang ada di dalam layar. Dia sudah bersama Andez Corporation sejak lama. Sejak dia bukan siapa-siapa, sampai terkenal seperti sekarang. Banyak gedung populer di kota ini, hasil tangan dinginnya.
Andez Corporation memberikan kesempatan kepada siapa pun yang bekerja keras, tanpa mendiskriminasi kau arsitek baru atau pun lama. Kami bekerja di perusahaan yang memperlakukan karyawannya dengan adil. Tulisan tagline muncul beberapa kali di layar.
Setelahnya, bangunan dan gedung yang sudah dibangun muncul, dari rumah pribadi, perumahan, apartemen, sampai gedung asrama karyawan Gardenia Pasifik Mall yang sempat menghebohkan itu. Perumahan yang sedang dibangun pun muncul.
Para tukang bangunan dan mandor lapangan mendapatkan jatah tampil juga.
"Kami siap melayani Anda, hubungi kami di nomor telepon berikut. Apa pun yang ingin Anda bangun, para arsitek dan tim Andez Corporation akan merealisasikan mimpi Anda." Para CS yang berjajar, mengangkat telepon menunjukkan senyum ramah mereka. Siap menyambut para klien baru.
Dan film promo ditutup dengan wawancara Presdir dan keluarga.
Mei menutup wajahnya, karena dia terlihat mencolok sekali dengan pakaian yang senada dengan keluarga Presdir. Pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan ada beberapa yang ditampilkan.
"Andez Corporation akan bekerja keras mewujudkan hunian dan tempat tinggal kalian semua." Menjadi penutup.
Lampu di dalam aula menyala. Tepuk tangan tidak henti terdengar, saat Presdir bertepuk tangan sambil berdiri, semua orang juga ikut berdiri. Semua orang terlihat puas dengan hasil film promo yang selama beberapa hari ini spoilernya sudah membuat penasaran.
Kelegaan dan pancaran kepuasan terlihat jelas di wajah Mei dan rekan-rekan yang lain. Presdir menghampiri tim, dia menjabat tangan satu persatu, dan berakhir pada Mei.
"Terimakasih atas kerja keras kalian, yang sudah membuat film seindah ini." Presdir menepuk punggung tangan Mei. "Selamat Nak, ayah bangga pada mu."
"Terimakasih ayah." Lirih Mei menjawab, pelupuk matanya sudah basah karena perasaan haru.
Dan setelahnya mereka memberi selamat satu persatu, berbaur satu sama lain. Terdengar ketukan mik dari arah podium. Sekertaris Serge sedang meminta perhatian. Semua orang menunggu, apa yang akan dikatakannya.
"Saya akan memberikan info, dari Costumer servis, setelah film promosi ini launching, sudah ada 20 calon klien baru yang meminta janji bertemu."
"Huaaaaa!"
Teriakan dan tepuk tangan memenuhi ruangan. Presdir terlihat puas sekali, sambil bicara dengan para pimpinan lainnya. Mereka keluar dari ruangan. Sementara karyawan lainnya masih berisik, bahkan ada yang meminta film diputar ulang pada Kendra. Alhasil layar kembali menyala.
Dan disudut yang lain.
"Selamat Mei." Rion mencium pipi kanan. "Kau dan rekan kerjamu telah bekerja keras."
"Terimakasih Kak. Kakak juga, sudah bekerja keras."
Rion menoel dagu Mei.
"Aku akan memberimu hadiah istimewa nanti." Wajah Mei langsung memerah. "Hadiah yang cuma bisa diberikan olehku." Rion mengedipkan mata sambil menyeringai. Kalau Serge tidak mendekat entah apa yang akan dilakukan Rion pada Mei ditengah keramaian orang itu.
...🍓🍓🍓...
Sementara itu, ditempat terpisah.
Di ruang kerja CEO Andalusia Mall. Ibram yang membenci Andez Corporation tapi selalu penasaran dengan perusahaan itu. Dia selalu meluangkan waktu mengintip akun sosial media milik perusahaan yang sudah menolak bekerja sama dengannya. Itulah, benci tapi penasaran. Berharap, kalau Andez Corporation mau melirik perusahaannya lagi. Tapi dia tetap benci.
Cih, dia mendengus. Saat film promo perusahaan mulai tayang. Semua masih aman terkendali. Pencapaian hebat Andez Corporation dari tahun ke tahun tampil di layar. Reaksi wajahnya masih biasa saja.
Tapi, wajahnya mulai berubah, saat wawancara Presdir dan keluarganya muncul di layar. Jawaban panjang Presdir saat membangun perusahaan miliknya membuat hatinya bergetar. Apalagi saat dia menyebut keluarga dan istrinya sebagai alasan kesuksesannya. Selama ini, pikiran Ibram tidak pernah sampai di titik itu. Baginya kesuksesannya adalah hasil kerja kerasnya.
"Bahagiakan keluargamu, cintai dan bahagiakan istrimu, makan kesuksesanmu akan mengalir begitu saja, seperti sudah Tuhan bukakan jalannya."
Tangan Ibram bergetar, bibirnya pun berkedut. Samar dia menyebut nama Erla sambil matanya masih melihat layar laptopnya.
"Erlaku, istriku." Gumamnya pelan.
__ADS_1
Bersambung