
Setelah teman-teman ibu bangun dari keterkejutan, mereka jadi ramai bicara dengan satu sama lain. Teman-teman yang dekat dan akrab dengan ibu bukan sebatas berkumpul atas nama perusahaan, sudah duduk menggerombol mengelilingi ibu dan Mei. Meminta pertanggung jawaban, dan menyuarakan protes.
"Bisa-bisanya ya, kau menikahkan anakmu Rion tidak mengundang kami!"
"Hisss, Yurika, jadi kita gagal jadi besan. Hiks, padahal anakku tiap aku mau pergi denganmu selalu titip salam." Walaupun tidak pernah mendapat balasan dari Rion sekalipun.
"Pantesan kamu cuma senyum-senyum pas ada yang menawarkan perjodohan pada anakmu Rion, ternyata dia sudah menikah."
"Benar, padahal biasanya dia yang paling sering curhat, kapan ya anakku menikah. Kenapa ya Rionku nggak mau datang ke perjodohan."
Dan banyak protes mengudara, namun diantara protes, kebahagiaan karena sahabatnya bahagia juga ikut mengudara, diselingi juga dengan doa dan ucapan selamat untuk ibu maupun Mei.
Lalu ibu menjelaskan pada teman-temannya permasalahan yang ada, sambil mengusap kepala Merilin penuh kasih sayang.
"Pesta pernikahan menunggu ibunya Mei sehat, kalian doakan semoga semua lancar ya. Nanti aku undang kalian semua."
Ibu juga meminta tolong pembicaraan tentang ini antara mereka saja ya, aku hanya mau pamer pada kalian karena menantuku imut dan cantik begini begitulah ibu bicara. Ibu sampai membuat Mei malu, karena dari tadi gadis itu dipuji-puji ibu dengan sangat berlebihan. Menantunya yang baik dan berhati hangat. Menantunya yang sudah membuat anaknya bahagia. Dan deretan kasih sayang yang coba ia tunjukkan pada semua orang. Bahwa pernikahan Mei dan Rion yang belum dipublikasikan, bukan karena restu atau tidak diterimanya Mei dalam keluarga.
Karena ibu menunjukkan kepada semua orang, betapa dia sangat menyayangi menantunya.
Mei merasakan punggungnya panas. Dia bisa menduga, siapa yang sedang membakar punggungnya sekarang dengan tatapannya yang menyala.
Apa dia marah padaku? kenapa? karena laki-laki yang selama ini sangat mencintaimu sudah move on dan menikah dengan wanita lain. Harga dirimu merasa tercoreng ya, karena mantan yang kau campakkan menikah dengan wanita yang tidak secantik dirimu.
Padahal kau yang mencampakkan Kak Rion, gara-gara kau, Kak Rion jadi melampiaskan semuanya padaku tahu. Hah! mau kesal, tapi rasanya tidak sanggup kesal pada wanita secantik itu gumam Mei pelan. Sambil masih meladeni pertanyaan teman-teman ibu. Pikiran Mei juga ke mana-mana.
Obrolan antara ibu dan teman-temannya berakhir, saat panita mengatakan acara selanjutnya akan dimulai.
Merilin berharap, dia tidak akan bicara berdua secara pribadi dengan wanita itu. Baginya sudah cukup dia tahu, sosok wanita yang sudah menghancurkan Kak Rion. Wanita yang bertanggung jawab atas lepasnya mimpi Kak Rion, pada sesuatu yang dia cintai dari kecil. Mei tidak ingin mencaritahu lebih dari ini. Karena dia takut, malah dia yang akan merasa sakit hatinya nanti. Rasa penasarannya sudah terobati.
Dia sangat cantik dan anggun, jadi seperti itulah selera Kak Rion tentang wanita. Ya, ya, aku jadi seperti daun kering di samping gadis secantik itu.
__ADS_1
...🍓🍓🍓...
Selain sumur bor, mereka juga membawa bantuan perlengkapan sekolah, makanan ringan dalam kantong plastik besar juga dibagikan. Snack-snack yang jauh lebih membuat anak-anak gembira, dibandingkan dengan perlengkapan sekolah yang mereka terima.
Para ibu-ibu penduduk desa juga mendapatkan hadiah door prize, dari tanya jawab, dari panitia. Entah apa hadiahnya, karena dibungkus dalam kotak-kotak berlapis kertas pembungkus kado. Acara semarak dan meriah, semua orang terlihat sangat bahagia. Tidak tua maupun muda.
Jadi untuk ini ibu memberiku pakaian lapangan.
Blous yang agak longgar, dipadu dengan celana panjang. Ibu bahkan memberikan sepatu kets untuk Mei pakai. Waktu memakainya di rumah tadi Mei sedikit bertanya, apa dia tidak salah kostum. Tapi setelah acara kedua, permainan bersama anak-anak dimulai, dia merasa sangat beruntung memakai pakaian ini.
Saat panitia bertanya, apa ada yang mau ikut perlombaan, kepada ibu-ibu pengusaha, Mei refleks mengangkat tangannya. Ibu menganggukkan kepala dan memberi semangat pada Mei. Para wanita yang usianya tidak jauh dari Mei, didorong maju oleh ibu-ibu mereka untuk ikut bermain. Mewakili nama perusahaan masing-masing.
Gadis cantik itu masih dengan anggun duduk di kursinya, masih menatap Mei dengan tatapan yang cuma bisa diartikan oleh Mei, kecemburuan dan kemarahan. Ya, Amerla tidak tertarik ikut berbaur dengan acara kekanakan itu. Dia datang ke tempat panas ini juga karena perintah mertuanya.
Saat mendengar ibu Kak Rion juga akan datang, gadis itu bahkan menebar harapan untuk bisa menyapa dan bicara padanya. Tapi, kenapa malah seperti ini. Amerla menatap tajam Merilin, dengan bibir bergetar, menghina sosok Merilin.
Lucu sekali, menantu kesayangan. Haha, apa ibu Kak Rion tidak bercanda. Bagaimana mungkin Kak Rion menyukai gadis jelek seperti itu. Amerla mencengkeram kursi yang sedang dia duduki. Hawa panas udara, tidak lebih panas dari rasa kesal dan kecemburuan di hatinya.
Sepanjang perlombaan, Mei masih bisa merasakan tatapan menusuk itu di punggungnya. Tapi dia pura-pura tidak tahu dan menyadari, hingga tatapan mereka belum pernah bertemu sekalipun. Gadis itu fokus dengan perlombaan.
Ada lomba lari estafet bendera, ada lomba memukul balon yang diisi air, ada lomba adu cepat menjawab judul lagu sambil memperagakan dengan berjoget. Lomba membawa bola kecil dalam sendok yang digigit di dalam mulut juga ada.
Sebagian besar lomba Mei ikuti bersama anak-anak. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok, yang lebih dewasa menjadi ketua kelompok.
Seperti bocah yang melupakan beban hidupnya selama ini, Mei berteriak menyemangati anggota kelompoknya. Ikut berteriak kencang memberi instruksi pada anggota lain. Tertawa terbahak saat balon pecah dan airnya muncrat membasahi mereka. Gadis itu tidak tahu banyak judul lagu, tapi ikut bergoyang memperagakan mencontoh anggota lainnya. Dia seperti bocah bebas tanpa beban kehidupan.
Ibu bertepuk tangan melihat kegembiraan Merilin.
Dia memang polos sekali, imut dan menggemaskan. Ibu lalu mengoceh lagi pada teman-teman di sampingnya, tentang menantunya. Tentang bagaimana bahagianya anaknya sekarang.
Dan acara perlombaan ditutup dengan bermain hujan, air yang menyembur dari selang tinggi dari sumur bor hasil sumbangan perusahaan. Anak-anak berlarian dan loncat-loncat setelah mendengarkan pengumuman kemenangan. Rata-rata semua kelompok mendapat hadiah, karena lomba ini memang hanya untuk seru-seruan.
__ADS_1
Mei sambil melambaikan tangan, tertawa pada anggota kelompoknya tadi. Asisten wanita Presdir mendekat, membawa handuk untuk menyapu air yang masih menyisa di wajah Mei.
Keringat membasahi kening Merilin, dia meneguk minumannya. Walaupun hari ini melelahkan, namun melihat senyum anak-anak yang berlarian di bawah Air yang menyembur ke langit, rasanya semua kelelahan itu terobati.
"Nona, silahkan."
Mei meraih handuk dan berterimaksih. Menepuk-nepuk bahunya yang basah. Mengusap wajahnya.
"Apa Anda sudah mau mandi?"
"Aku tidak membawa pakaian ganti senior, maaf, aku tidak tahu akan basah-basah seperti ini." Apa tidak apa-apa aku naik mobil ibu dengan pakaian begini ya, Mei bergumam sendiri sambil menghabiskan minumannya.
"Saya sudah menyiapkan semuanya Nona, Apa Anda mau saya antar sekarang?"
Hah! Dia menyiapkan baju ganti untukku juga.
"Terimakasih Senior." Malu-malu Mei bicara. "Terimakasih sudah memperhatikan saya juga." Padahal mereka tidak saling mengenal, bertemu di kantor pun hanya sekenanya saling menundukkan kepala.
"Ini sudah tugas saya Nona."
Ah, dia bahkan tidak bertanya apa pun padaku, kata-kata ibu sepertinya benar-benar berpengaruh padanya.
"Kalau begitu, aku bilang sama ibu dulu ya kalau mau mandi."
"Baik Nona."
Mei kembali lagi setelah menghampiri ibu, lalu keduanya berjalan menuju salah satu rumah penduduk. Tas pakaian ganti di pegang oleh staf presdir.
Dibelakang Mei dan staf presdir, seorang gadis berjalan mengikuti mereka. Sepertinya harapan Mei untuk tidak disapa secara pribadi oleh Amerla lagi-lagi hanya mimpinya saja. Karena Amerla berjalan mengejarnya sampai ke rumah penduduk, tempat dia mandi.
Bersambung
__ADS_1