
Dan tak terasa dua hari lagi, waktunya wawancara keluarga Presdir Andez Corporation. Mei dan lainnya selama dua hari kemarin lembur, menyelesaikan semua konsep. Karena ada tambahan dari pimpinan, diluar dugaan dan kendali mereka.
Hari ini mereka akan mulai bekerja langsung di rumah Presdir.
Dan seperti biasa, saat Mei mau berangkat bekerja, CEO paling tampan di Andez Corporation itu masih tengkurap di tempat tidur. Kali ini dia sudah membuka mata. Wajah tampannya semakin tampan saat dia mendorong rambutnya ke belakang.
"Kak hari ini aku akan mulai syuting di rumah ayah, mungkin aku akan terlambat pulang lagi." Mei bicara di dekat telinga Rion setelah memberikan kecupan selamat pagi.
"Lagi, cium lagi. Kenapa bibirmu? Tidak mau?" Rion ketus bicara saat melihat ekspresi Mei.
Mei yang baru manyun segera meringis dan tersenyum. Merubah setelan wajahnya dengan cepat.
"Mana mungkin aku tidak mau Kak, kecupan selamat pagi sesuatu yang selalu aku nantikan setiap pagi Kak sekarang. Hehe." Sebenarnya saat ini Mei bicara dengan jujur, tapi Rion mendengus tidak percaya.
Mei selalu terlihat melakukannya karena terpaksa di mata Rion. Bagi Mei, ini hanyalah rutinitas, ya, Kak Rion kan menyukai sentuhan. Itu saja, tanpa ada maksud yang mendalam apalagi cinta.
Mei menorehkan kecupan demi kecupan untuk membuktikan kata-katanya kalau dia menyukai rutinitas pagi ini. Terserah dimana pun bibirnya mau menempel, cukup lama saat bibirnya menempel di kening. Bahkan torehan lipstick membekas merah di kening. Walaupun tidak terlalu terlihat, karena Mei hanya memakai make up tipis.
Dia tampan sekali si, aaaaa! Walaupun setiap hari melihatnya, suamiku semakin tampan. Hehe, Merilin! Kau benar-benar sudah jadi fans bar-bar ya?
Mei sudah turun dari tempat tidur sambil berdehem.
"Aku pergi ya Kak."
"Tidak usah pulang sekalian." Gadis itu tersentak kaget saat Rion bicara.
"Maaf Kak, apa aku salah?" Kenapa sampai aku tidak boleh pulang? Mei duduk di tepi tempat tidur lagi. Cemas, apa karena aku beberapa hari ini pulang terlambat. Tapi walaupun terlambat, aku kan selalu pulang lebih dulu dari dia. "Aku..."
Rion tertawa melihat ekspresi takut Mei. Gadis di depannya belum berubah. Walaupun aku sudah mengatakan dengan jelas statusnya sekarang sebagai istriku, dia masih saja takut membuat kesalahan.
"Aku minta maaf Kak karena beberapa hari ini banyak sekali yang harus disiapkan." Gadis itu sudah menyentuh tangan Rion. "Tapi, ini benar-benar karena urusan pekerjaan."
"Lucunya. Haha."
"Hah?"
"Aku akan menyusul mu ke rumah ibu, kita tidur di rumah ibu saja sampai hari wawancara."
"Hah?"
"Haha. Bodoh."
Mei mengelus dada lega setelah mencerna kata-kata Rion, dia pikir dia diusir tadi karena pulang selalu terlambat. Kenapa kau bicara putus-putus si Kak! Gemas sendiri karena Rion malah tertawa senang dengan kesalahpahamannya.
Setelah Rion berhenti tertawa, Mei bangun.
"Aku pergi ya Kak." Menyambar bibir Rion beberapa detik tanpa diminta, lalu lari ke pintu. Tidak melihat wajah memerah dan kaget Rion. "Sampai jumpa nanti. Hehe. Kakak juga bangun, sudah siang! Mentang-mentang CEO!" Langsung menutup pintu sama kerasnya dengan teriakannya. Sampai membuat bibi yang sedang ada di dapur kaget.
Mei tertawa, memuji keberaniannya barusan. Hehe, dia tidak akan marah kan? Hehe, aku kan sekarang sudah dia anggap istrinya.
Bibi ikut tersenyum saat melihat nonanya senyum-senyum sambil makan sarapan.
Sebentar lagi Mei, ayo katakan perasaanmu dengan tulus. Katakan kau mencintai Kak Rion dengan tulus. Kau harus yakin Mei, ketulusan bisa meruntuhkan dinding menjulang sekalipun kan. Mei berdoa dalam hati, semoga semua lancar sampai hari pengakuan cintanya nanti. Setelah wawancara.
...🍓🍓🍓...
__ADS_1
Raut wajah setiap orang menyambut pagi hari memang beraneka macam di kantor. Tapi, terkadang, dari ekspresi mereka itulah, bisa terlihat bagaimana suasana hati mereka.
Dan perusahaan atau atasanmu, tidak akan perduli dengan suasana hatimu. Karena yang mereka butuhkan adalah dedikasi dan kerja kerasmu, sesuai gaji dan semua fasilitas yang sudah diberikan perusahaan padamu.
"Jadi, semangat Mona!" Teriakan gadis itu melengking dengan suara keras tapi tubuhnya lemas bersandar di lift, dia sedang ada di lift barang. Entah apa yang dilakukan Mona, tapi sepertinya dia kurang tidur.
Kendra dan Mona membawa turun dua boks yang ukurannya lumayan besar dari ruangan arsip. Isinya majalah dari edisi pertama sampai edisi bulan kemarin. Kenapa mereka membutuhkan itu semua? Karena selain wawancara untuk majalah, Direktur dan divisi promosi dengan entengnya menyuruh mereka sekalian membuat film promo perusahaan.
"Kesempatan langka seperti ini mau kalian sia-siakan, apalagi kalian akan wawancara di rumah Presdir." Direktur memberi ide tapi sudah seperti sebuah perintah. "Manfaatkan ini dengan sebaik mungkin, buatlah film pendek sekalian Vidio wawancara."
"Benar, buat sekalian film pendek, aku akan mengirim satu staf promosi yang bisa diperbantukan di bagian majalah." Manager divisi promosi menimpali. "Dan juga ada satu orang lagi yang aku kirim dari bagian keuangan."
Dan akhirnya, inilah yang mereka lakukan sekarang. Semua bahan ini dibutuhkan sebagai penunjang dan tambahan untuk membuat film.
"Kak besok kita langsung berangkat ke rumah Presdir kan, nggak perlu ke kantor dulu." Mona maunya begitu.
"Memang kau tidak absen?"
"Aaaaaa!" Menyandar lagi di tembok lift.
Pintu lift terbuka, mereka diam lagi sambil mendorong boks menuju ruangan.
Memang si, sangat jarang Presdir mau diekspos sedemikian rupa, jadi bagian promosi juga tidak mau rugi. Tapi, sialnya bagian majalah yang harusnya hanya mengerjakan satu deadline jadi diserang pekerjaan baru.
Di dalam ruangan saat Mona dan Kendra masuk, Mei sedang rapat dengan dua orang senior. Satu laki-laki staf bagian promosi, mereka sudah saling kenal. Satunya perempuan dari bagian keuangan. Tidak terlalu akrab dengan mereka sebelumnya, kenapa dari bagian keuangan bisa nyasar kemari, katanya dia memiliki kemampuan grafis yang bagus. Katanya lagi, dulu dia pernah bekerja di perusahaan game. Jadi dia ikut diperbantukan untuk pembuatan film.
Baim sudah meletakan semua peralatan yang akan mereka pakai ke dalam kardus dan boks besar. Mendorongnya ke dekat pintu. Dari matanya, dia juga sepertinya terlihat lelah. Persis seperti mata Mona.
Setelah memasukan barang penunjang, mereka siap berangkat ke rumah Presdir.
Hari ini mereka akan memasang properti dan mengambil foto dan vidio untuk film. Intinya mereka belum akan menfoto Presdir dan nyonya, tapi hanya numpang lokasi saja untuk mengambil gambar pendukung. Semua ini demi film promo perusahaan.
Di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Mona di kursi belakang sambil sandaran santai bicara. Memulai obrolan supaya perjalanan tidak sunyi dan senyap.
"Mei, bagaimana nyonya kalau di rumah? Aku penasaran bagaimana sikap beliau padamu?" Mona membuka obrolan, senior di kursi depan menoleh antusias juga. Hehe, bukan mereka berdua saja. Semua karyawan Andez Corporation sangat penasaran bagaimana Pimred Merilin saat berada di rumah bersama CEO dan orangtuanya. Bagaimana Mei diperlakukan sebagi menantu oleh orangtua CEO. "Apa beliau baik padamu?"
Menyalip mobil di depannya, karena mereka tertinggal jauh dengan mobil yang dibawa Kendra.
"Presdir dan ibu sangat baik padaku. Dan, mereka benar-benar pasangan yang sangat romantis, sampai membuat iri. Hehe." Mona tertawa, dia percaya si, tapi memang mau meledek Mei saja. "Benar kalau kau tidak percaya, besok lihat waktu wawancara. Pasti kalian kaget."
"Hehe, ia aku percaya. Cerita itu kan cukup populer. Makanya aku heran, bagaimana bisa mantan CEO, Amerla memakai Presdir punya istri muda untuk menfitnahmu. Aaaaa! Benar-benar orang gila." Mona jadi sedikit emosi kalau ingat itu, dia menjatuhkan kepala tiduran sambil mengomel. "Dasar orang gila aneh. Mantan kok gitu."
Reaksi kaget ditunjukkan senior di sebelah Mei. Wanita itu sedang bereaksi pada nama Amerla yang secara tidak sengaja disebutkan Mona. Dia mau bicara, tapi sesaat ragu, tapi akhirnya bicara juga.
"Apa kasus kantin kantor disebabkan Amerla?" Pelan dia bertanya sambil memandang Mei. Tatapannya terlihat sangat penasaran. "Ah, maaf, aku bukannya mau ikut campur, sebenarnya aku pernah bekerja pada CEO Rionald saat dulu dia jadi pimpinan di perusahaan game. Dan aku kenal dengan Amerla."
Deg.
Tangan Mei mencengkeram kemudi. Apa ini? Berarti senior di sampingnya ini saksi hidup, saat Kak Rion pacaran dengan Amerla kan. Ah, bagaimana ini, aku penasaran sekali.
"Senior......"
"Mei, kau tidak mau bertanya bagaimana hubungan CEO dengan gadis itu kan? Itu sudah tidak penting Mei. Kau tidak perlu penasaran dengan mantan, nanti kau yang akan kepikiran sendiri." Mona memberi nasehat.
Benar si, tapi aku penasaran! Aku penasaran bagaimana Kak Rion dulu.
__ADS_1
"Apa si Mon, aku cuma penasaran kok. Lagian, aku kan sudah tahu, kalau Kak Rion sudah move on." Memandang seniornya penuh harap. "Ya, daripada bengong kan, lebih baik mendengar cerita senior kan. Hehe." Bola mata Mei mengerjap lagi sebelum memandang lurus ke depan.
Senior Mei bergumam imut sekali. Sebenarnya dia termasuk dalam jajaran orang-orang yang tidak percaya kalau CEO menikah dengan Merilin, kenapa? Karena dia sedikit banyak tahu selera CEO. Gadis cantik dengan aura mematikan seperti Amerla. Wanita yang selalu menjadi pusat perhatian karena kecantikan parasnya, di mana pun dia berada. Seperti itulah sosok pacar CEO dulu.
Tapi, setelah bicara langsung dengan Merilin, gadis ini seperti rumornya, baik dan menyenangkan. Dan juga rendah hati, bahkan dengan statusnya sebagai istri CEO dia bukan gadis gila hormat yang ingin dipanggil nona muda. Bahkan dia sendiri yang baru berinteraksi secara langsung begini disuruhnya memanggil namanya saja.
"Senior, please, sedikit saja, bagaimana Kak Rion dulu."
"Mei!" Mona berteriak dari belakang. "Aku juga penasaran. Kikiki." Mona terkikik di kursi belakang. Dia juga penasaran, sangat penasaran. Seperti apa Amerla itu, wanita gila mantan CEO yang mau kembali pada CEO padahal dia sudah menikah.
Dan senior akhirnya terbujuk dan mulai bicara, mencoba mengingat kenangan lama itu.
"Awal aku pindah ke Andez Corporation aku juga terkejut, karena bertemu Sekretaris Serge." Dia keluar dari perusaan game yang sudah berpindah pimpinan, karena merasa tidak nyaman dengan situasi kerja yang baru. Dan diterimalah dia di Andez Corporation. "Lebih-lebih saat melihat CEO. Aku tidak tahu kalau Tuan Rion dari keluarga konglomerat. Aku benar-benar terkejut."
Mei dan Mona memberi reaksi tercengang dengan cara mereka masing-masing.
Apa Kak Rion menyembunyikan identitasnya selama ini.
"Bagaimana mereka bisa putus?" Mei langsung menembak pada inti yang paling ingin dia ketahui.
Bagaimana Amerla telah menyakiti hatimu Kak, sampai kau menjadi laki-laki berhati dingin yang bahkan tidak mau tahu sekitarmu. Mei dihujani penasaran. Apalagi saat seniornya terdiam dan belum melanjutkan kata-katanya. Kak Rion yang bahkan tidak kenal pada tetangga, yang memilih menikahi boneka. Yang menganggap wanita akan mengkhianatimu semua. Aku penasaran!
"Ah tidak jadi ah, aku takut. Nanti nasibku seperti orang-orang yang dipecat karena kejadian kantin kantor." Senior berubah pikiran.
"Senior!" Mei dan Mona menjerit bersamaan, emosi sudah diujung tanduk, eh malah yang mau membocorkan rahasia negara bilang nggak jadi ah. Tahu kan rasanya, pengen nabok pakai kepalan tangan rasanya.
"Kami nggak akan cerita ke siapa-siapa senior! Sungguh, ia kan Mei. Mei, kamu kan istrinya CEO ngamuk donk."
Sekarang yang duduk di depan tertawa bersamaan. Mona sudah emosi jiwa saking penasarannya. Setelah terdiam beberapa waktu, akhirnya senior memutuskan bicara juga.
Dan akhirnya, mengalirkan seperti air, cerita hari itu, hari dimana Amerla mengumumkan pernikahannya dengan CEO Andalusia Mall di depan semua orang. Padahal saat itu statusnya, dia masih pacaran dengan Tuan Rion. Hanya karena malas bicara berulang kali, kepada kami teman kantor dan Tuan Rion. Hari itu aku melihat Tuan Rion menahan malu dan sakit hati bersamaan. Senior berusaha menggambarkan kejadian waktu itu. Baik ekspresi Amerla maupun kesedihan Tuan Rion.
"Aku terkejut saat melihatnya pertama kali. Imejnya sangat berbeda dengan dulu. Ah, waktu bekerja di perusahaan game, kami memanggil dengan sapaan akrab. Aku memanggil CEO dan Sekretaris Serge dengan panggilan kakak. Dia benar-benar berubah tidak seperti orang yang aku kenal."
"Apa kalian pernah saling menyapa? Senior dan Kak Rion. Kalian pernah berinteraksi kan?"
Mobil sudah masuk ke dalam komplek rumah Presdir. Jalanan mulai lengang, bangunan megah mulai terlihat di kanan dan kiri jalan.
"Tidak Mei, mungkin beliau tidak mengingatku. Aku hanya menyapa Sekretaris Serge."
Bahkan dia tidak diingat Kak Rion. Apa kenangan di perusahan Game itu sangat menyakitkan. Padahal perusahaan itu impian Kak Rion.
Tapi, saat apa yang diceritakan senior digambarkan Mei di kepala, dia memegang kemudi dengan marah. Apa yang sudah dilakukan gadis itu tidak bisa dimaafkan begitu saja. Dia saja marah, apalagi Kak Rion yang memang tulus mencintainya saat itu.
"Wahhh, gila! Gila! Aku ingin menampar wanita itu Mei. Bisa-bisanya dia menyakiti hati CEO sejuta fans. Wahh, kalau sampai berita ini sampai ke telinga fans bar-bar, habis itu manusia bernama Amerla jadi bubur." Mona sedang melindungi idolanya yang tersakiti.
Mobil berhenti di depan gerbang. Penjaga gerbang langsung menundukkan kepala dalam saat Mei menurunkan kaca spion.
"Nona Muda, mohon maaf. Silahkan masuk."
Mereka masuk ke halaman rumah Presdir.
Akhirnya aku tahu, rahasia Kak Rion. Mei seperti mendapatkan senjata baru, untuk menaklukan hati Kak Rion. Dia tidak akan pernah menjadi wanita seperti Amerla. Dia berjanji pada dirinya sendiri.
"Ingat ya, ini rahasia kita bertiga." Senior memukul bahu Mona, sambil tersenyum. Tapi senyumnya mengancam. "Keselamatanku tergantung kalian. Hehe."
__ADS_1
Bersambung