Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
183. Maaf


__ADS_3

Bagi Amerla, situasi yang ada di depannya sangat membingungkan.


Apa-apaan ini? Kenapa kau tiba-tiba berlutut?


Ditengah kebingungan Erla, Ibram mengangkat sedikit kepalanya melihat Erla. Gadis itu kembali tersentak kaget. Ketika pandangan mereka bertemu wajahnya menjadi lebih pias.


Apa ini cara baru mu untuk menyiksa ku Kak? hanya itu yang langsung terbersit di kepala Erla. Tapi... entah kenapa gadis itu pun ragu.


"Maaf, Erla.." Dua kata itu terucap lagi, dari bibir Ibram. Erla masih belum memberikan reaksi selain keterkejutan.


Kenapa kau minta maaf Kak? Apa kau sedang bercanda sekarang?


Aku harus menanggapi bagaimana? Kalau aku bicara, kau akan tersinggung tidak nantinya. Gadis yang masih berdiri di depan pintu, bingung harus bereaksi bagaimana. Apa dia harus bilang, tidak apa-apa, atau memilih diam saja. Karena kalau sedang kesal, Kak Ibram bahkan akan tersinggung walaupun dia hanya terdengar menghela nafas. Dia akan dianggap mengacuhkan Kak Ibram.


Dan saat dia merasa tersinggung, deg, rasa sakit yang tak kasat mata, langsung menjalar di tangan Erla. Dia seperti sudah merasakan sakit itu, walaupun Kak Ibram terlihat di depannya sedang berlutut dan tidak menyentuhnya sekalipun.


Apa? Kau mau aku bereaksi seperti apa? Atau aku boleh bersikap sombong sekarang?


Saat Erla masih terdiam, Ibram bicara lagi. Mencoba menunjukkan penyesalan di hatinya melalui kata-kata. Walaupun ditunjukkan dengan sangat jelas, namun luka di hati Erla yang masih terlalu dalam, hingga dia mengartikannya berbeda. Gadis itu masih merasa, penyesalan Kak Ibram sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak mungkin terjadi, tanpa maksud apa-apa.


"Erla, maaf. Maafkan aku. Aku tahu, aku tidak pantas untuk dimaafkan." Erla sebenarnya sedikit berdebar hatinya, namun perasaan takut melarangnya untuk berfikir positif. Gadis itu masih tidak percaya, kalau Ibram minta maaf dengan tulus. Erla masih curiga, ini cara laki-laki itu mengujinya. Untuk menyiksanya lebih, kalau reaksinya, bukan apa yang diinginkan Kak Ibram. "Aku bersalah pada mu Erla, aku sudah melukai hati dan tubuh mu. Maafkan aku." Wajah yang terlihat merasa bersalah itu mendongak. Tangannya terangkat, terulur ke arah Erla. Tapi gadis itu belum bergerak, dan hanya melihat. "Erla tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."


Erla menatap tangan Ibram yang menggantung di udara. Dia tidak berani meraih tangan itu.


"Ke..kenapa Kak Ibram minta maaf?"


Hening, mereka saling pandang. Berusaha menyelami keinginan satu sama lain. Erla semakin tidak percaya, saat mata yang biasanya dipenuhi nyala itu menjadi sayu.


"Aku sudah menandatangani surat perceraian Kak, tinggal Kak Ibram tanda tangan juga, setelah surat itu masuk ke pengadilan, maka hubungan kita hanya akan menjadi masa lalu." Sambil bicara, sambil berdiri tegak dan menahan hatinya sendiri supaya tidak berdebar takut. "Presdir dan nyonya juga ingin begitu kan."


Tangan Ibram yang menggantung di udara, terkulai. Jatuh ke pangkuannya. Dia menatap Erla, sorot matanya masih sendu, namun karena Erla merasa sudah memprovokasi, dia jadi takut. Kak Ibram tersinggung. Tapi, saat Kak Ibram hanya menatapnya. Erla mengumpulkan keberanian untuk bicara lagi.


"Aku mohon Kak, kita sudahi semuanya di sini. Aku mohon, berhenti di sini. Aku sudah tidak kuat lagi." Berusaha bicara dengan tegas, walaupun punggung tangan Erla menyapu sudut matanya. "Aku akan berdoa, demi kebahagiaan Kakak dengan istri baru Kakak. Aku mohon Kak, lepaskan aku."


Deg.. deg.. Rasa takut menjalar lagi. Kalau dulu, dia menantang begini, Ibram pasti akan berteriak di depan mukanya. Mendorongnya ke atas tempat tidur, dan plak, plak! Rasa pedih yang menjalar di pipi. Sambil mulut Kak Ibram berkali-kali mengatakan, kalau dia wanita tidak tahu diuntung. Memang bisa apa kau tanpa aku. Kau itu tidak tahu diri. Kau punya apa kalau tidak ada aku. Dan, plak! Plak!


Saat Ibram mendongak lagi, Erla tanpa sadar meraih handle pintu. Terkunci. Dia masih sempat tertawa, menertawakan dirinya, dan tertawa untuk sekretaris Ibram yang tadi sempat menawarkan simpati. Sekretaris sialan! Kau memang tidak berbeda dengan orangtua ku. Padahal sebenarnya, pintu apartemen Ibram akan otomatis terkunci jika pintunya tertutup. Namun, gadis itu sudah kehilangan kepercayaannya pada semua orang. Dan dia pun tidak tahu, kalau Sekretaris Ibram masih berdiri di depan pintu dengan wajah tegang.


Walaupun dia sudah disuruh pergi ke alamat yang dikirimkan Ibram tadi, namun, rasa empatinya membuatnya menunggu. Kalau terjadi hal yang paling tidak dia inginkan, dia sepertinya siap kehilangan pekerjaannya.


Kembali ke dalam apartemen. Suasana menjadi hening, namun Erla merasakan suhu udara meningkat, dia melepaskan tangannya dari handle pintu, saat menoleh ke arah Kak Ibram, laki-laki itu menatapnya tanpa bergeming.


"Kak! Maaf.. Maafkan aku." Sadar tidak bisa kabur, akhirnya menyelamatkan diri menggunakan kata maaf.


Sebenarnya agak kaget, ketika melihat Ibram masih berlutut di tempatnya.


Dia masih diam saja?


"Erla, aku mencintai mu..."


"Apa?"


Saking kagetnya, gadis yang ketakutan di depan itu sampai melongo dan mengangkat bahunya. Apa-apaan ini! Sejak kapan kau bisa mengatakan cinta Kak! Bahkan dulu, kau saja tidak pernah bicara tentang cinta pada ku. Sekarang, Erla jadi berfikir, suaminya ini sudah tidak waras.

__ADS_1


"Kak, apa yang Kak Ibram katakan? Haha, apa Kakak sedang mabuk?"


Itu yang paling masuk akal. Erla maju selangkah dari depan pintu. Masih terbentang jarak antara dia dan Ibram. Pantas saja dari tadi dia sudah aneh. Kak Ibram yang dia kenal, tidak mungkin diam saja dengan provokasinya.


"Kau mabuk Kak?"


"Aku mencintai mu Erla, aku mencintai mu dan aku tidak mau kehilangan mu. Aku mau kau tetap menjadi istriku. Aku ingin menjalani pernikahan yang sebenarnya dengan mu. Menjadi suami istri yang saling mencintai dan menyayangi."


Kata-kata yang seperti peluru menerobos, tapi entah kenapa membuat Erla semakin merinding. Apa ini obsesi baru Kak Ibram. Kalau dia menolaknya sekarang, laki-laki yang sudah merendahkan dirinya sampai sejauh ini, apa dia akan langsung murka dan meluapkan amarahnya. Tidak! Bibir Erla bergetar. Kak Ibram yang biasanya saja sudah menakutkan, apalagi dia yang seperti ini.


Erla merasa harus menyudahi ini. Dan satu-satunya cara untuk bisa pergi adalah, membuat Kak Ibram puas. Biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Dan setelah laki-laki itu kehabisan tenaga dan tertidur, dia bisa kabur. Masih sempat gadis itu melirik bagian apartemen, tempat di mana kira-kira kunci diletakan, atau kalau dia beruntung, uang yang bisa dia curi dan dia bawa kabur.


Lalu setelah menyusun rencana dadakan, tiba-tiba Erla ikut menjatuhkan lututnya di lantai. Dress yang dia pakai sedikit tersingkap.


"Aku tidak tahu, permainan apa yang Kak Ibram lakukan sekarang, tapi, apa kita bisa menyudahinya?" Sambil tangan Erla menyentuh kerah bajunya. Menahan tangannya sendiri supaya tidak gemetar. "Aku sudah siap Kak, tapi berjanjilah, ini terakhir kalinya. Lepaskan aku dan buang aku setelahnya, seperti Kak Ibram membuang tisyu setelah Kak Ibram pakai. Aku sudah muak berkorban untuk keluarga ku. Jadi ayo sudahi ini. Terserah apa yang ingin Kak Ibram lakukan pada keluargaku. Aku sudah lelah menjadi boneka keluarga ku." Erla menarik kerah bajunya, sampai bagian bahunya melorot. Bahu putih bersih itu seperti menebarkan aroma yang langsung memantik mata Ibram.


Berhentilah bersandiwara, tunjukkan wujud mu yang biasanya Kak. Serang aku, nikmati setiap jengkal tubuhku. Pukul aku sepuas mu, tapi ini terakhir kalinya. Ayah, Ibu, ini pengorbananku terakhir kalinya untuk kalian. Setelah ini, bukan kalian yang membuang ku. Tapi aku yang akan pergi sendiri, meninggalkan kalian semua.


Kehidupan entah seperti apa yang akan menyambutnya, tapi, pasti lebih baik sekedar menjadi boneka yang dijual kepada suami yang hanya menjadikanmu tempat pelampiasan hasratnya saja. Ia kan, Erla, bersiaplah. Tahanlah sedikit lagi. Pejamkan mata mu. Dan bertahanlah seperti biasanya.


"Erla!"


Ibram berhenti bicara saat Erla tersentak dan memejamkan mata. Tangannya yang reflek terkepal seperti siap menahan sesuatu. Hati Ibram yang melihat seperti langsung tercabik. Reaksi spontan Erla yang selalu dia lihat. Seperti itu pula reaksi ibu yang sering dia tangkap. Tak ada airmata, hanya tangan yang terkepal erat menahan semuanya.


Ibram merangkak mendekati Erla. Tubuh gadis itu semakin terlihat bergetar. Bahkan saat Ibram merengkuh dalam pelukannya.


"Aaaaaaa!" Suara jeritan seperti menyayat hati. "Maaf Kak, maaf, aku yang salah." Terbata, kata tidak beraturan keluar. Sambil tubuhnya bergetar, tangannya terkepal dan mata yang terpejam. "Maaf Kak, maaf." Karena setiap kali dia minta maaf, pukulan Kak Ibram akan mereda, jadi bibir gadis itu refleks mengucapkannya. "Maaf, aku yang salah Kak."


Pelukan Ibram menguat. Deru nafas laki-laki itu juga terdengar. Bahkan dia mulai terisak, ikut merasakan sakit yang saat ini sedang dirasakan istrinya.


"Maaf, Erla, maafkan aku. Aku tidak akan memukul mu lagi. Aku mohon, tenanglah. Lihat aku, lihat aku. Maafkan aku Erla. Aku mohon Erla. Aku mohon tenanglah."


Tubuh bergetar yang ada dalam pelukan Ibram berangsur melemah. Pelan, Erla membuka matanya. Merasai pelukan hangat yang entah kapan terakhir dia dapatkan. Bahu lebar yang memeluknya, tangan yang bukan menamparnya. Tapi malah memeluk lengannya.


"Kenapa Kak? Kenapa Kakak seperti ini?"


"Maafkan aku."


"Apa Kakak pura-pura baik padaku sekarang." Erla menggoyangkan bahunya. Ibram semakin erat memeluknya. "Apa setelah aku tertipu, Kakak akan menyiksa ku lagi. Aku tidak mau Kak. Lepaskan aku!" Sekarang, tangan Erla memukuli bahu erat yang memeluknya. Bug, bug, tangannya keras memukul bahu Ibram. Laki-laki itu meringis, karena Erla memukul sekuat tenaga yang bisa dia keluarkan."Lepaskan aku! Aku tidak mau jadi boneka Kakak lagi. Lepaskan aku Kak!"


Ibram terisak lirih, merasakan pedihnya hati Erla.


"Aku tidak mau Kak. Jangan siksa aku lagi." Suara yang melemah, tangan yang memukul pun melemah. Hanya Isak tangis Erla yang terdengar sekarang. "Aku tidak mau lagi Kak. Aku sakit, aku lelah."


Sedikit pun Ibram tidak melepaskan tubuh Erla, dia masih memeluknya dengan erat. Dan hanya satu kata yang terucap dari bibirnya.


"Maaf, Maaf, maaf."


Seperti nyanyian yang berulang kali di ucapkan, kata-kata itu seperti berdengung di telinga Erla.


"Maafkan aku Erla. Maafkan aku."


Isak itu bercampur, bukan hanya Erla yang menangis, Ibram pun menangis karena rasa bersalah yang memuncak. Ibram mendorong tubuhnya, melepaskan pelukan Erla. Lalu, laki-laki itu meraih tangan Erla.

__ADS_1


Plak! Plak!


Sekali, dua kali, berulang kali, tangan Erla dia gerakkan menampar pipinya. Rasa pedih dan sakit menjalar bahkan sampai ke tengkuk.


"Maaf."


Erla yang hanya bisa tercengang kaget menahan tangannya, saat tangannya hendak di gerakkan lagi.


"Pukul aku sebanyak yang kau inginkan, tapi aku mohon, beri aku kesempatan Erla. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku padamu."


Tangis Erla mengeras, dia menjatuhkan kepalanya ke dada Ibram. Tangannya saja sampai sakit, apalagi pipi itu gumamnya. Dia semakin menangis, saat Kak Ibram juga meneteskan airmata.


"Maafkan aku Erla, maaf. Aku mencintai mu. Aku mohon, beri aku kesempatan. Pukul aku." Ibram meraih tangan Erla lagi. "Balas aku sampai kau puas, aku akan menerimanya."


Bukannya membiarkan Ibram memukulkan tangannya lagi, Erla menepis tangan Ibram. Lalu, masih dengan dibasahi airmata. Gadis itu menempelkan bibirnya, di atas bibir Ibram yang basah oleh airmata. Laki-laki itu tersentak, karena Erla bukannya menamparnya malah menciumnya.


"Sakit Kak, sudah cukup kita saling menyakiti."


Ibram menganggukkan kepala, lalu rentetan kata maaf itu keluar lagi, sebelum tangannya menyentuh dagu Erla, dan kecupan lembut mendarat di bibir Erla. Mereka berciuman, untuk pertama kalinya, tanpa kebencian dan amarah.


Sekretaris di depan pintu, mengelus dada. Lalu berjalan pergi meninggalkan pintu apartemen Ibram. Menuju lift. Dia bergumam, hah! akhir pekan ku.


Penutup


Di luar masih terlihat terang, walaupun sinar matahari tidak terlihat menyengat. Erla menggeliat di bawah selimut. Sementara tubuh Ibram sedang erat memeluk pinggangnya. Wajah gadis itu memerah.


"Kak..."


"Kau sudah bangun?"


"Hemm, aku mau ambil minum."


"Biar aku yang ambil, tetaplah di sini."


Erla menatap punggung yang menjauh, lalu hilang di telan pintu. Lalu dia melihat tubuhnya yang dipenuhi tanda merah. Telinganya yang berdesir oleh bisikan cinta. Dia memukul pipinya perlahan, memastikan dia tidak terbangun dari mimpi.


Ibram yang baru muncul dari pintu, berteriak.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kau memukul pipi mu?" Botol ditangannya bahkan terjatuh, karena dia melompat ke tempat tidur. "Erla.. maaf."


"Aku nggak papa Kak, aku hanya memastikan kalau ini bukan mimpi."


Tawa Erla, membuat Ibram nyeri. Dia memeluk Erla. Mengusap bahunya, dan meminta maaf lagi.


"Terimakasih sudah memberiku kesempatan, terimakasih sudah menyadarkan ku Erla. Aku benar-benar, mencintaimu."


"Kak..."


Lagi-lagi, pelukan erat mereka, menggantikan kata-kata. Ibram tidak mau melepaskan Erla, dia masih ingin memeluk gadis itu. Takut, Erla akan menghilang. Dan semua yang ia rasakan hanyalah mimpi.


Saat mereka saling pandang, mereka berciuman lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2