
Warna hijau terbentang, dari rumput yang diinjak Rion sampai sejauh mata memandang. Semua warna yang menyejukkan mata itu sama sekali tidak membuat Rion bersemangat. Dari dulu dia memang tidak terlalu menikmati setiap berada di lapangan golf. Apalagi sekarang, yang pikiran dan hatinya ikut naik ke mobil ibu nya. Bahkan sudah lebih dari lima kali dia menguap.
Aku kangen Mei. Kenapa aku malah ada di tempat ini.
Pengawal terbaik ayah dan staf Sekretaris ayah yang dibawa ibu sebenarnya sudah membuatnya sedikit berkurang rasa khawatir, apalagi saat ibu bilang, kebanyakan yang disana juga perempuan teman-teman ibu. Hanya beberapa panitia dan penduduk desa yang laki-laki, jadi jangan khawatir. Ibu juga akan menjaga Mei. Sekretaris ayahmu juga akan selalu di samping Mei. Baiklah, aku tidak akan menyusul. Rion berjanji seperti itu tadi pagi pada ibu.
Tapi saat sedang berjalan di samping ayahnya, terdengar Presdir Andalusia Mall bicara.
"Istri saya juga nanti bisa berkenalan dengan istri Anda kan, saya harap dia bisa banyak belajar dari istri Anda. Hari ini, dia pergi dengan Amerla menantu saya juga. Haha, semoga semua lancar. Bagaimana soal desai. Bla...bla." Pembicaraan sudah Kemana-mana.
Andalusia Mall juga mengutus perwakilan diacara yang sedang ibu datangi. Istri Presdir dan menantu anak pertamanya yang dikirim oleh Presdir Andalusia Mall. Artinya, wanita sialan itu pasti bertemu dengan Mei.
Di kepala Rion langsung terbentuk pertunjukkan drama, yang bintang utamanya mantan yang sudah dia lupakan dan istrinya. Dan Mei berdiri sebagai pihak yang akan diserang. Entah apa yang akan dibicarakan Amerla, tapi pasti Mei hanya akan tertunduk dengan tangan gemetar mendengar perkataan Amerla. Apalagi ibu tidak tahu perihal Amerla. Begitulah yang ada di bayangan kepala Rion.
Sialan!
Mendengar itu, pikiran Rion langsung membara, marah dan kesal menyatu. Tanpa permisi pada ayahnya dia melemparkan stik golf dan keluar dari lapangan. Sekretaris presdir mengejar Rion. Karena tahu sikap Rion berubah setelah mendengar perkataan Presdir Andalusia Mall.
"Tuan Muda, Anda tidak bisa meninggalkan acara sekarang, Presdir ingin Anda menemani beliau sampai selesai." Laki-laki itu berusaha menghadang langkah Rion.
"Paman tahu mereka akan disana? Istri Presdir Andalusia Mall dan wanita itu?" Rion tidak hendak menutupi kemarahannya. Sekretaris ayah hanya menjawab melalui tatapan matanya. Kalau dia tahu semua. Ya, tidak mungkin dia tidak tahu gumam Rion.
"Apa Presdir tidak mengatakannya pada Anda?"
"Kau pikir, kalau ayah bilang, aku akan ada disini. Minggir! Jangan membuatku lebih marah dari ini." Sekretaris Presdir belum bergerak dari tempatnya berdiri. "Kemarahanku mungkin tidak semenakutkan ayah, tapi paman tahu kan, aku cukup pendendam." Rion menyeringai. "Jadi minggir! Aku mau menyusul ibu."
"Apa yang harus saya sampaikan pada Presdir?" Sekretaris Presdir mundur memberi Rion jalan. Akhirnya dia menyerah. Dalam hati dia bergumam, anda mirip sekali dengan Presdir waktu masih muda. Sama-sama menakutkan.
"Katakan saja pada ayah aku menyusul ibu karena merindukan Mei."
Sekretaris Presdir, hanya bisa menundukkan kepala dengan alasan tidak masuk akal itu, lalu dalam sekejap Rion sudah hilang dari pandangan matanya.
Sialan! Kenapa ayah tidak bilang semalam!
Yang ditakutkan Rion dalam bayangannya tadi seperti sudah menjadi kejadian nyata sekarang, Amerla akan bicara macam-macam pada Mei. Bukan hanya tentang masa lalu mereka. Apalagi pernikahannya dan Mei yang belum diumumkan kepada publik. Semua orang bisa berspekulasi sesukanya.
Kalau kau membuat Mei menangis. Rion memukul kemudi sambil mempercepat kecepatan. Aku tidak akan membiarkanmu.
Bayangan Mei yang akan merasa rendah diri, tertunduk dan gemetar. Melihat Amerla yang terlihat gemerlap dari luar rasanya membuat Rion semaki marah dan frustasi.
Rion memukul kemudi lagi. Pasti mereka sudah bertemu sekarang. Tidak mungkin belum. Rion menyambar hp, sementara satu tangannya tetap memegang kemudi.
"Selamat siang Tuan Muda, apa ada sesuatu.." belum selesai pengawal ibu bicara Rion sudah menyambar.
__ADS_1
"Kirimkan lokasi acara ibu sekarang, dan jangan banyak bicara."
"Baik Tuan Muda."
Sambungan terputus. Jangan banyak bicara kali ini ada dua artinya, jangan bicara pada ibu, dan jangan bertanya kenapa Rion meminta lokasi mereka sekarang. Dalam hitungan detik lokasi ibu dia terima, Rion melesat membawa mobilnya dengan kecepatan penuh menuju lokasi ibu dan Mei berada.
Kalau besok dia mendapat surat tilang, dia pasti tidak akan heran.
Saat mobilnya berdecit di tempat parkir di sebuah lapangan untuk acara peresmian, keramaian masih menyambutnya. Para penduduk desa masih hilir mudik. Di tenda khusus pasti ibu dan teman-temannya ada di sana. Rion membanting pintu mobil, langsung disergap hawa panas. Pengawal ibu sudah berlari ke arahnya saat melihat mobilnya datang.
"Anda sudah datang Tuan Muda." Dia menundukkan kepala.
"Apa acara sudah selesai?"
"Perlombaan sudah selesai, tinggal acara makan bersama dan penutup."
Mata Rion mencari keberadaan Mei diantara banyaknya orang, tidak terdeteksi. Dia hanya melihat ibunya.
"Di mana Mei?" Melihat pengawal ibu dengan tatapan kesal. Dia yang tidak bisa mengenali istrinya di keramaian membuatnya marah dan melampiaskannya pada laki-laki di depannya.
"Karena pakaian nona basah saat mengikuti lomba, beliau pergi ke rumah penduduk untuk berganti pakaian, sekretaris Dev menemani beliau."
Ah, dia memang tidak ada disini rupanya, pantas aku tidak melihatnya. Ehem, suasana hati Rion langsung berubah dengan cepat. Tidak mungkin aku tidak mengenalinya, ehm, ini karena dia tidak ada disini makanya keberadaanya tidak terdeteksi.
"Pergilah, kembali ke tempatmu."
"Baik Tuan Muda."
Aku pikir dia akan marah tadi, pengawal itu melihat ban mobil Rion yang mengerem sampai membuat tanah tercerabut. Karena dia mengerem mendadak. Sepertinya dia membawa mobil dengan kecepatan tidak masuk akal untuk sampai kesini. Padahal tidak terjadi apa-apa, gumam pengawal itu sambil berjalan ke tempatnya di dekat tenda ibu Rion.
Tapi beliau memang terkadang aneh, pengawal itu maklum, karena sering menjadi tempat mengeluh Serge kalau Rion berubah suasana hatinya secepat meneguk air.
Persiapan makan bersama sudah selesai, ada buah tenda prasmanan makan siang. Kepala desa memberi instruksi untuk memulai acara, dan menyuruh penduduk untuk mengantri dan jangan saling berebut.
Sementara itu Rion berjalan melewati jalan setapak, menuju rumah yang ditunjuk sang pengawal. Langkah kakinya terhenti, saat melihat staf sekretaris ayahnya berjalan bersama seorang wanita.
Dev terperanjat kaget melihat Rion, lalu meminta pemilik rumah disampingnya untuk pergi lebih dulu. Setelahnya dia berjalan cepat menghampiri Rion, dengan wajah antusias namun semakin dekat, wajahnya menjadi pias. Karena dia membaca aura kegelapan dari wajah tampan CEO di depannya.
"Kenapa kau ada disini? Dimana Mei?" Rion langsung bertanya dengan suara dingin setelah Dev berdiri di depannya.
"Nona sedang.."
"Apa ibu tidak mengatakan tugasmu," Rion memotong pembicaraan karena merasa marah. Melihat Dev sendirian. "Atau kau yang tidak bisa memahami perkataan ibu." Dev semakin pucat, dia tidak berani menjawab sepatah kata pun. "Ibuku pasti sudah bilang, untuk tidak meninggalkan istriku kan." Rion menghela nafas membuat lutut Dev rasanya gemetar.
__ADS_1
Sebenarnya apa salahku, kenapa Anda marah seperti ini. Dan kenapa Anda muncul disini, jangankan bertanya. Mengangkat kepala saja dia tidak punya keberanian. Dev tidak menerima info apa pun kalau CEO Rionald akan datang tiba-tiba begini.
"Maafkan saya Tuan Rion." Dev hanya bisa minta maaf dengan suara bergetar, dia bingung kenapa CEO tiba-tiba muncul dan langsung marah-marah begini.
"Apa kau meremehkan Mei, karena di kantor jabatannya lebih rendah darimu." Sinis terdengar, membuat Dev semakin bingung menjelaskan dari mana. "Jawab!"
"Tidak Tuan Rion." Dev menundukkan kepala sampai 90 derajat. "Nona Merilin adalah istri Anda, bagaimana mungkin saya bisa bersikap tidak sopan pada beliau. Saya pergi meninggalkan Nona Merilin, karena beliau minta diambilkan es kopi." Walaupun agak bergetar, Dev menjawab dengan lancar dan lugas. Tentu saja, dia sudah berpengalaman menghadapi Presdir Andez Corporation. "Nona bilang cuacanya panas, jadi saya pergi sebentar untuk mengambil es kopi. Sekarang nona sedang bersama Nona Amerla dari Andalusia Mall."
Deg. Sialan! Mereka benar sudah bertemu.
"Kenapa Mei bicara dengannya?"
"Nona Amerla bilang mau berkenalan dan menyapa Nona Merilin, jadi mereka sedang mengobrol berdua sekarang untuk mengakrabkan diri."
Apa yang kau rencanakan! Mendekati istriku!
Dev sedikit mencuri pandang, lalu tertunduk lagi. Kakinya benar-benar lemas. Beliau memang sangat tampan, tapi cukup dilihat dari kejauhan. Dev menjerit dalam hati. Karena kalau dari dekat dan berurusan langsung begini, rasanya sangat menakutkan.
"Baiklah, aku akan melupakan kesalahanmu hari ini."
Apa kesalahan saya Tuan! Dev masih terlihat bingung, apa karena saya meninggalkan Nona Merilin.
"Baik Tuan, terimakasih atas kebaikan hati Anda." Walaupun Dev belum tahu dimana letak kemurahan hati Rion, tapi menghadapi CEO yang terkenal pemarah, angkuh dan tampan, eh. Dia cukup menundukkan kepala supaya semua aman.
"Kau pasti terkejut melihat Mei, karena kau sudah tahu, kedepannya bersikap dengan baik di depannya dimana pun kau bertemu dengannya."
Ah, mode CEO Rionald dilihat dari kejauhan muncul. Tampan, dingin dan elegan. Walaupun terlihat sombong, tetap saja dia sangat tampan. Mode penggemar muncul setelah Rion sedikit tersenyum, karena laki-laki itu sedang menyebut nama Mei.
"Sekarang pergilah, tidak usah kembali membawa kopi yang diminta Mei. Bilang pada ibu kau bertemu denganku."
"Baik Tuan."
"Bilang juga pada ibu, aku menyusul karena merindukan istriku." Rion tersenyum sambil melambaikan tangan dan berbalik. Berjalan meninggalkan Dev, yang kakinya langsung meleyot, dia ambruk di tanah.
Aku melihat senyum CEO Rionald!
Dev melihat punggung CEO Rionald yang semakin menjauh.
Dan akhirnya, Rion berdiri di depan gerbang.
Rion mengepalkan tangan di depan gerbang, saat mendengar suara, dua orang wanita yang sangat dia hafal.
Bersambung
__ADS_1