Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
186. Kebahagiaan Semua Orang


__ADS_3

Makan siang prasmanan di bawah tenda, ditemani angin laut yang berhembus menggoyang pepohonan. Bisa juga dengan duduk di deretan kursi sambil memandang lautan. Makan bersama yang terasa jauh lebih nikmat dengan aneka macam makanan yang dimasak koki profesional.


Serge dan Dean mendapat ucapan selamat dari semua orang. Nyonya terlihat sangat bahagia, ibu Rion yang sudah mengganggap Serge seperti saudara Rion. Karena lamanya mereka bersama, memeluk Dean dengan hangat, sambil berdoa untuk keduanya. Rasa bahagia yang dulu dia tunjukkan saat pertama kali bertemu dengan Mei.


"Nanti kasih tahu ya kalau kalian sudah menentukan tanggalnya, Ge, jangan sungkan ya, kamu tahu kan, kami selalu berterimakasih padamu sudah menjaga Rion. Jadi biar kami ikut menyukseskan pernikahan kalian." Ibu Rion menyenggol lengan suaminya, Presdir mengganguk dan menepuk bahu Serge dua kali.


"Terimakasih Nyonya, terimakasih Presdir."


Nyonya dan Presdir bahkan terlihat senang sudah bisa Serge bayangkan bagaimana reaksi kaget dan senangnya orangtuanya. Sudah beberapa kali dia didudukkan di depan mereka ditanyai ini dan itu, yang berujung, kapan kamu mau menikah.


Ayah, ibu, aku akan segera membawa menantu kalian. Begitulah, hati Serge di penuhi bunga.


Setelahnya Serge dan Dean mendapat selamat dari ibu Mei, wanita itu bahkan memeluk Serge dan menepuk bahu Serge beberapa kali.


"Selamat ya Ge, selamat. Kamu menyusul Brama dan Mei menikah. Apalagi dengan Dean. Ibu ikut bahagia. Ya Tuhan Nak, ibu tidak menyangka kalian akan berjodoh seperti ini." Bola mata ibu Mei berbinar haru. "Terimakasih sudah menjaga Mei selama ini."


Dean merangkul ibu Mei, dan menghapus tetesan air yang beranak di ujung mata, gadis itu juga berterima kasih dan meminta doa dari ibu Mei.


Laki-laki baik yang bersanding dengan wanita yang sempurna, begitulah ibu Mei memanjatkan doa supaya jodoh dua orang di depannya terhubung sampai akhir hayat. Semua orang ikut larut dalam kebahagiaan. Ya, mungkin hanya satu orang yang mengucapkan selamat dengan nada terpaksa. Tapi, mau dia mengucapkan dengan terpaksa pun, Serge juga tidak tahu, dan Dean tidak perduli, karena dia adalah pemenangnya. Walaupun tidak ada persaingan juga si gumam Dean sambil mengibaskan rambutnya.


Setelah saling memberi selamat, saatnya mereka makan siang.


Serge dan Dean sedang duduk di kursi panjang, sambil menyantap makanan di piring mereka masing-masing. Sesekali saling pandang dan bertukar senyum. Lalu makan lagi, melihat laut biru yang ombaknya berlarian ke bibir pantai.


"Dea, idenya siapa ini?" Serge mengusap ujung bibir Dean. Gadis itu tersentak kaget tapi segera tertawa. Membuat Serge malu dan menarik tangannya. " Apa kau yang meminta Rion menebarkan bunga tadi?"


Rion membawa keranjang bunga, aku yakin, membayarnya sekalipun, dia tidak akan Sudi melakukannya. Kalau dia yang minta, keranjang itu pasti dilempar ke mukanya.


"Bukan Kak, mana aku berani meminta Tuan Rion, tadinya aku minta bantuan Mei dan Harven. Mei yang memegang spanduk dan Harven yang menebar bunga, tapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Mei bilang, kalau Tuan Rion yang mau melakukannya."


Hah! Aku tahu alasannya, si gila itu pasti cuma mau dekat-dekat dengan Mei tanpa ada pengganggu, lihat tadi kan, mereka bahkan belum ganti baju. Sekarang saja batang hidung mereka belum terlihat. Serge matanya berkeliling mencari keberadaan dua orang itu. Tidak terdeteksi. Sudah bisa diprediksi mereka sedang ada di mana. Lihat kan, tirai kamarnya saja tertutup.


Benar isi pikiran mu Ge, anehnya, untuk perkara ini kamu cukup peka. Mei sedang membayar gaji Rion, karena sudah bekerja keras membawa keranjang bunga tadi. Jadi jangan mencari keberadaan mereka sekarang.


Kembali pada obrolan dua orang yang sedang dipenuhi bunga-bunga cinta. Orang lain yang melihat Serge dan Dean dari kejauhan, seperti melihat tanda bunga-bunga dan cinta berterbangan dari tenda mereka, memancar ke udara. Berwarna pink segar, dari kejauhan senior Mei masih merasa patah hati berulang kali.


"Sejak kapan mereka tahu Dea, Mei dan Rion? Tadi pagi?"


Dasar Rion! Awas saja kalau kau ternyata sudah tahu dari awal! Hihhh, ingin memukul Rion. Tapi cuma berani memakinya dalam hati.


"Hehe, sebelum kita berangkat kemari mereka sudah tahu Kak. Aku sudah merencanakannya dari lama. Bersama Mei dan Jesi."


"Aaaaaaa! Kenapa bisa begini si!"


Teriakan Serge pada angin laut, membuat Dean tertawa.


Lalu dengan berapi-api Serge bicara, bahkan sampai bersumpah segala, kalau dia juga sudah berniat melamar Dean, tapi takut Dean menolak jadi dia maju mundur dan cuma berputar seperti kipas angin. Makanya Serge jadi merasa bodoh sekarang. Kalau dia punya keberanian sedikit saja. Ah, kalau saja dia tanya pendapat Mei. Ah, rasanya hatinya menyesal sekarang.


"Maaf ya Dea, aku malah bersikap penakut, seharusnya aku kan yang melamar mu. Tapi, gara-gara aku terlalu banyak berfikir, malah kau yang harus menyiapkan semua kejutan ini."


Ah, rasanya seperti pecundang yang kalah perang.


"Kak Ge tidak suka dengan lamaran ku?"


Suara sedih Dean sambil meletakan sendoknya membuat detak jantung Serge langsung meningkat. Dia juga meletakan sendoknya, menaruh piringnya di kursi, lalu dia memiringkan tubuh dan menghadapi wajah Dean.


"Bukan! Bukan aku tidak suka!" Serge meraih kedua pipi Dean, supaya gadis itu melihat matanya. Pipi Dean bersemu merah. "Aku takut, kamu yang merasa kecewa, karena seharusnya aku yang lebih aktif duluan kan. Padahal aku sudah berpengalaman menjodohkan Mei dan Rion, tapi aku malah amatiran untuk hubungan ku sendiri. Aku takut kamu yang kecewa padaku."


Dean yang gantian menyentuh pipi Serge. Hatinya berdetak sangat cepat. Setiap cinta yang bahkan tidak dikatakan Kak Serge, dia bisa melihatnya hanya dari ekspresi mata Kak Serge untuknya. Dan dia sudah sangat bahagia dengan semua itu.


"Kak, jangan berubah ya."


"Apa?"


"Tetaplah jadi Kak Ge seperti ini, yang polos dan menggemaskan."

__ADS_1


"Apa sih."


"Kecuali sikap Kak Ge yang baik pada semua perempuan, mulai sekarang, Kak Ge harus merubah itu."


"Haha, kamu lagi-lagi bercanda."


"Aku serius."


Deg... Tawa di bibir Serge lenyap saat sorot mata mengancam ditunjukkan Dean.


"Dea, aku bersumpah, selama ini aku biasa saja dengan yang lain. Aku bahkan nggak pernah pacaran. Kamu tahu, di kantor itu ada fans club Rion, nggak pernah tuh ada fans club ku. Jadi tenanglah, pacarmu ini nggak ada yang naksir di kantor." Tangan Serge bergerak menyelipkan rambut Dean. "Malah kamu yang seharusnya hati-hati, wanita secantik kamu, secerdas kamu, pasti banyak yang naksir dan mengajak mu pacaran kan?"


Dean tidak bisa menutupi ekspresi kikuknya, ya memang si, dia punya beberapa mantan.


"Nah kan, benar kan? Hayoo!"


"Haha, Kak Ge..."


Dean lalu melengos dan mengambil piringnya, menyuapkan sisa makanan yang masih tertinggal. Serge tertawa lalu mengusap kepala Dean, dan membenturkan kepalanya lembut.


"Aku juga cemburuan lho, jadi kau juga berhati-hati ya."


Dari belakang punggung keduanya, terdengar suara cieeee, cieee, suara siapa lagi kalau bukan Mei. Ditambah Jesi juga, ternyata dia baru menjemput Arman yang baru datang di gerbang vila. Dari kejauhan Harven dan Sheri terlihat mulai asik mengambil foto.


Dean, Mei dan Jesi duduk berderet. Arman sedang berlari ke arah Harven dan Sheri, rupanya dia diminta mengambil foto. Ketiga gadis itu, mengulang lagi semua adegan lamaran Dean pada Serge, dengan dibumbui tawa dan ledekan. Padahal semuanya ada di sana juga, tapi tetap seru menceritakan ulang kejadian tadi.


Sementara Serge sedang menemani Rion duduk sambil menikmati es kopi. Rupanya Rion dan Mei sudah makan siang di kamar, setelah sebelumnya kecup-kecup basah di atas sofa yang bergoyang.


Serge mengudarakan protes.


"Hei Rion, Dean bilang kau sudah tahu! Kenapa kau tidak bilang."


Rion mendengus lalu menyeruput es kopinya. Setelah meletakan gelasnya dia menjentikkan jarinya, menyuruh Serge mendekat. Tapi melihat ekspresi Rion yang mencurigakan Serge malah menggeser kursinya menjauh.


"Aku kan cuma nanya, begitu saja marah."


"Kau saja yang bodoh dan tidak peka."


"Apa sih?"


"Aku kan sudah mengatakannya padamu."


"Kapan?"


"Waktu di bandara! Hah! Memang dasar lamban. Untung saja kau punya pacar seperti Deandra itu, yang gerak cepat mengimbangi kelambanan mu Ge, Ge. Dasar bodoh!"


Hah! Bandara? Memang waktu di bandara si gila ini ngomong apa si. Serge sedang memutar ingatan, kejadian di bandara. Apa ya, hei, perasaan kamu nggak bilang Dean mau melamar ku.


"Kau kan bertanya kemarin? Bukannya memberi tahu!"


Rion menggelengkan kepala, sambil menghela nafas, pasrah dengan kebodohan Serge. Untung saja dalam pekerjaan kau tidak seperti ini Ge, gumam Rion. Ada ya, orang secerdas dan sepintar dirimu kalau urusan pekerjaan tapi bisa sebodoh ini kalau berhubungan dengan perasaan dan hati manusia. Tapi sudahlah, karena kau tetap teman dan sahabat terbaikku.


"Seharunya kau bicara dengan jelas donk, bukannya bertanya."


"Ya, ya, kali ini kubiarkan kau kurang ajar Ge. Bicaralah sesukamu." Rion bangun dari duduk setelah isi gelasnya habis. Dia mengulurkan tangannya. Serge mendelik dan cuma menatap tangan Rion.


Mau apa si dia? Memukul ku?


Saat Rion menggoyangkan tangannya artinya dia mau berjabat tangan, Serge meraih tangan Rion. Dan mereka berjabat tangan dengan erat. Saling pandang selama beberapa saat.


"Selamat Ge, aku ikut bahagia melihat kebahagiaan mu, sahabat ku."


"Ah, terimakasih. Kau membuatku takut kalau sedang bicara serius. Awww, awww. Ia maaf!" Rion mencengkeram tangan Serge sampai laki-laki itu meringis. "Haha. Aku bahagia, sangat bahagia tahu. Doakan hubungan kami lancar ya, seperti kau dan Mei. Walaupun aku kecolongan dan dilamar duluan. Tapi aku akan mempersiapkan pernikahan seperti yang diimpikan Dean."


Rion melepaskan tangannya, lalu menepuk bahu Serge beberapa kali.

__ADS_1


"Bilang saja apa yang kau perlukan."


"Benar? Kau yang mau menyiapkannya?"


Saat tepukan di bahu berubah menjadi tinju yang membuat Serge sampai miring, laki-laki itu malah tertawa. Haha, memang dia berharap Rion mau gantian menyiapkan pernikahannya.


"Berikan saja uang mu, itu sudah cukup kok. Hehe. Nyonya dan Presdir juga katanya mau jadi sponsor. Wahhh, apa kita barengan saja mengadakan resepsi pernikahan."


Dua orang sahabat, yang terkadang bertengkar, tak jarang Serge selalu disalahkan dan jadi tempat pelampiasan kemarahan. Tapi karena dasarnya hati Serge yang seluas samudra seperti yang ada di hadapan mereka sekarang, dia selalu memaafkan bahkan tanpa Rion berkata maaf sekalipun. Dan bagi Rion, teman yang pundaknya sedang dia rangkul itu, adalah teman, sahabat sekaligus sekretaris yang sudah menemani fase terberat dalam hidupnya. Karena dia Deandra, karena gadis itu teman baik Mei. Karena Mei bahkan menjamin dengan namanya sendiri, kalau Dean adalah gadis yang sangat baik dan pasti bisa membahagiakan Kak Ge. Maka hati Rion pun terasa tenang, melepaskan sahabatnya itu.


"Rion, kau mau jadi MC saat aku menikah?"


"Tutup mulut mu Ge!"


"Ah, padahal aku berharap kau bisa jadi MC."


Mereka berjalan mendekati para gadis yang masih terlihat bercengkerama, sambil ditemani semilir angin laut yang menggoyangkan rambut mereka.


...🍓🍓🍓...


Jesi sedang mereka ulang kejadian tadi siang, sebelum Arman datang.


"Aku deg, deg kan sekali tadi Kak. Wajah Kak Ge seperti orang bodoh yang kebingungan lucu sekali. Saat Mei merentangkan spanduk lamaran Dean, aku rasanya ingin menangis. Tambah romantis saat Tuan Rion menaburkan bunga di samping Mei."


Tuan Rion sampai ikut drama lamaran, dan mendapat tugas menaburkan bunga? Hah? Yang benar. Aku jadi ingin lihat ekspresi wajahnya seperti apa. Arman sedang berfikir. Wajah laki-laki itu merona, saat melihat Jesi lagi dengan antusias bercerita.


Bibir Jesi yang tidak berhenti bicara, wajahnya yang merona senang. Padahal ini bukan lamaran untuknya. Padahal ini kejutan yang dibuat temannya, tapi dia seperti ikut merasakan kebahagiaan itu seperti dia ingin dilamar dengan cara seperti itu juga.


"Aku jadi ingin melihatnya. Apa kau mengambil Vidio."


"Saking terpesonanya aku tidak kepikiran Kak, tapi, teman-teman Mei merekam sama ambil foto. Nanti aku mintakan pada Mei deh."


Tangan Arman bergerak pelan meraih tangan Dean. Mereka sedang berjalan di bawah sinar rembulan, di tepi pantai. Suara air laut mengoyak ketenangan, tapi cukup enak untuk dinikmati.


"Kak...."


"Hemm, kenapa?"


"Terimakasih sudah mengajak ku ke tempat yang sangat indah ini. Ini liburan jauh pertama kami bertiga, aku, Mei dan Dean. Ah, rasanya dua hari ini momen yang tidak akan pernah aku lupakan. Kak Arman juga, aku senang bisa berjalan di bawah sinar bulan bersama Kakak."


Diantara mereka bertiga, Dean yang paling punya banyak uang, Jesi si cukup dan Mei yang selalu kekurangan. Liburan bersama mereka biasanya cuma jalan-jalan ke mall atau makan di kafe musim semi. Mereka pernah merencanakan liburan bersama, namun selalu gagal ditengah jalan. Jesi dan Mei yang tidak mau memakai uang Dean, walaupun gadis itu memaksa sekalipun. Karena Mei dan Jesi tahu, bagaimana susahnya mencari uang.


"Aku ikut bahagia kalau kamu senang Jes. Lihat." Arman menunjuk langit malam, ada bintang jatuh. Sinarnya melesat cepat. "Besok pulang sore kan, ayo habiskan waktu jalan-jalan berdua."


"Nona Sheri bagaimana?"


"Biar Harven yang menghadapinya."


Keduanya tertawa, berjalan sambil menggoyangkan tangan. Lalu kepala mereka melengos malu, setelah curi-curi kecupan secepat goresan pena Jesi.


Malam itu, Arman mulai menyusun rencana, bagaimana melamar Jesi dengan cara paling romantis, bak pemeran utama dalam komik yang digambar Jesi.


Langit malam yang cerah di atas vila di bibir pantai, belum ada yang tidur, semua masih menikmati cerahnya malam.


Yang masih senang menghabiskan waktu di atas balkon sambil peluk-pelukan, Mei duduk di pangkuan Rion. Keduanya bersandar di kursi sambil melihat langit yang berbintang. Kursi mereka geser ke dekat pintu, supaya aman dari pandangan orang yang ada di bawah.


Tangan Rion mulai bergerak aktif, sementara bibirnya sudah menciumi tengkuk Mei.


"Mei, buka."


"Kakak!"


Kelakuan keduanya membuat bintang di langit berkedip-kedip malu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2