Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
178. Rasa Sakit


__ADS_3

Akhir pekan pun datang.


Beberapa hari ini, Ibram tidak pulang ke rumah Erla. Dia memang masih tetap bekerja seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda dengan kesehariannya, hanya arah dia pulang setelah senja saja yang berbeda. Dia juga tidak pulang ke rumah orangtuanya, tapi dia memilih berdiam diri di apartemen. Keberanian laki-laki itu belum sepenuhnya terkumpul untuk menentang orangtuanya. Walaupun kerinduannya pada Erla semakin bertumpuk, namun rasa malu dan bersalahnya pada istrinya mencegahnya melajukan mobil menuju rumah Erla. Hingga akhirnya, dia memilih berteman sepi.


Saat sendirian itulah, kerinduan pada Erla semakin meluap. Perasaan sebenarnya yang menumpuk di hatinya keluar. Bukan Erla yang membutuhkannya. Tapi dialah, dia yang merasa jiwanya kosong dan hancur tanpa Erla. Kenyataan yang selama ini tidak pernah dia akui.


Dan, ini adalah puncaknya.


Saat menatap dirinya sendiri di dalam cermin, Ibram meyakinkan hati. Kalau dia hanya akan menjadi pecundang yang kehilangan wanita yang ia cintai, kalau dia tidak berani bicara pada ayahnya. Dia akan kehilangan Erla selamanya, kalau dia diam seperti ini.


Ibram sudah memutuskan, dia akan mengajak Erla tinggal di apartemen miliknya ini, hidup jauh dari tekanan orangtuanya dan juga ayah dan ibu Ibram sendiri. Dan sekarang, mobil yang dibawa Ibram melaju cepat memecah keramaian jalanan.


Dia harus menghancurkan surat perceraian yang terpaksa ditanda tangani Erla. Dan tentu saja, rumah orangtuanya adalah tempat yang dia tuju.


Ibu... Apa kau tidak ingin melihat anak mu bahagia, aku mohon berpihaklah padaku kali ini saja. Bantu aku menentang ayah


Sampailah Ibram di depan rumah megah, milik Presdir Andalusia Mall. Tangannya bergetar ketika menyentuh pintu mobil, dia sedang mengumpulkan keberanian.


Pelayan terkejut saat mendapatinya keluar dari mobil. Sudah cukup lama dia meninggalkan rumah ini. Dan sekarang datang tanpa pemberitahuan, tentu saja membuat mereka kaget.


"Selamat pagi Tuan Muda, sudah lama Anda tidak pulang..."


"Di mana ayah dan ibu?" Ibram memotong pembicaraan pelayan yang menyambutnya.


"Tuan besar sedang pergi, nyonya sedang ada di kamar. Apa Anda mau saya menyampaikan kedatangan Anda."


Ibram menatap lekat wanita paruh baya di depannya, pelayan yang sudah cukup lama bekerja pada keluarganya.


"Minggir, aku mau bertemu ibu. Jangan ada yang mengikuti ku." Langkah kaki pelayan wanita itu terhenti, dia menundukkan kepala. Sambil menatap Ibram yang menjauh, dan menghilang ditelan pintu rumah.


Saat Ibram masuk ke dalam rumah, dia bertemu kepala pelayan yang tidak kalah terkejut. Buru-buru datang menyambut Ibram. Namun, karena Ibram mengatakan sama persis seperti yang dia ucapkan pada pelayan wanita tadi, kepala pelayan hanya bisa menundukkan kepala, membiarkan Ibram sendiri, menaiki tangga.


Sesampainya di depan kamar ibu, laki-laki itu terdiam sambil menenangkan hatinya. Dia bersyukur ayahnya sedang tidak ada. Semangat pemberontakan itu kembali meluap dan berapi-api. Pelan, Ibram mengangkat tangannya. Mengetuk pintu. Saat terdengar sahutan siapa? dari dalam kamar, bukannya menjawab, Ibram langsung mendorong pintu, dan masuk ke dalam kamar.


Ibu yang sedang duduk di depan meja riasnya langsung berdiri, terperanjat kaget. Menjatuhkan benda yang dia pegang, sampai mengenai kakinya.


"Ib..Ibram, kapan kamu datang Nak?"


Ibu bicara dengan terbata dan kikuk, dia mencari benda yang masih teronggok di dekat kakinya. Menarik rambutnya yang memang sudah tergerai sedari tadi, untuk menutupi pipinya. Memar yang sebenarnya sudah tertangkap mata Ibram, sejak laki-laki itu masuk ke dalam kamar tadi.


"Tunggulah di luar, Ibu..."


"Sudahlah, ini bukan pertama kalinya kan aku melihat."


Tangan Ibram terkepal geram, entahlah, dulu dia terbiasa melihat ini. Karena selalu melihat ibu baik-baik saja. Tapi, sejak dia merasakan sakit yang dirasakan Erla, sekarang matanya bisa melihat kesedihan di wajah ibunya. Wanita yang sudah melahirkannya itu, sama sekali tidak terlihat baik-baik saja. Pantas saja ayah tidak ada di rumah padahal masih pagi, sepertinya mereka habis bertengkar. Dan lagi-lagi, hanya menyisa kegetiran untuk ibu.

__ADS_1


Nyut, sekali lagi, hati Ibram merasa sakit. Karena dulu dia pun sama persis seperti ayahnya, setelah menorehkan luka, dia memilih pergi, meninggalkan Erla yang terdiam dengan kepala tertunduk di dekat tempat tidur. Nyut, sakitnya dari hati, menjalar ke seluruh tubuh Ibram.


Ibram duduk di sofa yang ada di kamar, membiarkan ibu memoleskan make up tebal di wajahnya untuk menyembunyikan penderitaan dan rasa sakit yang selama ini dia terima dari ayah. Ibram menunggu, sambil memperhatikan gerakan tangan ibu yang bergetar.


Saat ibu sudah duduk, Ibram langsung mengulurkan tangannya di depan ibu, seperti anak yang meminta sesuatu.


"Apa? Apa yang kamu inginkan?"


"Berikan surat perceraian yang sudah ditandatangani Erla."


Deg, wajah ibu menjadi semakin tegang. Hari ini suaminya marah lagi, karena dia belum bisa mendapatkan tanda tangan Ibram. Kemarin juga begitu, dan pagi ini puncak kekesalan ayahnya.


"Ibram, ayah mu mau kamu segera bercerai. Tolong, tanda tangani surat itu, supaya pengacara bisa mengurusnya ke pengadilan." Ibu berhenti bicara, karena melihat kemarahan anaknya. "Ayah mu marah lagi pada ibu, karena katanya ibu tidak becus." Sepertinya ibu sengaja menyentuh pipinya, untuk memantik rasa iba anaknya. "Tolong Nak, tolong lakukan ini demi Ibu."


Dan benar saja, kemarahan itu langsung meluap. Ibram memukul meja kaca di depannya sampai bergetar.


"Aku datang untuk merobek surat itu Bu, bukan untuk menandatanganinya." Ibram menjawab dengan yakin.


"Nak! Ibu mohon! Untuk apa lagi kamu mempertahankan pernikahan dengan wanita tidak tahu malu itu. Ayahmu juga sudah memutuskan, selama ini, kamu juga tidak pernah membantah ayahmu kan, kenapa sekarang..."


Ibu berusaha membuka pikiran anaknya, Erla tidak pantas untuk Ibram. Begitu yang suaminya katakan, hingga dia pun harus berfikir begitu.


Ibram bangun dari duduknya, membuat ibu kaget karena ternyata Ibram berpindah ke sebelahnya.


"Nak..."


"Aku mohon Bu, aku bisa gila kalau aku harus melepaskan Erla. Beberapa hari ini aku tidak bersamanya aku merasa sangat menderita."


"Apa?"


"Aku mencintai Erla Bu, aku mencintai istriku. Aku ingin merajut pernikahan yang sebenarnya dengannya. Aku ingin menjadi suami yang baik untuknya. "


"Ibram, haha, apa yang kamu katakan? Kalian kan menikah hanya karena perjodohan ibu." Cinta? Ibu bergumam merasa aneh. Jangan bercanda Nak, bagaimana kau bisa mencintai Erla, kalau kau juga memperlakukan istrimu seperti ayah mu memperlakukan ibu kan. Wajah ibu menjadi getir, dia tahu ini bukan cinta. Tapi dia juga tidak bisa berontak pergi, tanpa suaminya, dia juga bukan apa-apa. Wanita cantik dari keluarga biasa saja yang tidak punya apa-apa. Hingga ibu mengubur dalam-dalam kata cinta, dan pasrah dengan semua yang dia dapatkan hari ini. "Itu bukan cinta, kau hanya terbiasa padanya, kalau kau sudah terbiasa dengan istri baru mu nanti, kau juga akan lupa pada Erla. Dan yang penting, ini keputusan ayah mu."


"Ibu!"


Ibu tersentak kaget dengan teriakan anaknya.


"Selama ini ibu tidak bahagia kan?"


"Apa? Kenapa kau tiba-tiba bicara aneh-aneh."


Ibram tersenyum sinis. Lalu tangan Ibram menyentuh pipi ibu yang dipenuhi make up. "Kenapa Erla dan ibu tidak pernah menangis, kenapa kalian bodoh sekali. Sakit kan Bu? Sakit kan?"


Ibu hanya menggigit bibir tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Dia yang hanya wanita dari kalangan biasa, menikah dengan laki-laki hebat seperti suaminya. Hingga dia harus merasa bersyukur, apa pun yang ia terima.

__ADS_1


"Tapi, Erla lebih berani dari Ibu.." Tangan Ibram menggengam erat kedua lengan ibunya. Mengguncangnya, menyuruh ibu melihat ke arahnya. "Dia berani kabur dari ku, dia pergi meninggalkan ku. Dan..." Tangan Ibram mengusap lagi pipi ibunya. "Itulah yang menyadarkan aku Bu, kalau aku yang salah. Kalau aku sudah salah memperlakukannya, aku sudah melukai hati dan tubuhnya. Dia menderita bersama ku."


Dengan suara gemetar, kata-kata pengakuan itu berceceran dari mulut Ibram. Menyentak hati ibu.


"Selama ini aku selalu mengagumi ayah, aku mencontoh yang dilakukan ayah. Kenapa, kenapa Ibu dan Erla tidak pernah menangis?" Kepala Ibram jatuh ke bahu ibu. Tangan ibu yang bergetar, menyentuh bahu anaknya. "Kenapa Bu, padahal kalian menderita kan? Kenapa kalian selalu menunjukkan kalau kalian baik-baik saja."


"Ka...karena ayah mu, akan lebih marah kalau ibu menangis."


Deg.


"Karena ibu tidak mau, kalian anak-anak Ibu yang menjadi tempat pelampiasan kemarahan ayahmu. Maka ibu harus selalu tersenyum kan. Ibu juga harus berterimakasih karena sudah menikah dengan ayah mu."


Tangis ibu, lirih terdengar. Isak yang tertahan selama puluhan tahun, akhirnya pecah dalam pelukan anak pertamanya yang selama ini sangat mirip dengan ayahnya.


"Hik, Hik, maaf, maaf."


Di balik punggung ibu, airmata Ibram juga jatuh bergulir.


Dulu, dia selalu mengagumi semua yang ayah miliki. Kerja kerasnya di perusahaan. Jiwa kepemimpinannya yang juga terlihat tegas di rumah. Ibu yang patuh dan menuruti semua kata-kata ayah. Ternyata, selama ini ibu sudah tercuci otaknya. Seperti dia yang selalu mengatakan pada Erla untuk mengintimidasi gadis itu, kalau dia bukan siapa-siapa tanpa dirinya. Ibu hidup bertahun-tahun dengan kata-kata ayah yang seperti itu.


Ibram dan Ibu saling menghapus airmata. Setelah keduanya merasa tenang. Ibram meraih tangan ibu.


"Ayo pergi denganku Bu, tinggalkan ayah."


"Apa? Tidak Nak, nanti ayahmu bisa murka." Ibu bahkan sudah gemetar.


"Aku yang akan melindungi Ibu!" Suara Ibram mengalahkan gemetar ibu. "Tunjukkan pada ayah, kalau ibu bisa hidup tanpa ayah. Aku punya rumah dan uang yang bisa ibu pakai. Jadi jangan pedulikan ayah."


"Ta...tapi Nak..." Ibu masih ketakutan.


"Ibu! Beranikan diri Ibu, seperti Erla yang pergi dari ku. Buat ayah tahu rasa dan sadar!" Ibram mengguncang bahu ibunya. "Aku yang akan melindungi Ibu, yang harus Ibu lakukan hanya berjalan menuju tempatku berdiri, dan berlindung di belakang ku."


Airmata ibu berjatuhan lagi.


"Aku mohon Bu."


Walaupun dengan tangan yang bergetar, akhirnya kepala ibu mengangguk.


Dan siang itu, diakhir pekan yang awalnya damai. Terjadi keributan besar di rumah Presdir Andalusia Mall setelah kedatangan Ibram. Ibu menghilang tanpa jejak. Bersama surat perceraian yang sudah ditanda tangani menantu rumah ini.


Ayah Ibram meremas surat tulisan tangan yang ditinggalkan istrinya.


"Beraninya kau, memang kau bisa apa tanpa uangku."


vas bunga terlempar memecahkan kaca di meja rias. Para pelayan berdiri ketakutan, melihat kekacauan karena kaburnya nyonya rumah ini. Wanita yang selama ini selalu menganggukkan kepala dengan semua yang dikatakan suaminya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2