Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
126. Bayi Kecil


__ADS_3

Sheri dengan senang hati akan ikut makan malam di rumah Harven. Bahkan, walaupun Kak Mei tidak memintanya sekalipun, dia tidak akan bergeming dan ikut makan malam dengan tidak tahu malu. Hehe, biasanya kan begitu. Suami Kak Mei juga tidak memperdulikannya, bahkan Sheri yakin, kalau suami Kak Mei sama sekali tidak mengenalnya.


Tapi, rencananya buyar saat mobil Arman menepi di depan gerbang. Menjemputnya. Padahal dia belum mengirim pesan.


Ih, kenapa si Kak, kau nongol sekarang. Aku kan mau makan malam dengan Harven dan ibu.


Sheri keluar dari gerbang, berharap bisa membujuk Arman untuk pergi dan menjemputnya nanti.


"Kenapa sudah datang si Kak, kan aku bilang lebih malam lagi. Aku bahkan belum mengirim pesan kan."


Arman setengah berbisik, berkata kalau nyonya, atau ibunya Sheri ingin gadis itu pulang. Karena mereka ingin makan malam bersama Sheri. Walaupun merengut akhirnya, dia berpamitan juga pada Harven dan keluarganya. Arman menundukkan kepalanya dan tersenyum sopan pada Rion. Sementara laki-laki itu cuma mengeryit heran.


Arti kernyitan Rion adalah, siapa dia? Apa aku harus mengenalnya. Ya, Rion bukannya pura-pura tidak kenal dengan Sheri, karena sebenarnya dia memang tidak tahu. Kalau bocah itu adalah, Sherina putri Presdir Gardenia Pasifik Mall yang pernah merepotkan arsitek dan desain interior Andez Corporation. Biasanya, Serge yang akan membisikan nama-nama orang yang harusnya dia kenali.


Begitulah akhirnya Sheri gagal makan malam bersama Harven.


Sekarang, sudah masuk ke dalam mobil. Sheri menyuruh Arman mengemudi dengan lambat karena ada yang mau diceritakan.


"Kak, aku sudah mengajak Harven untuk datang ke rumah, tapi dia masih ragu." Arman bergumam memberi reaksi curhatan Sheri. "Awalnya dia diam saja tidak memberi reaksi, tapi..."


Sheri menyentuh kepalanya. Bahkan sentuhan tangan Harven seperti masih terasa di kepalanya. Kata-katanya juga seperti mengendap di hatinya.


Arman melirik kaca spion, karena Sheri malah terdiam.


"Tapi, dia bilang nggak mau putus dari ku kak." Tidak ingat, kalau sebelumnya dia juga sudah mengancam kalau dia tidak mau diputuskan. "Tapi, sepertinya Harven masih ragu Kak, jadi bagaimana menurut Kak Arman?"


Laki-laki yang sedang mengemudi dengan kecepatan lambat sedang berfikir keras, sebenarnya apa si yang mau dikatakan nona mudanya ini. Dan jawaban seperti apa yang ingin dia dengar. Karena masalahnya, sebenarnya nggak ada masalah kalo dilihat dari kaca matanya.


Harven juga menyukai Sheri, Harven bukan menyukai Sheri hanya karena dia putri Presdir Gardenia Pasifik Mall. Laki-laki itu bahkan tidak tahu siapa orangtua Sheri. Dia juga adik ipar Tuan Rion. Artinya dia sudah terbiasa dengan kehidupan mewah. Lantas apa lagi, yang harus Anda lakukan hanya jujur tentang siapa Anda kan? Isi kepala Arman.


"Oh ya, aku bertemu dengan orangtua suami Kak Mei, Nyonya Yurika mengenaliku Kak, aku takut dia akan mengatakan pada Kak Mei tentang siapa aku, dan Kak Mei bilang ke Harven. Nanti kalau Harven marah bagaimana Kak. Dia saja masih ragu buat ketemu keluargaku."


Arman berharap dia akan segera sampai di gerbang utama, supaya tidak perlu menjawab pertanyaan membingungkan itu. Syukurlah, akhirnya mobil berhenti. Dia keluar dan membuka pintu belakang.


"Nona, selama saya bertemu dengan Harven, dia tidak seperti cowok-cowok lain yang ingin mendekati Anda karena status Anda, untuk itulah Anda jatuh cinta padanya kan? Jadi saya bisa jamin, dia akan tetap percaya diri dengan statusnya, karena yang dia sukai itu Anda secara pribadi, bukan latar belakang keluarga Anda." Arman terlihat bangga dengan apa yang barusan dia ucapkan. "Masuklah, nyonya dan tuan pasti sudah menunggu."


Sheri juga sepertinya terkesima dengan jawaban Arman. Dia senyum-senyum sambil menganggukkan kepala.


"Terimakasih ya Kak, aku akan mengatakannya segera pada Harven. Karena aku percaya, cinta di antara kami sekuat itu juga. Sudah sana, Kak Arman mau kencan juga kan? Cieee." Memukul bahu Aran lalu berlari kecil masuk ke dalam rumah.


Cinta diantara kami, tuan muda pasti akan berasap kepalanya kalau sampai mendengar itu. Arman meraih hpnya, dia memang sudah janjian dengan Jesi malam ini. Mau makan malam di sebuah kafe yang mengusung konsep cinta buku dan makanan enak. Banyak komik zaman dulu yang bahkan sudah tidak beredar di toko buku ada di sana. Laki-laki itu benar-benar berbunga hatinya. Hari-harinya yang selama ini kering kerontang rasanya terus dipenuhi tunas baru setiap harinya.

__ADS_1


Banyak yang mencela hobinya yang suka membaca komik, tapi siapa yang menyangka, kalau sekarang dia jatuh cinta dan berkencan, bukan hanya sebatas pada wanita yang memiliki hobi yang sama dengannya. Tapi dengan pembuat komiknya sendiri. Laki-laki itu merasa menjadi orang paling beruntung dalam hidupnya.


Dia keluar dari gerbang utama, melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. Jesi sudah menunggunya di depan rumahnya.


...🍓🍓🍓...


Makan malam keluarga Sherina.


Hidangan sudah tersedia di meja makan. Dua orang pelayan wanita yang meletakan menu makanan terakhir di atas meja, menundukkan kepala saat Sheri ternyata menjadi orang pertama yang datang. Sheri mengucapkan terimakasih, lalu mereka berlalu bersama kepala pelayan.


Sheri sudah duduk di kursi di ruang makan, saat ayah dan ibunya menuruni tangga. Selalu terlihat harmonis. Sheri selalu ingin memiliki sosok pasangan seperti ayah yang mencintai ibunya. Disusul kakaknya dan kakak ipar, yang selalu mesra bak pengantin baru selamanya. Dia juga ingin memiliki suami seperti Kak Erwin yang mencintai kakak ipar.


Sudah mulai makan.


"Sheri, jangan terlalu sering makan malam di luar donk. Kami juga kan mau makan bersamamu." Erwin yang bicara duluan, setelah memimpin doa dan memulai suapan pertamanya. "Arman bilang, kau bahkan tidak mau pulang tadi. Benar begitu? Jahatnya." Bicara dengan dramatis, seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


Kak Arman! Awas ya kamu mengadu lagi.


"Apa sih Kak, kan nggak sering juga, mumpung hari ini nggak sekolah." Selalu mencoba ngeles disetiap kesempatan. Eh ayah dan ibu malah membela Kak Erwin. Dan bilang setelah punya pacar Sheri lebih senang menghabiskan waktu bersama pacarnya itu. Membuat gadis itu merengut tapi tidak bisa membantah.


"Kapan kamu mau membawa pacarmu ke rumah?" Sinis Erwin bertanya.


"Kak Erwin sudah pernah lihat Harven kan. Ayo ngaku?"


"Sheri, kakakmu kan cuma khawatir. Ibu sama ayah juga khawatir, kamu kan masih kecil, jadi jangan salahkan kakakmu." Kak Erwin menaikkan kedua matanya setelah mendapat pembelaan dari ibu. "Ingat, kalian itu masih kecil, ibu sebenarnya tidak rela kamu pacaran di usia semuda ini."


Ayah Sheri ikut mangut-mangut. Apalagi ayahnya, tentu saja sebenarnya dia tidak setuju. Tapi melarang Sheri juga diluar kemampuannya. Karena kalau Sheri sudah marah atau merengek, dia pun akan mengabulkan semua yang diinginkan anaknya.


"Kalian pacaran normal saja seperti anak SMU, dia tidak suka menyentuhmu kan? Kalian gak pegang-pegang kan?" Membayangkan saja sudah membuat orang naik darah. Erwin menjatuhkan garpu yang dia pegang ke atas piring. Lalu memukul meja. "Kalau dia berani kurang ajar padamu, kalau dia berani menyentuh bayi kecilku! Aaaaaaa! Awasss saja!" Meremas udara di depan wajah. Istrinya mengelus punggungnya sambil berkata, sayang tenanglah, Sheri bisa menjaga diri pasti. "Tapi Sheri itu masih bayi!"


Apa sih siapa yang masih bayi! Lihat, kakak ipar saja tertawa. Saat Sheri melihat ayah dan ibunya yang mengangguk-angguk dia jadi merengut kesal lagi. Apa! Kalian sependapat dengan Kak Erwin!


"Apa sih Kak, Harven bukan laki-laki yang begitu tahu!"


Malah aku yang sering curi-curi kesempatan. Hehe.


Tapi, Sheri nggak akan bilang. Dia tidak mau mendapat ceramah berjilid-jilid.


"Harven itu punya kakak perempuan. Dia selalu bilang, Kak Mei adalah kakaknya yang berharga. Jadi, dia akan memperlakukanku seperti dia mau Kak Mei diperlakukan pasangannya. Dia tidak mau karma buruk terjadi pada Kak Mei, kalau sampai dia menyakiti perempuan lain. Dia juga sangat sayang pada ibunya. Mirip Kak Erwin kalau sayang sama ibu."


Dari cerita Sheri, Harven terdengar seperti sosok laki-laki luar biasanya. Memang kenyataannya begitu si. Tapi, ayah dan Erwin tetap tidak mau memuji laki-laki yang sudah mencuri hati bayi kecil mereka. Sekarang saja makan dengan Sheri menjadi hal yang sangat mahal. Semakin membuat mereka tidak menyukai Harven.

__ADS_1


"Dan ibu, ibu dapat salam dari Nyonya Yurika. Tadi aku ketemu dengannya di rumah Harven."


Hah! Ibu terlihat kaget.


"Nyonya Yurika, istri Presdir Andez Corporation? Kenapa dia di rumah Harven?" Erwin yang tersentak sambil menutup mulut. Sepertinya fantasinya mulai menjalar ke mana-mana. "Apa Harven anak Presdir Andez Corporation yang dirahasiakan?" Karena setahunya, hanya CEO Rionald anaknya Presdir.


"Kamu itu bicara apa, Tuan Frans itu terkenal sangat mencintai istrinya dan tidak pernah telibat skandal, dia itu seperti ayah dan ibu." Ayah Sheri mematahkan prasangka Erwin. Untuk itulah dia mempercayakan pembuatan asrama karyawan perusahaannya kepada Andez Corporation. Selain reputasi perusahaan yang baik, citra keluarga presdirnya yang bersih juga menjadi titik ukur ayah Sheri menilai Andez Corporation saat itu.


"Kalian bicara apa sih, suami Kak Mei itu Tuan Rion." Sheri meluruskan salah paham dan praduga.


Apa! Keempat orang yang ada di meja makan berteriak bersamaan. Bahkan istri Erwin juga, karena dia sudah beberapa kali bertemu dengan CEO yang terkenal angkuh dan dingin itu.


"Sheri, jangan bicara sembarangan, putra Presdir Andez Corporation belum menikah?" Ayah bicara lagi.


"Benar, sama perempuan saja dia cueknya luar biasa." Erwin tentu melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau ini.


Dan dengan semangat Sheri menjelaskan benang merah yang terhubung antara kekasihnya dengan Andez Corporation. Harven itu adik ipar CEO Rionald. Pernikahan Kak Mei, kakaknya Harven dan CEO memang belum diumumkan kepada publik karena kondisi kesehatan ibunya Harven. Sheri menceritakan ulang apa yang sudah dia dengar dari Harven. Tapi, hubungan mereka benar-benar sangat baik. Tadi saja Sheri melihat bagaimana nyonya Yurika memeluk ibu Harven dengan hangat. Dan sepertinya, semua orang yang sedang duduk di samping Sheri benar-benar sangat terkejut dengan fakta ini.


"Harven itu adik ipar CEO Rionald." Sheri menegaskan lagi.


"Lantas kenapa? Dia tetap pencuri hati bayi kecil kami." Erwin masih saja judes, kakak ipar Sheri sampai tertawa melihat kelakuan suaminya. "Wahh, aku sangat terkejut kalau dia sudah menikah."


Ah, posisi Harven sebagai adik ipar CEO bisa menjadi nilai tambah kan, aku sudah berbusa bicara begini awas saja kalau kalian masih berfikir yang aneh-aneh tentang Harven.


"Jadi, bisakah kalian merestui hubungan kami. Pacaran, pacaran ini saja kok." Melihat mata ayah dan Erwin sudah berkobar. "Kami juga tahu masih SMU, kami cuma pacaran Ayah, Kakak! aku juga tahu batasannya kok."


Mereka menyeramkan sekali!


Ayah dan Erwin menghela nafas pada akhirnya, mereka tidak akan menang kalau bicara di depan Sheri.


"Kalau pacaran jangan terlalu bucin." Erwin bicara dengan lantang. "Biasa saja, masih bayi juga pacar-pacaran." Ketus lagi.


"Ia, jangan terlalu bucin, biasa saja." Ayah juga sok tahu urusan bucin-bucin.


Sheri mengambil sendoknya, menyuap ke mulutnya dengan santai, lalu melihat ayah dan kakaknya.


"Memang dari siapa aku menuruni bakat bucin ini." Hap, memasukan suapan ke mulut, sambil tersenyum menyeringai.


Ibu dan istri Erwin tertawa bersamaan. Sementara ayah dan Erwin membeku, tidak bisa menjawab. Karena itu bukan sindiran, tampi tamparan telak ke pipi mereka. Ya, darah bucin Sheri memang mengalir dari ayah dan kakaknya yang begitu bucin pada pasangan mereka masing-masing.


"Tolong, perlakukan Harven dengan baik ya, ayah dan Kakak, Sheri mohon. Hehe." Hup, makan lagi.

__ADS_1


Dasar pencuri! Isi kepala ayah dan Erwin terlihat jelas dari kerutan di sudut matanya. Harven pencuri hati bayi kecil kami.


Bersambung....


__ADS_2