Sebatas Menjadi Istri Boneka

Sebatas Menjadi Istri Boneka
166. Mirip


__ADS_3

Lanjutan dari kejadian, Mei dan Rion tertangkap basah ibu.


Rasanya kalau bisa, Mei lebih memilih menenggelamkan wajahnya sekarang, tidak, bahkan dia ingin sekalian tubuhnya menghilang dari apartemen Kak Rion ini. Sudah tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana malunya dia. Kenapa harus saat berciuman si, kalau masih peluk-peluk rasa malu masih bisa dinetralisir, tapi ini.


Kak Rion!


"Ada apa Nyonya? Apa tuan muda dan nona sudah kembali?" Bibi muncul dari ruang kerja Rion dengan peralatan tempur dan kantong plastik sampah besar di tangannya. Dia pasti habis membereskan kekacauan yang ditimbulkan Rion kemarin.


"Bibi!" Mei semakin oleng kakinya. Dia tadi hanya berfikir cuma ada ibu.


Belum selesai terkejut karena kemunculan bibi, suara pintu balkon yang terbuka terdengar. Bola mata Mei kembali membelalak. Dia mencengkeram lengan Rion sambil menjerit.


"Ayah juga!"


Tenang Mei! Bernafas Mei! Sekarang yang penting kabur dari situasi memalukan ini! Aaaaa! Kenapa semua orang ada di sini! Jeritan gadis itu dalam hati, sambil tergesa melepaskan lengan Rion. Dia mau tenggelam di bak mandi saja.


Mei buru-buru melepas sepatunya dengan kaki, lalu menundukkan kepala kepada ayah. Wajahnya semerah tomat, telinganya pun memerah karena menahan malu. Dengan ibu saja malunya setengah mati, apalagi sampai ayah juga! Aaaaa! Kak Rion! Semakin gemas, karena Kak Rion bersikap biasa saja. Jangankan malu, kaget pun tidak dia. Malah manyun sepertinya wajahnya.


Dasar! bisa-bisanya malah kesal, seharusnya kakak kan malu! Aaaaa!


"Kak, aku mandi duluan ya?" Tidak menunggu jawaban Rion, Mei langsung berjalan melewati ayah dan ibu. "Saya permisi dulu Bu, mau mandi."


Dan setelah menundukkan kepala, tubuh kecil itu melesat seperti sambaran kilat di waktu hujan, dalam sekejap mata menghilang dari pandangan orang-orang, mereka yang melihat langsung tergelak saat suara pintu kamar mandi menutup dengan keras. Rion pun tertawa melihat tingkah istrinya. Untung saja dia tidak kejedut pintu, pasti tambah lucu.


Lalu senyumnya menghilang, saat melihat ketiga orang pengganggu yang entah kenapa bisa datang di waktu yang sangat tidak tepat ini. Hah! Kemarin Serge, dan sekarang kalian. Hemm, apa perlu aku mengganti kode kunci rumah.


"Hah!"


Rion menghela nafas. Dia mengusap rambutnya ke belakang. Melihat ayahnya, yang hanya angkat bahu lalu merangkul lengan istrinya. Memberi isyarat, kalau dia datang karena istrinya. Ibu Rion tertawa karena melihat wajah merengut anaknya. Yang sedikit kesal.


"Kami menggangu ya? Hihi." Ibu malah menggoda dengan isengnya sambil mengedipkan mata, "Sengaja tuh, hoho." Sambil menutup mulutnya yang tertawa ibu mengibaskan tangan menyuruh Rion mendekat. "Kalian dari mana? Olahraga?"


"Dasar kalian ini nggak punya kerjaan ya." Berdecak. "Ia, aku dan Mei olahraga di bawah."


Rion melepas sepatu yang dia pakai, lalu berjalan mengikuti ayah dan ibunya ke meja dapur. Ibu mengambil sebotol air dari kulkas menyodorkan ke tangan Rion.


"Terimakasih Bu, tapi, kenapa kalian di sini?" Setelah duduk, dia meneguk beberapa tegukan air yang ada di dalam botol.


Walaupun dia sudah bisa menebak alasan kedatangan kedua orangtuanya apa. Pasti karena kejadian kemarin di RS. Ibu pasti sudah mengadu pada ayah. Mereka datang karena khawatir, pasti lebih banyak cemas untuk Mei. Dasar, aku ini anak kalian, tapi pasti kalian lebih mencemaskan Mei kan? Tapi, diujung kalimatnya Rion tersenyum. Dia senang, karena orangtuanya sangat menyayangi istrinya.


"Ibumu khawatir pada Mei." Ayah yang menjawab, setelah dia duduk di samping ibu.


Nah benar kan, gumam Rion.


"Apa sih, memang aku mau melakukan apa pada Mei." Rion memukulkan botol airnya ke atas meja. Berlagak kesal karena pikiran buruk ibu. "Tidak terjadi apa-apa, lihat sendiri kan, kalau kalian tidak datang, aku dan Mei pasti sekarang sedang..." Rion melengos tidak melanjutkan kata-kata.


"Hihi, Rion masih ngambek." Ibu malah semakin menggoda anaknya, membuat Rion mendengus. Tapi, wajah ibu berubah serius, sambil menunjuk kantong sampah yang dibawa bibi tadi dari ruang kerja. "Terus, kenapa ruang kerja mu seperti kapal pecah? Kalian tidak bertengkar kan?" Ibu menyikut lengan suaminya supaya membantunya bicara.


"Ah..." Sambil cuma mengangkat bahu Rion menjawab. Tidak mau menjelaskan. Dia melampiaskan amarahnya di ruang kerja.


Diamnya Rion, membuat ibu melanjutkan pembicaraan yang terkesan serius.

__ADS_1


"Rion, dalam pernikahan pertengkaran dengan pasangan itu lumrah adanya, tapi kau harus bisa menahan diri, jangan sampai kemarahan mu membuat mu menyesal, karena kau menyakiti Mei." Ibu langsung memberondong Rion dengan nasehat. Karena kalau kalah cepat bisa-bisa tidak ada kesempatan bicara serius dengan anaknya ini. Dia juga sangat kaget melihat ruang kerja. Sedikit terobati kepanikannya dengan melihat kamar yang lumayan berantakan. Tapi dengan nuansa dan aura yang sangat kontras. Dan ibu menyimpulkan kalau semua baik-baik saja. Rion masih terdiam, sambil memainkan jemari di tutup botol minum. "Mungkin Mei bisa memaafkan mu, tapi perasaan sakit itu tidak akan hilang selamanya. Jadi, jangan melampiaskan kemarahan mu pada istri mu." Ibu menatap anaknya. Mulut Rion maju, sepertinya dia sedikit tersinggung. Kata-kata itu mengandung isyarat, kalau ibu berfikir dia sudah menyakiti Mei. "Hoho, tapi Ibu tahu, kamu nggak akan begitu kan. Ibu percaya padamu." Ibu mengelus dadanya lega saat melihat sorot mata anaknya, suaminya benar, tidak mungkin Rion akan menyakiti Mei.


Ya, wajar saja ibu curiga pikir Rion. Dia menghela nafas lagi, tidak mau menyanggah ibunya. Dan menyimpan nasehat ibu di lubuk hatinya, sebagai pengingat. Supaya dia berhati-hati.


"Tapi melihatmu dan Mei, ibu yakin kesalahpahaman kalian sudah diluruskan kan?"


"Hah! Ibu dan ayah menggangu tahu!" Jawaban Rion masih bermuatan protes. Membuat ibu tertawa sambil memukul lengan suaminya. "Ayah juga, sepertinya tidak pernah muda saja." Menuding ayahnya dengan sorot mata tajam. Ayah ikut tergelak melihat anaknya yang merajuk.


Saat ketiga orang itu sedang mengobrol, sambil menikmati makanan yang ibu beli, Mei sudah selesai mandi.


Aroma kesegaran langsung tertangkap hidung Rion, dia menoleh, Mei berjalan ke arahnya. Dia mengikat rambut ikalnya jauh lebih rapi. Gadis itu mendekat, masih dengan wajah malu.


"Kau sudah selesai? kemarilah!"


Rion menerima tangan Mei yang terulur, lalu menariknya, sampai Mei menabrak tubuhnya. Rion memeluk pinggang gadis itu. Jangankan sekarang saat dia sudah mengaku cinta pada Mei, saat dulu masih dipenuhi sandiwara saja dia bisa seenaknya memeluk Mei di depan ayah dan ibunya. Mengumbar kemesraan adalah caranya menikmati cinta.


"Katakan pada Mereka Mei, apa yang kulakukan pada mu kemarin." Rion mempererat dekapan tangannya, sampai pinggang Mei menyentuh pipinya


"Hah! Apa Kak?"


Melihat ayah dan ibu, yang entah kenapa bola mata ibu berbinar, seperti sedang menunggu penjelasan apa yang akan keluar dari mulutnya.


Apa! Bagian mana yang harus aku katakan Kak!


"Kalian tidak bertengkar kan Mei?" Ibu tersenyum, masih dengan bola mata berbinar.


"Rion, tidak memperlakukan mu dengan buruk karena kesalahpahaman pil kontrasepsi kan?" Ayah sekarang yang bicara.


Apa sih! Aku harus menjawab apa!


"Jawab saja Mei pertanyaan mereka, apa yang kita lakukan kemarin."


"Se..semua baik Bu, Ayah, maaf sudah membuat kalian khawatir. Kami memang sedikit bertengkar, tapi kesalahpahaman diantara aku dan Kak Rion sudah selesai. Terimakasih untuk perhatian kalian."


Ayah dan ibu menyambut dengan kelegaan, dan tersenyum.


"Syukurlah, kalau begitu. Kalau Rion melakukan hal tidak baik, Mei boleh mengadu pada ibu."


"Apa sih Bu.." Rion menarik tangan Mei, membuat gadis itu jatuh kepangkuan ya. "Mei, katakan yang benar donk, biar ayah dan ibu tidak curiga begitu."


Hah! Apa sih Kak!


"Jangan khawatir Bu, Kak Rion sangat baik. Semalam kami tidak bertengkar kok, Hanya siang kemarin saja. Setelah kami bicara jujur dari hati semua bisa diluruskan." Mei memegang tangan Rion yang terpaut di depan perutnya. "Semalam saja, kami begadang sampai..." Mei menutup mulutnya.


Merilin gila! Kau mau bicara apa!


Dari tawa ibu dan ayah yang mengulum senyum, Mei yakin dua orang itu tahu maksud kata-katanya. Apalagi disusul Kak Rion yang ikut tertawa sambil menciumi pipinya.


"Aku mencintaimu Mei, Ibu dan Ayah sudah puas kan, setelah mendengar Mei sendiri yang bicara."


Mei cuma bisa menutup wajahnya yang kembali memerah.

__ADS_1


Kak Rion!


...🍓🍓🍓...


Rion pergi mandi, setelahnya dia bicara dengan ayah. Mei membantu ibu dan bibi di dapur menyiapkan makanan. Mereka mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang bagaimana Mei berbaikan dengan Kak Rion kemarin. Mei pun mengatakan kalau dia sudah bilang, ayah dan ibu sebenarnya sudah tahu mengenai pil kontrasepsi.


Dan saat makan, ayah mengatakan tentang rencana resepsi pernikahan dan pengumuman Mei kepada publik.


"Aku mau semua orang tahu kalau kau adalah menantu kami Nak, terkadang ada saja orang yang mengambil foto Rion tanpa izin, jadi kalau kalian tertangkap kamera saat berdua pun, tidak akan ada gosip yang macam-macam."


Mei melihat Rion, laki-laki itu meraih tangan Mei dan tersenyum, mencium punggung tangan Mei.


"Aku mau semua orang tahu, kalau kau istriku Mei."


"Kak..."


Ah, apa ini, aku mau menangis saking senangnya. Padahal dulu, Kak Rion sendiri yang tidak menginginkan resepsi ini.


Tidak bersisa sedikitpun keraguan di hati Mei, tentang cinta tulus Kak Rion padanya. Sekarang, mereka benar-benar saling mencintai. Dia maupun Kak Rion, memiliki perasaan yang tulus di hati masing-masing.


Terimakasih Tuhan, terimakasih. Banyak sekali hal yang terjadi dalam hidup ku, Kak Rion seperti hadir menyelamatkan hidupku. Terimakasih Tuhan. Dalam hati Mei mengumandangkan rasa syukur yang tidak terhingga.


Ayah kembali bicara.


"Kau masih bisa bekerja kalau itu keinginan mu, ayah tidak melarang, cuma, Rion, tolong jaga sikap mu kalau di kantor. Jangan membuat Mei merasa canggung dengan rekan kerjanya." Ayah sepertinya tahu pasti sifat anaknya.


"Apa sih, memang aku melakukan apa di kantor. Paling aku cuma memeluk Mei di Loby supaya semua orang melihat." Melengos sambil tertawa. Ya, dia memang sengaja tu melakukan itu semua. Supaya karyawan wanita berhenti membual tentang tidak pantasnya Mei menjadi istrinya, supaya mereka tahu, bahwa dia sangat mencintai Mei. Agar mereka jera dan tidak menggunjing Mei, walaupun sekedar membicarakan gadis itu dibelakangnya.


"Rion!"


"Ia Ayah, baiklah, aku tidak akan memeluknya di loby, aku akan berhati-hati." Menoel dagu Mei. "Aku akan memanggilnya ke ruangan ku, kalau aku merindukannya."


"Kakak!"


"Rion!"


"Hemm, lanjutkan Nak, kelakuan mu mirip sekali dengan ayahmu dulu."


Mendengar ibu bicara begitu, Mei jadi tertawa, apalagi saat melihat ayah menutup sebagian wajahnya sambil menoleh pada ibu.


"Haha, sayang, sudahlah, Rion itu terlalu mirip dengan mu. Haha." Ibu menyentuh pipi suaminya, sampai tidak bisa berhenti tertawa. "Jangan menggangu mereka. Haha."


Rion meraih tangan Mei yang ada di atas meja. Menempelkan ke pipi. Dia tersenyum sambil menunjuk ayah dan ibunya.


"Kau akan semakin kaget kalau sering bersama mereka Mei, jadi terbiasa lah." Mei ikut tersenyum sambil nyengir. "Dan bersiaplah, seperti kata ibu, aku itu mirip dengan ayah." Rion menunduk sambil mendekatkan wajah, memberi kecupan di bibir Mei. Wajah gadis itu kembali memerah.


Rion yang memang tumbuh dipenuhi cinta kedua orangtuanya, memang sangat tahu bagaimana caranya mencintai. Mungkin dia pernah berubah karena kecewa dan tersakiti. Namun, sang waktu telah membalikkan keadaan. Laki-laki itu telah kembali, pada dirinya yang dulu.


Dapur apartemen dipenuhi cinta. Bibi yang mau mendekat malu sendiri, akhirnya memilih menikmati udara segar dan kelopak bunga yang bermekaran di balkon.


Akhir pekan di tutup degan manis, esok mereka akan kembali disibukkan dengan perilisan film pendek promosi, dan naik cetaknya majalah perusahaan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2