
Berjalan menuju kamar nenek. Mei menghentikan langkah. Rion ikut berhenti.
"Kak, kenapa nenek dan kakek mau bicara berdua saja dengan ku?" Takut, khawatir terlihat jelas di mata Mei. Rion malah tertawa lalu mencium bola mata Mei. "Kakak, kenapa malah tertawa si."
Dari dulu, selalu tertawa untuk alasan yang aneh.
"Kau lihat kan tadi, mereka sangat sayang padaku. Jadi jangan takut begitu, kau istri yang aku cintai Mei."
"Tapi, bagaimana kalau mereka bertanya tentang alasan kita menikah Kak?"
"Mereka tidak akan bertanya." Mereka pasti sudah tahu, gumam Rion. Saat mereka sudah sampai di depan pintu, Rion masih memberikan kecupan manis di pipi Mei, mengusir ketegangan gadis itu. "Lagi pula, seperti yang kau bilang, alasan apa kita menikah, itu tidak penting sekarang kan?" Pelukan Kak Rion sedikit memadamkan kekalutan hati Mei. Sebelum dia memasuki, kamar nenek.
...🍓🍓🍓...
Nenek dan kakek Kak Rion terlihat sangat berbeda karakternya. Dalam sekali lihat saja Mei bisa menyimpulkan. Nenek yang ramah dan murah senyum, sebaliknya kakek yang pendiam dan jarang berekspresi, namun mereka terlihat sangat cocok bersama.
Usia boleh senja, masa tua pun telah menjemput, namun sepertinya cinta diantara mereka tidak termakan oleh waktu. Bagaimana kakek yang selalu berusaha menyesuaikan suasana hati nenek, sorot mata cinta dan kekaguman yang tak lekang oleh waktu. Walaupun tangan sudah keriput, walaupun pendar kecantikan telah memudar.
Itulah cinta sejati, dan aku pun berharap, kisah cinta ku dan Kak Rion, akan berlabuh seperti beliau berdua.
Sedikit cerita tentang nenek dan kakek Kak Rion.
Setelah pensiun dari pekerjaan, dan anak-anak mereka sudah menemukan jalan hidup masing-masing, nenek dan kakek menikmati kebersamaan antar mereka saja, seutuhnya hidup hanya untuk mereka berdua. Pergi ke berbagai belahan dunia, menikmati hari tua, itulah yang dilakukan keduanya. Waktu mereka lebih banyak di habiskan di luar negri, membayar semua masa muda yang mereka habiskan untuk bekerja keras selama ini. Terkadang, mereka bepergian bersama sahabat-sahabat masa muda mereka.
Nenek masih menulis, karena itu memang dunianya. Kakek, walaupun tidak mencampuri urusan perusahaan, namun masih diam-diam memantau. Memastikan segala sesuatunya berjalan dengan semestinya.
Itulah yang Mei ketahui, tentang nenek dan kakek Kak Rion, yang saat ini sedang bersamanya. Keringat dingin sudah muncul di telapak tangan Mei.
Mei meremas jemari tangannya.
Kenapa beliau berdua mau bicara dengan ku secara pribadi? apa aku melakukan kesalahan? apa ada sesuatu yang tidak mereka sukai dari ku.
Glek, Mei menelan ludah dan menunduk, saat pandangannya bertemu dengan mata kakek.
"Mei..."
"Ia Nek!" Tubuh Mei bergerak sendiri tanpa dia sadari, ditambah Mei menjerit dengan suara melengking. "Maaf, maaf Nek, saya tidak bermaksud berteriak." Perlahan, Mei menjatuhkan pinggulnya lagi ke sofa. Dengan wajah merah padam.
Nenek tergelak kecil, lalu tiba-tiba dia sudah duduk di samping Mei. Tangannya yang sudah keriput, membawa sebuah kotak. Mei menerima kotak itu, ketika nenek mengulurkan tangannya. Bola mata nenek bersinar, dia terlihat bahagia.
"Hadiah pernikahan mu Nak, dari kami, nenek dan kakeknya Rion." Sentuhan tangan nenek di pipi Mei. Gadis itu merasakan, tangan nenek yang seperti tangan miliknya. Bukan tangan yang terasa lembut, namun entah kenapa, sentuhannya hangat di pipinya. "Terimalah."
Mei melihat ke arah kakek.
Kakek Kak Rion yang sedari tadi diam, menganggukkan kepala. Dengan ketegangan yang belum memudar, Mei membuka kotak yang berada di pangkuannya.
Isinya perhiasan yang berkilauan, ada kalung dengan liontin berbentuk bunga, gelang yang juga memiliki motif yang sama dengan kalung dan juga cincin dengan berlian di atasnya.
"Indah sekali."
Nenek meraih tangan Mei. Mengusapnya perlahan.
"Terimakasih, sudah hadir dalam kehidupan Rion. Lihatlah Nak..." Nenek menunjuk liontin yang menjadi bandul kalung. "Ada inisial nama mu dan Rion, teman nenek yang membuatkan nya khusus untuk kalian."
Jadi ini edisi khusus yang dibuat untuk kami.
"Terimakasih Nek, hadiah Nenek indah sekali. Saya akan memakainya."
Nenek mengganguk. Tersenyum dengan hangat. Nenek bilang, saat menikah dulu, temannya membuatkan perhiasan khusus yang dia pakai di hari pernikahannya. Dan itu menjadi benda berharga yang dia simpan dan dia pakai sampai hari ini. Apalagi setiap merayakan ulang tahun pernikahan, seperti menjadi cara mereka mengingat masa lalu.
"Jadi, tanpa sadar, aku selalu meminta teman ku untuk membuatkan setiap anak-anak atau cucu ku menikah, walaupun mengomel dan bilang ini merepotkan di usianya yang sekarang, tapi dia tetap membuatnya. Semoga kalian selalu berbahagia Nak."
Pelupuk mata Mei sudah memanas, walaupun baru saja bertemu, Mei sudah merasa menjadi orang yang dicintai.
"Terimakasih Nek, teman nenek pasti orang yang sangat baik. Sampaikan terimakasih saya pada beliau."
"Hehe, dulu kami saingan cinta saat memperebutkan kakek mu."
Ehm.. terdengar kakek berdehem, menghentikan cerita dan tawa nenek.
"Haha, sayang, aku selalu merasa menjadi muda lagi, setiap datang ke pernikahan begini. Aku teringat saat Nea menikah." Bibi Nea, adik ayah pikir Mei. "Kapan-kapan pergilah ke rumah bibi mu Nea, dan minta dia cerita, bagaimana dia bertemu suaminya. Ah, lucu dan seru sekali, ya sayang?"
Kakek mengganguk mengiyakan. Lagi-lagi, sorot mata penuh cinta yang dilihat Mei. Ah, dia jadi penasaran, bagaimana kisah hidup bibi Nea. Wanita ceria yang seperti jelmaan nenek dengan rambut indah bergelombangnya, yang memperlakukan suaminya seperti anak kecil.
"Apa Nenek, boleh memeluk mu?" Tiba-tiba, nenek bicara lagi.
"Ia Nek, tentu saja."
Dalam sekejap, dua orang wanita berbeda generasi itu sudah berpelukan. Dan saat Mei mengusap punggung nenek, wanita yang sudah senja namun masih terlihat menawan itu mulai terisak. Mei tersentak kaget, karena tiba-tiba mendengar nenek menangis.
"Kenapa Nenek menangis?"
Tentu saja Mei bingung, kenapa tiba-tiba nenek terisak, saat gadis itu bertemu pandang dengan kakek, laki-laki itu pun tidak banyak memberikan jawaban, ekspresinya terlihat datar saja. Perlahan, bercampur Isak, nenek berterimakasih lagi pada Mei. Karena sudah menikah dengan Rion, karena membuat kebahagiaan putranya Frans dan istrinya semakin lengkap dan sempurna.
"Kau itu datang seperti malaikat bagi rumah ini Mei, memberikan cinta, senyuman dan kebahagiaan. Bukan hanya untuk Rion, tapi Frans dan Yurika juga."
Masih dalam pelukan nenek, hati Mei berdenyut pelan. Kata-kata yang terucap tulus itu menelisik ke dalam relung hatinya. Dan ada bagian hatinya yang langsung tercipta ombak penolakan.
Tidak Nek, aku bukan malaikat. Mei malu pada dirinya sendiri. Karena bagaimanapun, alasan awal dia menikah dengan Kak Rion tidaklah setulus itu. Jadi, dia tidak pantas disebut sebagai malaikat.
Nenek Rion mulai mengatur helaan nafasnya, isaknya pun sudah berhenti dan berganti senyuman. Saat dia mendorong lengan Mei, tangan yang sudah keriput itu masih memegang lengan Mei dengan erat.
Ah, bagaimana ini? Kalau nenek dan kakek tahu cerita masa lalu ku, apa mereka masih akan berfikir seperti ini? Mei tenggelam dalam kegamangan.
"Nek..."
"Pasti, kamu terkejut ya tadi, melihat saudara Rion yang terlihat menyayanginya?" Kata-kata Mei tertelan lagi. Saat nenek bicara. Keberaniannya untuk bicara ikut menghilang.
"Eh, ia. Apa terlihat sekali Nek?" Mei jadi merasa seperti transparan. Karena isi pikirannya terlihat. "Kak Rion tumbuh dengan cinta keluarga yang luar biasa."
Mei mendorong jauh-jauh pikiran negatifnya, dia tidak berani membuat pengakuan tentang alasan dia dulu menikah, tapi juga masih merasa malu, dengan pujian nenek yang menyebutnya malaikat.
"Sayang, apa Mei boleh tahu, tentang rahasia kelahiran Rion?" Nenek bertanya pada kakek.
Deg...
Apa ini? pikir Mei, kenapa sampai ada rahasia kelahiran segala. Memang apa yang terjadi? Saat Mei melihat kakek menganggukkan kepala, Mei langsung menyiapkan hati, untuk mendapatkan kejutan. Apa pun itu.
"Sebenarnya, kakek melarang membicarakan ini, semua orang juga mematuhinya, termasuk Frans dan Yurika, tapi..." Nenek meraih tangan Mei. "Sekarang, kaulah kebahagiaan Rion, jadi kami merasa kau pun harus mengetahui ini. Alasan kenapa Rion menjadi istimewa dalam keluarga kami."
Deg..deg.. jantung Mei langsung berdebar hebat.
Kalau perihal ibu yang kandungannya lemah, Mei juga sudah tahu itu. Tapi, ternyata, di balik itu masih banyak cerita yang tersimpan. Yang selama ini tidak pernah dibicarakan lagi karena menjaga perasaan Kak Rion. Kakek membuat larangan yang dipatuhi semua orang.
"Yurika pernah keguguran tiga kali, dan yang terakhir, hampir merengut nyawa Yurika. Dia sampai koma." Mei langsung tersentak, tangan nenek memegangnya semakin erat. "Frans seperti kehilangan arah. Kakek mu juga melihat Frans begitu, jadi terbawa emosi. Tapi, teman kakek mu yang dulu kepala rumah sakit dan jadi dokter penasehat, melakukan berbagai cara yang dia bisa. Mendatangkan ahli-ahli dari luar negri, mengumpulkan dokter terbaik dari seluruh negri, untuk menyelamatkan Yurika."
Sahabat-sahabat kakek kala itu melakukan semua hal yang bisa dilakukan, dan setelah melewati antara hidup dan mati, Yurika berhasil selamat. Begitulah cerita nenek, yang membuat Mei dihujani perasaan terkejut.
Sejak saat itu, Frans memutuskan, tidak akan memiliki anak dan melarang Yurika untuk hamil. Dia akan hidup berdua saja dengan istrinya tanpa penerus. Itulah keputusan Frans karena melihat perjuangan Yurika bertahan hidup.
Airmata Mei bercucuran.
"Jadi, Kak Rion?"
Apa dia bukan anak kandung ayah dan ibu? pikiran yang langsung terbesit, di hati Mei. Kakek berdehem, saat mendengar gumaman Mei barusan.
"Rion anak kandung Frans dan Yurika."
Mulut Mei sampai terbuka saking kagetnya, karena seperti kakek membaca apa yang dia pikirkan. Padahal dia jelas-jelas hanya bergumam tadi.
"Maaf, saya..."
"Kamu tidak salah Mei, nenek lanjutkan ya?" Mei mengganguk. Tangannya masih erat digenggam nenek. Dia melirik kakek sekilas. Bagaimana beliau bisa tahu apa yang aku pikirkan?
__ADS_1
Hiii, berhenti berfikir yang aneh-aneh Mei!
Nenek melanjutkan cerita.
Yurika masih merasa hidupnya kurang lengkap tanpa anak, walaupun Frans sudah berusaha meyakinkan, kalau tidak masalah tanpa anak juga. Dan kegelisahan Yurika itu, membawanya diam-diam, menemui dokter sahabat kakek, dan berkonsultasi. Apa masih ada kemungkinan, dia bisa hamil. Dia akan melakukan apa pun.
Dan harapan itu ternyata masih ada, tapi satu penghalang yang harus dilewati Yurika adalah Frans. Walaupun sudah memohon dan menangis tetap Frans tidak bergeming.
"Tidak."
Seperti kakeknya, sekali tidak, tetap tidak. Frans tidak mau menempatkan Yurika pada situasi seperti kehamilan sebelumnya.
"Bagaimana ayah akhirnya luluh Nek?"
"Ya, kakek mu campur tangan. Dia membawa sahabatnya untuk memberi penjelasan pada Frans." Lagi-lagi Mei melirik kakek. "Hampir setahun, waktu untuk meyakinkan Frans kala itu."
Aaaaa! Ayah, ayah pasti sangat mencintai ibu.
"Kakek berhasil membujuk ayah?"
Dan akhirnya, Frans luluh dengan permohonan Yurika. Setelah kakek turun tangan. Mereka menjalani program kehamilan dengan pengawasan yang sangat ketat dari dokter. Bahkan ada perawat khusus yang tinggal di rumah untuk mengejek kesehatan Yurika setiap hari. Istirahat total selama kehamilan, itu yang jalani Yurika. Karena beberapa kali pendarahan terjadi. Bahkan, selama beberapa Minggu, Yurika cuma bisa terbaring di tempat tidur.
Ya Tuhan, aku tahu, setiap ibu berjuang dengan caranya masing-masing.
"Perjuangan selama kehamilan belum selesai Mei, karena Rion lahir prematur saat itu. Demi keselamatan Yurika dan bayinya saat itu, dokter memutuskan kelahiran prematur."
Mei tidak bisa membayangkan, Kak Rion yang terlihat gagah, tampan degan tubuh tingginya, dulu lahir mungil seperti botol dalam genggaman. Yang harus sebulan tinggal di inkubator.
"Mungkin, karena melihat Rion yang berjuang hidup dari masih di dalam perut Yurika, sampai dia lahir, kami secara naluri jadi sangat menyayanginya."
Tangan Mei meraih punggung nenek, lalu memeluknya. Suara Isak kecil keluar dari bibir mungilnya.
"Frans sangat menyayangi Rion, anak yang mungkin tidak akan terlahir kalau dia tidak memberanikan diri. Anak yang harus berjuang hidup di awal kelahirannya. Ah, itu membuat Frans memanjakan Rion dan selalu menuruti kemauannya, bahkan mengalah saat Rion bilang tidak mau menjadi penerus Andez Corporation."
Benar, bukankah itu aneh gumam Mei. Ayah sampai membiarkan Kak Rion mendirikan perusahaan game. Awalnya, Mei hanya berfikir, karena ayah menyayangi Kak Rion. Tapi ternyata, ada kisah penuh keharuan di sana.
"Frans tidak mau membuat anak yang susah payang dia dapatkan, hidup tidak bahagia. Jadi, dia mengalah pada keinginan Rion. Ya, walaupun akhirnya, Rion kembali. Memilih Andez Corporation dan membawa mu masuk dalam keluarga kami."
Sungguh, saat ini perasaan Mei sangat campur aduk.
"Mungkin, kamu bertanya-tanya, kenapa kami merahasiakan ini dari Rion." Lagi-lagi, Mei seperti kaca transparan yang bisa dilihat isi kepalanya. "Entahlah, ini hanya naluri kami yang tidak mau Rion merasa berkecil hati, tidak mau dia terbebani. Atau bahkan menyalahkan dirinya sendiri. Pokoknya, hanya karena kami sayang padanya. Ya, itu saja alasannya." Nenek tersenyum, sambil mengusap pipi Mei. "Bahkan sampai SMU Rion itu lucu dan menggemaskan, dia anak yang ceria karena mendapatkan kasih sayang yang berlimpah."
Cerita nenek masih berisi keceriaan. Sampai pada titik, Kak Rion yang kembali ke Andez Corporation dan membuang mimpinya. Nama Amerla memang tidak disebut nenek. Ah, mungkin karena nenek menghormatinya.
"Kami sangat berterimakasih Mei, kamu mengembalikan Rion kami. Seperti dulu lagi."
Ada yang terasa mencekik di tenggorokan Mei sekarang, dia malu karena lagi-lagi dianggap malaikat berhati mulia.
"Nek..." Mei menggengam tangan nenek. "Sebenarnya, awalnya saya menikah dengan Kak Rion karena...."
"Sssstttt." Nenek menempelkan telunjuknya di bibir. Lalu kepalanya menggeleng. "Jangan mengungkit masa lalu Mei, apa pun alasan mu menikah dengan Rion dulu, sekarang kalian sudah meluruskan kesalahpahaman dan saling mencintai kan?"
"Nenek sudah tahu?"
Nenek tersenyum, lalu dia berjalan meninggalkan Mei. Menghampiri kakek. Dia merangkul bahu suaminya itu.
"Sayang, bukankah Mei mirip dengan seseorang. Menikah karena hutang keluarga." Kakek berdehem lagi menjawab nenek. "Mei, sahabat kami dulu, ada juga yang menikah karena hutang keluarga, terpaksa menikah dengan tuan muda kakek mu, tapi sekarang, mereka bahagia, sangat bahagia. Kapan-kapan, nenek kenalkan ya dengan beliau. Nona muda kami yang sekarang sudah jadi nenek juga. Hehe."
Ucapan nenek membuat perasaan rendah diri Mei langsung menghilang. Seperti dia yang berusaha meyakinkan hatinya dan Kak Rion, bahwa alasan apa pun mereka menikah, yang penting sekarang mereka jatuh cinta dengan sebenarnya.
"Kata Kak Rion, kalian seperti cenayang yang tahu segalanya. Ternyata benar ya?"
"Haha,"
Nenek yang tertawa, sementara kakek tersenyum. Wajah kakek yang agak menakutkan, langsung berubah. Mereka memang terlihat sangat serasi.
"Kalian berdua, terlihat sangat serasi. Seperti terlahir untuk bersama."
"Haha, apa Rion yang mengajarimu. Dia selalu merayu kami dengan kata-kata ibu."
"Hiduplah dengan bahagia Nak, bersama dengan Rion yang mencintai mu." Kakek yang sedari tadi hanya bicara singkat mengatakan banyak kata. "Seperti dia yang hanya akan melihat mu seorang, kau juga lakukanlah hal itu. Jangan lagi menoleh ke belakang, siapa pun yang pernah kau sukai atau pun Rion sukai, itu sudah menjadi masa lalu."
Deg...
Apa kakek sudah tahu semua! Aaaaaa! Bagaimana beliau bisa tahu!
Jangan terlalu banyak mencari tahu Mei ✌️🤭
...🍓🍓🍓...
Rion menarik tangan Mei, setelah gadis itu kembali. Laki-laki itu mendekatkan jari ke bibir, supaya Mei jangan berisik dan mengeluarkan suara, karena kalau ibu melihat, pasti Mei direbut ibu, padahal tadi Mei sudah dibawa kakek dan neneknya lama sekali.
"Kau habis menangis?"
Mereka masuk ke dalam ruangan Rion di mana mimpi masa lalunya tersimpan, kegelapan menyambut. Pendar lampu dari luar yang membuat mereka bisa saling melihat. Lalu Rion meraih saklar lampu, dan memancarlah sinar dari beberapa lampu kecil di dekat lemari kaca. Tempat menyimpan action figure.
"Kenapa menangis? Apa yang nenek dan kakek ku bicarakan."
Rion menciumi bola mata Mei yang mengerjap.
"Nenek bilang, aku malaikat. Hiks, bagaimana bisa orang seperti ku dibilang malaikat."
"Haha, aku pikir kau menangis karena apa, kau kan malaikat kami Mei. Untuk ku dan keluarga ku."
Rion sudah menghujani Mei dengan kecupan, sambil mendorong gadis itu merapat ke salah satu lemari kaca. Tangannya membelai pipi Mei, lalu mereka berciuman di keremangan cahaya.
Deru nafas mereka memburu.
"Kak, kau sadar tidak kalau keluarga mu sangat menyayangi mu. Bukan hanya ayah dan ibu?"
"Aku tahu."
"Menurut Kakak, kenapa mereka sayang pada Kakak? Padahal cucu nenek dan kakek bukan hanya Kakak."
Mereka sudah duduk di sofa. Rion mengangkat wajahnya dari pipi Mei. Tapi tangannya masih berkeliaran di bawah baju yang Mei pakai.
"Karena aku yang paling tampan." Menjawab dengan yakin dan sangat percaya diri.
"Haha, apa si, sepupu Kakak semuanya tampan dan cantik. Awwwww!" Tawa Mei berubah menjadi jeritan, saat Kak Rion mengigit lengannya. "Kenapa menggigit si Kak?"
Rion mendengus. Lalu menggigit lengan Mei yang satunya lagi.
Apa sih, memang dia harimau.
"Tega sekali kau Mei, bagaimana bisa kau bilang laki-laki lain tampan, di depan suami mu sendiri. Apa tidak cukup, dulu kau menyukai Serge. Sekarang, sepupu ku kau bilang tampan juga."
Apa sih, dramanya! Tapi Mei malah tertawa, Kak Rion yang lucu dan menggemaskan semakin sering muncul sekarang. Dia bahkan lupa, versi CEO Rionald yang dulu selalu dia lihat.
"Cuma Kak Rion yang paling tampan di dunia. Sungguh, suamiku yang paling tampan, keren, lucu dan menggemaskan. Tidak ada duanya, hanya Kak Rion."
"Cih..."
Mei mencium pipi Kak Rion, lalu mengecup bibir. Berulang kali, sampai raut wajah acuh itu menghilang, berganti senyuman. Sentuhan Mei yang selalu melumerkan hati Rion, walaupun kemarahan sekalipun.
Lalu Mei melanjutkan ceritanya, apa yang nenek bicarakan tadi.
"Nenek dan kakek memberi ku rumah Kak, atas nama ku. Katanya itu hadiah kecil dari mereka. Tapi..."
"Terima saja, itu bukti kalau mereka juga menyayangi mu. Istriku tersayang."
Rion menggeser duduk, lalu meminta Mei duduk di pangkuannya. Tangannya membelai pipi dan menjalar ke rambut dan telinga Mei.
"Mei, terimakasih."
__ADS_1
Suasana langsung berubah, hanya dengan dua kata yang diucapkan Kak Rion.
"Karena sudah menyelamatkan hidup ku."
"Kak.."
"Karena kedatangan mu, aku bisa membuat orangtua ku berhenti mengkhawatirkan ku. Karena kamu, mereka sangat bahagia sekarang. Ibu bahkan punya banyak anak gadis sekarang. Sebanyak apa pun, aku berterimakasih rasanya tidak akan cukup." Rion meraih punggung Mei, membenamkan wajahnya ke dada Mei. "Kau datang menjadi malaikat kecil dalam hidup ku dan keluarga ku. Aku mencintai mu Mei. Merilin Anastasya, istri mungilku yang cantik dan mempesona." Satu kecupan membuka ciuman panjang mereka.
"Aku juga mencintai mu Kak. Terimakasih juga, karena sudah memilih ku."
Dua orang yang saling berterimakasih, dua orang yang saling mencintai dan merasa pasangan mereka adalah orang yang paling berharga.
"Mei..."
"Ia Kak?"
"Buka!"
Dengan tangan Rion yang sudah merayap di balik rok yang dipakai Mei.
"Kakak! kita sudah lama pergi, ibu pasti mencari kita."
"Tidak dengar kau bicara apa tuh. Buka!" Merajuk dengan suara manja sambil menarik rok yang dipakai Mei. "Bayar hutang mu yang tadi."
"Haha, apa si Kak. Kan belum jatuh tempo."
Kak Rion sudah menagih hutang Mei secepat ini.
"Buka!" Mendengar kata itu terucap kedua kalinya. Mei sambil tersenyum, mendorong rambutnya ke belakang. Lalu menarik kerah bajunya, sampai bahunya terlihat. "Aku mencintai mu Mei. Aku sangat mencintai mu." Rion menjatuhkan bibirnya ke bahu Mei, mencium sambil menghisap aroma tubuh Mei. "Jangan melihat laki-laki lain, aku mohon. Jangan bilang orang lain tampan selain aku, karena aku bisa menggila nanti. Sekarang cemburu ku naik seratus kali lipat."
Ah, lucunya. Memang aku mau melihat siapa juga si Kak. Pikir Mei.
"Kakak juga, jangan melihat wanita lain." Mei menyahut. Niatnya mau iseng. Tapi dari ekspresi yang ditunjukkan Kak Rion, Mei salah besar.
"Aku, melihat wanita lain?"
Mei langsung memeluk kepala Rion, karena malu sendiri.
"Kakak memang hanya selalu melihat ku seorang."
"Cih, itu kau tahu."
Senyum bahagia tidak bisa menghilang dari bibir Mei. Ya, sepertinya apa yang ayah dan kakek katakan tentang Kak Rion benar adanya. Kalau laki-laki berhati hangat yang sedikit manja ini akan mencintainya dengan sepenuh hati.
Mei mengusap bahu Rion, memegang lengannya. Entah kenapa, dia mendekatkan wajahnya. Dan, satu gigitan di lengan membuat Rion tersentak kaget. Tadi, Rion sedang menciumi leher dan bagian depan Mei.
"Awww, kenapa kau tiba-tiba menggigit ku Mei?"
"Haha, maaf Kak. Lengan Kakak menggoda." Sebenarnya cuma mau membalas Kak Rion yang sudah menggigitnya tadi. Tapi, sepertinya Mei salah sasaran. Karena yang dibalas langsung menarik baju yang dia pakai dan melepaskannya. "Apa! Kenapa malah lepas baju."
"Kurang..."
"Apa?"
"Gigitan mu. Haha. Kau masih ingat, saat kita main gigit-gigitan dulu." Dalam keremangan wajah Mei langsung memerah. "Ayo ulangi lagi. Haha, kau malu apa mau Mei. Haha. Wajah mu merah."
"Kakak!"
Kedua orang yang sedang di mabuk cinta itu cekikikan sambil menggali ingatan, mereka ulang adegan gigit-gigitan. Saat gairah mulai memanas, saat semua pakaian sudah terlucuti. Tiba-tiba, suara Pak Kun terdengar dari pintu. Mei menjerit tanpa suara saking kagetnya.
"Tuan Muda, apa Anda ada di dalam. Nyonya mencari, meminta kalian untuk istirahat, besok acara pasti akan memelahkan."
Tidak ada sahutan. Mei menutup mulut Kak Rion, karena saking malunya kalau sampai Kak Rion menjawab.
"Saya permisi, maaf sudah menggangu."
Yang di dalam, semakin merah padam wajah Mei. Karena sepertinya Pak Kun yakin kalau mereka ada di dalam.
"Kak, ayo sudah."
"Stttt, kau mau ke mana? Lanjutkan, dia juga sudah pergi." Dengan santainya Kak Rion mulai menggigit telinga Mei lagi.
"Ahhhh, awwww."
"Teruskan."
Kak Rion menunjuk otot perutnya.
Tangan Mei tidak sengaja mendorong lemari kaca saat menggeliat. Boneka kecil di dalam lemari kaca yang tadinya posisinya berdiri tegak, bergoyang dan jatuh tertidur. Sementara, dua orang yang sedang larut dalam gairah cinta sama sekali tidak perduli. Suhu udara memanas, nafas mereka memburu.
"Aku mencintai mu Mei, istriku tersayang."
...🍓🍓🍓...
Sudah menjelang tengah malam. Rion mengetuk pintu kamar ibunya. Tanpa menunggu sahutan, dia membuka handle pintu. Ibu muncul sambil mendekatkan jari telunjuk ke bibir.
"Ayah bilang Mei di sini?"
"Sstttt, Mei sudah tidur."
"Biar aku yang menggendongnya Bu."
Rion mendorong pintu, dan melihat istrinya terlelap di tempat tidur. Dia masuk ke dalam kamar. Mau menggendong Mei dan membawanya ke kamar. Tapi ibu mencegahnya.
"Biarkan saja dia tidur di sini, sepertinya dia kelelahan. Tadi waktu masih mengobrol, dia ketiduran."
Rion mendekat ke tempat tidur. Mencium bibir dan kening Mei.
"Akhir-akhir ini Mei memang sering lelah Bu, dia sering ketiduran."
Ibu seperti kaget.
"Apa dia sakit? Dia mual atau muntah juga?"
"Tidak Bu, cuma sering kelelahan saja."
Antusias ibu jadi berkurang, lalu dia mengusap punggung anaknya. "Pasti Mei cuma kelelahan, akhir-akhir ini kan sibuk sekali. Jadi, malam ini biarkan dia tidur di sini. Jangan menggangunya."
Rion merengut.
"Jadi, aku tidur sendirian donk?"
"Tidur sama Nenek sana, biasanya kau kan selalu menempel kalau nenek datang."
"Ahhhh, Ibu itukan waktu aku masih SMU."
Rion memang mirip sekali dengan ayahnya, dulu katanya ayah Rion juga seperti itu. Lebih sering menginap di rumah mendiang ibunya nenek. Mereka akrab sekali.
Ibu mendorong bahu anaknya keluar kamar, takut kalau mereka berisik dan Mei terbangun.
"Sudah sana, kau juga istirahat. Lho, mau kemana?" Ibu bertanya saat Rion berjalan berlawanan arah dengan kamarnya. "Tidur Nak besok sibuk seharian."
"Ini mau tidur, di kamar nenek." Rion tertawa sambil menjulurkan lidahnya pada ibu. Lalu berjalan menuju kamar neneknya.
"Dasar, katanya bukan bocah SMU lagi." Ibu masuk lagi ke dalam kamar. Menarik selimut yang menutupi tubuh menantunya. "Terimakasih Mei, karena sudah mengembalikan senyuman Rion kami."
Malam semakin larut, Mei terlelap dalam tidur. Dia bermimpi indah malam ini. Terlihat dari bibirnya yang tersenyum dalam tidur. Hari ini banyak hal membahagiakan terjadi padanya. Mengetahui rahasia kelahiran Kak Rion, menjadikan dirinya terharu. Bahwa dia benar-benar dianggap berharga dalam keluarga suaminya.
Langit malam semakin pekat, esok adalah hari yang paling di nantikan.
Selamat malam, mimpi indah 😘
^^^Sebatas Menjadi Istri Boneka^^^
__ADS_1
^^^Tamat^^^
*Sampai jumpa lagi di spesial episode, akan ada tiga resepsi pernikahan. Mei, Dean dan Jesi. Pernikahan siapa yang paling mendebarkan, jangan lewatkan di spesial episode nanti ya 🍓💖