
Hari ini sepertinya banyak hal yang harus membuat Mei berterimaksih pada Kak Rion. Dimulai dari kedatangannya yang mengejutkan ke rumah ibu saja sudah merupakan hal yang tidak bisa dipercaya dan tentu saja butuh ucapan terimakasih yang berlimpah ruah dari Merilin.
Lebih dari setengah jam sepertinya, Merilin tertahan di halaman belakang rumah. Meladeni keinginan Rion yang tidak ada habisnya. Dari minta dikecup-kecup. Sampai minta suap-suapan buah. Rion tidak suka makan buah bercampur sambal, jadi dia hanya makan buahnya saja. Cara Rion menyuapi buah ke bibir Mei juga terhitung aneh kalau dilihat anak dibawah umur. Untung saja pintu belakang tertutup. Pandangan mata Sherina dan Harven pun terlindungi dari adegan dewasa itu.
Ya, begitulah kelakuan Rion, tapi, Mei sepertinya sudah sangat maklum. Hingga dalam hati pun dia tidak protes.
Rion bahkan meminta Mei menciumi tangannya. Saat gadis itu bertanya dengan keheranan. Tumben kan, yang minta dicium bagian tangan. Biasanya kan sudut-sudut yang lain. Biasanya bagian lain yang minta disentuh atau dikecup duluan.
"Memang, kenapa dengan tangan Kak Rion?"
Rion hanya menjawab seenaknya, semakin menimbulkan pertanyaan baru di kepala Mei. Masak katanya demi mengembalikan kesucian diri. Hih, kesucian apa sih, pikir Mei. Memang kau pria yang masih suci apa. Tapi semakin ditanya semakin tidak mau menjawab juga.
Akhirnya dari pada mengulur waktu dan jadi panjang urusannya, apa pun yang diinginkan Rion dilakukan saja oleh Mei. Rion tertawa saat dengan serius Mei melakukan apa yang dia perintahkan.
Pertama Mei menempelkan tangan Rion di pipinya, dia balik punggung tangan dan telapak tangan. Sambil tertunduk, dan pikiran Mei yang masih berusaha menebak-nebak, kenapa bagian tangan, dia kecup-kecup semuanya. Semakin mengecup, semakin dia cium tangan itu, Rion semakin terlihat puas dan senang.
Halah terserahlah, dia kan memang aneh Mei. Sekarang anehnya mungkin sedang kumat jadi minta diciumi tangannya.
Begitulah akhirnya kesimpulan yang diambil Mei.
Dan akhirnya setelah semua ritual terlewati, sebuah ciuman panjang, mengakhiri ucapan terimakasih Merilin untuk Rion, di halaman belakang rumah.
Wajahnya Mei merah padam saat cengengesan masuk ke dalam rumah, melihat keluarga dan sahabatnya senyum-senyum penuh arti. Seperti bisa menebak apa yang dia lakukan di belakang rumah berdua dengan suaminya.
Begitulah siang menjelang sore hari yang terjadi di rumah ibu, Mei berterimakasih membalas kerja keras suaminya. Tapi, itu semua belum berakhir begitu saja. Karena mereka akan tinggal sampai makan malam. Rasanya hutang Mei untuk hari ini semakin menumpuk saja. Dan Rion akan menagihnya saat di rumah nanti. Begitu dia berbisik sambil bibirnya menggesek telinga diselingi tawa kecil. Membuat Mei merinding.
Ah, Kak Rion! Bisa tidak si, kau tidak pamrih melakukan sesuatu. Hah, tentu tidak bisa Mei, dia kan bunglon yang hatinya berubah semudah angin menerbangkan debu. Dia berkorban untukmu dengan mengakrabkan diri pada keluargamu, baginya itu pasti perjuangan yang sangat keras.
Begitulah akhirnya Mei berfikir logis, untuk jangan berharap lebih.
Namun, hati kecil Mei sungguh berterimakasih dengan kedatangan Kak Rion hari ini. Karena hanya dengan kehadirannya saja, sudah melahirkan ketenangan di mata ibu. Menjauhkan kekhawatiran seorang adik pada kebahagiaan kakak perempuannya yang tiba-tiba menikah. Bahkan menghapus, sisa kecurigaan yang masih menghantui Kak Brama tentang pernikahan adiknya dengan seorang konglomerat.
Apa pun alasan Kak Rion datang hari ini, Mei sangat berterimakasih. Dia tidak perlu lagi, meminta Kak Rion mengundang keluarganya ke apartemen. Karena seperti ini saja sudah cukup. Orang-orang yang dia sayangi, melihatnya sangat dicintai suaminya.
Nyut, hati Mei berdenyut. Biarlah, dia menyimpan kenyataan tentang pernikahannya yang sebenarnya sendirian, seperti biasanya. Supaya semua orang bahagia. Mei menatap Rion yang ada di sampingnya. Kak Rion, apa aku punya kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Tanpa sadar gadis itu mengangkat tangannya dan mengusap-usap pipi Rion.
Kalo Dean tidak bedehem dengan suara agak keras, mengembalikan kesadaran Mei, Mei sepertinya sudah mau mencium Kak Rion di depan semua orang.
"Sabar Mei, sabar, Tuan Rion memang tampan tapi tolong bersabar, ada anak dibawah umur disini."
Ledakan tawa semua orang terdengar.
Serge sepertinya yang tertawa paling keras mendengar Dean meledek Mei, yang wajahnya langsung memerah. Gadis itu bahkan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Rion saking malunya.
"Kau ini bisa saja." Serge menoel lengan Dean. Gadis itu tergagap malu. Semua orang tertawa dengan bahagia dengan caranya masing-masing.
Hari itu, ibu, Kak Brama dan Harven, merasakan bahagia sekaligus lega, karena Merilin yang mereka sayangi, mendapatkan suami yang mencintainya dengan hangat dan dengan cara yang sangat manis. Bahkan suami Mei, tidak malu menunjukkan cintanya pada semua orang.
Kau memang pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini Mei. Serge dan Dean tersenyum bersamaan melihat Mei yang masih malu-malu dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
...🍓🍓🍓...
Makan malam berlangsung dengan akrab. Sepertinya ini pertama kalinya Kak Rion makan sambil duduk di atas karpet, dia terlihat canggung. Kaki panjangnya bergerak, bingung mau dia tekuk bagaimana. Akhirnya Mei membawa makanan Kak Rion ke sofa. Yang lain memaklumi saat bilang Mei mau pindah.
Sebenarnya Sherina awalnya juga merasa aneh, makan kok sambil duduk di lantai. Namun, karena sudah terbiasa makan dengan Harven, jadi dia sudah terlihat menikmati. Dia mah sebenarnya, asalkan ada Harven apa pun dia nikmati.
Ada yang malu-malu memindahkan lauk ke piring pacarnya. Jesi memukul bahu Arman dengan wajah tersipu, sambil nyengir ke arah Dean. Yang menatapnya sambil mengeryit, kalau bicara mungkin ekspresi Dean artinya, ih apa sih.
Brama dan istrinya juga saling memperhatikan ketika makan, bertanya pada ibu juga, mau lauk yang mana dan sayur yang mana.
Serge ikut pindah ke sofa, karena dia harus melakukan tugasnya.
Sementara yang makan di atas karpet terlibat obrolan seru dengan topik yang lain. Yang meramaikan tentu saja Sherina. Dean cukup aktif bicara juga. Sesekali Serge melirik Dean yang terlihat sangat akrab dengan keluarga Mei. Dia cantik kalau bicara bersemangat begitu gumam Serge yang mulai memperhatikan Dean secara khusus.
Setelah melirik Dean, Serge beralih pada kedua orang yang duduk di sofa ruang tamu.
Dan disinilah semua rencana akan mulai direalisasikan satu persatu. Pamer Serge akan dimulai, untuk memamerkan apa yang sudah dilakukan Rion di kantor tadi, sesuai dengan rencana yang mereka buat di rumah.
Mengarang indah Serge dimulai.
Serge yang pandai bicara, merangkai kata dengan lancar. Seperti ini lho Mei Amerla datang menggoda Rion, tadi itu Rion galaknya minta ampun waktu menuding Amerla yang memfitnahmu dan presdir, ia begitulah. Kau pasti tidak akan percaya kalau tidak melihatnya langsung. Aku bahkan terkejut, wanita itu seberani itu. Dan bila..bla...bla... Rion bahkan mengundang suami, wanita itu.
"Benarkah?" Mei menatap Rion, laki-laki itu terlihat acuh dan masih menyuap makanan ke mulut. "Sampai suaminya datang juga! Ya Tuhan, pasti terjadi pertengkaran antara mereka kan?" Mei tidak sanggup membayangkan. Pertengkaran seperti apa yang terjadi. Tapi, selintas, wajah sedih Amerla yang sudah berusaha menggoda Kak Rion jelas muncul di kepalanya. "Dia baik-baik saja Kak?"
Pasti dia malu sekali. Aku kasihan padanya tapi juga senang, ah, aku jahat tidak si. Aku kasihan pada Amerla sekaligus lega, dia tidak akan menggangu Kak Rion dan aku lagi.
Aku hanya bertanya kok, sebenarnya aku senang dan lega Kak. Ahhhhh, aku jahat ya!
Mei hanya menatap balik tapi tidak menjawab. Dia takut ketahuan, kalau sebenarnya dia senang.
"Jangan khawatirkan dia Mei, pokonya yang penting semuanya sudah selesai. Rion dengan tegas memutus hubungan masa lalu dengannya, dia tidak akan berani mengganggumu lagi. Menemui mu saja tidak akan berani dia."
Kata-kata Serge semakin menghapus rasa bersalah Mei. Amerla sudah sangat jahat, sampai memfitnahnya dan Presdir. Tentu saja Kak Rion tidak akan tinggal diam.
Apa benar, perasaan Kak Rion sudah sepenuhnya rampung pada gadis itu ya. Jika benar, apa sekarang hati Kak Rion benar-benar sudah kosong. Dan apa kah aku bisa masuk ke sana. Eh, Mei, kenapa kau malah memikirkan dirimu sendiri sekarang. Mei jadi merasa malu. Karena seperti mendapatkan peluang baginya untuk masuk ke hati Kak Rion ketika nama Amerla sudah benar-benar terhapus.
"Kak Rion, Kakak baik-baik saja kan?" Mei malah menanyakan suasana hati Rion.
Rion malah membuka mulutnya, minta disuapi makanan yang sedang di makan Mei. Ketimbang menjawab pertanyaan Mei. Serge sampai bibirnya miring melihat kelakuan Rion. Mei, menyendok makanannya dan menyuapi Kak Rion.
"Enak Kak? Ibu yang masak sayur ini tadi."
"Hemm, lagi."
Apa sih dasar gila! Di piringmu juga kan ada. Apa orang yang sedang jatuh cinta memang bisa jadi gila begini si. Serge lagi-lagi dengan tatapannya, sambil memiringkan bibir geli. Mencela tingkah Rion.
Mei yang tersadar dilihat oleh Serge, menutup wajahnya malu. Dia ketahuan suap-suapan dengan Kak Rion.
"Biasa saja Mei, aku pasti akan terbiasa nanti melihat kalian berdua begini. Ya, ya, nikmatilah. Aku cuma ngontrak di bumi ini kok."
__ADS_1
Rion menyeringai penuh kemenangan, sambil membuka mulutnya minta disuapi lagi. Sambil dusel-dusel pamer kemesraan di depan Serge. Kau sudah tidak punya peluang sedikit pun Mei, untuk lari dariku. Lagi-lagi pikiran Rion yang tertuju untuk Serge.
Serge tertawa kecil, namun, dalam hatinya, dia benar-benar ikut merasakan kebahagiaan yang Mei rasakan sekarang. Keluarga yang lengkap berkumpul. Sahabat yang selalu hadir membersamai Mei. Hidup yang tidak harus memusingkan bagaimana membayar tagihan hutang ayahnya. Bahkan suami yang sudah mulai jatuh cinta padamu Mei. Rasanya Serge ingin menepuk kepala Mei sekarang dan mengucapkan selamat. Mengatakan pada Mei, kalau kakakmu ini sudah tenang dan bahagia melihatmu.
Tapi, melihat lirikan Rion yang seperti ingin menusuk orang saat dia bicara dengan Mei, jangankan menepuk kepalanya, Rion pasti akan murka kalau sampai sehelai rambut istrinya dia sentuh. Maklumi Ge, sudahlah maklum. Serge mangut-mangut sendiri. Maklumi saja Rion. Laki-laki terluka yang sudah menemukan obatnya, jadi sangat posesif itu.
"Kak Serge juga pasti kesusahan karena masalah ini. Maaf dan teri..." Mei yang mau bicara lagi, membuka mulut lebar saat sendok Rion tepat ada di depan mulutnya. Kenapa dia? mau menyuapi aku? "Terimakasih Kak, enak sekali." Mei tersenyum dengan Riang.
Serge masih bicara, intinya mengatakan Mei tidak perlu mengkhawatirkan semuanya. Karena Rion sudah membereskan semua masalah Amerla. Tapi, sendok ditangan Mei jatuh, saat Serge mengatakan kerja sama dengan Andalusia Mall akan batal.
Apa! Kak Rion sampai membatalkan kerja sama dengan Andalusia Mall!
Mei rasanya sangat terguncang sekarang, apa karena dirinya Kak Rion sampai melakukan semua ini. Tapi, tidak mungkin kan. Lantas kenapa? Hujan pertanyaan seperti berjatuhan. Tapi, sumbu utamanya malah masih terlihat santai menghabiskan makanan, sambil menyuapi Mei. Karena sendok Mei yang sudah jatuh tadi.
"Kak Rion, apa tidak apa-apa kalau sampai proyek ini batal? Infonya kan sudah sampai ke media. Web dan sosial media juga sudah memposting ini setiap hari?" Mei malah jadi khawatir, kerugian yang akan ditanggung Andez Corporation.
"Aku tahu ini sangat frontal Mei, cara yang dipakai Rion. Tapi..." Serge berhenti bicara saat Rion meletakan piringnya. Meraih pinggang Mei dan mendekatkan tubuh Mei dalam pelukannya. "Tapi, Rion melakukannya semua demi kamu," ujar Serge, melontarkan kalimat yang sudah ditunggu Rion. Laki-laki itu menyeringai puas setelah Serge bicara begitu.
Deg..
Apa ini, kenapa sampai seperti ini.
Mei bisa merasakan sentuhan bibir Rion di kepalanya.
"Aku sudah melakukan banyak hal hari ini untukmu Mei. Sepertinya aku kelelahan."
Mulai deh!
Rion bicara seperti tidak masalah kalau proyek Andalusia Mall batal begitu saja. Malah hanya fokus mengatakan, dia sudah banyak melakukan sesuatu hanya untuk Mei. Dalam artian, dia ingin Mei membayarnya dengan baik.
"Berterimaksihlah dengan benar Mei, nanti di rumah." Berbisik nakal di telinga Mei.
Proyek baru batal, media, arsitek yang sudah membuat desain, alasan, alasan apa yang akan mereka pakai. Mei bisa membayangkan kekacauan apa yang akan terjadi di kantor besok lusa saat mereka bekerja. Divisinya akan menjadi sangat sibuk.
"Kita akan sangat sibuk nanti Mei, jadi bersiaplah." Serge tersenyum tapi seperti sudah merasa lelah. Sementara Rion masih peluk-peluk sambil minta disuapi.
Penutup
Di halaman rumah Sherina, Arman yang mengantar Sherina menahan gadis itu yang mau masuk.
"Nona, sepertinya sudah saatnya Nona jujur tentang status Anda pada Harven."
"Kenapa si, kenapa tiba-tiba. Kalau dia kaget dan merasa rendah diri bagaimana? Harven kan tidak seperti kebanyakan cowok yang mendekatiku." Sherina berkilah. Dia akan jujur setelah memastikan Harven jatuh cinta setengah mati padanya.
"Anda tahu siapa laki-laki yang datang bersama Tuan Serge tadi? Beliau suami kakak perempuan Harven kan." Sherina mengangguk. Dia juga tahulah, soalnya mereka mesra sekali membuatnya iri. "Beliau CEO Andez Corporation, penerus tunggal Presdir Andez Corporation."
"Apa!"
Bersambung
__ADS_1