
Malam pun datang, langit cerah, di langit malam, cahaya bulan menyinari bumi. Bintang-bintang berkelap kelip, angin malam pun berhembus dengan sejuk. Seharusnya ini malam yang tenang dan damai.
Tapi, tidak di sini. Di rumah mungil yang ditempati oleh seorang wanita yang kabur dari suaminya, dan seorang pelayan muda yang sedang gelagapan takut karena tiba-tiba dua orang pengawal menerobos masuk.
Tempat persembunyian ibu Ibram ketahuan pada akhirnya.
"Si..siapa kalian! Nyonya!" Lisa berusaha menarik tangan ibu Ibram, dan memukul sembarangan supaya dua pengawal yang menerobos masuk melepaskan lengan ibunya Ibram. "Nyonya! jangan bawa Nyonya! Lepaskan! Kalian siapa?"
Salah satu pengawal bertampang bengis memelototi Lisa, membuat gadis itu langsung bungkam. Dia sebenarnya bisa menebak, suruhan siapa dua laki-laki ini, karena Nona Erla dan Tuan Ibram sudah menjelaskan semuanya. Supaya dia berhati-hati, kalau terlihat orang asing disekitar rumah. Tapi, tapi, setelah menghadapinya langsung, dia benar-benar ketakutan.
"Nyonya!"
Salah satu pengawal menjejakkan kaki di depan Lisa. Menyuruh gadis itu diam. Lalu, setelah Lisa menciut takut, dia bicara lagi pada nyonya.
"Nyonya, sebaiknya Anda ikut dengan kami pulang, Presdir sudah sangat marah." Laki-laki itu masih memegang lengan ibu Ibram, sambil menunjuk pintu keluar.
Sementara ibu Ibram berusaha melepaskan diri, walaupun kalah tenaga. Hatinya bergetar takut ketika suaminya disebut. Selama beberapa hari ini terasa damai, ternyata badai itu sedang menunggunya.
"Anda sudah tidak bisa kabur lagi, Presdir sudah tahu rumah ini."
"Lepaskan aku!" Bukannya ikut, ibu Ibram melawan balik. "Aku tidak akan ikut kalian ke mana-mana, kalian yang pergi, sebelum aku menghubungi Ibram."
"Maafkan saya Nyonya, kami tidak punya pilihan lain, karena ini perintah Presdir."
Lisa mendekat lagi setelah mengumpulkan keberanian dan tenaga untuk melawan, dia memukul tangan pengawal sekuat tenaga, lalu menarik nyonya ke belakangnya. Dia menjadi tameng pelindung, walupun tahu, dia tidak akan menang.
"Bu.. bukankah Nyonya bilang tidak mau ikut, jadi kalian bisa pergi sekarang!" Lisa menggertak, dengan suara bergetar. "Nyonya, Anda masuk ke kamar saja, kunci pintu. Biar saya yang mengusir mereka."
Kedua pengawal saling pandang, mereka sebenarnya tidak mau melakukan ini. Tapi, sudah beberapa kali mereka menanggung kemarahan Presdir. Kalau kali ini setelah menemukan nyonya mereka gagal membawa nyonya, bukan hanya tendangan di kaki, bisa-bisa mereka kehilangan pekerjaan.
"Hei! Kau jangan menghalangi kalau tidak mau terluka."
"Ta..tapi Nyonya tidak mau pergi!"
"Hah! Menjengkelkan sekali. Kami tidak akan melukai mu, jadi minggirlah. Anda tidak punya pilihan Nyonya, Anda harus kembali bersama kami. Presdir selama beberapa hari ini sangat murka, beliau dan CEO beberapa kali bertengkar di kantor."
Ibram, ibu Ibram langsung tersentak. Bagaimana nasib anaknya? Tapi, kalau dia kembali, dia seperti mengkhianati perjuangan anaknya. Menantunya juga bilang, Ibram sedang berusaha sekuat tenaga melindunginya. Jadi, wanita itu tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Nyonya, kenapa Anda keras kepala sekali."
Tidak ada sahutan. Hanya helaan nafas kesal kedua pengawal.
Tiba-tiba...
Brak!
Suara hentakan dari pintu masuk. Semua menoleh ke arah sumber suara. Ibu Ibram langsung limbung dan mau terjatuh, laki-laki yang baru saja menendang pintu itu adalah suaminya. Dia berdiri di depan pintu, berdecak geram, sambil melihat ke arahnya.
"Hah! Kau bersembunyi di sini, dasar wanita tidak tahu diri?"
__ADS_1
Lisa bisa merasakan, tangan nyonya yang gemetar takut mencengkeram tangannya. Wanita itu tidak bicara apa pun, hanya langsung menciut takut di belakang Lisa.
"Pulang!"
Suara ayah Ibram yang tegas terdengar, Lisa bahkan ikut merinding saking takutnya. Tapi, Ibu Ibram tidak bergerak selangkah pun. Membuat ayah Ibram semakin kesal dan kehilangan kesabaran.
"Bawa dia, seret dia, aku tidak perduli yang penting masukkan dia ke dalam mobil."
Dan kekacauan tidak bisa terelakan, Lisa dengan suara nyaringnya yang mencipta kehebohan. Dia berteriak keras, marah-marah kepada dua pengawal itu lagi, untuk tidak berani menyentuh nyonyanya. Tapi, sekali dorong, gadis itu terjungkal sampai membentur meja. Kepalanya membentuk meja.
"Aaaaaa!" Jeritan Lisa mengerang kesakitan.
"Kau ini keras kepala sekali! Makanya minggir!"
"Hentikan! Jangan bersikap kasar padanya." Saat salah satu pengawal mau mendekati Lisa, ibu mendorongnya supaya jangan mendekati Lisa. "Sudah hentikan! Dia tidak salah apa-apa!"
Melihat ibu Ibram yang bicara sambil mau menangis, ayah Ibram malah mendengus dan tertawa mengejek.
"Hah! Kau perduli pada pelayan sekarang! Kalau kau tidak mau terjadi apa-apa padanya, ikut aku pulang." Suara yang angkuh, merasa paling berkuasa. Begitulah ayah Ibram sekarang. "Jangan membuatku semakin marah."
Seperti tidak punya pilihan, walaupun mendengar Lisa berteriak jangan nyonya. Lari saja, tapi dengan wajah tertunduk, akhirnya wanita itu berjalan ke luar rumah. Di teras depan, keningnya ditunjuk-tunjuk suaminya, sambil dia dicaci maki, bahkan umpatan wanita bodoh pun keluar beberapa kali. Wanita tidak tahu terimakasih. Kedua pengawal sudah berdiri menjauh, perasaan iba yang muncul di hati mereka pun tidak bisa menolong nyonya, hingga membuat mereka memilih menutup mata dengan semua yang dilakukan Presdir.
"Dasar wanita tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih. Beraninya kau kabur hah! Kau mau kabur sampai kapan!"
Ibu Ibram cuma bisa menunduk, tangannya terkepal. Bibirnya bergetar, ternyata tidak ada yang berubah dari mu. Ya, kau bukan Ibram yang diselamatkan oleh cinta. Karena kau memang tidak pernah mencintaiku. Bagimu aku hanya barang. Aku hanya pemuas tempat tidur, aku hanya mesin yang melahirkan penerus mu. Atau, aku hanyalah pengemis yang kau beri sedekah, hingga aku harus berterimakasih dan membayarnya seumur hidupku. Airmata jatuh berlarian di pelupuk mata ibu Ibram tanpa bisa dia cegah.
"Ikut aku pulang." Ayah Ibram sudah berbalik, membelakangi ibu. Sudah berjalan selangkah, tapi saat dia menoleh, istrinya tidak bergerak selangkah pun. Langsung menyulut amarahnya lagi. "Kau tidak dengar, aku bilang pulang. Sekarang!" Nafasnya naik turun dengan cepat, saking emosinya.
"Apa! Dasar wanita sialan! Tidak tahu diri!" Ayah Ibram mendekat lagi.
Dan plak! Plak!
"Nyonya! Tolong! Nyonya!" Lisa yang merangkak sambil menahan sakit dipergelangan kakinya menjerit sebisanya. Kepalanya berdenyut pusing. Ada darah yang mengalir. Lisa berteriak tolong lagi. Dia berharap ada orang lewat yang mendengar, atau tetangga sebelah rumah. Mereka kan orang-orang yang ramah, Lisa dan ibu Ibram sudah saling berkenalan dan menyapa tetangga sebelah rumah. "Tolong! Nyonya! Tuan jangan pukul Nyonya."
Suara Lisa yang bercampur teriakan minta tolong dan tangisan, pasti mengoyak telinga yang mendengar. Pengawal yang tadi mendorongnya pun menjadi iba. Tapi sekali lagi, rasa iba mereka hanya menjadi rasa iba. Tanpa menggerakkan hati mereka.
"Pulang!"
"Tidak mau!"
Plak!
"Nyonya!" Teriakan Lisa bercampur tangis terdengar lagi.
"Kau tidak mau pulang!" Plak! "Beraninya kau membantah ku!" Plak! Plak.
Lisa yang melihat nyonyanya dipukuli sambil meringkuk, cuma bisa menjerit dan menangis sambil minta tolong. Berharap Tuhan mengirim mereka bantuan.
Dan sepertinya doa Lisa yang tertatih mendekatinya nyonya didengar Tuhan, gadis itu melihat tetangganya datang. Bukan hanya berdua dengan anak laki-lakinya, tapi banyak orang. Lisa memeluk Nyonya yang gemetaran. Walaupun sudah gemetaran begitu, seperti terkunci, nyonya sama sekali tidak mengeluarkan suara. Hanya airmata yang bisa dirasakan tangan Lisa.
__ADS_1
"Apa-apaan ini!" Suara laki-laki yang terdengar keras, tegas dan dingin, langsung membuat semua orang menoleh. "Apa yang Anda lakukan Presdir, pada istri Anda."
Tangan Presdir yang masih menggantung di udara terjatuh di samping tubuhnya, saat menoleh ke asal suara, dia tersentak kaget. Karena CEO Rionald, CEO arogan itu yang sampai hari ini belum mau berhubungan dengan perusahaannya, kenapa bisa ada di sini.
Ibu Mei, Rion, Mei, Harven, Sheri, dan juga Serge dan Brama. Mereka yang belum pulang ke rumah setelah dari makam ayah Mei karena menemani ibu. Mereka sedang makam malam saat mendengar teriakan menyayat hati dan meminta tolong.
Ibu Mei tanpa menoleh pada ayah Ibram, langsung menghampiri ibu Ibram yang masih gemetaran di peluk oleh Lisa.
"Apa yang Anda lakukan? memukuli istri Anda?"
"Ini bukan urusan mu! Dia istriku, terserah aku mau mendidiknya bagaimana!" Karena malu, ayah Ibram jadi menantang dan keras kepala. Dia melihat ke arah pengawalnya. Untuk membawa istrinya dan segera pergi dari tempat ini. "Jangan ikut campur urusan keluarga orang lain."
Rion tergelak sinis, lalu memberi isyarat pada Mei untuk membawa ibunya Ibram pergi. Ke rumah mereka. Sheri juga dengan gesit maju ke depan, membantu Lisa berdiri. Gadis itu mengusap darah di kening Lisa dengan bajunya.
"Hei! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan istriku! Pengawal!"
Dua pengawal langsung sigap ingin menahan Mei dan ibunya yang membawa ibu Ibram. Tapi, baru saja akan mendekati Mei, langkah kaki mereka langsung terhenti saat mendengar Rion menjejakkan kaki.
"Hah! Dari tadi aku memang kesal dan ingin membunuh orang. Dan kalau kalian berani menyentuh istriku." Melihat dua pengawal dengan tajam. "Hah!"
Mendengar helaan nafas kedua kalinya, Mei segera mengajak ibunya untuk berjalan lebih cepat. Suasana hati Rion memang belum normal sejak tadi, terpancing sedikit saja, habislah orang itu.
"CEO Rionald, Anda tidak berhak ikut campur dalam urusan keluarga saya!" Ayah Ibram mengeram marah, ketika melihat istrinya yang dipapah keluar dari gerbang. "Berhenti! Kembali kau!"
Dan ibu Ibram benar-benar menghilang, masuk ke rumah sebelah.
"Apa yang Anda lakukan! Kenapa Anda ikut campur!"
"Aku tidak ikut campur tuh, aku hanya menolong teman ibu ku." Rion mengangkat bahu. Serge dan Brama tidak bisa menyembunyikan kekagetan mereka dengan jawaban seenaknya Rion.
"Apa? Dasar kurang ajar!"
"Ibunya istriku, tinggal disebelah rumah ini. Mereka katanya berteman, dan walaupun saya tidak menyukai keluarga Anda, tapi karena dia teman ibu, jadi saya tidak bisa diam saja. Saya hanya menolong teman ibu saya."
Tangan ayah Ibram terkepal geram.
"Pergilah! Jangan buat keributan sampai Anda di usir tim keamanan komplek perumahan ini."
Dua pengawal ayah Ibram langsung melihat situasi sekitar.
"Kalau ayah saya tahu Anda ternyata suka melakukan kekerasan pada istri Anda, jangankan membujuk saya untuk mau bekerja sama dengan perusahaan Anda. Untuk berdiri satu ruangan dengan Anda saja, ayah saya pasti tidak sudi." Ya, beberapa kali ayah Rion masih menanyakan, apa masih mau bekerja sama dengan Andalusia Mall, untuk proyek kecil. "Karena ayah saya paling benci pada laki-laki yang suka main tangan pada istrinya."
Tanpa melihat ekspresi ayah Ibram, atau mendengar ayah Ibram bicara, Rion sudah melengos dan berjalan pergi. Meninggalkan laki-laki yang tercekik malu dan amarahnya sendiri. Serge menggelengkan kepala sambil mengangkat hpnya.
"Bagaimana Anda bisa menyakiti ibu dari anak-anak Anda, Presdir." Serge ikut melangkah pergi.
"Jangan berani mendekati rumah ibu ku!" Brama yang sebenarnya tidak tahu siapa laki-laki yang ada di depannya, mengacungkan tangan geram. "Bisa-bisanya memukul wanita yang lebih lemah! Sudah tua bukannya hidup dengan baik." Dia pun mendengus dan melengos pergi.
Tertinggal, ayah Ibram yang seperti ditampar berulang kali. Kedua pengawal yang cuma bisa tertunduk malu. Karena mereka selama ini hanya bisa diam tanpa membantu apa-apa.
__ADS_1
Bersambung